Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 79


" Kau disini...?" ucap Erina kaget.


" Kenapa? Bukankah siapa saja boleh datang kesini...?" sahut Arvan dengan tersenyum.


" Apa kak Arvan yang mengusir semua orang dari sini...?"


" Bukan mengusir sayang, mereka hanya keluar sebentar..."


" Kau membuatku terkejut, aku pikir penjahat..."


" Kau sangat cantik dengan baju ini..." bisik Arvan.


" Darimana kakak tahu aku disini...?"


" Selama ponselmu aktif, aku bisa tahu dimanapun kamu berada..."


" Minggir, aku mau ganti baju...!" sungut Erina.


Baru saja Erina bisa bebas jalan berdua dengan Sera, sang suami sudah mengacaukannya.


" Kenapa harus ganti? Kau terlihat sangat cantik dan menawan dengan baju ini..."


" Tapi baju inikan belum dibayar, kak...?"


" Mall ini milikmu, sayang. Kau bisa mengambil semua yang kau inginkan..."


" Milikku...? Maksudnya...?"


" Aku yang membangun Mall ini, jadi semua ini juga milikmu..."


" Perasaan Mall ini sudah lama...?"


" Apa perlu aku tunjukkan sertifikatnya...?"


" Aihhh... aku nggak butuh...!"


" Ya udah, kita pergi sekarang..." ajak Arvan.


" Kemana...?"


" Aku punya kejutan buat kamu..."


" Nggak mau...!"


" Kenapa, sayang...?"


" Kenapa tadi tidak jemput di kantor...?"


Arvan tersenyum lalu memeluk tubuh sang istri dari belakang. Dekapan yang begitu erat membuat hati Erina menghangat. Rasa kesal yang sudah menggunung runtuh seketika saat dekapan penuh cinta mengalir hingga ke relung hati terdalam.


" Tadi ada sedikit pekerjaan di Mall ini, jadi aku suruh Sera mengajakmu kesini..."


" Tapi Sera tidak bilang apapun padaku...?"


" Sudah, ayo kita pergi sekarang..."


Erina pasrah saja saat Arvan menuntunnya keluar dari butik itu. Diluar masih ada Sera yang menanti dengan senyum khasnya.


" Kau masih disini...?" tanya Arvan.


" Eh... iya, Tuan. Saya hanya ingin memberikan hadiah kecil untuk Rissa..." jawab Sera.


" Hadiah apa, Ser...?" tanya Erina.


" Ini, tapi bukanya setelah sampai di rumah ya? Awas jangan diintip dulu isinya..." sahut Sera.


" Tuan, pastikan Rissa memakainya saat sampai dirumah..." bisik Sera kepada Arvan.


" Ya sudah, kau pergilah sekarang...!" perintah Arvan.


" Baik, Tuan. Selamat bersenang - senang..." sahut Sera.


# # #


Arvan menutup mata sang istri dengan kain lalu membawanya masuk ke dalam lift. Sampai di dalam lift, Arvan tak menyia - nyiakan kesempatan. Melihat bibir istri cantiknya, membuat Arvan tak mampu menahan diri dan langsung menyambar bibir itu dengan cepat.


" Mmmmph...!" Erina meronta minta dilepaskan.


Arvan tak menghiraukan sang istri yang meronta, tangannya menekan tengkuk Erina untuk memperdalam ciumannya.


" I love you, honey..."


Arvan melepaskan ciumannya saat lift mulai terbuka lalu membawa Erina ke sebuah tempat yang membuat Erina penasaran.


" Kak, apa kita sudah sampai...?" tanya Erina.


" Sebentar lagi sayang..." jawab Arvan pelan.


Lima menit berjalan, Arvan menghentikan langkahnya setelah sampai di tempat yang ia rencanakan. Hembusan angin menusuk sampai ke tulang membuat Erina bergidik.


" Sayang, sudah sampai belum...?" seru Erina.


" Sebentar, honey. Sedikit lagi..." sahut Arvan.


Arvan meraih kedua tangan Erina lalu menciumnya dengan lembut. Setelah itu, Arvan perlahan melepas penutup mata istrinya.


" Sekarang boleh dibuka, sayang..." bisik Arvan.


" Sayang...!" pekik Erina sangat bahagia.


" Kau menyukainya, honey...?" ucap Arvan.


" Iya, ini sangat bagus. I like it, sayangku..." seru Erina girang.


" Syukurlah, istriku hari ini sangat cantik dan manis..."


Erina tersenyum seraya memandang suasana kota dari atas gedung Mall milik suaminya. Menikmati keindahan kota malam hari yang begitu indah.


Arvan kembali memeluknya dari belakang.Rasa nyaman yang selalu ia rasakan saat berada sangat dekat dengan sang istri.


