Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 60


Arvan dan yang lainnya sudah sampai di rumah. Mereka langsung masuk ke kamar masing - masing. Arvan menggendong Raka hendak masuk ke dalam kamar namun dihadang oleh ayah Regan.


" Van, biarkan Raka tidur di kamar Ayah. Sudah satu bulan lebih dia tak bersamaku. Ibumu sangat merindukan cucunya..." ujar Ayah Regan.


" Tapi, yah... apa tidak merepotkan kalian...?"


" Tidak, Raka sudah biasa tidur dengan Ayah dan ibumu..."


" Ya sudah, kalau begitu Arvan bawa ke kamar ayah..."


Setelah membawa Raka ke kamar ayahnya, Arvan bergegas kembali ke kamar menyusul sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.


" Sayang, kok belum ganti baju...?" tanya Arvan yang melihat Erina masih bermain ponsel.


" Sebentar, kak. Lagi balas chat dari teman kuliah dulu..."


" Dari Samuel...?!"


" Ya... ada beberapa pesan dari Sam juga, kak..."


" Mana ponselmu...!"


" Buat apa, kak...?"


" Apa kau akan mengabaikanku karena pesan dari pria itu?"


" Kak, Sam itu hanya teman tidak lebih..."


Erina mendekati Arvan yang tengah duduk membelakanginya. Dipeluknya tubuh kekar itu dengan erat dari belakang seraya melabuhkan ciumannya di tengkuk sang suami dengan lembut.


" Aakkhhh...!" rintih Arvan tertahan.


" I love you my husband..." bisik Erina.


" 'akh... sayang, love you too... honey..."


Arvan menarik tubuh sang istri ke dalam pangkuannya lalu memeluknya dengan erat. Ditatapnya wajah sang istri yang begitu memikat. Arvan dengan lembut mencium mesra bibir ranum milik istrinya.


Tangan Arvan mulai menjelajahi tiap inci tubuh sang istri tanpa terlewat sedikitpun. Tanpa melepas ciumannya, Arvan melepas dress di tubuh istrinya dengan pelan hingga tinggallah pakaian dalam yang menutupi area sensitifnya.


" Aku mau mandi dulu, kak..." lirih Erina di sela ciuman panasnya.


" Tidak usah, aku tidak bisa menunggu lagi..."


Arvan melepas semua pakaiannya setelah membaringkan sang istri ke tempat tidur. Malam panjang mereka lewati dengan kebahagiaan yang kian memuncak.


# # #


Pagi hari, mentari bersinar menembus kaca sebuah kamar yang terlihat sangat berantakan akibat ulah dua insan yang sedang di mabuk asmara. Kini keduanya masih tertidur lelap setelah melakukan olahraga malam hingga pukul tiga pagi.


Hangatnya mentari mengusik Erina yang masih setia menempel diatas tubuh sang suami dengan tubuh yang sama - sama polos.


" Eughh... jam berapa ini...?" gumam Erina.


Erina mencoba meraih ponsel yang berada di atas nakas untuk melihat jam. Namun karena gerakannya yang terlalu keras di atas tubuh Arvan, membuat lelaki itu terusik dan membuka matanya seketika. Tak hanya netranya yang terbuka, bagian bawah tubuhnya pun juga ikut terbangun karena gesekan paha mulus sang istri yang bergerak - gerak diatasnya.


" Aakkhh... sayang, apa kau belum puas bertempur semalaman...?" bisik Arvan meracau.


" Kak Arvan udah bangun? Erin mau ambil ponsel di atas nakas..." sahut Erina pelan.


" Kau harus tanggungjawab dulu dengan perbuatanmu ini..." lirih Arvan.


Erina menyadari milik Arvan di bawah sana terbangun akibat dirinya yang menindihnya sedari tadi.


" Maaf, tapi Erin lelah, kak..." tolak Erina.


" Sebentar saja, sayang..." rayu Arvan.


" Huft... tidak usah memasang wajah memelas seperti itu..." cibir Erina.


Arvan langsung membalikkan tubuh Erina yang berada diatasnya menjadi di bawah. Tidak ingin membuang waktu, Arvan bergegas melancarkan aksinya sebelum sang surya semakin meninggi.


Tak terasa dua jam sudah Erina dan Arvan melakukan olahraga paginya dengan penuh semangat. Arvan tersenyum bahagia melihat sang istri yang kehabisan tenaga dibawahnya.


" Terimakasih, sayang..." bisik Arvan


" Udah ah, kakak mandi duluan sana...!"


" Tidak mau mandi bareng...?


" Tidak, Erin mau ke kantor hari ini..."


" Yakin kamu bisa berjalan dengan normal...?"


" Memangnya kenapa...?!"


" Memangnya kamu tidak lelah...? Besok saja ke kantornya, sekarang kita nikmati waktu kita hanya berdua saja..."


" Erin ada meeting dengan klien dari Jerman, kak. Ini tidak bisa ditunda lagi..."


" Huft... baiklah, tapi setelah meeting langsung pulang ya...?"


" Iya, setelah selesai meeting, Erin langsung pulang..."


Arvan memeluk istrinya dengan erat. Tak rela walau hanya ditinggal kerja, pria dewasa ini seakan enggan untuk beranjak dari tempat tidur.


" Mandi bareng ya...?" rengek Arvan.


