Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 109


" Erina...!" panggil seseorang.


Erina dan Raka menoleh ke belakang melihat siapa yang datang.


" Tante..." ucap Erina.


Erina langsung berdiri menghampiri ibunya Samuel. Mereka saling berpelukan dan ibunya Sam sampai menangis haru karena dia pikir Erina tidak akan pernah mau menemui Sam lagi walaupun sekarang sudah terkubur di dalam tanah.


" Terimakasih kamu masih mau menemui Sam, Erin. Tante pikir kesalahan yang diperbuat padamu itu terlalu besar..."


" Kebaikan Sam selama ini untuk Erin sangatlah besar, tante. Kesalahan Sam tidak seberapa dibandingkan kebaikannya kepada Erin. Bagaimanapun juga, Samuel adalah saudara Erina..."


" Tante senang mendengarnya, Nak. Jika ada waktu, berkunjunglah ke rumah seperti dulu walaupun kini sudah tak ada Sam lagi..."


" Iya, tante. Erina akan usahakan untuk berkunjung. Sekarang pekerjaan saya sangat banyak, mungkin Erina akan kembali ke London..."


" Sam juga membuka usaha disana, mungkin tante juga akan kesana untuk mengurusnya..."


Mereka menabur bunga di pusara Samuel dan meletakkan seikat bunga mawar putih seperti yang sering dibawa Sam jika Erina sedang bersedih.


" Erin, tante pulang dulu ya...? Om kamu pasti nyariin, soalnya tadi tante tidak sempat pamit..."


" Tante kesini dengan sopir...?"


" Tidak, tadi naik taksi..."


" Ya sudah, Erina antar pulang saja ya tante...?"


" Tidak usah, anak kamu nanti lelah..."


" Tidak, nenek. Raka juga ingin tahu dimana rumah nenek..." sahut Raka.


" Kau pintar sekali, sayang. Nenek sangat senang jika kamu mau mengantarkan nenek..." ucap ibunya Samuel.


" Ayo, tante. Erina dan Raka akan mengantar tante sampai rumah..."


" Terimakasih, tante akan sangat bahagia jika kalian bisa sering main ke rumah..."


Erina segera mengantar ibunya Samuel pulang ke rumahnya lalu segera pulang karena tak ingin suaminya cemas.


# # #


" Kak Arvan...!" Erina masuk ke dalam kamar namun tak mendapati suaminya disana.


" Kemana lagi dia...? Huft... menyusahkan saja..." gerutu Erina.


Erina kembali ke bawah dan berpapasan dengan bik Ina di dapur. Erina langsung menarik bik Ina ke dapur untuk membicarakan sesuatu.


" Ada apa sih, Non...?" tanya bik Ina.


" Bik, Erina bingung sekarang. Antara memilih tetap disini bersama kak Arvan atau ikut ayah pulang ke London..." ucap Erina.


" Kalau menurut bibik, seorang istri seharusnya memang ikut dengan suaminya kecuali ada alasan yang lebih kuat mereka harus berpisah, Non..."


" Aku belum lama mengenal kak Arvan, bik. Sedangkan ayah dan ibu, beliau yang sudah memberikan kasih sayang yang tulus dan kehidupan yang layak kepada Erina..."


" Keputusan Non Erin apa...?"


" Erina akan bicara dulu dengan kak Arvan. Ayah tidak boleh terlalu lelah, jadi Erin yang harus mengurus perusahaan..."


" Tuan Arvan itu orang yang baik, Non. Bicaralah dengan baik agar tidak terjadi pertengkaran lagi..."


" Iya, bik. Sekarang kak Arvan dimana...?"


" Tadi bibik lihat ada di halaman belakang..."


" Kalau begitu Erin kesana dulu ya, bik..."


" Iya, Non... hati - hati, kandungannya masih rawan..."


" Iya, bik..."


Erina segera menyusul sang suami ke halaman belakang. Dia sudah hafal dimana posisi suaminya sekarang. Sama seperti Raka yang sangat senang manjat pohon mangga.


" Kak Arvaannn...! Turun...!" teriak Erina lantang.


Arvan yang sedang tidak fokus dengan pikirannya sambil mengunyah mangga muda yang baru ia petik itu langsung kaget.


" Astaga... Sayang, pelankan bicaramu..." sahut Arvan.


" Turun sekarang...!" perintah Erina.


" Iya, sebentar. Kamu mau mangga muda nggak? Kakak petikin sekalian..."


" Tidak usah, cepatlah turun atau Erin yang naik..."


" Eh... jangan, sayang. Kakak turun sekarang..."


Arvan segera turun dari pohon mangga dengan melompat tepat di depan Erina.


" Sayang, kau sangat cantik..." bisik Arvan.


" Nggak usah ngerayu, ada yang mau Erin bicarakan dengan kakak..." ujar Erina.


" Peluk dulu baru kita bicara..." rengek Arvan.


Erina langsung memeluk suaminya dengan erat. Bukan hanya itu, Erina juga mencium seluruh wajah suaminya dan berakhir dengan melabuhkan ciumannya di bibir suaminya.


