Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 68


" Apa kau tidak merindukanku...?" bisik Arvan.


" Ish... kak Arvan kenapa ngagetin sih...?" sungut Erina.


" Apa kau tidak mau memeluk suamimu ini...?"


" Pakai dulu bajunya baru aku peluk..."


" Aku sudah tidak sabar untuk memelukmu, sayang..."


Tanpa rasa malu sedikitpun Arvan langsung berbaring di samping istrinya lalu menarik masuk ke dalam pelukannya.


" Sayang, kenapa tidak memberitahuku kalau akan datang sekarang...?" tanya Erina.


" Karena aku sangat merindukanmu dan ingin membuat kejutan..."


" Siapa yang jemput...?"


" Kak Willy, soalnya aku pulang sama kak Ricko dan kak Sandra..."


Rasa rindu yang seakan menggunung membuat Arvan ingin segera melampiaskannya pada sang pemilik hatinya. Sambil mengobrol, tangan Arvan sudah bermain - main kemana - mana membuat Erina merasa risih.


" Sayang, hentikan tanganmu...!" pekik Erina.


" Apa kau tidak merindukannya...?"


" Kau istirahatlah dulu, pasti lelah habis perjalanan jauh..."


" Kau tidak menginginkannya...?"


" Bukan begitu, aku hanya tidak mau kau berhenti di tengah jalan karena kelelahan..." goda Erina.


" Kau meremehkan kekuatanku? Jangan salahkan aku jika malam ini kau tidak akan kubiarkan tidur sampai pagi..." seringai Arvan.


" Huft... iya - iya, aku percaya sayang. Tapi aku sedang tidak menginginkannya..." ucap Erina menggoda.


" Ayolah, jangan mempermainkan aku, Erina..." kata Arvan dengan wajah cemberut.


" Hahahaa... kau sangat mirip dengan Raka kalau lagi marah..."


" Ya sudah, kalau tidak mau. Aku lebih baik tidur...!" sungut Arvan.


Arvan membalikkan badan membelakangi Erina dengan wajah kesalnya. Sedangkan Erina, wanita itu nampak menahan tawanya melihat suaminya merajuk.


" Sayang, kau akan tidur tanpa baju seperti ini...?" ucap Erina nyengir.


" Jangan menggangguku, terserah aku mau pakai baju atau tidak bukan urusanmu...!" sahut Arvan ketus.


" Nznti kalau di gigit semut gimana...?"


" Apaan sih? Cepat tidur, jangan berisik...!"


Jemari Erina berputar - putar di punggung sang suami yang membuat lelaki itu semakin kesal.


" Erina, apa yang_..."


" Hmmph..."


Sebelum Arvan memarahinya lagi, Erina dengan cepat menarik tubuh suaminya dan naik keatasnya.


" Apa kau akan tidur secepat ini, sayang...?" bisik Erina.


Entah sejak kapan, piyama yang dipakai Erina sudah terlepas dari tubuhnya. Ciuman lembut yang diberikan sang wanita membuat pria dibawahnya seakan terbang ke angkasa.


" Kau sangat pandai menggodaku, sayang..." bisik Arvan.


" Kakak sudah tak marah lagi...?" goda Erina.


" Tentu saja aku masih marah dan akan memberikan hukuman padamu..." seringai Arvan.


Erina malah tertawa lalu beranjak dari tubuh suaminya.


Mau kemana...?" tanya Arvan.


" Mau pakai baju lagi..." jawab Erina seraya meraih piyama di sampingnya.


" Takkan kubiarkan kau memakai baju malam ini...!"


Arvan merebut piyama di tangan Erina lalu membuangnya ke sembarang tempat. Tak ingin hanya bermain - main saja, Arvan langsung menindih sang istri dengan cepat.


# # #


Jam delapan pagi, Erina baru terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Mungkin berlarian di hutan bersama Adam kemarin tidak terlalu melelahkan seperti semalam yang dia lakukan dengan sang suami.


" Sayang, bangun... sebentar lagi Raka pulang..." ucap Erina lembut.


" Hmmm... jam berapa sayang...?" tanya Arvan.


" Sudah jam delapan, ayo mandi..."


" Bareng ya, biar cepat. Kak Ricko pasti sudah bangun..."


" Iya..."


Selesai mandi, mereka langsung turun untuk sarapan karena merasa sangat lapar.


" Pagi, kak..." sapa Erina yang berpapasan dengan Ricko dan Sandra yang baru selesai sarapan.


" Pagi, Erin... bagaimana kabarmu...?" sahut Sandra.


" Baik, kak... kakak sendiri gimana...? Apa udah ada...?" Erina melirik dengan ekor matanya.


" Ish... kau ini sama saja dengan Arvan..."


" Hehehee... minta kak Ricko bekerja lebih keras lagi..." bisik Erina.


" Erina...!" pekik Sandra.


Arvan dan Ricko saling menatap keheranan melihat dua wanita yang saling berbisik itu.


" Apa yang mereka bicarakan...?" gumam Ricko.


