Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 45


" Hans...!" teriak Arvan kesal.


" Sorry Boss, begini... saya cuma mau pamit pergi sebentar dengan Raka. Kalian baik - baik disini jangan bertengkar..." pamit Hans.


" Pergi sana...!" usir Arvan.


" Kak Hans mau kemana...?" tanya Erina.


" Raka ngajak jalan - jalan sebentar, saya juga lagi butuh udara segar..." jawab Hans.


Hans keluar dari kamar lalu di susul oleh Erina yang terlihat cemas.


" Sayang, mau kemana...?" tanya Arvan.


" Sebentar ya, kak..." sahut Erina.


Erina menghadang langkah Hans yang hendak membuka pintu kamar Raka.


" Kak, saya merasa cemas. Bisakah kalian tidak pergi...?" pinta Erina.


" Ish... kami hanya jalan - jalan sebentar, tidak usah khawatir..." ucap Hans.


" Jaga Raka baik - baik, perasaanku tidak enak..."


" Tenanglah, sebaiknya kamu urus Arvan. Raka tanggungjawabku..."


" Bileh saya tanya sesuatu kak...?"


" Tanya apa...?"


" Kak Hans semalam mabuk ya...? Apa ada masalah dengan Delia...?"


" Kita bahas lain kali saja, Rin... masih ada urusan yang lebih penting. Oh iya, jangan sampai kak Ricko tahu ya, dia bisa menghajarku jika tahu aku mabuk..."


" Iya, Erin tidak akan bilang. Takut banget sama kak Ricko, padahal orangnya baik dan kalem..."


" Kamu tidak tahu aja kalau dia lagi marah, seperti singa lapar yang siap mengoyak mangsanya..."


" Ya sudah, saya mau ambil makanan buat kak Arvan dulu..."


Erina berjalan ke dapur untuk mengambil makanan untuk Arvan. Setelah semua siap, Erina membawanya ke dalam kamar.


" Makan dulu, aku mau mandi..." ujar Erina.


" Kau belum memaafkanku...? Pukul aku lagi biar kau puas dan bisa memaafkanku..." sahut Arvan.


" Sudahlah, kak... aku tidak mau berdebat lagi denganmu...!"


" Iya, maaf... pergilah mandi..." ucap Arvan lirih.


Arvan kembali merebahkan tubuhnya dengan miring untuk beristirahat. Arvan berusaha untuk memejamkan mata namun tak bisa. Tiba - tiba dia teringat dengan Raka dan Hans.


" Kemana Raka dan Hans pergi...? Kenapa perasaanku tidak nyaman memikirkan mereka berdua..." gumam Arvan.


Arvan berusaha bangun walaupun rasanya sangat sakit di seluruh tubuh. Dia tertatih masuk ke kamar yang ditempati Erina. Dari suara gemericik air di kamar mandi, Arvan tahu jika Erina sedang mandi.


Arvan mencari ponsel Erina untuk melacak keberadaan Raka. Dari ponsel Erina, dapat dilihat Raka sedang dalam perjalanan. Tanpa dia sadari Erna keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk di tubuhnya.


" Kak Arvan...! Apa yang kau lakukan disini...!" pekik Erina.


" Eh... maaf sayang, saya hanya ingin meminjam ponselmu sebentar..."


" Keluar...! Tidak sopan..."


" Maaf, aku hanya sedang mencemaskan Raka dan Hans. Kira - kira mereka pergi kemana..."


" Mereka hanya jalan - jalan, tidak perlu ada yang di khawatirkan..."


" Kau ibunya, nalurimu pasti lebih kuat daripada aku. Jika kamu merasa Raka baik - baik saja, mungkin dia pasti baik - baik saja..."


" Sebenarnya aku juga merasa sedikit khawatir kak, tapi kak Hans meyakinkan aku bahwa mereka baik - baik saja..."


" Pakai dulu bajumu, jangan menggodaku disaat aku sedang sakit..." gurau Arvan.


" Kak Arvan keluar dulu sana, lagian juga bukan pertama kali ini kau melihatnya..." sungut Erina.


" Jadi sekarang boleh melihatnya lagi...?" goda Arvan.


" Apaan sih...! Cepat keluar...!" usir Erina.


" Tapi boleh pinjam ponselnya sebentar kan...? Lagian kamu juga bisa ganti baju di kamar mandi..."


" Aku harus membongkar kopernya dulu, kak..."


" Ya sudah, bantu aku berjalan keluar dari kamar ini..." pinta Arvan merengek.


" Tadi bisa jalan sendiri kenapa sekarang minta bantuan..." gerutu Erina.


" Kau sangat cantik, sayang..." bisik Arvan saat Erina hendak memapahnya.


