Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 22


" Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi...!" ucap Erina menutupi rasa malunya.


" Baiklah, aku akan menceritakan semuanya selama lima tahun ini..." sahut Arvan serius.


" Kak Arvan jangan menipuku lagi...!"


" Tidak mungkin aku menipu ibu dari anakku..."


Arvan mendekatkan wajahnya ingin mencium bibir wanita dalam dekapannya itu namun sang wanita langsung membekap mulut Arvan dengan tangannya.


" Lepaskan pelukanmu! Kita bicara diluar saja..."


Erina meronta minta dilepaskan namun Arvan mendekapnya semakin erat.


" Mau kemana...? Katanya disuruh cerita, kenapa malah mau pergi...?"


" Aku nggak mau dekat - dekat denganmu lagi...!" pekik Erina.


" Ssttt... jangan keras - keras, nanti Raka terbangun..." peringat Arvan.


" Huft... tapi kita bisa duduk di sofa..." rengek Erina menahan amarah.


" Aku lebih nyaman seperti ini..." sahut Arvan tersenyum.


Akhirnya Erina pasrah dan membiarkan Arvan memeluknya demi mendengarkan cerita tentang keluarganya selama lima tahun dia tinggalkan.


" Ya sudah, sekarang ceritakan tentang Ayahku jika memang kau mengenalnya...!" ucap Erina datar.


" Sebelumnya aku akan bercerita dari sebelum bertemu denganmu..."


Arvan mengurai pelukannya lalu duduk bersandarkan kepala ranjang sambil mengusap pelan rambut hitam milik Erina.


" Aku harap kamu tidak membenciku Erin, sungguh aku sangat menyesal telah membuat hidupmu hancur. Waktu itu, aku bertemu seorang wanita. Kami dulu pernah satu sekolah waktu remaja. Karena bertahun - tahun tidak bertemu, tidak tahu dari mana dia mendapatkan nomor kontakku. Dia mengajakku ketemuan di sebuah Cafe. Walaupun rasanya sangat malas, namun aku tetap datang untuk menemuinya..."


Arvan menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. Erina hanya diam mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut Arvan.


" Tanpa aku sadari, perempuan itu malah menjebakku dengan memberikan obat per*ngs**g pada minuman yang telah dipesannya. Setelah meminum beberapa teguk, aku baru menyadari saat obat itu mulai bereaksi. Aku mencari cara untuk kabur darinya lewat pintu belakang hingga aku meninggalkan mobilku disana. Saat aku berjalan di tepi jalan raya, kau hampir menabrakku dan semuanya terjadi begitu saja..."


" Dan kau pergi begitu saja setelah menghancurkan hidupku..." ucap Erina datar.


" Maafkan aku Erina, sebenarnya setelah kejadian itu aku ingin mencarimu. Tapi Ayah menyuruhku datang ke London untuk menyelidiki sebuah kasus. Aku pulang kesini tiga minggu kemudian di saat kamu sudah berada di London. Kamu ingat waktu Ibu membawamu ke rumah sakit di London? Waktu itu aku juga disana untuk berpamitan kembali ke Indonesia dengan Hans. Seandainya waktu itu aku sempat melihat wajahmu, mungkin Raka tidak akan menderita batin seperti ini..." tutur Arvan penuh penyesalan.


" Bagaimana kau bisa tahu makam ibuku...?"


" Aku mencarimu dengan menyelidiki plat mobil yang kau pakai saat mengantarkan aku ke Apartemen waktu itu. Aku mendatangi rumahmu namun kau telah diusir dari sana. Dan kau tahu siapa yang kutemui di rumah itu...?"


" Siapa...?" tanya Erina.


" Orang yang telah menjebakku, kakak tirimu Selly..." jawab Arvan.


" Apaa...? Kau mengenal kak Selly...? Kalian pernah memiliki sebuah hubungan...?"


Erina langsung beranjak dari samping Arvan dan turun dari tempat tidur. Amarah Erina mulai tersulut saat mendengar nama wanita itu lagi. Jika benar Selly menyukai Arvan, masalah akan semakin rumit jika Selly tahu Arvan adalah ayah dari anaknya.


" Tidak Erin, aku tidak pernah berhubungan dengannya. Memang benar dia selalu berusaha untuk mendekatiku, tapi aku tidak pernah menanggapinya..."


Arvan mendekati Erina yang kini berdiri di balkon kamarnya. Wanita di hadapannya kini tampak marah dan mungkin semakin membencinya.


