
Semua makanan yang dimasak Adam sudah siap di meja makan. Nyonya Sarah memanggil Ricko dan Sandra untuk ikut makan bersama. Walaupun tadi mereka sudah makan, namun melihat masakan Adam membuat selera makan mereka kembali tergugah.
" Wah... kayaknya enak, bu. Siapa yang memasak malam - malam begini...?" tanya Sandra.
" Tuh... Adam yang masak. Kenalkan dia ini Assisten Rissa di kantor..."
" Hei... kenalkan saya Sandra..." ucap Sandra seraya tersenyum.
" Saya, Adam... assisten Nona Rissa..." sahut Adam singkat karena ditatap tidak suka oleh Ricko.
" Oh iya, Rissa sama Arvan kemana...?" tanya Ricko.
" Tuan Arvan dan Nona Rissa makan malam diluar, Tuan..." jawab Adam.
" Sudah - sudah ayo makan, ibu sudah lama sekali tidak makan nasi kuning..." ucap Nyonya Sarah.
Semua sangat antusias makan masakan Adam terutama Raka dan Nyonya Sarah. Saat pertengahan makan, Erina dan Arvan pulang. Mereka berdua heran karena seluruh penghuni rumah baru makan di jam yang seharusnya sudah istirahat.
" Selamat malam semuanya..." sapa Erina.
" Darimana kalian...?" tanya Ricko.
" Jalan - jalan keluar sebentar, kak..." jawab Arvan.
" Kalian ikut makan sini, Adam masak nasi kuning permintaan Raka..." ajak ibu.
" Kami baru saja selesai makan, bu..." tolak Arvan.
: Ayolah, makanlah walau sedikit untuk menghargai hasil kerja keras yang memasaknya..." ujar ibu.
" Baiklah, bu. Terimakasih, Dam... sampai repot begini karena permintaan Raka..." ucap Erina.
" Tidak masalah, Boss. Asalkan gajiku tidak jadi dipotong..." sahut Adam seraya tersenyum.
" Kalau itu saya tidak janji...!" jawab Erina.
" Eh... sudah - sudah! Jangan berdebat di depan makanan..." ujar Ayah.
Tuan Regan dan Nyonya Sarah memang sudah mengenal Adam dengan baik. Bahkan Apartemen yang ditempati Adam saat ini adalah pemberian Tuan Regan.
Setelah makan malam selesai, Adam berpamitan untuk pulang namun dicegah oleh Nyonya Sarah.
" Karena makan malam sudah selesai, saya mohon pamit Tuan, Nyonya..." ucap Adam dengan sangat sopan.
" Kamu menginap saja, Dam. Malam sudah larut, kamu juga tidak membawa mobil..." sahut Nyonya Sarah.
" Saya bisa cari taksi di depan, Nyonya..."
" Menginaplah, Dam. Ini perintah dariku...!" ujar Erina.
Erina tidak mau Adam di serang orang jahat yang mungkin masih mengincar mereka.
" Tapi, Nona_..."
" Sudah, tidurlah di kamar tamu..."
" Uncle, tidurnya sama Raka ya...? Nanti kita cerita - cerita lagi..." rengek Raka.
Melihat Raka, Adam teringat adiknya laki - lakinya yang dia tinggalkan tujuh tahun lalu di desa. Mungkin dulu adiknya seusia Raka waktu dia tinggalkan. Kini sang adik sudah berumur dua belas tahun.
" Tentu saja, kalau perlu kita begadang sampai pagi untuk bercerita..."
Adam meraih Raka ke dalam dekapannya. Tanpa terasa setetes airmata membasahi pipinya. Rasa rindunya kian memuncak karena sifat Raka yang sangat mirip adiknya kala meminta sesuatu.
" Kenapa Uncle menangis...?"
Raka menghapus airmata di wajah Adam dengan lembut seraya tersenyum.
" Pasti Uncle Adam rindu keluarga di kampung ya...?"
Semua ikut terharu melihat sisi kelembutan Raka yang tak pernah ia perlihatkan pada siapapun. Erina mendekati Adam yang duduk berlutut di hadapan Raka dengan tatapan sendu.
" Kapanpun kau ingin pulang, kau bisa melakukannya. Tidak ada yang bisa menghalangimu untuk bertemu dengan keluargamu. Bersyukurlah karena kamu masih punya keluarga yang bahagia walau tanpa harta..."
Erina meraih tangan Adam dengan tersenyum. Selama ini Adam yang selalu menenangkan hatinya dikala sedang sedih.
" Terimakasih, Rissa. Kau sangat baik padaku dan juga keluargaku. Kau tahu, adikku waktu kecil sifatnya sangat mirip dengan Raka. Setiap kali dekat dengan Raka, aku merasakan berkumpul dengan keluargaku di desa..." Adam tak mampu menahan airmatanya lagi.
" Maaf, aku tidak tahu seperti apa rasanya merindukan keluarga yang benar - benar menyayangi kita. Aku tidak pernah merasakan itu..." ucap Erina ikut menangis.
" Sudah, kenapa jadi drama sih. Lebih baik kita lupakan masa lalu dan merancang masa depan yang lebih baik..." Sandra merangkul bahu Adam dan Erina.
