Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 113


Braakkk!


Pintu yang terbuka lebar membuat Arvan menarik diri dan melepaskan ciumannya. Terlihat Raka yang berjalan tanpa merasa bersalah menuju ke tempat kedua orangtuanya.


" Mamaaa...!" teriak Raka.


" Astaga...! Raka, kenapa malam - malam kesini...?" tanya Erina.


Arvan sangat kesal dengan kedatangan anaknya di waktu yang tidak tepat.


" Raka, biasakan mengetuk pintu dulu sebelum masuk...!" ujar Arvan.


" Maaf, pa. Lagi urgent ini..." sahut Raka.


" Iya, tapi kamu harus punya etika dan sopan santun..."


" Iya, pa..."


Erina menarik lengan Arvan supaya tidak memarahi Raka. Jangan sampai ada keributan malam - malam begini di saat yang lain sedang istirahat.


" Sayang, kenapa belum tidur...?" tanya Erina.


Arvan membenahi pakaian istrinya yang sempat ia buat berantakan sebelum Raka semakin dekat.


" Ma, sepertinya kita harus cepat kembali ke London. Ada masalah di perusahaan kakek..."


" Masalah apa...?" tanya Arvan.


" Uncle William tadi menghubungi mama tapi tidak bisa. Jadi tadi menghubungi Raka, katanya ada penggelapan dana di salah satu proyek..." jawab Raka.


Erina memeriksa file yang dikirim William ke email Raka. Sementara Arvan, dia masih sibuk mencari celah untuk menggoda istrinya.


" Raka, sekarang kamu siapkan semua barang kamu yang akan dibawa, besok kita ke London bersama kakek dan nenek..." ujar Arvan.


" Kita akan pulang ke London, pa...?"


" Iya, bereskan barangmu kemudian langsung tidur. Papa dan mama juga ngantuk mau istirahat..."


" Iya, pa..."


Raka mencium papa dan mamanya secara bergantian kemudian keluar dari kamar orangtuanya.


" Huft... akhirnya pergi juga..." gumam Arvan.


Arvan mengambil laptop di pangkuan Erina dan segera menyimpannya di atas nakas.


" Kak, aku belum selesai periksa filenya..." ucap Erina.


" Ada pekerjaan penting yang belum kau selesaikan..." sahut Arvan dengan tersenyum.


" Kak_... hmmmph...!"


Arvan tak ingin buang waktu lagi segera menerkam sang istri. Dengan senyuman yang terkembang sempurna, Arvan segera melakukan aksinya sebelum ada pengganggu yang datang lagi.


# # #


Pagi hari, semua sudah siap untuk berangkat ke Bandara. Mereka diantar oleh Hans dan Ricko dengan dua mobil.


" Hans, kau urus semua kerjaan dengan kak Ricko. Aku akan kembali satu minggu lagi. Kirimkan semua berkas ke emailku secepatnya biar nanti bisa aku kerjakan saat di perjalanan..." perintah Arvan.


" Baiklah, akan segera ku kirim saat sampai di Bandara..." sahut Hans.


" Uncle Hans tidak ikut pulang...?" tanya Raka.


" Tidak, Raka. Kamu disana sudah ada Uncle Adam dan Uncle Willy..." jawab Hans.


" Uncle Adam dan Uncle Willy tidak tinggal satu rumah dengan Raka..."


" Kan sudah ada mama, sayang..." ucap Erina.


" Ma, Uncle Adam boleh ya tinggal di rumah kita...?" rengek Raka.


" Tidak, Uncle tinggal di apartemen saja. Dia itu sudah dewasa, jadi harus mandiri..." tukas Arvan.


Adam hanya diam saja karena tak ingin ada perdebatan lagi dengan tuannya.


" Tuan Hans, boleh saya meminta tolong pada Anda...?" ucap Adam dengan sopan.


" Katakan saja, ada apa...?"


" Bagaimana kalau mereka suruh pindah saja ke Jakarta, biar saya lebih mudah mengawasinya..." saran Hans.


" Iya, Dam. Lebih baik ibumu tinggal di Jakarta. Nanti kak Hans akan carikan rumah disini..." tutur Erina.


" Seandainya bisa, Rin. Saya bahkan sudah mengajak mereka untuk tinggal bersamaku di London, tetapi ibu menolak karena tidak ingin jauh dari ayah..."


" Begini saja, biar kak Ricko yang membujuk ibumu agar mau tinggal di Jakarta..." ujar Arvan.


Semua sepakat dengan saran Arvan. Kini Hans fokus dengan jalanan karena sebentar lagi mereka sampai di Bandara.


" Kalian jaga diri disini, sering - sering pulang ya...?" pesan ibu.


" Iya, bu. Kami pasti sering pulang ke rumah..." ucap Ricko.


