Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 65


" Adam, kita harus bagaimana?" tanya Erina.


" Sebaiknya kita menjauh dulu dari tempat ini..." jawab Adam.


" Tapi jika itu kak William dan sedang mencari kita...?"


" Tidak apa - apa, kita akan meninggalkan jejak untuk Tuan Willy. Dia pasti paham dengan kode yang saya buat..."


Setelah membuat jejak di sebuah pohon, Adam mengajak Erina pergi dari tempat itu. Tak ingin ada musuh yang melihatnya, Adam mempercepat langkahnya seraya menggenggam tangan Erina agar tak tertinggal.


" Adam, jangan terlalu cepat. Kakiku sudah tidak kuat lagi untuk berjalan cepat..." keluh Erina.


" Bertahanlah, Erina. Kita harus segera pergi dari sini..."


Tanpa mereka duga, beberapa penjahat berhasil menyeberangi sungai setelah melihat keberadaan Adam dan Erina. Jarak mereka semakin dekat hingga Adam harus memaksa Erina untuk berlari dengan cepat.


Duuaarrr!


Suara tembakan peringatan menggema di seluruh hutan hingga menghentikan langkah Adam dan Erina.


" Kalian tidak akan bisa lari kemana - mana...!" teriak salah satu penjahat.


Adam dan Erina membalikkan badan lalu menatap tajam pada para penjahat itu seakan sudah siap untuk mempertaruhkan nyawanya.


" Kalian hanya berlima, tidak mungkin bisa menangkap kami berdua..." cibir Erina meremehkan.


" Siapa yang menyuruh kalian membunuh kami..." tanya Adam sedikit rileks.


" Kau tidak perlu tahu siapa boss kami. Sebaiknya kalian menyerah dan ikut ke markas boss kami jika tak ingin nyawa kalian melayang..."


Adam dan Erina saling berpandangan seraya tersenyum membuat para penjahat merasa aneh.


" Kau siap...?" lirih Adam.


Erina menganggukkan kepalanya bersiap mengikuti arahan Adam untuk langkah selanjutnya.


Dengan gerakan cepat Adam dan Erina menyerang para penjahat itu sebelum mereka menarik pelatuk di tangannya. Senjata yang mereka pegang terlempar entah kemana karena tendangan dan pukulan yang dilayangkan Adam dan Erina.


Para penjahat yang sudah kelelahan itu akhirnya menyerah apalagi rombongan William berhasil menyusul mereka.


" Adam, Rissa... kalian tidak apa - apa...?" tanya William khawatir.


" Iya, kak... kami baik - baik saja..." jawab Erina dengan nafas tersengal.


" Baiklah, kita pergi dari sini sekarang..."


William menyuruh bawahannya membawa lima penjahat itu ke penjara markas untuk di interogasi.


Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di tepi sungai menuju ke arah pinggir hutan. Satu jam perjalanan, mereka sampai di jalan besar yang berada di pinggir hutan itu.


" Kita istirahat dulu disini menunggu mereka mengambil mobil kita..." ujar William.


" Baik, Tuan... Terimakasih sudah menyelamatkan kami..." ucap Adam.


" Rissa tanggungjawab kita semua, ini sudah menjadi kewajiban saya..."


" Tapi, Tuan... bisa kita bicara berdua di tempat lain...?" bisik Adam.


" Baiklah..." sahut William.


Mereka menjauh dari yang lain terutama dari Erina. Adam tidak ingin Erina jadi salah paham nantinya.


" Ada apa...?" tanya William langsung pada intinya.


" Kami sudah merasa ada yang mengikuti kami sejak di Bandara setelah bertemu dengan teman Nona Rissa..."


" Teman Rissa? Siapa...?"


" Namanya Samuel. Kami sempat bertemu dengannya dan Rissa mengajaknya sarapan bersama..."


" Apa ada yang aneh dari orang itu? Saya belum pernah melihatnya langsung. Saya hanya mendengar dari cerita Arvan saja..."


" Saya merasa Samuel menyukai Rissa dari cara dia menatap Rissa dengan senyumannya yang saya rasa terlihat sangat aneh..."


" Mungkin firasat Arvan tentang laki - laki itu benar, kita harus bisa melindungi Rissa..." ujar William.


" Saya siap mempertaruhkan nyawa untuk melindungi Rissa. Selain teman, dia juga boss yang sangat baik kepada bawahannya. Rissa banyak membantuku disini hingga aku bisa menghidupi keluargaku di Indonesia..." sahut Adam.


" Sungguh wanita malang yang sangat luar biasa..." timpal William.


" Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Tuan...?"


" Kita pastikan dulu jika mereka benar suruhan Samuel, baru kita akan bergerak..."


" Baiklah, mungkin saya butuh istirahat sejenak. Tubuhku rasanya sakit semua saat lompat ke jurang tadi..."


" Apa Rissa baik - baik saja...?"


