
Arvan, Erina, Raka dan Adam berada di ruang sistem keamanan perusahaan.
Raka segera membuka komputernya dan mengubah sistemnya menjadi lebih kuat dibantu oleh papanya. Raka tidak mau ada perusahaan lain yang membobol data perusahaan milik kakeknya itu.
Adam kagum dan tidak percaya bahwa kemampuan anak sekecil itu sungguh luar biasa. Selain canggih dalam teknologi, Raka juga ahli dalam sains hanya saja Erina tidak mau Raka mengembangkannya terlalu dini takut mengganggu mentalnya.
" Yes! Sudah beres semuanya..." seru Raka.
" Akhirnya kita bisa pulang juga..." sahut Arvan.
" Makan dulu ya, pa. Raka lapar dari tadi..."
" Iya, nanti kita makan terus keliling kota baru pulang ke rumah..."
" Yeah! Raka tidak pernah jalan - jalan keluar kota. Mama selalu sibuk bekerja di kantor..."
Setelah merapikan semua pekerjaannya, mereka berempat segera meninggalkan kantor. Adam yang tadinya ingin pulang malah dijadikan sopir untuk mengantar sang boss berkeliling kota.
" Raka, kamu mau makan dimana...?" tanya Erina.
" Terserah Uncle Adam saja, Ma..." jawab Raka.
" Why...? Maaf, Tuan Muda... saya hanya sopir. Ini acara keluarga Anda, saya bisa makan di pinggir jalan..." sahut Adam seraya tersenyum.
" Tidak apa - apa, Uncle. Kita semua terserah Uncle Adam saja..."
Adam melirik Arvan dan Erina lewat kaca spion seakan minta pendapat.
" Ya sudah, terserah Adam saja..." sahut Arvan.
Raka nampak tersenyum di samping Adam. Sepertinya anak itu malah mempunyai ide untuk mengerjai kedua orangtuanya.
Raka mengetik sebuah pesan kepada Adam untuk menjalankan sebuah rencana. Adam yang merasakan getaran ponsel di saku jasnya langsung mengambilnya. Dia kaget karena itu adalah pesan dari Raka. Setelah membaca pesannya, Adam mulai jalan dengan cepat mencari tempat yang tepat untuk makan malam.
Sampai di sebuah Restoran mewah, Adam masuk terlebih dahulu untuk memesan privat room untuk majikannya. Setelah selesai, Adam kembali keluar bersama seorang pelayan yang akan mengantar mereka.
" Silahkan, Tuan. Saya sudah memesan tempatnya, pelayan ini akan mengantar Anda..."
" Kau mau kemana...?" tanya Erina.
Adam melirik ke arah Raka lalu tersenyum dengan sangat manis.
" Raka meminta dibelikan ice cream di Kedai seberang jalan. Kami akan kesana sebentar, masuklah terlebih dahulu..."
" Jangan lama - lama..." ujar Arvan.
" Baik, Tuan..."
Setelah Arvan dan Erina masuk, Adam dan Raka bergegas masuk ke dalam mobil dan melaju menjauhi tempat itu.
" Raka, kita mau kemana sekarang...?" tanya Adam.
" Sebenarnya Raka itu pengen makan nasi kuning seperti yang di Indonesia, Uncle. Tapi disini tidak ada yang menjualnya..." jawab Raka.
" Memang tidak ada kalau seperti itu. Tapi Uncle bisa membuatnya jika kamu sabar menanti..."
" Yakin Uncle bisa masak nasi kuning...?"
" Iya, dulu waktu masih di Indonesia ibunya Uncle itu penjual nasi kuning. Jadi Uncle sering membantunya untuk memasak dan berjualan..."
" Apa sekarang masih jualan, Uncle...?"
" Tidak, beliau sudah tua. Uncle selalu mengirimkan uang untuk kebutuhan sehari - hari ibu di desa..."
" Ibunya Uncle sendirian...? Kenapa tidak diajak kesini saja...?"
" Tidak, Uncle masih punya dua adik. Satu laki - laki dan satu perempuan. Mereka masih sekolah SMP dan SMA..."
" Nanti kalau Uncle pulang ke Indonesia, Raka ikut ya...?"
" Iya, asalkan papa dan mama kamu mengijinkan pasti aku ajak..."
" Terimakasih, Uncle..."
Adam sedang browsing supermarket yang menjual bumbu rempah di kota itu namun tidak ditemukan. Setelah berpikir lagi, Adam baru ingat bahwa di toko bunga Nyonya Sarah juga menanam tanaman rempah - rempah disana.
" Raka, bisakah kau menghubungi nenek Sarah untuk meminta ijin masuk ke toko bunga...?"
" Untuk apa, Uncle...?"
" Bumbu untuk membuat nasi kuning ada disana. Nanti kita bisa membuatnya di rumah dan makan bersama yang lain. Pasti terasa nikmat makan ramai - ramai..."
" Ok, Uncle. Raka telfon nenek dulu..."
# # #
Sementara di Restoran mewah itu, Arvan dan Erina jenuh menanti kedatangan Adam dan Raka. Sudah lima belas menit menunggu hingga makanan yang mereka pesan datang namun Adam belum juga muncul.
" Kak, mereka kenapa belum datang? Apa ice creamnya dimakan disana...?"
" Tidak tahu, sayang. Coba kamu telfon Raka deh..."