Arvan dan Ricko yang tadinya ikut terharu tiba - tiba naik pitam kala wanitanya memeluk Adam bersamaan.
" Sudah - sudah, dramanya dilanjut besok lagi. Sekarang tidur semuanya...!"
Arvan dan Ricko menarik istri masing - masing menjauh dari Adam. Tuan Regan dan istrinya ysng tadi ikut meneteskan airmata tiba - tiba tertawa melihat tingkah kedua putranya yang merasa cemburu terhadap Adam.
# # #
Pagi hari yang cerah, terlihat Adam dan Raka sedang berlari - lari kecil di halaman rumah sebelum Adam pulang ke Apartemennya.
" Uncle, kenapa tidak tinggal disini saja? Kalau ada Uncle, Raka bisa makan enak..." celoteh Raka.
" Tidak bisa, Raka. Papamu bisa marah kalau Uncle tinggal disini. Kau tahu, mama kamu juga galak sekali..."
" Uncle benar, mereka sangat galak... hahahaa..."
Arvan yang mendengar obrolan keras mereka dari balkon langsung melempar Adam dengan batu kerikil yang dia ambil dari pot bunga disampingnya.
Mereka berdua menyapu pandangan ke seluruh tempat di sekelilingnya.
" Tidak ada siapa - siapa, Uncle. Mungkin saja hantu..." sahut Raka tertawa cekikikan.
Arvan yang geram langsung mengambil segenggam kerikil dan dilemparkan kembali kearah Adam dan Raka.
" Auwww... Hei... hentikan...!" teriak Adam yang memeluk Raka untuk melindunginya.
" Beraninya kalian mengataiku...!" teriak Arvan dari atas.
" What? Papa denger obrolan kita, Uncle..." bisik Raka.
" Gawat, kita bisa dicincang..." sahut Adam.
" Maaf, Tuan. Kami hanya bergurau saja..." ucap Adam sedikit berteriak.
Erina yang baru selesai mandi, melihat suaminya sedang marah - marah di balkon.
" Kak Arvan, ada apa...? Kenapa marah - marah sendiri...?" tanya Erina heran.
" Lihat kelakuan mereka berdua, beraninya mengataiku. Harusnya kau pecat saja assistenmu itu..." ucap Arvan kesal.
" Udah, mandi sana! Sebentar lagi kak Willy pasti datang. Katanya kalian mau menemui keluarga korban pembunuhan itu..."
" Oh iya, sampai lupa gara - gara mereka..."
Erina menatap ke bawah kearah Adam dan Raka yang sedang berolahraga ringan.
" Tuan, Nona... kami minta maaf...!" teriak Adam.
" Hei... cepatlah bersiap - siap, ikut denganku...!" perintah Arvan.
" Baik, Tuan..."
Adam menyuruh Raka turun dari punggungnya yang sedari tadi menjadi pemberat saat Adam sedang push up.
" Raka ikut ya, Uncle...?"
" Kau di rumah saja, sepertinya ada pekerjaan penting yang akan dilakukan papamu. Sebaiknya kau dirumah dengan mama saja..."
" Huft... Raka bosan dirumah terus...!"
" Kalau begitu ajak Uncle Ricko jalan - jalan mumpung mereka belum kembali ke Indonesia..." saran Adam.
" Nanti saja, Raka pengennya pergi sama papa dan mama..."
" Ya sudah, ayo mandi sebelum papa kamu melempari kita dengan batu lagi..."
Setelah mandi dan sarapan, Arvan dan Adam segera pergi karena William sudah menjemput mereka.
" Kita mau kemana, Tuan...?" tanya Adam penasaran.
" Diamlah! Mulutmu melebihi perempuan saja...!" sahut Arvan dingin.
" Maaf soal tadi, Tuan. Saya dan Raka hanya bergurau..."
" Diam! Sekali lagi membuka mulut kulempar kau dari mobil ini...!" hardik Arvan.
William heran dengan tingkah dua orang yang sedang bersamanya. Tingkahnya seperti anak kecil yang berebut mainan.
" Hei... hentikan ocehan kalian, kita sudah sampai di tempat tujuan..." ujar William.
" Rumah siapa ini, Tuan...?" tanya Adam.
" Ikuti saja, tidak perlu banyak bicara!" tukas Arvan.
Mereka menekan tombol pintu di sebuah rumah mewah 2 lantai dengan halaman yang cukup luas.
" Rumahnya cukup mewah, korban memang sangat kaya..." ucap Arvan.
Tak lama, seorang pelayan membuka pintu. Setelah melihat kedatangan William, mereka langsung disuruh masuk karena keluarga korban sudah menunggu di ruang tamu.
" Silahkan, Tuan. Anda sudah ditunggu di dalam..."
" Terimakasih..."
William diikuti Arvan dan Adam langsung masuk ke ruang tamu dan saling sapa dengan pemilik rumah.
" Tuan William, apa sudah ada petunjuk baru...?"
" Belum, sekarang saya dan rekan - rekan saya ingin memeriksa TKP sekali lagi..."
" Silahkan, Tuan. Mari ikut saya..."
Mereka mulai menyelidiki kasus pembunuhan itu dengan sangat teliti. Arvan seperti mendapatkan sesuatu yang membuatnya sedikit tersenyum.
.
.
TBC
.
.