Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 92


Hari sudah beranjak pagi. Sepasang suami istri itu baru saja terbangun dari tidurnya. Dengan sangat malas, Erina memindahkan lengan suaminya yang masih melingkar diperutnya.


" Kak, bangun..." kata Erina dengan suara serak khas bangun tidur.


" Hmmm... jam berapa sayang...?" tanya Arvan dengan mata yang masih terpejam.


" Tidak tahu, tapi sepertinya sudah siang..." jawab Erina.


" Astaga... rasanya sangat lelah, jadi malas ke kantor..."


" Ya sudah, kita cari Raka yuk...?" ajak Erina.


" Baiklah, kita mandi dulu terus berangkat..." kata Arvan seraya menggendong istrinya ke kamar mandi.


Setengah jam kemudian, mereka sudah bersiap untuk pergi mencari Raka. Saat mereka membuka pintu utama, nampak sang assisten sedang duduk santai di teras dengan segelas kopi dan sandwich.


" Adam, kau masih disini...?" tanya Arvan.


" Saya baru pulang, Tuan..." jawab Adam.


" Darimana?" tanya Erina.


" Semalam saya menginap di tempat teman..."


" Kau punya teman disini...?"


" Ada, kalian pikir saya robot yang tak punya teman..."


Arvan geram dengan jawaban Adam yang seakan mengabaikan mereka.


" Cepat habiskan sarapanmu, kita pergi sekarang...!" perintah Arvan.


" Mau kemana, Tuan...?"


" Kemana lagi? Cari Raka, Adam...!" ujar Erina nampak geram juga dengan tingkah Assistennya.


" Tidak usah dicari, nanti juga pulang sendiri..." sahut Adam santai.


" Apa maksudmu...?!" teriak Arvan.


" Sabar, Tuan. Pantas saja Raka tidak mau pulang, sikap kalian tidak ada kelembutan sama sekali..." tutur Adam santai.


" Adam! Apa kau bertemu dengan Raka...?" cecar Erina.


" Duduklah dulu, saya mau bicara baik - baik dengan kalian bukan sebagai bawahan tapi sebagai teman..."


Erina mengalah lalu mengajak Arvan untuk duduk berhadapan dengan Adam.


" Apa yang ingin kau katakan...?" kata Arvan datar.


" Tidak bisakah kalian menganggap Raka seperti anak kecil seusianya?"


" Maksud kamu apa...?"


" Saya tahu dia anak dengan tingkat kecerdasan diatas rata - rata. Tapi bagaimanapun juga, dia berhak mendapatkan perlakuan layaknya anak biasa lainnya..."


" Perlakuan macam apa yang kau maksud...?"


" Hhh... dia membutuhkan hal - hal sepele seperti yang di lakukan para orangtua terhadap anak - anaknya. Misalnya saja, pelukan hangat dan ciuman saat dia akan tidur ataupun saat dia baru bangun. Menemani saat dia belajar dan bermain, menyuapinya saat makan dan hal - hal kecil yang lain..."


" Raka bisa melakukan semua sendiri tanpa bantuan siapapun..." sanggah Arvan.


" Benar, fisik dan pikirannya memang terlihat kuat. Tapi... apa kalian tahu serapuh apa hati anak itu...? Dia butuh perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya bukan orang lain..." ujar Adam.


" Jangan mengajariku tentang itu...!" seru Arvan.


" Adam, apa kau sudah bertemu Raka? Katakan padaku dimana anakku..." ucap Erina memohon.


" Iya, semalam aku menginap di tempat tinggal Raka yang baru. Dia terlihat sangat bahagia disana, dikelilingi orang - orang yang sangat tulus menyayanginya..."


" Adam, aku mohon... antarkan aku menjemput Raka..." Erina mulai terisak.


" Tidak, Erin... Raka tidak ingin bertemu kalian untuk saat ini. Dia butuh waktu untuk memperbaiki dirinya sendiri sebelum bertemu kalian..."


" Aku tidak mengerti maksudmu, Dam. Sebenarnya ada apa dengan Raka...?"


" Percayalah padaku, Raka baik - baik saja sekarang. Tarik semua anak buahmu agar tidak mencari Raka lagi..."


" Tapi kami ingin bertemu dengannya...?" Erina memohon dengan tangisannya.


Adam tahu ini semua akan terjadi, dia sudah memperkirakan langkah apa yang akan dia lakukan setelah ini. Adam tidak tega melihat tangisan Erina, bahkan Arvan yang biasanya terlihat dingin dan arogan sampai meneteskan airmatanya.


" Baiklah, tapi hanya dari tempat yang jauh. Aku sudah berjanji pada Raka untuk tidak memberitahu kalian tempat tinggalnya yang baru. Aku harap kalian bisa mengerti dengan keputusan Raka..." ujar Adam.


" Kalian bertemu dimana...?" tanya Arvan serius.


" Di rumah kosong samping rumah keluarga Erina..."


" Apa Raka tinggal disana...?" tanya Erina.


" Tidak, kami tidak sengaja bertemu semalam saat mengintai rumahmu..."


" Jadi Raka tetap melanjutkan penyelidikannya...?"


" Iya, sekarang Raka bisa memantau keadaan rumah itu dengan kamera yang dia pasang di area rumah itu. Mulai sekarang, aku akan fokus penyelidikan dengan Raka, jadi jangan membuat semua ini berantakan..."