" Iya, dia baik - baik saja karena mendarat diatas tubuhku hingga tulangku terasa patah semua..."


" Ternyata kau benar - benar mengabdikan dirimu kepada keluarga Sebastian..." kekeh William.


" Tuan juga sama dengan saya, kita hanya membalas kebaikan mereka dengan cara yang kita mampu..."


Saat sedang berbincang, Erina datang dan langsung duduk di tengah kedua laki - laki itu.


" Sedang apa kalian disini...?" tanya Erina.


" Kami sedang mendiskusikan untuk nama panggilanmu yang lebih cocok, Rissa atau Erina..." jawab Adam seraya tersenyum.


" Ish... seperti itu pakai di bahas. Kalian boleh memanggilku dengan nama apa saja..." sahut Erina.


" Siap Boss...!" pekik Adam.


" Itu mobilnya sudah datang, ayo kita pulang. Kakiku rasanya sudah tidak kuat lagi untuk berjalan..."


" Untung boss, kalau bukan udah aku tinggal disini..." gumam Adam.


" Hei... aku dengar...!" teriak Erina.


Tanpa aba - aba, Erina langsung lompat ke punggung Adam hingga lelaki itu kaget dan terhuyung ke depan menabrak Willian yang berjalan di depannya.


Bruukk!!!


" Auwww...! Apa yang kalian lakukan...?!" bentak William.


" Tanyakan pada orang dibelakangku ini, Tuan..." sahut Adam menahan ngilu di punggungnya.


Posisi yang sangat tidak nyaman bagi William berada paling bawah menghantam aspal. Diatasnya, tubuh tinggi tegap Adam menindihnya disusul Erina.


" Ups... maaf..." ucap Erina merasa bersalah.


Para anak buah yang melihatnya mencoba menahan tawa seraya membantu para atasannya berdiri. Mereka tidak habis pikir dengan tingkah pimpinannya yang terlihat sangat dingin dan berwibawa itu bertingkah seperti bocah.


" Tuan dan Nona tidak apa - apa...?"


" Diam, jangan ada yang tertawa...!" teriak Erina namun dia sendiri menutup mulutnya menahan tawa.


" Baik, Nona..."


Semuanya masuk ke dalam mobil lalu pulang dengan tujuan masing - masing. Erina langsung pulang diantar beberapa anak buahnya dengan mobilnya sendiri. William mengantarkan Adam ke rumah sakit untuk memeriksan kondisinya yang sedikit cidera di punggung.


Sampai di rumah, Erina langsung membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah itu, dia akan menjemput Raka di markas karena hari sudah hampir sore.


" Raka pasti sudah menunggu, semoga dia tidak menanyakan tentang papanya dulu..." gumam Erina.


Erina kembali meneteskan airmatanya jika mengingat, Arvan suaminya. Apa yang akan dia katakan pada Raka nanti jika anak itu menginginkan video call seperti yang dia katakan tadi pagi.


" Kak Arvan, hatiku mengatakan kau masih hidup. Kenapa semua ini harus terjadi dalam hidup kita..." batin Erina.


Dalam perjalanan, Erina sengaja mampir ke Resto untuk membelikan makanan kesukaan anaknya. Sekitar lima belas menit menunggu, pesanannya datang dan Erina segera melanjutkan perjalanan untuk menjemput anak kesayangannya.


Sampai di Markas, Erina langsung mencari Erina di ruang kerjanya. Biasanya anak itu sangat serius jika sedang bekerja.


" Selamat sore, Nona. Ada yang bisa saya bantu...?"


" Tidak, saya sedang mencari Raka..."


" Tuan Muda ada di taman belakang, sepertinya sedang menelfon seseorang..."


" Siapa? Apa tentang pekerjaan...?"


" Saya tidak tahu, Nona. Begitu menerima panggilan, Tuan Muda langsung pergi ke taman dan kami tidak boleh mengikutinya..."


" Baiklah, saya akan menyusulnya sendiri..."


" Silahkan, Nona..."


Erina berjalan menuju taman yang terawat sangat rapi. Berbagai macam bunga dan buah - buahan tumbuh subur disana. Sungguh sangat memanjakan mata setiap orang yang memandang.


Erina mencari Raka ke sekeliling taman namun anak itu belum juga kelihatan batang hidungnya.


" Rakaaa...!" teriak Erina.


" Yes, Mom... I'm here..." sahut Raka.


Erina mencari arah sumber suara namun tak menemukan anaknya itu.


" Raka... kamu dimana...?"


Raka melempar mamanya dengan buah mangga muda yang masih kecil mengenai lengan sang ibu.


" Auwww...!" pekik Erina.


" Hey... mom, Raka disini..."


" Sedang apa kamu diatas pohon...?" tanya Erina heran.


" Sedang video call sama papa..."


Degh!


.


.


TBC


.


.