Erina segera menghubungi Raka namun ponselnya Raka sepertinya sedang sibuk. Erina jadi sedikit khawatir walaupun dia percaya Adam bisa melindungi anaknya.
" Nomornya sibuk, kak. Mereka kemana sih...?"
" Coba telfon Adam, siapa tahu nyambung..."
Erina menghubungi Adam. Nomornya aktif namun tidak diangkat. Erina semakin frustasi takut terjadi apa - apa pada mereka.
" Kenapa Adam tidak mengangkat telfonku...?" ucap Erina cemas.
Erina mencoba menghubungi Raka lagi dan kali ini nyambung. Erina berharap Raka menjawab telfonnya.
[ " Hallo, Ma..." ]
" Raka, kamu dimana? Mama sama papa cemas nungguin kamu nggak datang - datang..."
[ " Astaga... maaf, Ma. Raka lupa mau kasih tahu mama kalau Raka dan Uncle Adam langsung pulang. Mama makan saja sama papa terus pulangnya naik taksi. Bye, Ma... sampai ketemu di rumah..." ]
" Raka_..."
Klik!
Raka memutuskan panggilan secara sepihak membuat Erina semakin kesal.
" Ada apa sayang...?" tanya Arvan.
" Raka dan Adam sudah pulang, pantas saja makanannya cuma dua porsi. Pasti mereka berdua sudah membuat rencana ini dari awal..."
" Ya sudah, kalau begitu kita nikmati saja dinner romantis ini berdua..."
Tak lama, pelayan membawa buket mawar putih yang tersusun sangat rapi.
" Maaf Tuan, Nyonya... ini ada kiriman bunga untuk Anda..."
" Terimakasih..." ucap Erina menerima bunga itu.
Erina mencari nama pengirim bunga itu di kartu yang terselip diantara bunga - bunga itu.
" Ini semua bukan kerjaan kakak, kan...?" cecar Erina.
" Bukan sayang, sumpah aku tidak tahu apa - apa..." ucap Arvan.
" Astaga... kenapa nama pengirimnya Raka..." gumam Erina.
" Ya sudah, kita makan terus langsung pulang. Besok saja keliling kota mumpung weekend. Tapi paginya aku mau menemani kak Willy menangani sebuah kasus pembunuhan dulu..."
" Tapi jangan lama - lama ya...?"
" Pasti sayang, mana bisa aku jauh darimu terlalu lama..."
" Ish... lebay..." cibir Erina.
# # #
Adam dan Raka sedang sibuk di dapur menyiapkan bahan - bahan untuk membuat nasi uduk. Adam tiba - tiba jadi rindu dengan keluarganya di desa. Dia tersenyum melihat Raka yang sangat antusias membantunya.
" Uncle, masaknya lama nggak? Raka udah laper mau pingsan..." rengek Raka.
" Makan yang lain dulu ya sambil nungguin nasinya mateng..." ujar Adam.
" Nggak usah, nanti terlanjur kenyang nggak jadi makan nasinya..." tolak Raka.
Nyonya Sarah yang baru keluar dari kamar berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Dia heran melihat ada Adam dan Raka sedang memasak.
" Adam, Raka... kalian sedang apa...?" tanya Nyonya Sarah.
" Eh... Nyonya, maaf mengganggu istirahat Anda..." ucap Adam.
" Oh tidak, saya hanya ingin mengambil minum saja. Kamu masak apa itu...?"
" Mmmm... nasi kuning, Nyonya. Raka yang minta..."
" Masaknya banyak nggak, saya juga mau..."
" Banyak kok, Nyonya. Cukup untuk sepuluh orang..."
Sarah tidak kembali lagi ke kamar justru membantu Adam membuat lauk untuk topping nasi kuningnya.
" Ibu, Ayah nungguin minumnya dari tadi malah nggak balik - balik lagi ke kamar..." ujar Tuan Regan.
" Astaga, Ayah... maaf ibu lupa. Soalnya sedang membantu Adam membuat lauk untuk nasi kuning..."
" Memangnya ada yang ulangtahun...?"
" Tidak, Raka yang minta dibuatin sama Adam..."
Tuan Regan menatap Adam dengan heran. Pemuda yang terlihat kekar dan tinggi seperti dia masak di dapur hanya karena permintaan anak kecil.
" Kamu bisa masak, Dam...?" tanya Tuan Regan.
" Sedikit, Tuan. Ibu saya di kampung kebetulan pedagang nasi kuning. Jadi saya sesekali membantu beliau memasak..."
" Kamu memang hebat..." puji Tuan Regan.
Adam sangat bersyukur karena di kelilingi orang baik di negeri orang. Dulu keluarganya jadi hinaan orang karena kemiskinannya. Adam berusaha keras untuk bisa bertahan hidup bersama keluarganya hingga akhirnya ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di negara ini. Dua tahun pertama di Inggris, Adam kuliah sambil bekerja di sebuah Restoran dengan mengambil kuliah malam.
Memasuki tahun ketiga, Adam berkenalan dengan Erina yang merupakan mahasiswi baru di kampusnya. Setelah beberapa minggu berteman, Erina tahu Adam punya bakat dalam bidang bisnis dan manajemen. Maka dari itu, tanpa ragu Erina menawarkan pekerjaan sebagai assisten pribadinya di kantor.
.
.
TBC
.
.