Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 111


" Kita akan pergi ke tempat yang romantis..." ucap Adam setengah berbisik.


" Sejak kapan kau tahu soal romantis? Kau tidak pernah punya wanita yang dekat denganmu kecuali aku dan Sera..." cibir Erina.


" Ibuku lebih cantik darimu..." goda Adam.


" Huft... kau sangat menyebalkan...!"


Sampai di tujuan, Adam langsung mengajak Erina turun dari mobil. Wajah Erina langsung cerah melihat pemandangan indah di hadapannya.


" Adaammm!" teriak Erina kegirangan.


" Apa kau menyukainya...?"


Adam dan Erina berada di bibir pantai. Hari yang menjelang sore membuat angin berhembus semakin kencang.


" Tumben kamu mengajakku ke pantai...?" tanya Erina.


" Karena aku menyukai ombak di lautan. Kita tidak tahu seberapa besar ombak itu mendatangi kita, namun itu adalah sebuah resiko yang harus di tanggung karena kita sudah memilih untuk berada di hadapannya. Seperti itu pula dengan kehidupan, saat kita sudah melangkah ke depan jangan pernah kembali ke belakang. Teruslah melangkah walau sebesar apapun cobaan itu..."


" Apa maksudnya...?"


" Jangan menyimpan masalahmu sendiri, hadapilah dengan hati yang mantap. Kita hidup saling membutuhkan, ombak saja butuh angin untuk bisa sampai ke pantai. Begitu juga dengan manusia, mereka butuh teman untuk bisa mencapai tujuan..."


" Seandainya aku adalah ombak, apakah kau bersedia menjadi angin itu...?" tanya Erina.


" Tidak...!" jawab Adam seraya merasakan hembusan angin yang begitu segar.


" Kenapa...?"


" Karena kau sudah memutuskan siapa yang menjadi angin itu tanpa kau sadari..."


" Apa maksudmu...?"


Adam berjalan menuju batu karang yang tidak terlalu tinggi namun cukup besar. Dia merebahkan tubuhnya di atas batu karang itu lalu memejamkan matanya. Erina mengikuti langkah Adam lalu ikut merebahkan dirinya di samping sahabatnya itu.


" Hati - hati, ada keponakan aku di dalam perutmu...!" peringat Adam.


" Iya, bawel..." sahut Erina.


" Sini, taruh kepalamu di lenganku biar nggak sakit..." titah Adam.


Erina hanya bisa menurut dengan perintah Adam jika sedang di luar kantor. Adam sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri sehingga tak ada rasa canggung dari keduanya.


" Apa yang kau pikirkan saat menatap langit...?" tanya Adam.


" Aku merasa ingin sekali berada di tempat itu dengan seseorang yang special di hatiku. Saling berbagi suka duka dan meluapkan seluruh rasa cinta..." jawab Erina.


" Apakah orang itu aku...?"


" Kenapa bertanya seperti itu...? Aku sangat mencintai suamiku, jadi hanya dia yang akan bersanding denganku diatas sana..."


" Seperti itulah ombak yang membutuhkan angin, kau adalah ombaknya dan sudah bisa dipastikan siapa yang yang menjadi anginnya, dan itu bukanlah diriku..."


" Lalu, apa posisimu...?"


" Aku akan menjadi pasir pantai, menjadi sandaran terakhir ombak di saat angin berhenti..."


" Kau puitis sekali, aku suka..." celoteh Erina.


Adam tersenyum tipis lalu menepuk pelan kening Erina dengan gemas.


" Kau ini bertingkah seperti bocah saja, ingat... anaknya udah dua..." ledek Adam.


" Tapi tetap saja aku lebih muda darimu..." sahut Erina.


Mereka berdua tertawa lepas seraya mengenang masa - masa indah bersama. Saat masih kuliah, Erina selalu diantar jemput Adam. Semua itu atas perintah Tuan Regan setelah Adam resmi diangkat sebagai asisten pribadi Erina.


Puas saling bercengkerama, Adam kini mengajak Erina untuk duduk. Adam menatap lekat netra cantik di hadapannya.


" Rin, kau bukan anak kecil lagi sekarang. Kau bisa membedakan baik buruknya menyelesaikan suatu masalah. Aku berharap kau bisa menghadapi masalah tanpa emosi. Sekarang kau tidak sendiri lagi, ada hati yang harus kau jaga. Cobalah untuk saling berbagi dengan suamimu. Kalian harus bisa menyelesaikan masalah itu berdua saja, tidak perlu campur tangan orang lain. Aku tahu kalian saling mencintai, tapi ego kalian belum bisa untuk dikontrol..."


" Aku lelah, Dam. Kau tahu aku tidak bisa memilih salah satu dari mereka..."


" Sabar ya? Semoga Arvan bisa mengerti dengan keadaan kamu..."


" Aku sudah berusaha membujuknya dengan membagi waktu antara dia dan ayah. Aku akan berada disini selama satu minggu dan di London satu minggu juga..."


" Bolak - balik Jakarta - London...?"


" Mau bagaimana lagi, hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini..."


" Tapi kau sedang hamil, tidak mungkin bepergian jauh dengan pesawat seminggu sekali. Apa kau mau membunuh janinmu itu...!"


" Apa yang bisa aku lakukan selain itu...? Aku tak punya cara lain lagi..."


Adam nampak berpikir mencari jalan yang terbaik untuk masalah Erina.


" Sebentar lagi matahari akan terbenam, kita nikmati dulu keindahan ini agar hati kita juga merasa lebih tenang. Mungkin setelah ini kita bisa menemukan cara yang tepat untuk membuat mereka mengerti dengan keadaanmu..."