" Ya udah, ayo cepetan. Sudah jam sebelas, Erin bisa telat ke kantor..."


Hari ini benar - benar sangat melelahkan bagi Erina. Semalam suntuk Arvan tak memberinya jeda untuk beristirahat hingga pagi. Namun meeting dengan klien hari ini juga tidak bisa diabaikannya.


Selesai mandi, Erina sudah rapi dengan pakaian kerjanya dan bersiap untuk berangkat.


" Sayang, mau aku antar ke kantor...?"


" Tidak usah, kak. Erin bawa sopir aja deh, nanti meetingnya sama asisten aku di kantor..."


" Bukan, kak. Asisten aku namanya Adam, dia sangat cerdas dan kompeten. Dia asli orang Indonesia yang kuliah satu kampus denganku..."


" Apa dia tahu kalau kamu sudah menikah...?"


" Tentu saja, dia orang kepercayaanku. Tapi kami harus profesional saat bekerja walaupun dia sahabatku yang sangat dekat..."


" Sekretarismu masih yang lama? Dena, yang dulu sekretaris ayah..."


" Dena sudah resign tiga tahun yang lalu karena mengikuti suaminya yang pindah ke Belanda..."


" Gantinya orang baru juga...?"


" Iya, dia sahabatku juga di kampus. Ibunya asli orang sini, ayahnya orang Singapore. Namanya Sera, dia juga sangat kompeten dalam bekerja..."


" Aku ikut ke kantor ya? Sudah lama tidak mengunjungi kantor ayah..."


Erina berfikir sejenak sebelum menjawab rengekan Arvan yang seperti bocah. Bahkan Raka saja tidak pernah bersikap kekanakan macam itu.


" Hhh... baiklah. Ayo berangkat sekarang..."


Erina dan Arvan segera turun kebawah mencari ibunya namun tidak ada. Kata pelayan, semua sudah pergi sejak pagi.


# # #


Sampai di kantor, Arvan dan Erina langsung disambut Sera dan Adam. Banyak sekali berkas yang sudah menumpuk di meja kerja Erina padahal baru satu minggu ditinggalkan.


" Sera, apa jadwalku hari ini? Saya tidak bisa lama - lama di kantor..." ucap Erina.


" Jadwal hari ini meeting dengan klien dari Jerman jam satu siang, terus undangan makan malam dari klien juga nanti jam tujuh malam..."


" Sepertinya nanti malam saya tidak bisa, batalkan saja. Semua berkas ini akan saya bawa pulang saja. Kamu temani saya meeting dengan Mr. Simmon saja..."


" Bukannya dengan asisten Adam, Boss...?"


" Kau saja, biar Adam tidak kelayapan terus..."


" Saya dengar, Boss..." cibir Adam yang duduk di samping Arvan.


Arvan sedang fokus dengan ponselnya hingga tak mendengarkan obrolan istrinya dengan bawahannya. Sepertinya ada masalah penting di Indonesia yang harus segera diselesaikan.


" Sayang, aku ke kamar dulu ya? Ada pekerjaan penting dengan klien di Jakarta..." pamit Arvan pada Erina.


" Iya, aku juga mau pergi sekarang dengan Sera..."


" Hati - hati, jangan lama - lama perginya..."


" Iya, paling cuma satu jam. Tempatnya juga tidak jauh dari sini..."


" Ok, nanti pulangnya bawa makanan ya? Aku sangat lapar..."


" Makanlah duluan, biar Adam pesan makanan buat kak Arvan..."


" Nggak usah, aku mau makan bareng kamu aja..."


" Ya udah, nanti aku bawain..."


Erina dan Sera segera meninggalkan kantor menggunakan mobil Erina.


" Ris, suami kamu sangat tampan. Darimana kamu mendapatkannya...?" tanya Sera penasaran.


" Ish... kau ini, dia itu anak pemilik perusahaan ini. Anaknya Ayah Regan Sebastian..."


" Benarkah? Anak kandung? Kok aku belum pernah melihatnya? Terus kamu siapanya Tuan Regan...?"


" Menantunya, memangnya kamu pikir siapa...?"


" Bukan itu, masalahnya kalian menikah baru kemarin tapi kamu sudah menggantikan Tuan Regan lima tahun yang lalu..."


" Tidak usah dipikirkan, nanti kamu bisa stress... hahahaa..."


" Eh... yang seperti itu masih ada nggak?" tanya Sera nyengir.


" Apanya...?" sahut Erina bingung.


" Yang seperti suamimu. Tampan, tinggi, putih bersih... huft, sungguh pria idamanku..." celoteh Sera.


" Haish... kau menyukai suamiku...!"


" Hehehee... bukan Ris, cuma mengagumi saja..."


" Hhh... sudah, fokus saja mengemudi...!"


Tak sampai lima belas menit, mereka sampai di sebuah cafe yang sudah di pesan sebelumnya untuk meeting.


# # #


Di kantor Erina, Arvan yang selesai melakukan video call dengan Hans kembali keluar dari kamarnya untuk mencari Adam.


" Adam, ada yang ingin saya bicarakan denganmu..." ujar Arvan.


" Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu...?" ucap Adam tegas.


" Saya butuh bantuanmu..."


" Bantuan apa, Tuan...?"


.


.


TBC


.


.