Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 116


Setelah Raka berhasil membuka password komputer, Erina dan Adam segera mengecek file - file yang ada di dalamnya.


" Dapat...!" seru Adam.


" Bagaimana bisa dia memanipulasi hingga sebanyak ini...?" tanya Erina.


" Kesehatan Tuan Regan akhir - akhir ini sedikit menurun, jadi beliau sepertinya kurang fokus dengan rincian keuangan. Ada dua laporan berbeda disini, kita harus mencari berkas yang sudah ditanda tangani Tuan Regan. Semoga dia menyimpannya disini..." jawab Adam.


Mereka segera mencari berkas diantara puluhan map yang tertata rapi. Adam hampir menyerah karena tubuhnya sudah sangat lelah hari ini.


" Uncle, coba cari di laci bawah itu...?" tunjuk Raka ke bawah meja.


" Bisa kau bantu Uncle, boy...? Punggungku rasanya sudah mau patah..." keluh Adam.


" Baik, Uncle. Raka akan ambil semua berkasnya..."


Raka duduk di bawah dan mengambil beberapa berkas yang akan diperiksa Adam. Adam duduk di kursi dekat Raka sedang mengeluarkan semua isi laci.


" Dam, bukankah ini proyek yang akan di presentasikan minggu depan? Kenapa bisa ada disini...?" kata Erina.


" Benarkah? Bukankah ini harusnya ada di ruangan CEO...?" sahut Adam.


" Tidak sembarangan orang bisa masuk ke ruanganku, Dam. Hanya Sera yang bisa keluar masuk ruanganku..."


" Apa kau mencurigainya...?"


" Aku tidak tahu, Dam. Jika Sera pelakunya, kenapa berkasnya ada disini...?"


" Aku tidak yakin, Rin. Kita bertiga sudah bersahabat lama, mana mungkin dia berkhianat pada kita..."


" Aku sependapat denganmu, Dam. Semoga cukup Samuel saja yang membuat kesalahan. Jangan sampai Sera, teman yang selalu menemaniku setiap hari bisa menusukku dari belakang..."


" Kita harus positif thinking padanya, Rin. Tapi waspada juga perlu, kita akan selidiki masalah ini sampai tuntas..."


" Kalau begitu kita harus segera menyelesaikan misi kita ini dan segera pergi..."


" Kau yakin kuat jalan ke bawah...?"


" Mudah - mudahan saja aku kuat, Dam..."


Mereka bergegas menyalin semua bukti yang mereka temukan juga berkas yang berisi materi presentasi yang bernilai milyaran.


Setelah menemukan apa yang mereka cari, mereka beristirahat sejenak untuk mengatur tenaga dan juga nafas mereka.


Raka yang kelelahan, bersandar pada Adam dengan memejamkan matanya. Karena malam yang semakin larut, membuat anak itu mengantuk.


" Dam, hubungi kak Willy. Kita akan menginap disini atau turun...?" kata Erina.


" Sebaiknya kita turun saja, Rin. Aku tidak mau Sera tahu tentang kita yang berada di tempat ini..."


" Kita beristirahat sebentar, Dam. Aku sangat lelah, rasanya udah enggan untuk berjalan..."


# # #


Arvan dan William sudah mendekati area gedung perkantoran milik Tuan Sebastian. Mereka memarkirkan mobilnya di bahu jalan yang berjarak dua ratus meter dari gedung itu. Arvan dan William langsung menyelinap masuk lewat belakang gedung.


" Kak, kau yakin tidak ada security yang patroli kesini...?" tanya Arvan.


" Kurasa tidak, disini hanyalah gudang yang sudah tidak terpakai lagi. Kita lewat tangga darurat bagian belakang saja..." jawab William.


" Memangnya ada berapa tangga darurat di gedung ini...?"


" Ada dua, sisi depan dan belakang. Kita cari mereka dan segera meninggalkankan tempat ini..."


" Kenapa kita tidak langsung menangkapnya saja, kak? Kita seakan seperti pencuri di kantor sendiri..."


" Masalahnya tidak sesederhana itu, Van. Kau ini seorang detektif, harusnya lebih waspada sebelum bertindak..."


" Akhir - akhir ini aku memang kurang fokus, kak..."


" Kau butuh refreshing menghabiskan waktu berdua dengan istrimu. Setelah itu, semua masalah pasti beres..."


" Nanti Arvan pikirkan lagi, kak. Saat ini kami sama - sama sibuk dengan pekerjaan..."


Arvan duduk bersandar dinding di lantai tiga. Nafasnya tersengal tak beraturan. Semenjak sering mual dan muntah, Arvan merasakan tubuhnya gampang lelah. Badannya juga terlihat sedikit kurus karena makanan yang masuknya ke perutnya seakan menolak dan keluar lagi.


William yang melihat wajah pucat Arvan bertanya - tanya dalam hati mengapa Arvan bisa sampai mengalami kehamilan simpatik seperti itu.


