Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 90


" Baiklah, apa rencana kalian...?" kata Erina pasrah.


" Coba kau hubungi Samuel, tanyakan dimana dia berada sekarang..." ucap Hans.


" Hhh... jangan sekarang, suasana hatiku sedang tidak menentu. Aku tidak mau salah bicara nantinya..." tolak Erina.


" Nona, apa kau masih ingat alamat rumahnya...?" tanya Adam.


" Kami masih satu komplek hanya beda beberapa blok saja. Tapi kalian tidak akan menyakiti Samuel kan...?"


" Tergantung, dia bersalah atau tidak..." seringai Arvan.


" Ya sudah, nanti kak Arvan tidurnya sama Adam. Biar kalian bisa akur seperti saudara..." sahut Erina seraya tersenyum.


" Tidaakkk!" teriak Arvan dan Adam bersamaan.


" Wuuiiihhh... kompak nih..." ledek Hans.


" Diam...!" hardik Arvan dan Adam lagi.


Erina dan Hans tertawa cekikikan melihat Adam dan Arvan menjadi salah tingkah.


" Sayang, kita pulang sekarang. Dan kau, ikut Hans ke kantor...!" perintah Arvan.


" Kok ikut aku, Van...? Aku mau ke Apartemen Delia..."


" Tidak apa - apa, Tuan. Saya bisa naik taksi..." ucap Adam.


Setelah sedikit berdebat, akhirnya dengan terpaksa Hans mengantarkan Adam pulang. Sampai di rumah, Hans tidak turun melainkan langsung memutar mobilnya dan pergi ke Apartemen Delia.


Sampai di Apartemen, Hans langsung masuk begitu saja karena dia tahu password unit milik kekasihnya itu. Saat masuk ke dalam kamar, terlihat Delia masih tidur dengan pulas. Wajah gadis itu nampak lelah karena sering begadang semalaman untuk bekerja di rumah sakit.


Hans ikut merebahkan diri di samping kekasihnya lalu terlelap juga ke alam mimpi.


# # #


" Raka, kau darimana saja...?" tanya Agnes.


" Tidak kemana - mana, kak. Raka hanya di kamar saja..." jawab Raka seraya tersenyum.


" Sudah makan...?" tanya Agnes lagi.


" Sudah, kak. Tadi dibawain ibu ke kamar..." sahut Raka berbohong.


" Ya sudah, mungkin kamu lagi sakit. Istirahat saja biar cepet sembuh..."


" Terimakasih, kak..."


Agnes keluar dari kamar Raka setelah memastikan anak itu baik - baik saja. Baru saja Raka hendak beristirahat, pintu kamarnya kembali terbuka.


" Kau sudah tidur...?" tanya ibu panti.


" Eh, ibu. Belum, bu... Raka baru saja sampai..." jawab Raka nyengir.


" Raka, apa tidak sebaiknya kau hubungi orangtuamu agar mereka tidak khawatir? Urusannya akan menjadi panjang jika orangtuamu lapor polisi. Ibu juga akan disalahkan jika terjadi sesuatu padamu..."


" Besok Raka akan menghubungi mama, bu. Jangan khawatir, Raka bisa jaga diri..."


" Tapi yang kau lakukan itu sangat berbahaya, Nak. Bagaimana jika kamu tertangkap oleh para penjahat itu..."


Raka merebahkan kepalanya di pangkuan ibu panti. Tutur katanya yang lembut mengingatkan Raka kepada neneknya di London.


" Kenapa papa dan mama tidak bisa bertutur lembut seperti ibu? Mereka selalu keras terhadap Raka..."


" Sifat orang itu berbeda - beda, begitu juga kasih sayang... orangtuamu mempunyai caranya sendiri untuk mencurahkan perhatian dan cintanya untukmu..."


" Raka paling tidak suka dibentak..."


" Sudah, sekarang makan dulu biar tidak sakit. Sini ibu suapi..."


Raka senang mendapat perhatian lebih dari ibu panti. Dia berharap mamanya bisa selembut ini suatu hari nanti. Raka makan dengan lahap dari tangan seseorang yang belum lama ia kenal.


Setelah selesai makan, Raka tertidur dalam dekapan ibu panti. Rasa nyaman dalam hatinya membuat anak itu tidur dengan senyuman di bibir kecilnya.


# # #


Anak itu jika sudah mulai dengan pekerjaannya, wajahnya berubah 180°. Tidak seperti anak seusianya, dia terlihat dingin dan arogan seperti papanya.