" Tidak akan ada yang mengerti dengan tingkah wanita yang berbicara dengan bahasa tubuh, kak..." sahut Arvan pelan.


" Aku mau jalan dulu sama Sandra, Ayah dan ibu akan pulang siang nanti..." ujar Ricko.


" Lanjut apa...?" tanya Ricko tak paham.


" Ish... seperti bocah saja tidak paham. Aku mau cetak adiknya Raka..." bisik Arvan nyengir.


" Haish... apa di kepalamu isinya cuma itu saja...!" Ricko menoyor kepala Arvan.


" Apa kakak mau lomba denganku...?" seringai Ricko.


" Hussh... kau pikir lelucon. Dasar otakmu ini isinya cuma cendol..."


Ricko mengacak - acak rambut Arvan dengan gemas seperti mengenang masa kecil mereka dulu.


" Kakak... udah, nanti wajah tampanku bisa luntur..." teriak Arvan.


Erina dan Sandra langsung berlari ke arah sumber suara karena mendengar teriakan Arvan.


" Astaga... apa yang kalian lakukan...?" teriak Sandra.


Arvan dan Ricko yang sedang bergulat di sofa kaget mendengar suara yang tak asing bagi mereka.


" Sayang... kakak ipar..." ucap Ricko dan Arvan bersamaan.


" Kalian apa - apaan sih...? Seperti anak kecil saja...!"


" Suami kak Sandra tuh, sukanya menyiksaku..." sungut Arvan.


" Hei... kau duluan yang mulai...!" elak Ricko.


" Sudah, ngapain sih pada ribut. Ayo pergi sekarang..."


Sandra menarik tangan Ricko agar segera pergi karena hari semakin siang.


Erina mengajak Arvan sarapan di meja makan yang sudah disiapkan oleh pelayan.


" Sayang, ayo makan. Aku udah lapar nih..."


" Iya, tapi habis makan kita lanjut lagi ya...?" goda Arvan.


" Ssttt... jaga bicaramu! Di rumah ini aku pasang banyak cctv..."


" Apaa...? Tapi di kamar tidak ada kan...?"


" Ya nggaklah, kak. Udah ayo makan..."


Selesai sarapan, Erina mencuci piring bekas mereka makan lalu menyusul sang suami di ruang keluarga.


" Sayang, lanjut lagi yuk...? Mumpung Raka belum pulang. Mana bisa kita main kalau dia nempel terus sama kamu..." bujuk Arvan.


" Tapi Erin ada meeting dengan klien penting hari ini, sayang..." sahut Erina.


" Tunda saja dulu nanti siang, kita bermain cepat..." bujuk Arvan lagi.


" Tapi_..."


Belum selesai Erina menjawab, Arvan sudah mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar.


" Kak Arvan...!" pekik Erina.


" Aku tidak suka penolakan...!" ujar Arvan seraya tersenyum.


Erina hanya bisa pasrah dengan keinginan Arvan yang tak bisa ia bantah. Memberontakpun percuma karena tenaganya tak mungkin bisa mengalahkan sang suami.


Arvan begitu puas melihat sang istri yang sudah hampir kehabisan tenaga. Setelah mengecup keningnya sekilas, Arvan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


" Sayang, mandi sana. Katanya mau meeting dengan klien, atau mau meeting denganku saja di tempat tidur..." bisik Arvan.


" Ish... apa kau mau menyiksaku...?" sungut Erina seraya membuka matanya.


Cup!


Arvan kembali mencium bibir istrinya yang terlihat menggoda ketika sedang merajuk.


" Kak Arvan...!"


" Ayo mandi, biar aku antar ke kantor nanti..."


" Erin bisa pergi sendiri, kak. Tunggu Raka saja di rumah..."


" Aku nggak mau di rumah sendirian, sayang. Kau tega membiarkan suamimu ini melamun sepanjang hari di rumah sebesar ini sendirian...?"


" Huft... baiklah, dasar keras kepala...!"


Erina mempercepat mandinya karena dia sudah hampir telat untuk menghadiri meeting. Setelah selesai bersiap - siap, Erina langsung keluar dari kamar karena Arvan sudah menunggunya di mobil.


" Ayo kak, meetingnya tidak bisa di tunda lagi..." ucap Erina.


" Iya, sayang. Mau tarif normal atau express...?" gurau Arvan.


" Terbang kalau bisa..." sahut Erina.


" Siap, Nyonya...!"


Arvan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena jalanan yang tidak terlalu padat. Tidak sampai tiga puluh menit Arvan dan Erina sudah sampai di kantor.


" Terimakasih, sayang. Mau ikut masuk atau pulang...?" tanya Erina.


" Ikut masuk dulu sayang sekalian nunggu Raka. Soalnya tadi Ayah minta di jemput di Bandara..."


" Ya sudah, ayo masuk. Masih ada waktu sepuluh menit untuk menyiapkan berkas..."


Arvan mengikuti langkah Erina memasuki lift khusus para petinggi perusahaan.


.


.


TBC


.


.