" Van, kau masih kuat berjalan...?" tanya William.


" Iya, kak. Ini hanya efek dari kurangnya olahraga. Erina membuatku selalu lelah diatas ranjang sehingga tidak semlat berolahraga diluar..." gurau Arvan.


" Ish... Sialan kau! Erina bukan tipe wanita seperti itu...!"


" Hahahaa... tentu saja, dia wanita yang sangat menggemaskan. Melihatnya tersenyum saja membuat hasratku bergejolak..." kekeh Arvan.


" Dasar kau...! Jangan terlalu sering, Dia itu sedang hamil muda, bisa berpengaruh buruk untuk janinnya...!" omel William.


" Iya... Arvan tahu, kak. Lagian mainnya cuma sebentar kok..." sahut Arvan dengan tersenyum.


Ruangan yang gelap membuat mereka sulit untuk berjalan. Arvan yang berjalan di depan tiba - tiba tersandung sesuatu hingga ter sungkur ke lantai.


" Auwww...! Sial...!" pekik Arvan.


" Papa...!" teriak Raka.


Adam yang kakinya terinjak Arvan mengaduh kesakitan sambil mengusapnya dengan pelan.


" Tuan, kenapa kau menginjak kakiku...?" gerutu Adam.


" Lagian ngapain kau duduk disitu...? Kau kira aku tidak sakit...!" seru Arvan.


" Kak Arvan, kak Willy... kenapa kalian disini...?" tanya Erina.


" Sayang, aku mengkhawatirkan kalian..." jawab Arvan.


Erina langsung memeluk suaminya sambil tersenyum pertanda ia baik - baik saja. Arvan balas memeluk istrinya lalu mencium bibirnya dengan lembut.


" Kami baik - baik saja, lagian tadi naiknya di gendong sama Adam dari lantai dasar hingga ke lantai ini..."


" Jangan pergi tanpaku lagi, apalagi ini sangat berbahaya..."


" Iya, kak. Erina janji pasti minta ijin dulu jika ingin pergi kemanapun juga..."


" Mana Raka...?"


" Tadi sama Adam..."


William mengambil Raka dari pangkuan Adam lalu membantu pria itu berdiri.


" Kalian sudah mendapatkan hasilnya...?" tanya William.


" Sudah, Tuan. Semua sudah saya simpan di saku jaket, tidak akan hilang..." jawab Adam.


" Good job! Kalian memang bisa diandalkan..."


" Terimakasih, Tuan..."


" Kau masih kuat berjalan...?"


" Iya, Tuan... Asalkan tidak menggendong CEO kita lagi seperti tadi..." ucap Adam.


" Saya akui fisikmu sangat kuat, teruslah berlatih jika ada waktu. Suatu saat kau pasti membutuhkannya..." ujar William.


" Baik, Tuan..."


" Arvan, bisa kita pergi sekarang...?" cibir William.


" Iya, kak. Ayo kita pergi sekarang..." sahut Arvan seraya melepaskan pelukannya.


" Nona, apakah perlu saya gendong lagi...?" tanya Adam.


" Tidak usah, aku bisa jalan jika turun..." jawab Erina.


" Sini, sayang... aku yang gendong..." ujar Arvan.


" Tidak usah, kak. Erina bisa jalan sendiri, tidak perlu di gendong..."


" Ya sudah, tapi tetap pegangan padaku biar tidak jatuh..."


" Iya, suamiku sayang..."


Mereka segera menuruni tangga darurat di bagian belakang gedung. William menggendong Raka yang sudah tidur pulas sedangkan Arvan menggenggam erat tangan istrinya.


Adam berjalan paling belakang dengan sempoyongan karena lelah di sekujur tubuhnya. Ingin rasanya ia cepat sampai di Apartemen agar bisa segera mengistirahatkan tubuhnya.


Lima belas menit berjalan menuruni tangga hingga ke lantai dasar membuat nafas mereka ngos - ngosan.


" Kita sudah sampai di bawah, Arvan kau ajak Erina terlebih dahulu ke mobil. Saya dan Adam akan menyusul setelah kalian sampai..." ujar William.


" Baik, kak. Kalian hati - hati, jaga Raka..." sahut Arvan.


Dengan mengendap - endap, Arvan mengajak Erina keluar dari area gedung menuju ke mobil yang terparkir sedikit jauh dari mereka.


Saat mereka sampai di mobil, Erina langsung masuk ke dalam diikuti Arvan yang duduk di kursi kemudi. Sekarang mereka tinggal menunggu William, Adam dan Raka meloloskan diri dari tempat itu.


Saat sedang menyandarkan tubuh mereka di jok mobil, tiba - tiba ada yang mengetuk kaca mobilnya. Arvan dan Erina kaget melihat orang itu memakai seragam security di kantornya.


.


.


TBC


.


.