" Aku tahu ini tak adil buatmu, aku juga tahu seperti apa kehidupanmu di masa kecil dulu. Kau tahu? Sebenarnya Ayahmu itu sangat sayang padamu, namun beliau tidak berani mengungkapkannya secara terang - terangan karena takut kau akan disakiti oleh istri dan anaknya itu. Aku bisa lihat itu, saat tak ada satupun fotomu yang terpajang di dinding rumah itu..."


" Bik Ina yang menceritakan semuanya padaku, Ayahmu sering datang di tengah malam untuk menemani tidur di waktu kecil, di saat ibu tirimu sedang terlelap dengan tidurnya. Bik Ina juga terus memintaku untuk mencarimu, dia sangat mengkhawatirkan keselamatanmu..."


" Bik Ina, aku harus menemui dia..." lirih Erina.


" Tenanglah, aku akan cari waktu untuk kita bertemu dengannya. Aku juga harus memastikan bahwa kematian Ayahmu itu karena sakit atau di sengaja oleh seseorang..."


" Apa maksud kak Arvan...?" ucap Erina kaget.


" Saat Ayahmu meninggal, aku sedang berada di Singapore. Aku juga baru tahu satu minggu yang lalu saat aku kembali ke Indonesia..."


" Aku juga yakin ada sesuatu yang tidak beres di rumah, bahkan semua Resto milik Ayah sudah berganti nama menjadi nama Selly. Dia pasti sudah merencanakan semua ini dengan ibunya..." geram Erina.


" Bagaimana kau bisa tahu tentang itu...?" tanya Arvan.


" Waktu kemarin malam sampai di Bandara, taksi yang aku naiki bersama kak William ternyata orang itu salah satu pegawai kepercayaan Ayah di Restoran cabang. Dia menceritakan semua ulah Selly disana. Semua karyawan lama dipecat tanpa pesangon dan diganti dengan karyawan baru..."


" Wanita itu benar - benar licik, seandainya aku tidak menghormati Ayahmu sudah kulenyapkan dia dari dulu..." geram Arvan.


" Apakah bik Ina masih bekerja di rumah itu...?"


" Aku tidak tahu, tapi sebelum ayahmu meninggal dia masih disana..."


Erina menatap langit yang sedikit mendung. Seperti hatinya kini yang sedang kalut antara harus membenci Arvan atau memaafkannya demi Raka.


" Aku juga baru tahu tentang Ayahmu saat bertemu dengan bik Ina di pemakaman. Seperti dirimu, aku juga sering berkeluh kesah di depan pusara ibumu. Setiap aku lelah mencarimu, aku selalu datang mengunjunginya sebagai ganti anaknya yang tak kunjung pulang..."


Erina tidak menyangka, Arvan akan melakukan semua itu untuk dirinya. Namun semua itu belum cukup untuk menghapuskan rasa sakit hatinya atas penderitaan yang diberikan oleh Arvan.


" Aku akan kembali ke London malam ini dengan Raka...!" ucap Erina datar.


" Jangan tinggalkan aku Erin, aku tidak mau berpisah lagi dengan kalian. Aku sangat mencintai kalian berdua..." ucap Arvan sendu.


Lima tahun menanti, tidak mungkin Arvan rela melepas Erina dan Raka begitu saja. Arvan harus meyakinkan Erina supaya bersedia tinggal bersamanya.


" Erina, aku tahu kamu sangat membenciku. Tapi pikirkan lagi perasaan Raka. Hatinya pasti akan terluka lagi jika kita berpisah. Tidak masalah jika kamu terus membenciku, asalkan jangan di depan Raka..." ucap Arvan memohon.


" Aku titip Raka bersamamu, aku harus kembali ke London secepatnya. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan disana..."


" Apa kamu tega meninggalkan Raka hanya demi ego semata...? Tidak pernahkah kamu memikirkan apa yang ada dalam hati Raka selama ini...? Aku tidak menyangka kau melampiaskan kebencianmu padaku pada anak sekecil ini Erin. Semua ini salahku, bukan kesalahan Raka..."


" Tau apa kamu tentang aku dan Raka...! Setiap kali mengingat wajahmu, hanya luka yang aku rasakan. Sekarang kau menyuruhku tinggal bersamamu? Bunuh saja aku sekalian biar kau puas...!" teriak Erina sambil menangis.


" Lima tahun aku berusaha untuk melepaskan diri dari jerat masa lalu yang kelam, kenapa sekarang kau harus datang saat aku mulai bangkit..." teriak Erina lagi.


Arvan tahu ini sangat berat untuk Erina. Kesalahan besar yang dia lakukan dulu ternyata menjadi karma yang harus dia terima. Ketika dia sudah siap untuk bertanggungjawab, Erina justru sangat membencinya.


.


.


TBC


.


.