Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 103


Erina dan Arvan duduk di bawah batu karang yang agak miring untuk berteduh dari teriknya matahari yang seakan membakar tubuh mereka.


" Sayang, mereka bertiga tidak ngerasain teriknya matahari apa ya...? Main air seperti bocah semua..." gerutu Arvan.


" Biarkan saja, mungkin waktu kecil mereka tidak sempat menikmati keindahan pantai. Seperti diriku yang tak pernah merasakan semua itu. Hanya Samuel yang setiap hari selalu menghiburku di kala aku harus menangis dalam diam..." ucap Erina sendu.


" Maaf ya, aku malah mengingatkanmu dengan Samuel. Aku yakin dia pria yang sangat baik, semoga dia bahagia sekarang..."


Arvan mendekap erat tubuh sang istri yang terlihat sedih mengenang masa lalunya.


" Kita ikut main air yuk...?" ajak Erina.


" Nggak usah, sayang. Cuacanya sangat panas, aku malas rasanya gabung sama mereka..." sahut Arvan.


Erina mengambil gambar Raka dan yang lainnya dengan ponselnya. Terlihat sang anak sangat bahagia dengan tawanya yang begitu kencang bersama Hans dan Adam.


Pantai terlihat sepi karena ini hari kerja dan juga siang hari dengan cuaca yang begitu panas.


" Kalau kakak nggak mau, Erin pergi sendiri...!" gerutu Erina.


" Iya, ini juga baru mau berdiri..." kilah Arvan.


Mereka bergandengan tangan menghampiri Raka, Hans dan Adam. Raka yang jahil langsung menarik papanya masuk ke dalam air.


" Pa, ayo berenang..." ajak Raka.


" Kamu aja sana, jangan jauh - jauh nanti tenggelam..." ujar Arvan.


" Kita foto bareng yuk...?" ajak Erina.


" Boleh, sini aku yang ambil gambarnya..." sahut Adam.


Mereka mengambil banyak foto berlima dengan selfie.


" Sekarang kalian bertiga yang foto..." ujar Adam pada Erina dan keluarga kecilnya itu.


Selesai mengambil banyak foto dan puas bermain air, mereka beristirahat sebentar untuk mengeringkan bajunya yang basah di bawah terik sinar matahari.


" Ma, laper...?" rengek Raka.


" Ya sudah, kita cari makan dulu habis itu pulang..." sahut Erina.


Mereka menuju restoran dekat pantai dengan berjalan kaki. Raka yang merasa lelah merengek lagi minta gendong.


" Pa, gendong..." rengek Raka menarik kemeja depan Arvan.


" Sini, papa gendong. Hap! Kebanyakan bareng Uncle Adam kamu jadi semakin gemuk..." ledek Arvan.


" Biarin, soalnya masakan Uncle Adam itu enak..." celoteh Raka.


" Masakan papa juga enak, nggak kalah sama masakan Uncle Adam..."


" Benarkah...? Kapan - kapan kita masak ya, pa...?"


" Iya, sayang..."


Mereka sampai di restoran dan segera memesan banyak makanan untuk mereka berlima. Mereka makan dengan sangat lahap karena kelaparan.


Selesai makan, mereka langsung pulang dan beristirahat agar nanti malam acaranya bisa berjalan dengan lancar.


# # #


Semua sudah berpakaian rapi bersiap untuk pergi. Setelah selesai merapikan pakaian yang di pakai Raka, Erina kembali ke kamar untuk memanggil suaminya.


" Kak, udah siap belum? Ayo berangkat..." ujar Erina.


" Sayang, aku merindukanmu..."


Arvan mendekap tubuh istrinya dari belakang dan mencium wangi mawar putih yang menyeruak dari tubuh Erina.


" Lepaskan...!" pekik Erina meronta.


" Kenapa kau menggodaku di saat yang tidak tepat..." sahut Arvan seraya menghembuskan nafasnya di tengkuk sang istri.


