
" Doorrr... Doorrr... Doorrr...!!!"
" Aakkkh...!!!"
Erina mendorong tubuh Arvan hingga dia yang terkena tembakan pada lengan kirinya.
" Erinaaa...!" teriak Arvan.
Ricko dengan cepat mengeluarkan senjatanya dan menembak Selly. Namun wanita itu sangat licik dengan menarik tubuh ibunya sebagai tameng. Untung saja Ricko hanya menembak bagian kakinya.
Selly berhasil kabur walaupun ibu dan anak buahnya tertangkap.
" Mamaa...!" pekik Raka.
Raka memeluk ibunya seraya menangis. Hans segera menyuruh anak buahnya untuk mengambil mobil yang terparkir agak jauh dari tempat itu.
" Nona Erina..." lirih bik Ina seraya meneteskan airmata.
" Saya tidak apa - apa, bik... ini hanya luka kecil saja..." sahut Erina tersenyum.
" Sampai kapan Non berusaha terlihat tegar di hadapan orang lain...?"
" Saya benar - benar baik, bik... jangan khawatir..."
Arvan merengkuh tubuh Erina yang sedang menahan nyeri di lengannya. Darah tak berhenti mengalir hingga Raka melepas sweather yang dipakainya untuk membalut lengan sang Mama seperti kejadian satu bulan yang lalu.
" Sampai kapan kamu akan mengorbankan pakaianmu untuk membalut luka mama...?" goda Erina.
" Sampai mama tidak bersikap ceroboh dan membahayakan diri sendiri..." sahut Raka cuek namun di tanggapi dengan senyuman oleh semua orang.
Tak lama mobil Ricko dan anak buahnya datang. Arvan langsung memapah tubuh Erina masuk ke dalam mobil.
" Sayang, kenapa kau lakukan ini...? Aku tidak mau kamu terluka lagi..." ucap Arvan lembut.
Erina menatap jalanan tanpa menghiraukan ucapan Arvan. Dia lelah berdebat dengan Arvan untuk saat ini.
" Kenapa diam? Apa kau marah padaku...?"
" Maafkan aku, bukan niatku untuk membentakmu tadi. Aku hanya khawatir dengan keselamatan Raka..." ucap Arvan sendu.
Tanpa terasa, mereka sudah sampai di rumah sakit. Erina langsung ditangani di ruang IGD.
" Nona, ada dua peluru yang bersarang di lengan Anda, kami akan melakukan operasi kecil untuk mengambilnya..." ujar dokter itu menjelaskan.
" Lakukan saja yang menurut dokter baik..." sahut Erina tersenyum.
" Baiklah, saya akan menyiapkan ruang operasinya dulu..."
" Silahkan dokter..."
Dokter keluar dari ruangan IGD dan menyuruh perawat menyiapkan ruang operasi dan peralatannya.
" Dokter, bagaimana keadaan Erina...?" tanya Arvan khawatir.
" Kami akan melakukan operasi sebentar lagi Tuan..." jawab dokter itu pelan.
" Apa keadaannya parah...?"
" Tidak, tapi pelurunya harus tetap dikeluarkan..."
" Boleh saya menemuinya...?"
" Tentu saja, silahkan..."
Arvan segera masuk ke ruang IGD untuk menemani Erina. Arvan menghela nafas panjang sebelum berbicara dengan Erina.
" Sayang... kenapa harus terjadi padamu? Aku tidak mau terjadi hal buruk padamu..."
" Kau juga pernah menyelamatkanku, aku hanya ingin balas budi..."
" Kau adalah ibu dari anakku, sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga dan melindungi kalian..."
Erina mencoba memejamkan matanya karena tak ingin berinteraksi lebih lama dengan Arvan.
" Maafkan aku, sayang... aku tidak akan melakukan itu lagi padamu. Aku sungguh sangat menyesal dengan perbuatanku tadi. Jangan mengabaikan aku, Erin... hatiku tidak sanggup melihat amarahmu seperti ini..."
" Apa kau akan terus mengganggu waktu istirahatku...?"
" Tidurlah, anggap saja aku tidak ada. Aku akan terus menjagamu disini..."
" Semua ini tidak akan terjadi jika kau mau menerima kak Selly..."
" Jangan sebut nama itu lagi sayang, aku hanya mencintaimu. Hanya kamu satu - satunya wanita yang bisa membuatku jatuh cinta..."
" Pergilah, kak... aku ingin sendiri..."
" Tidak, Erin... kau boleh mengabaikanku dan menganggap aku tidak ada, tapi jangan memintaku menjauhimu..." ucap Arvan memohon.
Tak lama dokter dan perawat datang untuk membawa Erina ke ruang operasi. Arvan ikut mengantarkannya sampai di depan ruang operasi. Hans juga datang setelah mengantar Raka pulang ke rumah utama.
" Van, gimana keadaan Erina...?" tanya Hans cemas.
" Tidak apa - apa, hanya operasi untuk mengeluarkan peluru di lengannya..."
