Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 80


Usai menuntaskan hasratnya, Arvan segera memakai pakaiannya kembali lalu menggendong sang istri ke kamar khusus miliknya.


Erina merasa lelah hingga ia tertidur dalam gendongan suaminya. Dia tidak sadar jika sekarang sudah berada di dalam kamar yang sangat mewah.


" Kau sangat cantik, semoga kita bisa bersama selamanya dan merawat anak - anak kita dengan penuh cinta dan kasih sayang..." gumam Arvan lalu ikut merebahkan diri di samping istrinya.


Walaupun sudah berusaha, namun Arvan belum bisa memejamkan matanya. Memandang sang istri dalam jarak dekat seperti ini membuat hari Arvan merasa nyaman dan bahagia. Tak ada kata yang bisa menggambarkan kebahagiaan seorang Arvan Sebastian saat sudah berkumpul bersama keluarga kecilnya.


" Sayang, aku akan secepatnya mengurus perusahaan di Indonesia agar bisa di tangani langsung oleh Hans dan kak Ricko. Setelah itu, kita akan menetap di negara ini selamanya..." batin Arvan.


Hingga jam dua pagi Arvan baru bisa memejamkan matanya menyusul sang istri yang telah terlelap beberapa jam yang lalu.


# # #


Pagi hari, Erina terbangun dari tidurnya karena tubuhnya yang terasa terhimpit sesuatu.


" Astaga... apa yang dia lakukan, nggak sadar apa tubuhnya berat sekali..." gerutu Erina.


Erina mencoba memindahkan tubuh sang suami yang menindihnya namun usahanya hanya sia - sia belaka.


" Kak, bangun..." rengek Erina.


" Hmmm... apa kau mau lagi...?" gumam Arvan.


" Mau apa...?"


" Olahraga pagi, sayang..."


" Huft... apa kau mau menyiksaku...?"


" Siapa yang menyiksa? Aku memberikan sesuatu yang membuatmu senang... hahahaa..."


" Aku mau mandi, turunlah dari tubuhku..."


" Olahraga dulu biar sehat, sayang..." bujuk Arvan.


" Aku mau siap - siap ke kantor, kak..."


" Memangnya kau mau pergi tanpa pakaian...?"


" Ah, iya... Dress yang kupakai semalam dimana...?"


" Masih ada di atap, ambil saja kalau mau. Mungkin banyak pegawai di luar..."


" Kenapa tak dibawa turun semalam...?"


" Malas, sebaiknya ayo sekarang olahraga dulu biar nanti aku ambilkan..." goda Arvan.


Dengan berdecak kesal, Erina pasrah dengan hal yang dilakukan oleh suaminya. Mereka kembali melakukan penyatuan walaupun hanya sebentar karena Erina harus segera ke kantor.


" Sayang, kita mandi bareng ya.. ?" rengek Arvan.


" Tidak, kak Arvan mandi dulu saja. Erin mau mandi sendiri..."


" Baiklah..."


Arvan beranjak ke kamar mandi dan segera membersihkan diri dengan cepat. Setelah itu, gantian Erina yang masuk ke kamar mandi.


Arvan memesan baju untuk sang istri dari butik yang ada dibawah. Selang waktu sepuluh menit pesanan datang beserta sarapan yang dia pesan di resto Mall itu juga.


" Sayang, mana bajuku...?" tanya Erina saat keluar dari kamar mandi.


" Ada di tempat tidur, cepatlah kita sarapan dulu sebelum berangkat..." sahut Arvan.


Erina melihat Arvan yang sedang membuka sarapan di sofa.


" Makanannya enak..."


Erina yang hanya berbalut handuk di tubuhnya langsung menghampiri Arvan karena merasa sangat lapar.


" Hei... pakai dulu bajunya, bsru nanti sarapan..." ujar Arvan.


" Sarapan dulu baru ganti baju ya, kak..." rengek Erina.


Arvan hanya bisa mendesah pelan melihat tubuh yang begitu seksi di hadapannya.


" Apa kau ingin menggodaku lagi...?"


" Tidak, kak. Erin hanya lapar..."


Arvan pasrah dan menyuapi sang istri yang malas untuk menyendok makanannya sendiri.


Selesai sarapan, Erina langsung bersiap menuju kantor diantar Arvan. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan menuju lift khusus untuk para pekerja Mall.


" Sayang, nanti aku langsung ke Markas ya...? Ada kasus yang harus segera diungkap sebelum pulang ke Indonesia..." ujar Arvan.


