Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 117


" Nyonya, apa ada masalah...?" tanya security yang mengenali Erina sebagai bossnya.


" Tidak apa - apa, saya hanya jalan - jalan sebentar di sekitar sini..." jawab Erina.


" Apa Anda perlu pengawalan...?"


" Tidak perlu, lanjutkan tugasmu...!"


" Baik, Nyonya. Saya permisi kembali ke pos jaga..."


" Silahkan..." ucap Erina dengan tersenyum ramah.


Setelah security itu pergi, Erina dan Arvan menghela nafas lega. Adam dan William segera masuk ke jok belakang dan menyuruh Arvan segera menjalankan mobilnya.


Arvan membelah jalanan kota London yang sedikit gerimis membuat suasana sedikit sunyi saat memasuki komplek perumahan elite tempat orangtuanya tinggal. Arvan menghentikan mobilnya di depan gerbang yang menjulang tinggi. Setelah penjaga membuka gerbang, Arvan kembali melajukan mobilnya perlahan masuk sampai depan pintu utama.


" Kak, kau tidak menginap saja disini...?" tanya Arvan.


" Tidak, Van. Mommynya Monica tidak mengijinkan saya menginap, biasalah kalau lagi hamil muda susah untuk ditinggal..."


" What? Monica mau punya adik...?" tanya Arvan terkejut.


" Iya, kandungannya sudah menginjak tiga bulan..." jawab William.


" Selamat ya, kak. Semoga kakak ipar selalu sehat..." ucap Erina senang.


" Selamat juga untukmu, semoga kau tahan menghadapi suami manjamu itu..." sahut William dengan tersenyum.


" Kak Willy apaan sih? Siapa juga yang manja..." elak Arvan.


" Selamat ya, Tuan. Kira - kira saya kapan ya punya anak..." ucap Adam.


" Kau itu pacar saja tidak punya sudah mikirin anak..." sahut William.


" Iya, Dam. Memangnya tidak ada satupun gadis yang kau sukai...?" timpal Erina.


" Kalau kamu cocoknya punya anak kucing, Dam..." ledek Arvan.


" Ish... Tuan ini, nanti jika anak kedua Tuan lahir, Raka akan tinggal bersama saya..." ujar Adam.


" Takkan kubiarkan kau menyentuh kedua anakku...!" geram Arvan.


Erina yang lelah dibuat pusing oleh kelakuan Adam dan suaminya yang tak pernah bisa akur.


" Stop...! Jangan ada yang bicara lagi atau aku ikat kalian berdua di pohon samping gerbang...!" teriak Erina.


" Sayang, supirmu itu yang tidak tahu diri..." ucap Arvan.


" Tuan, Anda yang meledekku duluan...!" sahut Adam tidak terima.


" Huft... Kak Willy, tolong antarkan Raka ke kamarnya sebelum pulang. Biarkan dua orang ini saling melepas rindu semalaman di luar..." ujar Erina.


" Sayang...?!"


" Erina...?!"


Arvan dan Adam berteriak kompak menatap tajam Erina yang tersenyum sinis. Erina segera masuk ke rumah diikuti William yang menggendong Raka.


Sementara Arvan dan Adam masih berdebat entah apa yang mereka bicarakan sudah tak terdengar lagi di telinga Erina.


" Tuan, ijinkan saya menginap malam ini saja. Saya sudah sangat lelah menggendong Erina naik ke lantai sembilan, apa tak ada belas kasihan sedikit saja untuk saja...?" pinta Adam dengan menghiba.


" Terserah! Tapi jangan berani mengusikku lagi...! Jangan terlalu dekat dengan istriku...!"


" Bagaimana saya tidak dekat Tuan, sementara saya adalah asisten pribadi sekaligus menjadi pengawalnya. Saya harus selalu berada di dekat Erina saat diluar rumah, kemanapun dia pergi..."


" Banyak alasan saja kau...!"


Arvan masuk terlebih dahulu disusul Adam di belakangnya. Adam diam - diam tersenyum sendiri melihat tingkah tuannya yang semakin hari semakin bertingkah seperti bocah.


Arvan langsung naik ke kamarnya sedangkan Adam masuk ke kamar tamu yang berada di lantai bawah.


" Sayang, kau dimana...?" teriak Arvan.


" Apa sih, kak? Teriak - teriak seperti di hutan saja..." sahut Erina yang baru keluar dari kamar mandi.


Arvan menatap lekat istrinya yang hanya memakai handuk yang menutupi sebagian tubuhnya saja.


" Apa lihat - lihat! Mandi sana..." ujar Erina lagi.


" Sayang, kenapa mandi duluan sih...?" sungut Arvan.


" Aku pikir kakak mandi bareng Adam..." sahut Erina sambil berjalan mengambil piyama tidurnya.


" Apa sih, sayang? Nggak mungkinlah aku mandi sama cecunguk itu..." Arvan memeluk istrinya dari belakang.


" Lepain, kak...!"


" Lepas handuknya...?" goda Arvan.


" Jangan macam - macam, tubuhku sangat lelah..."


" Tidak usah, kakak mandi saja habis itu kita tidur..."