Erina tersenyum seraya memandang langit yang berwarna kuning keemasan memantulkan cahaya di lautan sehingga membuat siapapun yang melihat akan terpukau dengan pesonanya.


Adam bahagia melihat senyum kecil yang terukir di bibir wanita yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu. Dia yakin Erina adalah wanita yang kuat dalam menghadapi masalah yang tengah dialaminya.


# # #


Di kediaman Arvan,


Pria yang tertidur dari siang itu mulai membuka matanya kala senja tiba. Dia mengerjabkan matanya berkali - kali untuk memulihkan kesadarannya.


" Apa aku pingsan sampai bisa tidur selama ini...?" Arvan melirik jam di tangannya.


Arvan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun saat hampir mencapai pintu kamar mandi, Arvan teringat dengan istrinya yang tidak ada di kamarnya itu.


" Erina...! Kemana dia pergi...?" gumam Arvan.


Arvan mengurungkan niatnya untuk mandi dan keluar kamar untuk mencari istrinya. Pertama mencari ke kamar Raka namun tidak ada. Arvan turun ke bawah, mungkin saja mereka sedang mempersiapkan makan malam.


" Dimana Erina...?" tanya Arvan.


" Untuk apa kau mencarinya...?" ucap Hans datar.


" Aku tanya baik - baik dimana istriku...!"


" Sudah, kalian diam dulu!" hardik Delia.


" Del, katakan dimana Erina...?"


" Erina sedang diluar dengan Adam. Kamu tidak usah khawatir, Erina baik - baik saja..."


" Apa dia akan meninggalkan aku...?"


" Tentu saja, kau itu egois...!" tukas Hans.


" Hans...!" teriak Delia.


" Jangan dengarkan Hans, dia hanya asal bicara saja..." ujar Delia pada Arvan.


" Apa aku menyakitinya lagi...?" ucap Arvan sendu.


Delia menatap lekat wajah cemas dan pucat Arvan yang kini tampak berantakan.


" Apa kau merasa telah menyakitinya...?" tanya Delia.


" Entahlah, setiap kali melihat dia meneteskan airmata hatiku terasa sangat sakit. Aku selalu merasa bahwa akulah penyebabnya..."


Ricko dan Sandra yang baru pulang dari kantor langsung ikut bergabung di ruang keluarga dengan membawa bungkusan makanan di tangannya.


" Kalian serius banget, ini aku bawakan martabak manis sama keju..." ucap Sandra.


" Terimakasih, kak..." ucap Hans dan Delia bersamaan.


Arvan yang mencium aroma martabak itu seketika langsung berlari dengan wajah semakin pucat.


" Hoeekkk!"


Arvan muntah di kamar mandi yang ada di dapur. Dia merasa mual mencium aroma keju dari martabak itu.


" Van, kau tidak apa - apa...?" Ricko berlari menghampiri Arvan dan memijat tengkuk adiknya itu.


Hoeekkk! Hoeekkk! Hoeekkk!


Arvan terus memuncahkan isi perutnya seraya berusaha mendorong tubuh Ricko agar tidak mendekatinya.


" Van, apa yang kau lakukan? Aku hanya ingin membantumu..." ujar Ricko heran.


" Pergi...!" lirih Arvan.


Dengan hati yang bingung, Ricko meninggalkan Arvan sendiri. Dia merasa tidak melakukan apa - apa, tapi Arvan mengusirnya.


Setelah lima menit, Arvan keluar dari kamar mandi lalu berdiri di belakang Hans.


" Bisakah kak Sandra menyingkirkan makanan itu jauh dariku? Mencium aromanya saja aku langsung mual..." pinta Arvan.


" Maaf ya, Van. Aku tidak tahu jika kamu tidak menyukai aroma keju..." ucap Sandra.


" Tidak apa - apa, kak. Tolong juga itu sekalian mandiin suami kakak biar tidak bau keju..." ujar Arvan.


" Hah... siapa yang bilang aku bau keju...!" kesal Ricko.


" Ya sudah, kalau begitu aku mandiin dia dulu. Kamu tidak perlu khawatir, Van..." sahut Sandra.


Sandra membawa semua martabak ke dapur lalu mengajak suaminya untuk membersihkan diri di kamar.


" Huft...! Dasar adik nggak ada akhlaknya...!" umpat Ricko geram.


" Sudah, kenapa jadi marah sih? Arvan itu memang sangat sensitif semenjak kehamilan istrinya..."


" Kau ini istriku atau bukan! Malah membela orang lain..." sungut Ricko.


" Kenapa jadi ikut - ikutan manja seperti Arvan sih...?"


" Biarin, aku hanya manja dengan istriku saja..."


Ricko menarik lengan Sandra hingga tubuh Sandra rterjerembab ke dada bidang suaminya. Tak ingin melewatkan kesempatan, Ricko segera mencium bibir istrinya dengan lembut.


" Mas... mandi dulu sana, sebentar lagi makan malam..." Sandra meronta ingin dilepaskan.


" Mas makan kamu aja, sayang..." bisik Ricko dengan suara parau.


" Tidak bisakah kita melakukannya nanti saja setelah makan malam...?"


" Huft... baiklah. Tapi ingat! Aku tidak akan melepaskanmu sebelum pagi datang..." seringai Ricko.


# # #


Erina dan Adam memesan makanan dan dibawa keatas batu karang karena ingin merasakan sensasi berbeda saat makan malam. Adam memakaikan jas miliknya kepada Erina agar wanita hamil itu tidak kedinginan.


" Erina_..." ucap Adam ragu.


" Iya, ada apa...?" tanya Erina.


" Apa sebaiknya kamu jujur saja kepada suamimu...?"


.


.


TBC


.


.