" Siapa yang menggoda...? Minggir...!"


" Sayang, bisakah kita melakukannya sebentar...?" rengek Arvan memohon.


" Jangan macam - macam, kak! Kita bisa terlambat ke tempat acara..." ucap Erina kesal.


" Sekali saja... Please...?"


" Tidak...!"


" Tidak usah pakai pemanasan, kita langsung saja. Janji tidak akan lebih dari sepuluh menit..."


" Kita bisa melakukannya setelah acara selesai..."


" Aku mau sekarang..."


Erina sangat kesal pada suaminya yang tidak mengenal waktu dan tempat. Bahkan minggu lalu dia dipaksa saat sedang berada di kantor mengantar makan siang.


" Kak, kita berangkat sekarang atau acaranya di batalkan saja...!" ancam Erina.


" Iya...! Kita berangkat sekarang...!" Arvan memasang wajah datarnya seketika.


Arvan melepas pelukannya dan keluar dari kamar dengan wajah kesal. Erina jadi heran karena akhir - akhir ini suaminya jadi sedikit manja dan sensitif.


" Kak, tunggu sebentar...!" teriak Erina.


Arvan terus saja berjalan menuruni tangga tanpa mempedulikan panggilan istrinya. Arvan langsung duduk di samping Raka yang sedang menonton tv.


" Ayo berangkat sekarang...!" titah Arvan.


" Semua sudah siap...? Erina mana...?" tanya Hans.


" Nanti juga turun, kita tunggu di mobil..." ucap Arvan acuh.


Erina yang sudah hampir mendekati mereka, mendengar ucapan Arvan yang seperti mengabaikannya. Tidak tahu mengapa, Erina jadi mendadak tersulut emosi.


" Keterlaluan...! Kau anggap aku ini apa...?!" gerutu Erina.


Erina menyambar kunci mobil di atas meja ruang tamu lalu segera keluar dari rumah sendirian. Saat suara klakson mobilnya berbunyi, Arvan dan yang lainnya terkejut karena ada mobil yang sudah keluar dari gerbang.


" Itu siapa...?" tanya Hans.


Mereka segera berlari keluar dan melihat mobil yang biasa di pakai Adam tidak ada. Hans langsung menghampiri security di gerbang.


" Pak, siapa yang tadi keluar...?" tanya Hans.


" Barusan Non Erina, Tuan..."


" Apaa...? Erina sudah pergi...?"


" Ya sudah, buka gerbangnya...!"


Hans segera mengajak semua masuk ke dalam mobil untuk mengejar Erina.


" Hans, Erina masih di dalam..." ujar Arvan.


" Di dalam mana? Kau tidak tahu yang barusan keluar tadi siapa...?" sahut Hans.


" Erina sudah pergi? Tapi kenapa...?" tanya Adam.


Arvan sadar istrinya mungkin marah karena perdebatan tadi di kamar. Dia hanya diam dan berkali - kali menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Apa kalian bertengkar...?" selidik Hans.


" Tidak, hanya perdebatan kecil saja..." jawab Arvan datar.


" Kenapa papa dan mama bertengkar lagi...? Apa karena Raka...?" ucap Raka sendu.


" Tidak, sayang. Papa dan mama tidak bertengkar, kamu jangan berpikir macam - macam..." sahut Arvan.


" Bener, papa dan mama baik - baik saja...?"


" Iya, sayang. Tidak ada masalah apapun..." ujar Arvan tersenyum.


Hans terus mengejar mobil Erina yang melaju dengan kecepatan tinggi. Berkali - kali Hans meng_klakson namun tak ada respon dari Erina.


" Maafkan aku, sayang. Ini semua diluar kendaliku, tak bisa mengerti situasi dan kondisi yang ada..." batin Arvan.


" Hans, ikuti saja! Jangan di kejar. Mungkin Erina butuh waktu sendiri dulu. Nanti aku bicara lagi dengannya disana..." ucap Arvan.