Raka segera mengecek cctv yang dia pasang di sekitar rumah kosong itu. Dia memutar ulang rekaman dari pagi hingga malam ini namun tak ada pergerakan sama sekali.


" Kenapa tidak ada pergerakan sama sekali? Apa mungkin kantong plastik kemarin berisi bahan makanan untuk stok selama beberapa hari..." gumam Raka.


" Aneh, pria itu tidak masuk ke dalam rumah sepertinya. Aku harus memeriksanya malam ini juga..." batin Raka.


Raka menyiapkan berbagai peralatan yang mungkin ia butuhkan nantinya di rumah itu. Raka berpamitan pada ibu panti sebelum pergi.


" Ibu, saya pergi sebentar ya? Ada sedikit urusan yang harus saya selesaikan..." pamit Raka.


" Tapi ini sudah malam, Nak. Jangan pergi dari sini..." pinta ibu.


" Raka hanya pergi sebentar, bu. Raka janji akan kembali secepatnya..."


" Raka, kamu masih kecil. Ibu tidak mau kamu kenapa - napa, Nak..."


" Raka bisa jaga diri, bu. Jangan khawatir, ibu istirahat saja di kamar..."


" Kau yakin pergi sekarang...?"


" Iya, bu..."


" Hati - hati, pulanglah dengan selamat..."


" Pasti, Raka pasti kembali dengan selamat..." Raka meyakinkan ibu panti agar mengijinkannya pergi.


Setelah berpamitan, Raka segera keluar rumah dan mencari ojek yang akan membawanya ke rumah lama ibunya.


Setengah jam perjalanan, Raka sampai di depan rumah itu. Dia memberikan sejumlah uang kepada tukang ojek itu supaya menunggunya di depan gerbang komplek. Untung saja rumah ibunya ada di blok depan dekat dengan gerbang sehingga Raka tidak perlu berjalan jauh.


Raka mengendap - endap menghindari security yang berjaga malam di komplek itu. Tidak sampai sepuluh menit, Raka sampai di depan rumah yang dituju.


" Huft... sepertinya aku harus memanjat pagar ini..." batin Raka.


Raka menaiki pagar dengan perlahan agar tidak ketahuan oleh para tetangga yang mungkin masih di luar.


" Huft, akhirnya bisa masuk ke halaman ini. Harusnya dulu aku selidiki saat masih tinggal di rumah Mama..." batin Raka.


Raka berjalan pelan mencari cara agar bisa masuk ke dalam rumah itu tanpa harus merusak pintu dan jendela. Dia akan memasang beberapa kamera tersembunyi di sekitar rumah dan juga pintu utama.


Karena sangat lelah, Raka bersandar di bawah jendela untuk beristirahat sejenak sebelum pulang.


" Semua sudah terpasang, apalagi yang kurang ya...? Aku harus secepatnya mencari bukti yang kuat jika tante Selly memang bersembunyi di rumah. Apa aku harus mengecek rumah itu untuk membuktikannya? Tapi sangat berbahaya jika tante Selly tidak sendiri..." batin Raka.


" Mama, papa... maafin Raka belum bisa pulang sekarang. Raka tahu kalian pasti khawatir, namun tante Selly harus ditangkap agar mama bisa tenang untuk pergi kemanapun tanpa harus dengan pengawalan ketat..." gumam Raka.


Sebenarnya Raka sangat merindukan mamanya. Walaupun mamanya tidak pernah menunjukkan perhatian yang berlebihan, namun Raka tahu mama sangat menyayangi dirinya.


" Apa Raka harus bersikap manja seperti anak - anak kecil itu biar mama bisa bersikap lembut padaku? Tapi kakek justru senang aku hidup mandiri seperti ini karena bisa membantu pekerjaannya. Bukan salahku bisa memiliki ilmu pengetahuan yang mencapai tingkat atas diusiaku yang masih kecil ini..." gumam Raka.


Raka terus saja bergumam seraya mengistirahatkan tubuh kecilnya. Matanya sempat terpejam sebentar karena rasa lelah fisik dan juga pikirannya. Tak bisa dipungkiri, Raka merindukan pelukan papa dan mamanya.


Raka meluruskan kakinya agar tidak kram karena ingin segera meninggalkan tempat itu berhubung malam semakin larut. Dia tidak ingin ibu panti semakin khawatir padanya.


Raka yang masih memejamkan matanya kaget saat ada seseorang yang menabrak kakinya hingga tersungkur.


Bugh!


" Auwww...!"


.


.


TBC


.


.