" Malam yang sangat indah, kenapa baru sekarang aku menyadari bahwa kota ini begitu indah di malam hari..." ucap Erina.


" Tapi bagiku, senyumanmu itu lebih indah dari apapun juga..." sahut Arvan.


Arvan membalikkan tubuh sang istri lalu mencium bibirnya dengan lembut.


" Aku punya satu kejutan lagi untukmu..." bisik Arvan.


" Apalagi, kak...?" tanya Erina penasaran.


" Kakak akan menutup matamu lagi sebelum kamu melihat kejutanku..." jawab Arvan dengan tatapan lembut.


Erina pasrah malam ini menerima kejutan romantis dari sang suami yang sangat ia cintai. Adam mendudukkannya di sebuah kursi lalu membuka kain di wajahnya.


" Wow... kak Arvan, semua ini_..."


" Iya, sayang. Semua ini untukmu..."


Arvan membuka sebuah kotak perhiasan yang dia simpan diatas meja. Setelah itu Arvan berlutut di hadapan Erina.


" Erina, kita memang sudah menikah tapi aku tidak pernah melamarmu dengan benar. Kita bersama karena sebuah kesalahanku di masa lalu. Mulai sekarang, kita akan memulai semuanya dari awal dengan cara yang benar..."


" Iya, kak. Kita akan mulai membangun keluarga kecil kita dengan cinta dan kasih sayang.. "


" Jadilah istriku, kekasih abadi di hatiku. Apapun ujian yang akan terjadi, berjanjilah tetap di sisiku untuk selamanya.. "


" Erina, janji... akan menjadi istri dan juga ibu yang baik untuk kak Arvan dan Raka. Hanya kalian berdua yang aku miliki saat ini. Aku berharap kakak tidak akan pergi lagi dari kami..."


Arvan menyematkan cincin di jari manis Erina lalu menciumnya dengan sangat lembut. Setelah itu Arvan memeluk sang istri dengan erat kemudian mencium bibir itu sangat lama.


" Aku mencintaimu, sayang..."


" Erin juga cinta sama kak Arvan..."


Malam yang cerah ini menjadi saksi ikrar cinta sepasang anak manusia yang telah ditakdirkan dalam ikatan pernikahan.


" Kita makan yuk? Erin sudah lapar, kak..."


" Iya, sayang. Saya sudah menyiapkan menu favorit kamu..."


Arvan mengajak sang istri kembali duduk lalu makan malam romantis dimulai. Keduanya terlihat sangat bahagia. Sesekali Arvan menyuapi sang istri dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya.


" Sayang, malam ini kita menginap disini ya...?" ujar Arvan.


" Nggak ah, kita pulang saja kak..." tolak Erina.


" Kenapa...?"


" Disini dingin, takut besoknya malah sakit..."


Mendengar ucapan Erina, Arvan tak bisa menahan tawanya. Dia tidak menyangka sang istri berpikir akan tidur diatap gedung.


" Hahahaaa... kita tidak tidur disini sayang..."


" Bukannya tadi kak Arvan bilangnya kita menginap disini..."


" Maksud saya itu, kita tidur di Mall ini. Aku punya kamar sendiri disini di lantai paling atas, bukan diatap gedung..."


Arvan gemas melihat kepolosan istrinya hingga tangannya tidak tahan untuk mengacak - acak rambut sang istri.


Selesai makan malam, Arvan mengajak Erina duduk di tepian gedung itu di sebuah kursi panjang. Arvan memeluk sang istri yang bersandar di dadanya. Hingga larut malam mereka menikmati cahaya rembulan dan bintang di lznhit yang sangat cerah secerah hati dua insan yang tengah merasakan indahnya cinta.


" Sayang, kita turun yuk? Udah larut malam, sebaiknya kita istirahat..." ajar Arvan.


" Sebentar lagi, kak. Erina masih betah disini, tempatnya sangat nyaman apalagi kalau berdua sama suamiku tercinta ini..."


Erina mencium bibir suaminya dengan lembut cukup lama hingga membuat Arvan merasakan tubuhnya mulai bergejolak. Arvan mulai membalas ciuman sang istri hingga keduanya terbuai dengan angin sepoi - sepoi yang membuat tubuh mereka semakin rapat tanpa jarak.


Erina mendesah pelan saat tangan Arvan mulai menjamah setiap inci tubuhnya. Tidak puas sampai disitu, Arvan mulai menanggalkan satu persatu pakaian di tubuh keduanya.


Malam yang cerah ini menjadi saksi bukti cinta mereka yang tidak akan tergoyahkan oleh badai yang akan menghadang. Mereka tidak memikirkan dimana posisi mereka sekarang berada. Rasa yang sudah bergejolak pada keduanya sudah tak mampu lagi ditahan hingga atap gedung itu menjadi tempat penyatuan cinta mereka berdua.


.


.


TBC


.


.