Kini semua diam selama perjalanan menuju panti asuhan. Untung saja Erina juga langsung ke panti sehingga tak ada masalah yang serius.


Arvan langsung turun dari mobil dan mengejar istrinya yang hendak masuk ke dalam panti.


" Sayang, tunggu...!" panggil Arvan.


" Apalagi...?" sahut Erina.


" Maaf..." ucap Arvan memelas.


" Maaf untuk apa...?"


" Aku belum bisa membuatmu bahagia dan_..."


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Arvan merasa mual kemudian langsung berlari ke bawah pohon memuntahkan semua isi perutnya.


" Kak_...!" teriak Erina.


Erina mengejar suaminya lalu mengusap - usap dengan pelan tengkuknya agar merasa lebih tenang.


" Kak Arvan sakit...?" tanya Erina.


" Tidak tahu, sayang. Tiba - tiba saja perutku mual dan tubuhku sangat lemah..."


" Ya sudah, kita masuk saja. Diluar dingin, mungkin kak Arvan masuk angin..."


Raka, Adam dan Hans menyusul Arvan dan Erina. Mereka pikir, sepasang suami istri itu bertengkar.


" Kalian kenapa...?" tanya Hans.


" Sepertinya kak Arvan sedang sakit..." jawab Erina.


" Tadi baik - baik saja, masa' iya tiba - tiba sakit...?"


" Udah, aku tidak apa - apa. Ayo kita masuk dan mulai acara ini secepatnya..." ujar Arvan.


Arvan terus menggandeng lengan Erina seakan tak mau pisah walau hanya sedetik saja.


" Sayang, jangan jauh - jauh dariku ya...?" bisik Arvan.


" Kenapa...?"


" Karena... aku sayang padamu..."


" Huft... jangan mulai lagi...!"


Adam menutup mata Raka dengan kain lalu menggendongnya masuk ke dalam ruangan aula yang sudah dihias dengan cantik.


" Uncle, kenapa harus pakai tutup mata sih...?" tanya Raka merasa tidak nyaman.


" Sebentar aja, nanti Uncle buka..." sahut Adam dengan tersenyum.


Sampai di tempat tujuan, Adam menurunkan Raka dari gendongannya.


" Sudah siap...?" bisik Arvan di sampingnya.


Arvan dan Erina berada di sisi kanan dan kiri Raka. Pertama kalinya mereka merayakan hari bahagia Raka bersama. Arvan sangat terharu dan hampir menangis.


Adam mulai membuka penutup mata pada Raka lalu anak itu perlahan membuka matanya.


" Happy birthday, Raka..."


Suara riuh menggema di seluruh ruangan membuat Raka sangat terkejut. Anak - anak panti berdiri berjajar mengelilingi Raka dengan senyuman bahagia.


" Saya ulang tahun...?" ucap Raka bingung.


" Iya, sayang. Selamat ulang tahun yang kelima..." ucap Erina seraya memeluk dan menciumi Raka.


" Selamat ulang tahun, sayang. Papa selalu berdo'a yang terbaik untukmu..." Arvan membawa Raka ke dalam dekapannya seraya menitikkan airmatanya.


" Terimakasih, papa... mama... Raka sangat bahagia memiliki keluarga yang utuh..."


Keluarga kecil itu saling berpelukan dan menangis bersama. Setelah itu, yang lain juga bergantian mengucapkan selamat kepada Raka.


Raka sangat bahagia malam ini. Arvan dan Erina sudah menyiapkan pesta kecil di rumah panti. Berbagi kebahagiaan dengan teman - teman barunya disini memang sudah menjadi impian Raka.


Saat hendak meniup lilin, tiba - tiba ada tamu yang tidak diundang datang. Raka dan yang lainnya sangat terkejut dengan kehadiran mereka.


" Kalian tak mengundang kami...?"


.


.


TBC


.


.