Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 55


" Apa yang dipikirkan Erina tentang aku, Hans...?" tanya Arvan pelan.


" Jika melihat dari kejadian malam ini, aku bisa menyimpulkan bahwa Erina sangat kecewa padamu dan dia berpikir kau hanya membutuhkan pelampiasan hasratmu saja bukan cintanya..."


" Aku tidak pernah berfikir seperti itu, Hans. Aku tulus mencintai Erina apapun keadaannya..."


" Itu menurutmu, Van. Tapi Erina memiliki pandangan yang berbeda. Dia seorang wanita, sekali ternoda tidak akan bisa bersih lagi seperti semula. Dia akan menanggung beban itu seumur hidupnya..."


" Kau harus tahu, apa yang dia alami sekarang itu hanya sebagian kecil dari penderitaannya di masa lalu. Jika kau memang tulus sayang padanya, jangan pernah memaksakan kehendakmu lagi. Biarlah dia melakukannya dengan keikhlasan di hatinya tanpa adanya tekanan. Aku takut Erina bisa jadi depresi..."


" Eughh... apa yang sudah kulakukan padanya...!" kesal Arvan pada dirinya sendiri.


" Sudahlah, sebaiknya kita istirahat. Biarkan Erina sendiri dulu..." ucap Hans.


" Tidak, Hans. Aku akan menjaganya disini, aku tidak akan pernah meninggalkannya..."


" Van, biarkan Erina tenang dulu. Hatinya sedang memburuk saat ini..."


" Aku janji tidak akan mengganggunya, Hans. Aku hanya ingin menjaganya saja. Aku janji tidak akan menyentuhnya..."


" Terserah kau saja, aku mau tidur lagi..."


Hans kembali ke kamarnya lalu berbaring di samping Raka yang tertidur pulas.


Sementara itu, Arvan menarik kursi di depan meja rias lalu di taruh di samping tempat tidur Erina. Arvan duduk sembari menatap lekat wajah Erina yang terlihat lelah dan pucat.


" Maafkan aku, sekali lagi aku melukai hatimu. Aku mohon jangan tinggalkan aku, sayang..." batin Arvan.


Arvan menyandarkan kepalanya di samping Erina dan tertidur disana dengan posisi duduk.


# # #


Pagi hari, Erina terbangun. Tangannya terasa kram karena ada yang menindihnya. Saat Erina menoleh, terlihat Arvan yang tertidur dengan posisi duduk.


Erina menarik tangannya perlahan agar tak mengusik Arvan yang masih terlelap. Dia menatap Arvan dengan hati yang penuh keraguan antara benci dan cinta.


Saat sedang melamun, Erina tak menyadari bahwa Arvan sudah terbangun dan menatapnya dengan tersenyum.


" Sayang, kamu sudah bangun? Maaf aku ketiduran, harusnya aku menjagamu..." ucap Arvan serius.


" Lepaskan tanganku!" sahut Erina ketus.


" Eh, iya... maafkan aku. Apa kamu memerlukan sesuatu...?"


" Tidak! Aku tidak mau melihatmu lagi...!"


Saat Arvan ingin membujuk Erina lagi, Raka tiba - tiba masuk dengan teriakan yang sangat kencang.


" Papaa... Mamaa...!" teriak Raka.


" Sayang, kamu udah mandi? Duduk dulu sini biar papa ambilkan baju ganti untukmu..." tutur Arvan lembut.


" Kita jadi jalan - jalan, Pa...?"


Arvan memandang Erina sekilas namun wanita itu malah memalingkan wajahnya.


" Mama sedang lelah sayang, lain kali saja ya...?"


" Tapi Raka pengen jalan bertiga dengan mama dan papa...!"


" Raka, berjanjilah jadi anak yang baik dan harus bisa menjaga mama..."


" Papa kenapa tidak ikut ke London saja...?"


" Jika mama mengijinkan, papa pasti ikut..."


" Boleh ya, Ma...?" rengek Raka.


" Raka, kita bisa hidup tanpa selama ini, buat apa kamu masih mengharapkan dia ikut...!" ujar Erina kesal.


" Tapi, Ma_..."


Setelah selesai memakaikan baju Raka, Arvan memeluk erat tubuh anaknya mencoba untuk tidak menitikkan airmata.


" Sayang, kamu tunggu diluar sebentar biar papa bicara sama mama..." tutur Arvan.


" Iya, Pa..." sahut Raka lalu keluar dari kamar.


Setelah Raka keluar, Arvan mendekati Erina dengan tatapan sendu.


" Aku tahu kamu marah dan kecewa karena kejadian semalam. Maafkanlah aku, Erina. Aku sangat mencintaimu dan selamanya tidak akan berubah. Maafkan kekhilafanku semalam yang telah lancang menyentuhmu..."


" Kau bohong! Kau hanya menginginkan tubuhku...!"


" Tidak sayang, mana mungkin aku melakukan itu. Aku mencintai jiwa dan ragamu..."


" Aku tidak akan pernah mempercayai dirimu lagi...!"