" Syukurlah... tapi gimana denganmu? Luka di punggungmu...?"
Arvan hanya tersenyum dengan pertanyaan Hans. Dia sendiripun sampai lupa jika seluruh tubuhnya rasanya seperti patah.
" Sudahlah, ini hanya luka kecil. Lagi - lagi aku menyakitinya..." Arvan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Hans tahu apa yang sekarang ini tengah dialami saudara angkatnya. Dia mungkin juga harus turun tangan untuk meluluhkan hati Erina agar mereka bisa hidup bersama dengan bahagia.
" Arvan... kok kamu ada disini...?"
Tiba - tiba Delia datang entah darimana. Wanita itu duduk di samping Arvan tanpa melirik sedikitpun ke arah Hans.
" Iya, aku juga nggak tahu. Tiba - tiba saja di telfon suruh tugas siang..." gerutu Delia.
Arvan menatap Hans yang berpura - pura tak mendengar obrolannya dengan Delia. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan mereka berdua.
" Ya sudah, kamu kembali ke tempat kerjamu..." ujar Arvan.
" Kamu ngapain disini...?" tanya Delia.
" Erina terkena tembakan di lengannya dan harus di operasi untuk mengeluarkan pelurunya..."
" Astaga... semoga Erina baik - baik saja..."
" Terimakasih Delia sayang..." goda Arvan.
" Apaan sih, Van...! Ayo, Delia kita pergi dari sini...!"
Hans meraih tangan Delia, menjauhkannya dari Arvan secepatnya. Delia bingung dengan sikap Hans yang terlalu over protektif padanya.
" Hans... lepasin...!" pekik Delia.
" Diamlah atau aku akan menggendongmu...!" ancam Hans.
Sampai di ruangan Delia, Hans melepaskan genggaman tangannya lalu di kursi di depan meja kerja gadis itu.
" Maafkan aku soal semalam ya...?" ucap Hans.
" Pergilah! Aku banyak pekerjaan sekarang...!" sahut Delia datar.
" Sampai kapan kau mau mendiamkan aku...? Hanya kamu yang bisa membuat aku merasa nyaman..."
" Hans... sudahlah! Aku tidak punya waktu untuk bersamamu saat ini..."
" Baiklah, kalau begitu nanti aku jemput pulangnya..."
" Aku bawa mobil sendiri, Hans..."
" Aku hanya ingin mengantarmu pulang dan kau menolakku...?"
" Bukan begitu, Hans... aku tahu kamu sangat lelah. Sebaiknya kamu istirahat dan jangan meminum minuman haram itu lagi..."
" Huft... kau yang membuatku melakukan itu..."
" Aku...?"
Delia tidak habis pikir dengan kelakuan Hans yang kini malah menyalahkan dirinya.
" Sebaiknya kau pulang, Hans...!"
" Aku akan menunggu sampai kau pulang...!" ujar Hans tegas.
" Baiklah, terserah kau saja. Aku akan bekerja sampai jam tujuh malam..."
" Ya sudah, aku mau menemani Arvan dulu..."
Hans mendekati Delia lalu memeluknya dengan erat. Dia juga memberikan kecupan di kening gadis itu cukup lama.
" Bekerjalah dengan baik..."
Hans mengacak pelan rambut gadis itu lalu meninggalkannya supaya dia bisa bekerja dengan tenang.
# # #
Selesai melakukan operasi, Erina dibawa ke ruang perawatan VVIP. Arvan dengan setia menjaganya tanpa mengenal rasa lelah dan sakit ditubuhnya.
" Kak, pulanglah... Raka sama siapa kalau papanya disini...?" ucap Erina.
" Kamu tidak perlu khawatir, bik Ina akan menjaganya dengan baik seperti dulu dia menjagamu dari lahir hingga dewasa..." jawab Arvan lembut.
" Oh iya, ibu gimana...?"
" Hhhh... dia sudah dibawa ke kantor polisi..."
" Aku ingin bertemu dengannya..."
" Nanti kalau kamu sudah sembuh kita kesana, sayang..."
" Apakah aku terlalu jahat padamu, kak...?"
Erina meneteskan airmatanya yang tiba - tiba keluar. Sikapnya kepada Arvan memang sangat keterlaluan, namun dia masih belum bisa menerima masa lalunya itu. Setiap kali kenangan itu muncul, rasa benci dan amarah yang memuncak tiba - tiba datang tak terkendali.
" Tidak, aku janji akan menghapuskan luka itu dengan seluruh cintaku kepadamu..."
" Maafkan aku, kak... coba aku lihat punggungmu...?"
" Tidak usah sayang, aku udah tidak apa - apa..."
" Bohong...!"
Arvan mendekatkan wajahnya ke wajah Erina dengan tatapan mata yang saling beradu. Seulas senyum manis dari lelaki itu mampu menghipnotis Erina.
" Sayang, aku_..."
.
.
TBC
.
.