Mereka semua saling berpelukan sebelum Arvan dan yang lain masuk ke dalam privat jet miliknya. Arvan memberikan sedikit perintah kepada dua saudaranya dalam mengelola perusahaan.


Arvan menggendong Arvan masuk ke dalam pesawat seraya menggandeng istrinya. Adam berada paling belakang untuk mengawal Tuan dan Nyonya Sebastian.


Sampai di dalam pesawat, Erina menyuruh ayahnya langsung masuk ke dalam kamar pribadinya untuk beristirahat ditemani ibu.


" Erin, kenapa tiba - tiba Arvan pengen ikut pulang...?" tanya ibu.


" Tidak apa - apa, bu. Kak Arvan hanya tidak mau jauh dari Raka, mereka kan belum lama bertemu..." jawab Erina pelan.


" Apa Arvan tahu tentang penyakit ayah...?" cecar Ayah.


" Kenapa ayah berpikir begitu...?"


" Kau tidak bisa bohong dari ayahmu ini, Erin..." ucap Ayah dengan menatap lekat menantunya.


" Maafkan Erin, ayah. Erina tidak tahu lagi cara membujuk kak Arvan agar mau mengijinkan Erina pergi..."


Erina tidak berani menatap ayah dan ibunya. Dia terlalu takut untuk menghadapi kemarahan orangtuanya.


" Tidak apa - apa, mungkin sudah waktunya Arvan tahu keadaan ayahnya..." ujar ibu.


" Jangan salahkan Erina, Yah. Harusnya Arvan lebih perhatian lagi pada ayah dan ibu. Arvan seharusnya tahu lebih awal tentang penyakit ayah. Maafkan Arvan belum bisa membuat ayah dan ibu bahagia..." ucap Arvan yang tiba - tiba berlutut di depan ayahnya.


" Ayah tahu kamu sedang merintis karir untuk masa depanmu, Ayah ingin kau fokus dengan pekerjaanmu..."


" Ayah dan ibu adalah yang terpenting untuk Arvan. Jangan pernah menyembunyikan apapun lagi dariku..."


Arvan menjatuhkan kepalanya ke pangkuan sang ayah. Mereka bertiga kemudian saling berpelukan sambil menangis bahagia.


Erina yang sadar dengan kondisi seperti ini, langsung keluar dari ruangan itu tanpa sepengetahuan mereka. Erina hanya bisa membayangkan seandainya dulu ayahnya memberikan kasih sayang seperti keluarga Sebastian mungkin hidupnya akan terasa lebih sempurna.


Erina berdiri dengan bersandar kaca pesawat yang kini membawanya terbang di atas awan. Dia menatap keluar melihat awan putih bersih tanpa noda. Ada rasa nyaman dalam hatinya saat awan - awan itu beterbangan di hadapannya.


Tanpa Erina sadari airmatanya jatuh membasahi kedua pipinya. Ada rasa iri dalam hatinya saat melihat keharmonisan keluarga suaminya. Dia merasa tidak pantas masuk dalam keluarga itu mengingat dia tak pernah sekalipun merasakan kebahagiaan bersama keluarga kandungnya sendiri.


" Ya Tuhan, aku sangat lelah dengan semua ini. Berpura - pura untuk tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Kenapa aku harus dilahirkan dari keluarga yang tidak pernah menginginkan kehadiranku. Kenapa hatiku merasa sakit saat melihat keluarga orang lain bahagia. Aku ingin melupakan semua masa laluku yang kelam dan mencari kebahagiaan dengan keluarga baruku..." batin Erina.


Erina menutup mata seraya membayangkan suatu kebahagiaan di depan matanya. Dia berharap bisa menyayangi anak - anaknya dengan adil kelak.


Erina mengusap pelan airmatanya dengan tissu yang ia ambil di meja tak jauh darinya. Dia tak ingin seorangpun tahu bahwa ia sedang bersedih sekarang. Erina tak suka menunjukkan kesedihannya di depan orang lain termasuk suaminya. Hanya Adam yang selalu menjadi sandarannya di saat hatinya sedang kacau.


Tanpa Erina sadari, sedari tadi ada seseorang memperhatikannya dari sejak awal ia mulai menangis. Orang itu hanya diam membiarkan Erina meluapkan isi hatinya lewat tangisan agar jiwanya bisa sedikit lebih tenang.


" Luapkanlah semua isi hatimu, biarkan semua beban dalam hatimu keluar..." ucap orang itu.


Tanpa Erina melihat, diapun tahu siapa orang yang kini dipeluknya dengan erat. Kini Erina terisak tertahan tak ingin kedua orangtuanya tahu.


" Aku takut semua ini hanya mimpi bagiku..." ucap Erina sambil terisak.


" Kau pantas mendapatkan kebahagiaan ini..."


.


.


TBC


.


.