" Saat ini kau sedang marah, aku akan membuktikan ketulusan cintaku kepadamu..."


" Aku ingin hidup sendiri, kak..."


" Bagaimana dengan Raka...? Dia ingin sekali berjalan - jalan dengan kita..."


" Aku_..."


" Aku janji akan akan menjagamu dan tidak akan melukai hatimu lagi. Berilah aku satu kesempatan lagi..."


" Ya sudah, aku mau mandi dulu..." sahut Erina.


" Aku bisa sendiri, kak.... "


" Pokoknya kamu duduk aja disini, biar aku yang menyiapkannya..."


# # #


Kini, mereka beriringan mengelilingi sebuah taman bermain. Raka sangat antusias dan senyumnya terkembang sempurna.


" Kamu lelah sayang...?"


Arvan meraih tubuh Raka lalu menngendongnya dengan tersenyum.


" Mama juga lelah, Pa..."


Arvan menatap Erina yang sedari tadi hanya diam saja. Tak ada senyum sedikitpun di wajahnya


" Sayang, kau memang terlihat lelah. Kita cari tempat duduk disana..."


Arvan menggandeng tangan Erina supaya mereka tidak terpisah karena pengunjungnya lumayan ramai hari ini. Mereka duduk di kursi panjang di bawah pohon.


" Sayang, kamu sama Raka tunggu disini dulu. Aku mau beli minuman buat kita semua. Ingatlah untuk tetap waspada terhadap sekitar, aku tidak akan lama..." bisik Arvan.


" Iya, kakak juga hati - hati..." sahut Erina pelan.


Erina merangkul bahu Raka sesekali mereka bercanda sambil menunggu Arvan yang sedang membeli minuman.


Sepuluh menit kemudian, Arvan datang membawa minuman dan snack untuk Raka dan Erina.


" Sayang, maaf agak lama. Sedikit ramai tadi yang beli..." ucap Arvan.


" Tidak apa - apa, yang penting dapat minumannya..." sahut Erina.


" Apa ada yang mencurigakan, sayang..." tanya Arvan.


" Pa, Raka merasa ada yang mengikuti kita..." jawab Raka.


" Benarkah? Apa Raka melihat orangnya...?"


" Tidak, Pa... tapi Raka bisa merasakannya..."


" Ya sudah, sebaiknya kita pulang sekarang. Nanti makannya kita delivery saja..."


Erina melihat sekeliling untuk membuktikan ucapan Raka namun langsung ditarik oleh Arvan.


" Jangan dicari sayang, sebaiknya kita pergi sekarang..." bisik Arvan.


Mereka bertiga langsung berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobil. Setelah masuk, Arvan mengeluarkan laptopnya lalu menyuruh Raka untuk meretas cctv di area taman bermain tersebut.


" Raka, apa kau bisa meretas cctv di area taman ini? Kita cari tahu siapa yang berani bermain - main dengan kita..."


" Apa itu mungkin kak Selly, kak..." ucap Erina.


" Mungkin, sayang... makanya besok kita ke London ya? Aku tidak mau terjadi apa - apa pada kalian berdua..."


" Papa juga akan tinggal bersama kakek kan...?" tanya Raka.


" Tidak, sayang... Papa harus selesaikan masalah tante Selly, setelah itu papa akan jemput kalian lagi dan kita akan menetap disini bersama. Tapi tergantung mama, mau apa tidak..." Arvan melirik Erina yang duduk disampingnya.


" Mama maukan tinggal di rumah papa...?" tanya Raka.


" Jangan bahas itu dulu, mama lelah..." sahut Erina datar.


" Raka, sudah kau dapat rekaman cctv'nya...?" tanya Arvan mengalihkan pembicaraan.


" Belum, Pa... sebentar lagi..." jawab Raka.


" Ya sudah, kamu kerjakan sekarang sekalian jalan..."


" Iya, Pa..."


Raka serius berkutat dengan laptopnya. Tatapannya tajam bagai elang yang sedang mengincar mangsanya. Satu per satu cctv di area taman itu berhasil ia retas. Raka memutar rekaman cctv mulai dari gerbang utama sampai ke dalam area taman.


" Pa, Raka sudah dapat meretas cctv di semua area taman..." ucap Raka tersenyum.


" Good job, boy... papa sangat bangga padamu..." sahut Arvan dengan wajah bahagianya.


" Tapi itu terlalu bahaya buat Raka, kak..." ucap Erina khawatir dengan bakat ekstrem anaknya.


" Tidak apa - apa, sayang... aku akan terus mengawasi pergerakan Raka. Kita akan mengasah kemampuannya agar bisa terarah dan dia bisa lebih waspada pada sekitarnya. Dia tidak boleh melakukan pekerjaan ini setengah - setengah. Dia harus tahu resiko dari pekerjaan ini..."


" Dia masih kecil, kak... aku sangat khawatir dengan keselamatannya..."


" Tenanglah, sayang... Anak kita sangat hebat dan juga cerdas. Dia pasti bisa memahami pekerjaannya..."


" Papa, lihat orang ini...!" teriak Raka.


.


.


.


TBC


.


.