
" Darwin, kau sungguh keterlaluan...!"
Doorrr! Doorrr! Doorrr!!!
Robert dengan penuh amarah menembaki anak buah Darwin sehingga semuanya berlari menyelamatkan diri masing - masing termasuk Darwin dan William.
Monica yang masih terikat kedua tangannya di belakang langsung ditarik oleh Adam menuju tempat yang aman.
" Robert, kau sudah gila...!" teriak Adam.
" Takkan kubiarkan iblis itu hidup...!"geram Robert.
" Hentikan! Kau bisa membunuh Tuan William juga..."
Darwin yang melihat semua anak buahnya terkapar tak bernyawa langsung melarikan diri keluar dari ruang bawah tanah.
" Darwin, jangan kabur kau...!" teriak William.
William segera mengejar Darwin diikuti Robert. Adam menggendong tubuh Monica yang lemah dan menggandeng tangan mungil Raka. Sungguh merepotkan membawa anak - anak saat sedang genting seperti ini.
Saat sampai di lantai atas, Darwin kabur lewat pintu samping karena di depan ada Arvan dan Hans.
" Van, kau lihat Darwin keluar dari sini...?" tanya William.
" Tidak, kak. Saya dan Hans baru saja masuk dari pintu utama..." jawab Arvan.
" Darwin melarikan diri, kita harus cepat mengejarnya..." ujar William.
Saat William dan Arvan hendak berlari keluar, Adam yang kerepotan membawa dua bocah itupun berteriak memanggil.
" Tuan, apa kalian akan meninggalkanku...!" teriak Adam.
" Astaga, Monica...!" seru William.
William segera menyuruh Robert dan Hans untuk mengejar Darwin. Dia segera mengambil alih putrinya dari gendongan Adam. Begitupun Arvan, dia langsung menggendong tubuh kecil putranya.
" Monic... kau tidak apa - apa...?" tanya William.
" Tangan Monic sakit, Daddy..." rengek Monica.
" Tidak apa - apa sayang, nanti kita obati di rumah..."
" Kak, lebih baik kau ajak Monica pulang saja. Saya dan Adam akan membantu Hans mengejar Darwin..."
" Baiklah, hati - hati kalian..."
William pulang diantarkan para bodyguardnya sedangkan Arvan segera mengejar mobil Hans yang sudah terlebih dahulu mengejar Darwin.
Malam yang semakin larut membuat jalanan di pinggiran kota semakin sepi. Darwin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga sampai keluar kota. Hans dan Robert terus mengejarnya diikuti Arvan, Adam dan Raka dibelakangnya.
" Dam, bisakah kau lebih cepat lagi...!" seru Arvan.
" Ini juga sudah cepat, Tuan. Anda membawa mobil yang salah, saya tidak mau Nona marah karena mobilnya lecet..." sahut Adam santai.
Benar juga, harusnya Arvan tidak membawa mobil kesayangan Erina tadi. Tergores sedikit saja bisa disuruh tidur diluar nanti. Sang istri jika sedang marah sungguh sangat menakutkan. Lebih menakutkan daripada menghadapi puluhan musuh.
Mereka kejar - kejaran sampai di batas kota dan memasuki jalan yang di kelilingi hutan lebat. Darwin nampaknya sudah sangat menggila sekarang.
" Tuan, harusnya tadi Raka suruh pulang saja bersama Monica. Kasihan harus ikut mengejar penjahat itu sampai diluar kota..."
" Tidak apa - apa, biar dia bisa belajar menghadapi kerasnya hidup..."
" Papa, lenganmu berdarah..." seru Raka.
" Sebaiknya kau obati dulu, Tuan. Anda bisa lemas jika banyak keluar darah..." sahut Adam seraya mengambil kotak obat di sampingnya.
Raka dengan telaten membersihkan luka papanya, memberikan obat dan membalut lukanya dengan perban. Anak itu tidak merasa takut sedikitpun dengan darah yang membasahi pakaian papanya.
Sampai di pertengahan jalan, mobil Darwin berhenti dan orang itu langsung berlari masuk ke dalam hutan. Sebisa mungkin dia harus bisa kabur dari kejaran Arvan.
Arvan menghubungi kepolisian untuk ikut mencari karena hutan yang sangat lebat susah untuk mencari keberadaan Darwin.
" Raka, sebaiknya kau tetap di dalam mobil. Papa dan yang lain harus masuk ke hutan mencari Darwin.
" No, papa. Raka tidak mau disini sendirian..." tolak Raka.
" Ayolah, Raka. Di dalam hutan sangat gelap dan jalannya susah. Tunggulah disini, sebentar lagi polisi akan datang dan menemanimu disini..." bujuk Arvan.