" Kita bicara di dalam saja ya...?" ucap Erina.


" Iya, sayang. Mau di gendong biar nggak capek...?"


" Tidak usah, kak. Erin bisa jalan sendiri..."


" Tadi pergi kemana...?"


" Ke makan ayah dan ibu lalu ke makan Samuel juga..."


" Kenapa tidak mengajakku? Aku udah satu bulan belum mengunjungi mertuaku..."


Sampai di dalam kamar, Erina langsung memeluk suaminya dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Arvan.


" Sayang, ada apa...?" tanya Arvan heran dengan sikap istrinya.


" Apa kak Arvan percaya padaku...?"


" Percaya apa, sayang? Kakak tidak paham dengan ucapanmu..."


" Duduk dulu, ada yang mau Erina sampaikan..."


Erina dan Arvan duduk di sofa. Keduanya saling terdiam sejenak karena Erina masih ragu untuk menyampaikan maksudnya.


" Sayang, apa kamu menginginkan sesuatu? Apapun yang kamu inginkan, pasti kakak carikan..." ujar Arvan.


" Bukan itu, kak. Tapi janji kakak tidak boleh marah..." sahut Erina.


" Katakan saja, sayang. Aku ingin kau selalu merasa nyaman denganku. Ungkapkanlah semua yang kau inginkan..."


Melihat sikap lembut Arvan, Erina jadi tidak tega untuk ungkapkan keinginannya.


" Kak... Erin... akan ikut ayah kembali ke London..."


" Apaa? Kau tidak bercanda kan...?"


" Kak, dengarkan dulu penjelasanku..."


" Terserah, aku tahu kau masih belum bisa mencintaiku sampai saat ini..." ucap Arvan dengan kecewa.


" Kenapa kakak bicara seperti itu...? Erina hanya tidak mau ayah terlalu lelah mengurus pekerjaan sendiri..."


" Pergilah, aku tidak akan mencegahmu. Mungkin kau lebih bahagia tanpa diriku..."


" Kak Arvan! Sudah cukup, aku hanya ingin yang terbaik untuk semuanya. Aku janji akan berlaku adil untuk kak Arvan dan juga ayah ibu..."


" Adil bagaimana maksudmu...?"


Erina memejamkan matanya sejenak lalu menghembuskan nafasnya perlahan.


" Erina akan tinggal disini selama seminggu dan selanjutnya di London seminggu. Begitu untuk seterusnya Erina akan pulang pergi satu minggu sekali agar kalian tidak merasa terabaikan..."


" Tapi kau sedang hamil, tidak mungkin kau melakukan perjalanan jauh setiap minggu..."


" Tidak masalah, aku masih sanggup melakukannya..."


" Jangan asal bicara, Erin. Aku tidak mau terjadi apa - apa dengan anakku...!"


Erina mencoba untuk menahan airmatanya tidak keluar, namun pada kenyataannya airmata itu luruh begitu saja.


" Ya sudah, sekarang apa mau kakak...?"


" Kau tidak boleh pergi kemanapun dariku...!"


" Baiklah, aku tidak akan pergi..." ucap Erina datar.


Erina langsung beranjak dan pergi dari kamarnya meninggalkan Arvan yang masih terlihat marah padanya. Saat menuruni tangga, Erina dihadang oleh ayahnya yang baru keluar dari kamar.


" Erin, ada apa denganmu? Siapa yang membuatmu menangis..." tanya ayah khawatir.


" Tidak apa - apa, Yah. Erin hanya rindu pelukan ayah dan ibu..."


Erina langsung memeluk ayah mertuanya dengan tangisan yang semakin kencang.


" Erin, katakan pada ayah... Siapa yang sudah membuatmu menangis...?"


Ayah membawa Erina ke kamarnya karena sang istri juga ada di dalam kamar sedang membereskan pakaian mereka yang akan dibawa pulang ke London.


" Erin...! Apa yang terjadi padamu, sayang...?"


Nyonya Sarah meraih tangan Erina yang terasa sedikit menghangat.


" Sayang, kau demam...?"


Erin hanya menggelengkan kepalanya sembari terisak. Baru saja Erina hendak duduk, namun tubuhnya yang terasa lemah langsung jatuh ke tempat tidur.


" Eriinnn...!" teriak ayah dan ibu bersamaan.


" Bu, suruh orang untuk memanggil dokter. Erina tidak sadarkan diri..."


" Ibu telfon Delia saja, Yah..."


" Ya sudah, cepatlah hubungi dia..."


Nyonya Sarah segera menghubungi Delia. Namun karena jarak dari rumah sakit ke rumah Arvan jauh, Delia baru sampai setengah jam kemudian.


" Om, tante... apa yang terjadi dengan Erina...?"


" Kami tidak tahu, tadi dia turun dari kamarnya langsung tidak sadarkan diri..." ucap Ayah.


" Apa Arvan ada di rumah...?"


" Ibu belum melihatnya dari tadi..."


Setelah memeriksa keadaan Erina, Delia minta ijin keluar sebentar. Dia segera keluar untuk menghubungi seseorang.


" Hallo..."


.


.


TBC


.


.