Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 138


Beberapa bulan kemudian,


Saat ini Arvan sedang mondar - mandir di depan ruang persalinan. Erina yang dua jam yang lalu mengalami kontraksi segera ditangani oleh dokter di ruang persalinan.


" Van, bisakah kau berhenti dan duduk saja...!" kesal William.


Ayah dan ibu hanya tersenyum melihat tingkah Arvan yang aneh. Adam duduk di ujung ruangan menyendiri sambil memainkan ponselnya.


" Apakah tidak ada proses yang lebih cepat, kak? Kenapa lama sekali? Erina juga tidak mengijinkan aku ikut masuk..." Arvan malah semakin panik.


" Bukan Erina yang membuat panik, tapi tingkahmu itu yang membuat orang lain jengah..." sarkas William.


Mungkin ini adalah pengalaman pertama bagi Arvan menemani istrinya melahirkan. Erina yang menolak untuk cesar membuat Arvan semakin khawatir. Padahal kemarin, saat istrinya William melahirkan dengan operasi cesar tidak membutuhkan waktu yang lama.


" Kenapa kak Willy menyuruh kakak ipar untuk cesar kemarin?" tanya Arvan.


" Dulu saat melahirkan Monica juga melakukan operasi. Saya tahu seperti apa perjuangan seorang wanita saat melahirkan normal saat menemani Erina dulu..." jawab William.


" Kenapa dia melakukan semua itu jika merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa...?"


" Itulah hebatnya wanita, mereka rela mengorbankan nyawanya demi anaknya. Perjuangan mereka sungguh sangat luar biasa..."


" Kak, aku ingin masuk menemani Erina..." pinta Arvan.


" Kau tidak dengar tadi Erina bilang apa? Sudah, kamu tenang saja disini..."


Tak lama dokter keluar dari ruang persalinan bersama seorang perawat.


" Dokter, apakah anak saya sudah lahir...?" tanya Arvan cemas.


" Belum, Tuan. Masih pembukaan lima, bersabarlah. Siapa yang bernama nyonya Sarah? Pasien ingin ditemani oleh nyonya Sarah..."


" Saya, Dok. Apakah menantu saya baik - baik saja...?"


" Iya, nyonya. Pasien cukup sehat, kita bersabar saja menunggu kelahirannya..."


" Dok, saya boleh masuk...?" tanya Arvan.


" Silahkan, Tuan..."


Nyonya Sarah dan Arvan segera masuk ke ruang persalinan menemui Erina.


" Sayang, apa kau baik - baik saja? Apa ada yang sakit...?" Arvan mencium kening istrinya cukup lama.


" Aku baik - baik saja, kak. Jangan khawatir, kau jelek dengan wajah seperti itu..." sahut Erina.


" Kenapa mengejekku? Aku sangat mencemaskanmu, sayang..."


" Iya, aku tahu kakak khawatir. Tapi lebih baik jika kakak menunggu diluar saja..."


" Tidak, aku akan menemanimu sampai anak kita lahir..."


" Tapi, kak_..."


" Ssttt... aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian..."


" Iya, Rin. Dulu Willy yang menemanimu saat melahirkan Raka. Biarkan sekarang Arvan menemanimu, dia adalah suaminya. Sudah menjadi kewajiban Arvan untuk mendampingimu di saat seperti ini..." kata ibu Sarah.


" Tapi, Bu. Erin tidak_..."


" Sudahlah, kau lebih membutuhkan suamimu daripada ibu. Sekarang ibu keluar dulu, Arvan akan menjagamu dengan baik..."


Erina menatap kepergian ibunya lalu menatap sang suami yang juga menatapnya sendu. Erina sebenarnya tidak ingin Arvan melihatnya saat ia sedang merasakan sakitnya melahirkan.


" Auwww...!" ringis Erina tertahan.


" Sayang, apa sudah mau lahiran...?" tanya Arvan panik.


Dokter segera memeriksa Erina dan mempersiapkan persalinan yang sudah sampai pada waktunya. Arvan merasakan ikut sakit di seluruh tubuhnya kala melihat sang istri berteriak menahan sakit.


Hingga setengah jam kemudian, akhirnya terdengar suara tangisan bayi mungil yang terlihat menggemaskan.


" Aakkhhh...!" pekik Erina kencang.


Arvan menggenggam erat tangan istrinya lalu mencium keningnya setelah bayi itu lahir. Tubuh Erina semakin melemah saat Arvan memeluknya dengan erat.


" Dokter, jenis kelamin anak saya apa...?" tanya Arvan.


" Selamat, Tuan. Anak Anda berjenis kelamin laki - laki..." jawab dokter itu dengan tersenyum.


