
Setelah cukup lama menemani Arvan di ruang perawatan, Rissa dan Raka keluar untuk bergantian dengan Ayah dan ibunya.
" Kak... Rissa dan Raka keluar dulu, cepat sembuh ya. Maaf, Rissa tidak bisa menemanimu disini lagi. Aku harus menggantikan Ayah untuk mengurus semua pekerjaannya..." ucap Rissa.
" Raka keluar dulu ya, pa... nanti Raka yang akan jagain papa..." celoteh Raka seraya tersenyum.
" Ayo sayang, kita keluar..." ajak Rissa.
Saat Rissa akan melepaskan genggaman tangannya, tangan Arvan malah menggenggamnya dengan erat seakan tak mau dilepaskan. Namun itu hanya bertahan beberapa detik saja karena tangan Arvan kembali melemah.
" Kak Arvan... maafkan aku..." ucap Rissa lirih lalu mencium kening Arvan sekilas.
Rissa menuntun tangan Raka keluar dari kamar rawat Arvan. Tanpa mereka sadari setetes airmata membasahi wajah Arvan yang masih terpejam.
" Kak Hans, kita pulang sekarang. Saya harus bersiap - siap ke Bandara..." ucap Rissa.
" Kau akan pergi...?" Hans mengeryitkan dahinya heran.
" Rissa sudah bicara dengan Ayah, kak... beliau sudah mengijinkan. Pekerjaan disana tidak ada yang mengurus, saya dan kak Willy akan pergi nanti malam..."
" Ya sudah, kita ke rumah untuk mengambil barang kak Willy lalu ke Apartement..." ucap Hans.
Setelah berpamitan pada Ayah dan Ibu, mereka langsung meninggalkan rumah sakit. Hans menggendong Raka sampai ke dalam mobil dan mendudukkannya di depan bersamanya.
" Uncle, nanti Raka tidurnya sama Uncle Hans ya...?" pinta Raka.
" Memangnya kamu nggak ikut Mama ke London...?" tanya Hans.
" Raka biar disini untuk sementara waktu kak, tolong jaga dia ya...? Saya tidak bisa memantau dia setiap waktu disana..." ucap Rissa.
" Kamu yakin tidak membawa Raka pergi, Rin...?"
" Tidak kak Hans, Raka punya pekerjaan yang ingin dia selesaikan disini. Tolong lindungi Raka, jangan ada yang tahu dulu tentang identitas Raka. Jangan sampai orang - orang tahu siapa kedua orangtua Raka sebelum saya kembali..."
" Memangnya kenapa...?"
" Biar nanti Raka yang menjelaskan semuanya..."
Sampai di kediaman Arvan, William langsung membereskan barang - barangnya ke dalam koper di kamar Hans. Setelah itu dia keluar untuk menemui yang lain.
" Ayo pergi, saya sudah siap..." ucap William.
" Uncle Willy, gendong...!" rengek Raka.
" Ish... sejak kapan detektif kecil ini jadi manja...?" ledek William seraya merengkuh tubuh Raka dalam gendongannya.
" Hehehee... Raka pasti akan merindukan Uncle Willy..." sahut Raka manja.
" Yakin tidak mau ikut Uncle pulang ke London...?"
" Tidak, Raka mau jaga papa dulu disini..."
" Hati - hati, jangan membuat masalah disini..." pesan William.
Mereka berempat segera masuk ke dalam mobil untuk pulang ke Apartement Arvan. Sepanjang perjalanan, Raka bercerita layaknya anak kecil biasa. Sisi lain Raka jika sedang bahagia, sifat anak - anaknya keluar begitu saja. Namun jika sedang bekerja, otaknya bisa berpikir lima kali lebih cepat dari orang dewasa.
Sampai di Apartement, Rissa langsung membereskan semua barang - barangnya dan juga barang milik Raka. Begitu selesai, mereka berkumpul kembali di ruang tamu.
" Kak Hans, kalian akan tinggal disini atau di rumah utama...?" tanya Rissa.
" Di rumah utama saja Ris, lagian semua saudara ibu sudah pulang ke kota masing - masing..." jawab Hans.
" Baiklah, semua barang - barang Raka sudah saya bereskan..."
" Uncle, nanti Raka tidur di kamar papa ya...?" rengek Raka sambil tersenyum.
" Iya, terserah kamu. Asal jangan sama Uncle Ricko... hahahaa..." sahut Hans seraya tertawa.
" Memangnya kenapa...?"
" Nanti nggak muat tempat tidurnya, kan ada tante Sandra..."
" Bukannya semalam muat, saat Uncle juga tidur sama wanita cantik itu...?" tanya Raka polos.