Adam tampak berpikir sejenak seraya menghabiskan minuman dalam cangkirnya. Dia berharap Raka tidak akan marah jika tahu orangtuanya datang.


" Baiklah, tapi jangan sampai Raka melihat kalian disana atau dia tidak akan pernah kembali..."


Adam, Arvan dan Erina segera berangkat menuju kediaman Raka yang baru. Jalannya terlihat sempit dan padat penduduk.


" Dam, kau yakin Raka tinggal di tempat seperti ini...?" tanya Arvan ragu.


" Iya, Tuan. Sebentar lagi kita akan sampai di tempat tujuan..."


" Kenapa tempatnya seperti, Dam. Kau tidak salah alamat, kan...?"


" Tidak, Erin... tempatnya memang disini..."


Adam menghentikan laju mobilnya di tempat yang agak jauh dari rumah panti.


" Ayo kita turun, kalian akan tahu apa yang Raka lakukan sekarang..." ujar Adam.


Erina dan Arvan mengikuti langkah Adam dengan pikiran yang tak menentu hingga mereka berhenti di sebuah panti asuhan.


" Adam, untuk apa kita kesini...?" tanya Arvan.


" Pelankan suara kalian, lihat kerumunan anak di halaman rumah itu..." Adam menunjuk beberapa anak balita sedang bermain di halaman rumah.


" Kak, bukankah itu Raka...?" ucap Erina tidak percaya.


Arvan membulatkan matanya melihat anaknya sedang bermain dengan anak - anak sebayanya.


" Dam, kenapa Raka bisa di tempat seperti ini...?"


" Kalian lihat saja, Raka terlihat tertawa bahagia dengan teman - temannya. Jangan kalian rusak dengan sikap egois kalian itu..."


" Tapi aku sangat merindukan Raka, Dam..."


" Sudah, kita pergi sekarang sebelum Raka mengetahui keberadaan kita disini..."


Adam menarik lengan Arvan dan Erina yang masih mematung memperhatikan anaknya dari jauh.


" Dam, aku tidak akan memaksanya pulang. Aku hanya merindukannya..." rengek Erina.


" Nanti ada saatnya kalian bertemu, ada hal lain yang harus kita bicarakan saat ini..."


Adam memaksa kedua majikannya masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari tempat itu. Sepanjang perjalanan mereka saling diam dengan pikiran masing - masing. Tanpa mereka sadari, Adam sudah memarkirkan mobilnya di lobby gedung perkantoran milik Arvan.


" Kenapa kita ke kantor...?" tanya Arvan saat menyadari mobilnya berhenti.


" Tuan Ricko tadi mengirimkan jadwal Anda hari ini di kantor, Tuan. Ada meeting lima belas menit lagi dengan para investor..."


" Hah... kenapa tidak ditunda dulu...!" gerutu Arvan.


" Sudah, kak. Lagian kita sudah sampai disini juga..." ucap Erina.


Adam membukakan pintu mobil untuk kedua atasannya dan segera mengawal mereka masuk ke dalam lift menuju ruang khusus CEO.


" Silahkan, Tuan..."


Adam kembali membuka pintu ruangan Arvan dengan sopan namun terlihat tegas tidak seperti saat di rumah yang selalu membuat Arvan naik pitam.


Di dalam ruangan sudah ada Hans dan Ricko yang menunggu kedatangan mereka. Arvan langsung duduk di kursi kebesarannya dan meraih berkas yang disodorkan Ricko. Tak ada pembicaraan di dalam ruangan itu walaupun ada lima nyawa yang sedang duduk disana.


Waktu meeting tiba. Arvan, Ricko dan Hans masuk ke ruang meeting sementara Erina dan Adam menunggu di ruangan Arvan.


" Adam, boleh ya aku bertemu Raka..." rengek Erina.


" Tidak bisa, Erin! Aku sudah janji sama Raka untuk tidak memberitahu kalian tentang keberadaannya..." tolak Adam.


" Kau tidak tahu bagaimana rasanya seorang ibu yang berpisah dengan anaknya...!"


" Aku tahu, Rin. Kau tahu seperti apa perasaan Raka saat ini? Dia bahkan tidak mau pulang walaupun aku sudah bersusah payah membujuknya..."


" Kenapa? Apa dia marah karena kak Arvan memarahinya? Aku tahu kami salah dan tidak merawat Raka dengan baik. Tapi rasa sayang kami pada Raka sangat besar. Kami hanya tidak mau Raka mengalami hal - hal buruk saat ikut menyelidiki Selly..."


" Nanti jika saatnya tiba, kalian pasti bertemu. Sudah, hentikan tangisanmu. Kau seperti kuntilanak saja, tidak berhenti menangis..." ledek Adam.


" Semua gara - gara kau! Jika saja kau mengijinkan aku bertemu Raka, pasti aku tidak akan menangis..." sahut Erina geram.


" Boleh aku mengatakan sesuatu padamu? Tapi kau harus berjanji untuk tidak tersinggung dengan ucapanku..."


" Bicaralah, aku tidak akan pernah bisa marah padamu. Aku tahu semua yang kau katakan memang selalu benar jika urusan perasaan..."


" Aku ingin kau_..."


.


.


TBC


.


.