" Terimakasih, Dokter..."


# # #


Sudah satu minggu setelah kelahiran putra keduanya, Erina dan Arvan terlihat semakin bahagia. Mereka memberi nama putra kedua mereka ' RAYYAN SEBASTIAN " atas usulan Raka.


Semua menyambut bahagia kehadiran anggota baru dalam keluarga Sebastian. Seluruh keluarga berkumpul menjadi satu termasuk Hans dan Ricko.


Sandra tidak ikut ke London karena kehamilannya yang sudah menginjak delapan bulan membuatnya sering kelelahan. Ricko tidak tega jika harus mengajaknya bepergian jauh.


Delia dan Hans, mereka merencanakan pernikahannya setelah kelahiran anak Sandra nanti. Hans ingin semua keluarganya bisa berkumpul tanpa terlewat satupun.


Arvan yang sudah menetap di London, mempercayakan perusahaan lamanya kepada Ricko sedangkan Hans mengelola perusahaan yang baru.


Kini Arvan menggantikan posisi CEO yang tadinya di jabat sang istri di perusahaan sang ayah. Arvan sudah sangat lelah jika harus pulang pergi Indonesia - Inggris setiap minggu.


Adam yang masih setia menjadi asisten CEO, sekarang harus berhadapan langsung dengan boss baru yang menurutnya arogan. Dia memainkan ponselnya dengan sedikit tersenyum saat membuka pesan dari seseorang. Ada sesuatu yang ia sembunyikan dari semua orang.


# # #


Arvan dan Erina duduk di taman halaman rumah saat kedua anaknya sudah tidur. Menatap langit malam yang begitu cerah dengan jutaan bintang yang bertaburan di angkasa.


" Sayang, apa kau bahagia hidup bersamaku...?" tanya Arvan.


" Tentu saja, kak Arvan adalah cinta pertama dan terakhirku. Seperti apapun masa lalu kita dulu, aku bersyukur akhirnya kita berjodoh..." jawab Erina dengan tersenyum.


Arvan mendaratkan ciumannya di bibir sang istri dengan lembut lalu tersenyum.


" Terimakasih, sayang. Aku berjanji akan selalu berusaha untuk membahagiakan keluarga kecil kita. Kau juga cinta pertama dan terakhirku. Semoga kita bisa bahagia seperti ini selamanya..."


" Iya, kak. Aku juga ingin bersamamu selamanya, melewati suka dan duka bersama. Membesarkan anak - anak kita dengan kasih sayang yang utuh. Aku tidak mau anak - anak kita diasuh oleh orangtua sambung..."


" Jangan bicara seperti itu, sayang. Kita akan melewati suka dan duka bersama. Tidak akan ada yang namanya orangtua sambung untuk Raka dan Rayyan. Kita akan mendidik anak - anak kita berdua dengan cinta dan kasih sayang..."


Erina menghapus airmatanya lalu mengmenggelamkan diri ke dalam dekapan sang suami yang terasa sangat nyaman.


" Jangan pernah lelah untuk mencintaiku meskipun kita berada pada titik paling rendah sekalipun. Jangan biarkan ada orang lain masuk dalam keluarga kecil kita. Rasa cinta dan saling percaya akan menguatkan bahtera rumah tangga ini..." ucap Erina.


" Iya, semoga tak ada lagi cobaan besar yang akan menguji cinta kita lagi. Kita akan hidup bahagia seperti ini selamanya..."


Disaksikan jutaan bintang yang menghiasi langit malam, mereka mengungkapkan janji setia selamanya dalam membina rumah tangga yang akan mereka arungi bersama. Hidup bersama anak - anak yang mereka cintai menjadi keluarga yang utuh, harmonis dan penuh kasih sayang.


" Sayang, kapan ya kita bisa honeymoon...? Masa' anak udah dua kita tidak pernah jalan berdua..." kata Arvan.


" Aku tidak mau pergi tanpa anak - anak..." sahut Erina.


" Huft... itu bukan honeymoon namanya, tapi liburan keluarga..." sungut Arvan.


" Aku sudah cukup bahagia seperti ini bersamamu, kak. Tak ada hari yang paling indah selain kebersamaan kita bersama anak - anak..."


Arvan dan Erina saling berpelukan erat. Tak ada kata yang bisa diungkapkan untuk menggambarkan betapa bahagianya mereka saat ini.


.


.


THE END


.


.


* * *


Terimakasih para readers yang sudah membaca dan memberikan dukungan untuk novel ini. Semoga dapat menjadi hiburan di kala waktu senggang.


.


.