" Hahahaaa..." Rissa dan William tak bisa menahan tawanya.
" Makanya kalau berbuat mesum itu jangan di depan anak kecil..." ledek William.
" Ish... kau ini anak kecil sok tahu...!" Hans mengacak - acak rambut Raka menahan malu.
" Uncle, boleh pinjam laptop papa...?" tanya Raka.
" Buat apa...?"
" Sebentar saja..."
" Sebentar, Uncle ambil dulu..."
Anak kecil itu dengan lihai memainkan jari - jemarinya pada laptop di depannya. Dia mencari letak cctv yang terpasang di area jalan depan Apartement. Setelah beberapa menit, Raka mendapatkan rekaman kejadian papanya waktu kecelakaan.
Hans, William dan Rissa tercengang melihat aksi Raka yang begitu mengejutkan. Dia benar - benar sangat mirip dengan Arvan yang sangat pintar dalam hal meretas data.
" Woww... good job...!" ucap Hans kagum.
" Tidak salah aku mengajarkan semua ini padamu, Raka..." ujar William tersenyum.
Mereka melihat rekaman cctv itu dengan seksama. Ada rasa ngeri saat melihat Arvan yang terpental dengan keras ke aspal. Rissa meneteskan airmatanya yang perlahan keluar.
Raka kembali mencari data cctv di tempat mobil terparkir sebelum menabrak papanya. Di mobil itu nampak ada tiga orang yang sedang bersandar di luar mobil seperti sedang menunggu seseorang. Tak lama, mereka masuk ke dalam mobil lalu menjalankannya dengan kecepatan tinggi.
" Jadi kecelakaan ini di sengaja...?" geram Hans.
" Iya, Uncle... tapi mereka salah target. Sepertinya Mama yang mereka incar, bukan papa..." ucap Raka.
" Kau punya musuh disini, Ris...?" tanya William.
" Tidak, kak... aku bahkan baru sehari disini dan belum bertemu dengan siapapun..."
" Siapa mereka...?" gumam William.
Raka membuka ponselnya untuk melihat rekaman yang dia ambil saat mamanya berkelahi di taman tadi. Dia mencocokkan wajah mereka dengan kejadian semalam.
" Ma, mereka orang yang sama dengan yang menabrak papa..." seru Raka.
" Sial... apa yang mereka inginkan dariku...!" geram Rissa.
" Tapi mereka semua juga sudah mati, Ma... apa yang harus kita lakukan...?"
" Raka, mereka hanya orang suruhan. Saat gagal dalam tugas, maka resikonya adalah kematian..."
" Apa kau punya musuh di masa lalu...?" tanya Hans.
" Kurasa tidak, musuhku adalah keluargaku sendiri..." ucap Rissa.
" Mama masih punya keluarga disini...?" tanya Raka.
" Tidak, kakek dan nenekmu sudah meninggal, hanya ibu dan saudara tiri yang selalu menyiksa mama..."
Mereka berempat terdiam dengan pikiran masing - masing. Saat ini mereka sedang memikirkan siapa dalang dari semua kekacauan ini.
" Apa mungkin kak Arvan punya kekasih dan kemarin sempat melihatku bersamanya...?" tanya Rissa tiba - tiba.
" Tidak, Arvan tidak pernah memiliki kekasih karena dia hanya menunggumu..." sahut Hans.
" Apanya yang ditunggu..." sungut Rissa.
" Pasti kamulah yang ditunggu, siapa lagi...?" seloroh Hans.
" Yakin sekali dia kalau bakalan bertemu lagi denganku...!"
" Itulah yang dinamakan jodoh, sekuat apapun kau menolaknya pasti akan bersatu juga jika saatnya telah tiba..."
" Huft... terserah apa katamu..." kesal Rissa.
" Apa musuh kita kali ini mafia...?" tanya William.
" Sepertinya bukan, yang menyerangku tadi hanya preman biasa saja. Tapi, Bossnya kelihatannya sangat kejam. Dia tega membunuh anak buahnya sendiri padahal sedikit lagi mereka akan menyebutkan nama bossnya itu..."
" Kita harus mulai darimana penyelidikan kita...?" tanya William.
" Kita harus pergi kak, biar Raka dan kak Hans yang menyelidikinya. Pekerjaan kita sangat banyak di London..."
" Benar juga, sekarang kau percaya pada anakmu...?"
" Huft... terpaksa..."
Hans terdiam memikirkan sesuatu yang sedari tadi mengusik pikirannya.
" Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin di acara pernikahan kak Ricko..." ucap Hans.
" Kejadian apa...?"
.
.
TBC
.
.