" Tuan, saya tidak setuju jika Raka ditinggal sendiri. Saya takut Darwin kembali kesini lagi saat kita sudah masuk ke dalam hutan..." ucap Adam.
" Baiklah, terserah kau saja..." sahut Arvan.
" Uncle, apa disini ada kuntilanak...?" celoteh Raka.
" Mana Uncle tahu, tanya papamu. Mungkin saja mereka pernah bertemu disini..." sahut Adam asal.
" Kuntilanak itu apa...?" tanya Robert yang belum pernah mendengar kata kuntilanak.
" Jangan dengarkan ocehan Adam dan Raka, sebaiknya fokus cari Darwin...!" kata Arvan dengan wajah datarnya.
Sebenarnya Arvan sendiri juga ngeri membayangkan jika benar di tempat ini ada sesosok perempuan berambut panjang yang melayang di udara. Tanpa sadar, ia mencengkeram bahu salah satu anak buahnya.
Arvan sangat kenal siapa sosok kuntilanak itu dari cerita di buku maupun film yang cukup populer di Indonesia. Semenjak remaja, ia memang lebih memilih tinggal dengan kakeknya di Indonesia dan membangun bisnis dengan kerja kerasnya sendiri.
" Tuan, Anda tidak apa - apa...?"
" Ah, iya. Saya hanya tersandung tadi..." sahut Arvan berbohong.
Untung saja tak ada cahaya yang menerangi wajahnya, bisa malu dia ketahuan berbohong karena takut hantu. Dia sepertinya harus menghukum sang anak yang sudah membuat fikirannya travelling kemana - mana.
# # #
Pencarian terus berlanjut hingga pagi hari. Mereka beristirahat sebentar untuk memulihkan tenaga. Raka tertidur pulas dalam dekapan Adam.
" Hei... bangun semua...!" teriak William.
William menyusul Arvan dan yang lainnya ke hutan bersama para petugas dari kepolisian karena mereka tak kunjung pulang.
" Kak Willy, kenapa kau kesini...?" tanya Hans yang masih setengah sadar.
" Astaga, kita sudah hampir sampai di tepi sungai..." gumam Adam.
Dia ingat, hutan ini adalah tempat yang sama dimana dulu dia dan Erina melarikan diri saat dikejar anak buah Samuel.
" Darwin tidak bisa berenang, tidak mungkin dia berani menyeberangi sungai besar..." ucap Robert.
" Ya sudah, kita bergerak sekarang. Kita bagi tiga tim, Arvan dan Adam ke sebelah timur. Saya akan masuk ke jalur tengah, Robert dan Hans ke sebelah barat. Jika tidak menemukan Darwin, semua jalan ke arah timur di tepi sungai. Kita akan sampai kembali di jalan raya..." perintah Adam.
Para anggota polisi dan anak buah Arvan juga dibagi menjadi tiga tim untuk mengikuti Arvan dan yang lainnya.
" Kau yakin kita berjalan di tempat benar...?" tanya Arvan seakan meremehkan Adam.
" Berdo' a saja semoga kita tidak tersesat, Tuan. Saya memang pernah melewati hutan ini tapi di seberang sungai ini. Saya berusaha keras menyeberang sungai ini dengan istri Anda untuk menyelamatkan diri..."
" Sungai sebesar ini...?"
" Iya, di dalamnya ada batu besar untuk tempat berpijak..."
Saat Arvan dan Adam sedang berbincang, Raka menangkap suatu pergerakan di dalam rerimbunan pepohonan. Anak itu saat ini sedang berada di gendongan anak buah Arvan.
" Uncle, berhenti sebentar..." bisik Raka.
" Ada apa Tuan Muda...?" tanya pengawal yang menggendongnya.
" Lihat ke sebelah kiri, tapi pelan - pelan. Beri kode yang lain untuk berhenti..."
" Baik, Tuan Muda..."
Raka turun dari gendongan pengawalnya lalu mendekati Adam dan Arvan. Dia membisikkan sesuatu untuk mengatur strategi menangkap Darwin.
" Kau yakin itu akan berhasil, Raka...?" tanya Arvan.
" Iya, pa..." jawab Raka.
" Ya sudah, ayo kita tangkap dia sekarang..."
Arvan dan Adam segera bersembunyi di balik pohon, sedangkan para pengawalnya disuruh jalan terus agar target tidak curiga. Mereka berdua berjalan lagi ke belakang untuk menyergap Darwin.
" Akhirnya kau tertangkap juga..."
.
.
TBC
.
.