" Kapan kak Arvan pulang ke Indonesia...?" tanya Erina.


" Secepatnya, sayang. Aku harus menuntaskan masalah Selly agar semuanya bisa selesai dengan cepat..."


" Kapan...? Aku dan Raka butuh kamu..." rengek Erina.


" Pasti, sayang. Erin bakal jaga keluarga kita dengan baik..."


Arvan mengantar Erina sampai di depan lift. Pasangan ini menjadi pusat perhatian para karyawan karena tidak biasanya CEO cantik mereka membawa laki - laki asing ke tempat kerja. Setahu mereka, hanya Adam dan William yang terlihat dekat dengan mereka.


" Sayang, jika nanti aku nggak jemput kamu minta antar Adam saja jangan naik taksi. Diluar bahaya untuk kamu..." ujar Arvan.


" Iya, kak. Tapi nggak apa - apa pulangnya sama Adam...?" goda Erina.


" Ish... jangan mulai lagi atau dia beneran aku bikin tak bisa bergerak lagi..." desis Arvan.


" Ya udah, sayang. Pergi sana, hati - hati kerjanya...!" peringat Erina.


" Pasti, sayang..."


Arvan mencium kening Erina sekilas lalu pergi setelah sang istri masuk ke dalam lift.


# # #


" Bagaimana hasil penyelidikan kalian...?"


" Sidik jari di sapu tangan itu sama dengan sidik jari di gelas yang dipakai Mike, Tuan..."


" Sudah menghubungi pihak berwajib...?"


" Sudah, sebentar lagi mereka tiba..."


" Apa Melani sudah keluar dari rumah itu...?"


" Belum, Tuan. Bahkan rumah itu nampak lengang seperti tidak ada aktifitas apapun..."


" Sial, periksa cctv...!"


Arvan merasa khawatir dengan keselamatan Melani. Dia menyuruh William memeriksa rekaman cctv.


" Van, cctv mati dari tadi pagi. Melani mengambil semuanya dan membuangnya..." kata William mulai menaruh curiga.


" Apa yang sebenarnya terjadi...?" geram Arvan.


" Bagaimana jika kita masuk ke rumah itu untuk mengecek keadaan di dalam...?" usul William.


" Baiklah, kita berdua akan menyusup ke rumah itu. Yang lain tetap siaga disini, tunggu aba - aba dari saya...!" perintah Arvan.


" Baik, Tuan..."


Arvan dan William mengendap - endap masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Untung saja ada pintu yang tidak terkunci sehingga mereka bisa masuk dengan mudah.


" Kenapa tempatnya sepi, kak. Rumah ini seperti tidak berpenghuni..." bisik Arvan.


" Iya, tapi kita harus tetap waspada, Van. Siapa tahu ini semua jebakan..." sahut William.


" Baik, kak. Sekarang kita berpencar untuk mencari Melani..."


Arvan dan William mencari ke setiap ruangan namun tidak ada orang sama sekali. Mereka bergerak menuju ke lantai dua dan ternyata ada suara seseorang disana.


Arvan memberi kode pada William untuk mendekati arah sumber suara. Terdapat beberapa kamar disana dan ada dua penjaga di depan salah satu kamar.


Arvan dan William menyiapkan senjata masing - masing jika ada serangan mendadak. Mereka berdua bersembunyi di dalam ruang keluarga di lantai dua itu yang sangat gelap. Arvan terus memantau pergerakan mereka untuk melihat berapa orang yang berada di ruangan itu.


" Kak, kita tidak bisa bersembunyi terus. Apa kita serang sekarang saja...?"


" Jangan, Van. Saya takut ada sandera disini. Kita tidak boleh gegabah dalam mencari tindakan..."


Sementara di salah satu kamar, terdengar suara seseorang sedang berbincang.


" Apa yang harus kita lakukan sekarang...?"


" Jangan sampai Melani lepas dari kita. Awasi terus dia, jangan sampai lengah..."


" Dia itu adikmu, kau tega menyekapnya...?"


" Harusnya dia tetap diam dan tidak ikut campur dengan urusanku..."


" Tapi, apa orang itu bisa kita jadikan kambing hitam atas kematian nyonya Anderson...?"


" Kita jalankan rencana selanjutnya, sebentar lagi dia pasti datang..."


Arvan dan William tidak mengenali suara itu tapi yang pasti itu adalah salah satu saudara laki - laki Melani.


.


.


TBC


.


.