Erina hanya diam seraya menatap tajam Arvan yang kini tersenyum manis padanya. Dengan sedikit kesal Erina mencengkeram bahu Arvan yang kini telah berdiri tegak dihadapannya.


" Auwww... sayang, jangan menyiksaku lagi..." rengek Arvan dan sengaja menjatuhkan badannya ke arah Erina.


Erina yang tidak siap menangkap tubuh Arvanpun terkejut dan jatuh ke atas tempat tidur berdua dengan posisi Arvan berada di atas tubuh Erina.


" Ssttt... diam, jangan banyak bergerak..." bisik Arvan.


" Kak Arvan cepat berdiri...!"


" Susah, Erin... punggungku sangat sakit..."


Arvan semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Erina hingga tak ada jarak sama sekali diantara mereka.


" Sampai kapan kak Arvan mau menindihku...?"


" Handukmu nyangkut di kancing kemejaku, kalau aku geser pasti akan terlepas dari tubuhmu..."


" Biar Erin yang lepasin, kak..."


" Apa aku harus menutup mata...?" goda Arvan.


" Diem, kak...!"


Erina berusaha melepaskan handuk yang tersangkut di kancing baju Arvan.


" Kamu terlihat semakin cantik dan mempesona dari dekat seperti ini, sayang..." lirih Arvan.


" Jangan macam - macam, kak...!"


" Aku tidak akan memaksa seperti dulu, kita akan melakukannya setelah pernikahan..."


Arvan mengecup kening Erina dengan lembut lalu turun hingga hidung mereka saling menempel. Tak sampai disitu, bibir merekapun mulai menyatu. Ciuman mereka semakin dalam entah berapa lama hingga nafas keduanya tersengal.


" Aku akan menutup mata sampai kamu pakai baju..." bisik Arvan.


Arvan melepaskan ciumannya lalu menjatuhkan tubuhnya ke samping Erina dengan menutup matanya karena handuk di tubuh Erina terlepas saat Arvan bergeser.


" Kak Arvan janji jangan buka mata...! Handuk ini harus tetap menutupi wajah kak Arvan..." ucap Erina.


" Iya sayang... tapi jangan lama - lama, takut khilaf nih mata..." sahut Arvan terkekeh.


" Kak Arvan...!" pekik Erina.


" Cuma bercanda sayang..."


Lima menit kemudian, Erina sudah berpakaian rapi lalu menghampiri Arvan. Erina menarik handuk di wajah Arvan dengan perlahan.


" Astaga, baru ditinggal sebentar malah tidur..." gerutu Erina.


# # #


Hans dan Raka sampai di sebuah taman yang nampak sepi pengunjung. Mereka sedang menunggu seseorang di sudut taman.


" Raka, apa bik Ina akan datang...?" tanya Hans.


" Semoga saja, Uncle... mudah - mudahan bik Ina bisa membawa semua bukti itu... sahut Raka.


" Apa mereka mencurigaimu...?"


" Mereka mengikutiku sampai ke panti asuhan. Semoga saja mereka tidak mengenali Uncle..."


" Huft... seharusnya kau beritahu rencanamu dari awal jadi semuanya bisa berjalan dengan rapi. Kau tahu mama kamu, dia marah - marah seperti ayam kehilangan telurnya. Itu belum papamu, jika dia tahu bisa depak Uncle dari keluarga Sebastian..." gerutu Hans.


" Sudah, Uncle tenang saja... Raka hanya ingin masalah ini cepat selesai..."


Lima belas menit kemudian bik Ina datang dengan tas belanjaannya yang sudah berisi barang - barang milik Raka.


" Tuan Hans, Raka...!" sapa bik Ina.


" Bik... akhirnya datang juga..." ujar Hans.


" Maaf, Tuan... saya menunggu Non Selly dan Nyonya Yona pergi terlebih dahulu..."


" Kau yakin tidak ada yang mengikuti...?"


" Sepertinya tidak Tuan, tapi Nyonya sering menanyakan soal Raka..."


" Tidak apa - apa, setelah ini bibik tidak akan berurusan lagi dengan masalah ini..."


" Iya Tuan, tapi saya merasa takut untuk kembali masuk ke rumah itu..."


" Apa sebaiknya bibik tidak usah kembali ke rumah itu lagi...? Tinggalah di rumah kami, Erina pasti senang bertemu denganmu lagi..."


" Bibik akan pikirkan dulu, Tuan..."


Tanpa mereka sadari, ada beberapa orang yang sedari tadi mengawasi mereka. Dengan amarah yang memuncak, dia bersiap memuntahkan isi dalam senjata yang di genggamnya.


" Penghianat harus mati...!"


.


.


TBC


.


.