Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 96


" Doorrr...! Doorrr...! Doorrr...!!!"


" Erina, merunduk...!" teriak Samuel.


" Siapa mereka, Sam...?" tanya Erina.


" Itu anak buah Selly, maafkan aku..." ucap Samuel penuh penyesalan.


" Kenapa minta maaf...?"


" Aku sudah membuatmu dalam bahaya..."


Samuel mempercepat laju mobilnya. Mereka saling kejar - kejaran di malam yang gelap. Rentetan peluru masih menghujani mobil bagian belakang Samuel.


" Bertahanlah, Rin. Aku akan menyelamatkanmu..."


" Apa kau punya senjata, Sam...?"


" Ada, ambil di bawah itu..."


Erina mengambil pistol milik Samuel dan membalas serangan musuh. Namun tanpa mereka sadari, mobil mereka terhalang oleh dua mobil yang berhenti di depannya. Samuel tidak bisa menghindar saat mobilnya menabrak mobil di depannya.


Braaakkk!


" Auwww...!"


Mobil Samuel terguling saat hendak menghindari mobil di depannya.


" Erin, bangunlah...!" teriak Samuel.


Mereka berdua terjebak di dalam mobil yang telah hancur. Samuel mencoba menyadarkan Erina disampingnya yang kini tengah pingsan akibat benturan di kepalanya.


" Erin, sadarlah...!" rintih Samuel.


Samuel mencari ponsel disakunya mencoba menghubungi ponsel Erina dengan harapan ponsel itu dibawa suaminya sebelum para penjahat menangkap mereka berdua.


[ " Hallo...! Dimana Erina...! " ] teriak orang di seberang telfon.


" Tolong lacak ponselku ini, Erina bersamaku..." pinta Samuel seraya menahan sakit di kakinya.


Setelah mengaktifkan lokasi, Samuel mencoba untuk keluar dari mobil itu. Namun baru saja ingin membuka pintu mobil, para penjahat sudah mengepungnya. Samuel dan Erina yang sudah tidak berdaya di seret ke dalam mobil para penjahat itu.


# # #


" Hans, lacak ponsel Samuel...!" perintah Arvan.


" Siap Boss...!" sahut Hans.


Kini mereka semua berada di rumah utama. Ricko dan Adam menyiapkan senjata yang akan mereka bawa. Sedangkan Raka terus memantau cctv untuk mengetahui gerakan musuh dan juga mencari cara untuk bisa masuk ke rumah itu.


" Kenapa setiap orang yang masuk hilang di balik pohon itu ?" gumam Raka.


" Pa, ada mobil yang masuk ke rumah itu...!" seru Raka.


" Bukankah itu Erina dan Samuel..." kata Hans.


" Kenapa Samuel juga ikut menjadi tawanan...?" gumam Adam.


" Kita pergi sekarang...!" Arvan membawa senjata di saku jaketnya.


Yang lainpun mengikuti langkah Arvan dengan membawa senjata masing - masing termasuk Raka. Mereka juga telah melapor pada pihak berwajib untuk ikut meringkus Selly dan kawanannya.


" Pa, nanti Raka akan masuk lewat pintu utama. Papa lewat rumah kosong itu terus cari jalan di sekitar pohon besar. Raka yakin ada jalan tersembunyi di tempat itu..."


" Kamu hati - hati ya, sayang. Kamu bersama Uncle Adam berjaga dari pintu utama beserta para polisi. Nanti papa dan yang lain akan masuk lewat rumah kosong itu..."


" Papa juga hati - hati, kita harus bisa selamatkan mama..."


# # #


" Siram mereka dengan air...!" perintah Selly kepada anak buahnya.


" Baik, boss...!"


Byuurrr!!!


Erina dan Sam terkejut merasakan dinginnya air yang mengguyur tubuh mereka. Tangan dan kaki mereka terikat sehingga sulit untuk digerakkan.


" Erin, kau tidak apa - apa...?" bisik Samuel.


" Iya, kita dimana ini...?" tanya Erina sedikit pusing.


" Ini rumah orangtuamu, kita berada di ruang bawah tanah..."


" Astaga... kenapa nasib kita buruk seperti ini..."


" Semoga suamimu dapat menemukan kita, Rin..."


Selly datang dengan wajah angkuhnya menghampiri Erina dan Samuel.


" Hei... adikku, apa kabar? Sepertinya hidupmu sangat beruntung setelah keluar dari rumah ini..." seringai Selly.


" Kak Selly, apa yang kau mau dariku...!" teriak Erina.


" Hahahaa... sudah berani berteriak kau sekarang anak pelakor...!" Selly mencengkeram dagu Erina dengan kuat.


" Aku tidak pernah mengusikmu, kak. Kenapa kau selalu membuat masalah denganku..."


" Jangan berlagak bodoh kau! Dasar wanita penggoda! Kau sudah merebut Arvan dariku...!"


" Aku tidak pernah merebut Arvan darimu. Kau yang sudah menghancurkan hidupku..."