" Huft... baiklah, tidurlah dulu jika sudah mengantuk..."


# # #


Pagi hari, Erina bersiap untuk berangkat ke kantor bersama Adam. Tuan Regan harus beristirahat untuk memulihkan kesehatannya setelah perjalanan jauh.


" Sayang, kamu pergi ke kantor duluan dengan Adam. Aku ada kerjaan dulu yang harus di selesaikan, nanti siang saja kakak ke kantor..." ujar Arvan.


" Iya, tapi nanti makan siang bareng ya...?" sahut Erina.


" Iya, nanti kakak bawa makanan dari rumah..."


" My husband is the best..." Erina mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.


" No, jangan menggodaku sekarang honey..." sahut Arvan dengan melingkarkan satu tangannya di pinggang sang istri dan satunya lagi mengusap lembut rambut panjangnya.


" Fine, kita ke bawah sekarang. Ayah dan ibu pasti sudah menunggu untuk sarapan..." ucap Erina.


" Hmm... tak ada penyemangat kerjanya ini...?" rengek Arvan.


Erina yang paham dengan maksud sang suami langsung menautkan bibir mereka dengan lembut dan cukup lama.


" Thank you, honey... kamu adalah wanita terbaik dalam hidupku..." ujar Arvan.


Mereka berdua menuju ke kamar Raka sebelum turun ke bawah menuju meja makan. Terlihat Raka masih terlelap, mungkin masih lelah dengan aktifitas kemarin.


" Tumben nih anak masih tidur...?" ucap Erina.


" Mungkin dia lelah, sayang. Biarkan saja, nanti papanya yang tampan ini yang akan mengurusnya..." sahut Arvan dengan tersenyum.


" Ok! Suami tampanku, ayo ke bawah sekarang. Jangan macam - macam denganku...!"


Erina menepis tangan Arvan yang melingkar di pinggangnya. Jika dibiarkan, Erina tidak akan bisa ke kantor dengan cepat.


" Huft... sepertinya tidak ada jatah hari ini..." keluh Arvan.


" Ish... suami tampanku tidak boleh merajuk, ayo sarapan biar bisa berpikir dengan jernih..."


Dengan wajah ditekuk, Arvan mengikuti langkah sang istri menuju meja makan untuk sarapan. Ayah, ibu dan Adam sudah duduk santai menunggunya dari tadi.


" Selamat pagi semua..." sapa Erina.


" Selamat pagi, sayang..." sahut ibu, sedangkan Ayah dan Adam hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum.


Semua sarapan dengan tenang, setelah itu Erina dan Adam berpamitan untuk berangkat ke kantor.


# # #


" Dam, bagaimana untuk proyek itu? Pasti mereka sudah menjual berkas presentasi kita..." Erina menatap jalanan di depannya.


" Tenang saja, aku akan membuat yang baru lagi nanti. Presentasinya juga masih satu minggu lagi..."


" Kau yakin bisa melakukannya dalam waktu satu minggu...? Kita membuat itu dalam satu bulan..."


" Tidak masalah, kita hanya perlu revisi ulang dan membuatnya lebih detail. Yang terpenting kita harus turunkan harga sedikit agar orang yang mencuri presentasi kita rugi. Tidak apa kita mengambil sedikit keuntungan yang penting saingan bisnis kita hancur..."


" Sebenarnya aku tidak mau menghancurkan bisnis orang lain, Dam. Tapi karena dia yang mulai, aku harus menghadapinya..."


" Baguslah, kita akan hadapi semua ini bersama. Semoga tak ada mafia yang ikut campur dalam masalah ini..."


Erina memikirkan semua masalah ini dengan matang. Dia tidak mau mengambil langkah yang salah, apalagi jika ada campur tangan mafia dalam masalah ini.


Erina berpikir untuk mengajak suaminya ikut masuk dalam menyelesaikan masalah ini sebelum kembali ke Indonesia. Erina ingin masalah ini cepat selesai sehingga dia perlu bantuan dari William dan juga para agen rahasia lainnya.


" Rin, bagaimana dengan Sera...?" tanya Adam.


" Kita cari tahu dulu kebenarannya, minta anak buah kak Willy untuk mengawasi Sera dua puluh empat jam..." ucap Erina.


" Baiklah, semoga dugaan kita salah tentang dia. Bagaimanapun juga kita bersahabat dengannya cukup lama. Kita melewati masa - masa indah dan sulit bersama..." ujar Adam.


" Oh iya, jangan beritahu siapapun tentang kehamilanku terutama Sera. Aku tidak mau musuh tahu itu dan menjadikan sebagai kelemahanku..."


" Tenang saja, kita lihat dulu bagaimana keadaan di kantor. Nanti siang kita bicarakan di markas biar lebih aman. Aku tidak mau ada mata - mata lain di kantor yang tahu rencana kita..."


Mereka sampai di kantor dan di sambut para karyawan yang berpapasan disana. Seseorang yang juga baru datang sangat kaget melihat Erina dan Adam berjalan di lobby.


" Sejak kapan mereka kembali dari Indonesia...?"


.


.


TBC


.


.