Selly tersenyum sinis lalu menatap Samuel yang sedari tadi hanya diam.


" Apa maksud kakak... Sam berkhianat padamu...?" tanya Erina penasaran.


" Kau ini polos atau bodoh... hah...! Apa kau tidak tahu jika semua ini rencanaku dengan Samuel...!" seringai Selly sinis.


" Sam, apa itu benar...?" Erina menatap Sam dengan kecewa.


" Maafkan aku, Rin. Aku khilaf karena hasutan Selly..."


" Apaa? Khilaf? Sam, aku sangat percaya padamu..."


" Aku menyesal, Rin. Maafkanlah aku..." kata Sam lirih.


Selly tersenyum lebar melihat penderitaan Erina. Ada kebahagiaan tersendiri saat dia bisa menyiksa adik tirinya itu. Tak ada penyesalan sedikitpun di hatinya saat melakukan sebuah kejahatan.


" Apa kau ingat penyerangan di London beberapa waktu yang lalu, Erin...? Semua itu adalah ulah Samuel..." ujar Selly.


" Cukup Selly! Semua ini terjadi karena hasutanmu...!" teriak Samuel.


Erina tidak percaya Samuel bisa setega itu padanya. Padahal sangat percaya pada Samuel dibandingkan pada suaminya sendiri.


" Aku tidak percaya kau melakukan itu, Sam. Aku sangat kecewa padamu..." tangis Erina pecah seketika.


" Maaf, Erin. Cinta telah membutakan hati dan pikiranku..." lirih Samuel.


Selly sudah muak melihat drama di depannya. Dia ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat.


" Sam, dimana pasporku...?!" bentak Selly.


" Cihh...! Kau pikir aku bodoh. Paspor itu tidak pernah ada untuk orang licik sepertimu..." seringai Samuel.


" Jangan bermain - main, Sam. Atau kau siap mati sekarang...!"


" Lepaskan aku dan Erina, kau akan mendapatkan paspor itu..."


" Apa kau mencoba bernegosiasi denganku? Hhh... kalian tidak akan pernah keluar dari sini dengan selamat..."


Salah satu anak buah Selly mendekat dan membisikkan sesuatu padanya.


" Sial...! Persiapkan diri kalian dan kurung mereka berdua di gudang belakang.. !" perintah Selly.


Selly sudah bersiap karena ada pergerakan di luar yang mencoba menerobos masuk.


# # #


Arvan mencari jalan masuk seperti yang dikatakan Raka. Dia mengitari pohon besar berkali - kali lalu merasakan pijakan kakinya terasa berbeda.


" Mundur...!" perintah Arvan kepada anak buahnya.


Arvan meraba tanah di bawah kakinya. Ada yang aneh dari rerumputan itu.


" Sial! Ini rumput palsu..." umpat Arvan.


Arvan mencoba untuk mencabut seluruh rumput palsu itu. Dibawahnya ternyata sebuah lorong yang tertutup pinju baja. Setelah berhasil membuka pintu itu, Arvan masuk diikuti Hans, Ricko dan para anak buahnya.


" Tempat yang bagus, mungkin bisa jadi inspirasi rumah masa depan..." celetuk Hans.


" Iya, dari luar terlihat biasa namun menyembunyikan pesona luar biasa di dalamnya..." sahut Ricko.


" Kalian seperti menemukan gadis perawan saja..." seloroh Arvan.


Semua malah bercanda di saat sedang genting. Mereka tidak tahu bagaimana nasib Erina dan Samuel di dalam sana.


" Dasar kau! Pikirannya perawan aja...!" Ricko menepuk kepala Arvan.


" Iya nih, istrinya kan sudah nggak perawan saat menikah..." ledek Hans.


" Jangan salah, aku kan udah mencobanya dulu sebelum memilih biar tidak tertipu saat sudah tanda tangan kontrak..." elak Arvan.


" Ish... Dasar bocah sialan...!" umpat Ricko.


" Apa Delia juga harus kucoba...?" tanya Hans seraya tertawa.


" Coba saja jika kau siap mati sebelum menikah..." sahut Ricko.


" Kau pasti penasaran ya...? Kau tidak tahu rasanya seperti apa..." ledek Arvan.


" Diam! Erina sedang di siksa di dalam sana tapi kau malah ngomongin perawan..." cibir Hans.


Mereka kembali fokus setelah mencapai ujung lorong. Ada beberapa pintu dalam ruangan itu. Mereka sedikit curiga saat di ruangan itu terlihat sunyi tanpa ada penghuninya.


" Van, kenapa sepi sekali? Jangan - jangan ini semua jebakan..." bisik Hans.


" Kau benar, sepertinya mereka sudah tahu kedatangan kita..." sahut Arvan.


" Sebaiknya kita berpencar untuk mencari Erina..." saran Ricko.


" Baiklah, kita bagi anak buah kita menjadi tiga tim. Beri tanda jika ada pergerakan musuh..." perintah Arvan.


Mereka menyusun strategi dengan cepat untuk segera bisa menemukan keberadaan Erina.


.


.


TBC


.


.