Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 85


Setelah mengantar sampai Bandara, William mengajak putrinya untuk pulang. Gadis itu masih menangis di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang.


" Sudah... jangan menangis lagi, sayang. Raka tidak akan lama diluar negeri..." hibur William.


" Monika tidak ada teman main lagi, Dad! Cuma Raka teman yang bisa diajak main. Raka selalu menurut apapun yang Monika suruh..." rengek Monika.


" Sudah, lebik baik kita jemput Mommy terus jalan - jalan ke Mall..." bujuk William.


" Hmmm... beli mainan ya...?"


" Iya, sayang..."


# # #


Raka sedang bermain dengan Adam di sebuah ruang khusus. Mereka sekarang sedang terbang dengan privat jet. Arvan dan Erina berada di kamar yang lain entah sedang melakukan apa.


" Uncle, kita main game yuk?" ajak Raka.


" Game apaan, Raka..." sahut Adam.


" Game di ponsel Raka saja, kita mainkan berdua..."


" Ok! Kita main sepuasnya hari ini. Rasanya senang sekali hidup tanpa beban pekerjaan seperti ini. Pikiran benar - benar kosong dari yang namanya pekerjaan..."


Raka dan Adam asyik bermain game hingga kelelahan dan tidur. Raka yang tidur diatas punggung Adam terlihat sangat lelap sehingga Adam tidak tega untuk memindahkannya.


Sementara itu, di kamar yang lain Erina sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya setelah menemani suaminya tidur.


Erina ingin sekali tidur, namun matanya tidak mau terpejam. Erina hanya mondar - mandir tak tentu arah hingga sampai ke tempat pilot yang sedang bekerja.


" Pak, boleh saya disini...?" ucap Erina.


" Silahkan, Nona. Tapi_..." kata pilot itu ragu.


" Tapi kenapa, pak...?" tanya Erina.


" Apa Tuan Arvan tidak marah Anda berada di tempat ini...?"


" Dia sedang tidur, pak. Saya bosan sendirian disana..."


" Anda butuh sesuatu, makanan atau minuman...?"


" Tidak, pak. Saya tidak membutuhkan apapun..."


Untung menghilangkan kebosanan, Erina mengobrol dengan pilot dan belajar mengenal bagian - bagian dari pesawat itu.


Tanpa disadari, mereka mengobrol berjam - jam hanya seputar pesawat itu saja. Erina selalu menanyakan fungsi - fungsi tombol yang ada di depannya.


Karena tengah serius mendengarkan penjelasan dari pilot, Erina tidak sadar kalau sedari tadi sang suami berdiri di belakangnya.


" Eheemmm...!"


" Eh, kak Arvan... sudah bangun...?" ucap Erina terkejut.


" Kenapa? Kau tidak suka aku disini...?" sahut Arvan ketus.


" Udah, ayo balik ke kamar..." Erina menarik lengan Arvan agar menjauh dari tempat itu.


Sampai di kamar, Arvan masih tampak kesal dengan istrinya yang pergi tanpa pamit.


" Kak Arvan kenapa sih marah - marah terus...?!" ucap Erina datar.


" Kau yang membuatku marah, Erin...!"


" Memangnya apa yang kukakukan...?"


" Aku tidak suka kau berdekatan dengan pria lain...!"


Arvan menarik tubuh istrinya hingga jatuh ke atas tempat tidur. Dengan gerakan cepat, Arvan menindihnya dan menciumi seluruh area wajahnya.


" Kak, hentikan...!" teriak Erina.


" Apa kau menolakku...?"


" Tidak, bukan seperti itu..."


" Lalu...?"


" Lakukan dengan pelan, aku sangat lelah..." ucap Erina memohon.


Arvan menatap lekat wajah istrinya. Terlihat dari gurat wajahnya yang lelah, Arvan menarik diri lalu berbaring di samping sang istri.


" Tidurlah, aku akan menemanimu disini..." ujar Arvan seraya tersenyum.


" Tapi_..."


" Kau sangat lelah, sayang. Kita bisa melakukannya lain kali..."


" Tapi aku pengen mencoba disini, diatas awan. Kita akan merasakan sensasi yang berbeda..." pinta Erina.


" Kau yakin, sayang...?"


" Hmmm..."


Erina memeluk tubuh kekar suaminya dengan erat lalu menciumnya dengan lembut. Arvan yang memang sangat menginginkannya tak ingin melewatkan kesempatan. Dengan gerakan cepat, Arvan sudah menguasai tubuh sang istri.


Tanpa terasa, sudah tiga jam lamanya mereka melakukannya hingga tubuh mereka lemas. Arvan mencium sekilas bibir istrinya yang sudah tertidur dengan pulas.


" Kau membuatku tak bisa berhenti melakukannya, sayang. I love you..." gumam Arvan.


Arvan memeluk tubuh polos istrinya lalu ikut larut dalam mimpi indah.


# # #


Perjalanan jauh yang sungguh melelahkan, membuat mereka berempat sangat lelap dalam tidurnya. Setengah jam sebelum sampai di Bandara, seorang pelayan mengetuk pintu kamar mereka untuk segera bersiap.


" Akhirnya sampai juga..." ucap Erina senang.


" Iya, kak..."


Setengah jam kemudian, mereka sudah mendarat di Bandara Soetta. Disana sudah ada Hans yang menyambut dengan senyumannya.


" Selamat malam, Tuan... Nyonya..." sapa Hans.


" Hai... kak Hans, apa kabar...?" sahut Erina.


" Kabarku baik, bagaimana denganmu adik kecilku...?"


Erina langsung memeluk Hans dengan senyum cerianya.


" Mana dokter cantiknya? Tidak diajak...?"


" Ini sudah larut malam, dia juga sedang bekerja..."


" Mau sampai kapan kalian ngobrol disini? Cepat bawa kopernya ke mobil...!" seru Arvan.


" Siap boss...!" sahut Hans.


Mereka segera pulang ke kediaman utama milik Arvan. Adam memangku tubuh kecil Raka yang sudah terlelap. Sampsi di rumah, Adam membawa Raka ke kamar tamu yang akan ditempatinya sementara waktu.


" Hei... Raka akan tidur bersamaku...!" seru Hans.


" Maaf, Tuan... Raka bisa tidur bersama saya..." ucap Adam.


" Kau siapa mau mengaturku...!"


" Hans...! Kalian ini malam - malam membuat keributan saja..." ujar Ricko yang terbangun karena suara berisik diluar.


" Dia siapa, kak...?" Hans menatap sinis pada Adam.


" Kalian belum kenalan? Dia ini, Adam. Assisten pribadi Erina, dia yang akan membantu kita sementara waktu disini..." jawab Ricko.


Adam mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri namun ditepis oleh Hans.


" Aku ngantuk, mau tidur..." ucap Hans acuh.


Hans langsung beranjak menuju ke kamarnya sendiri dengan sedikit kesal. Sampai di kamar, Hans langsung merebahkan diri di tempat tidur.


" Kenapa Arvan harus membawa orang baru kesini? Apa dia pikir aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku..." gumam Hans kesal.


Hans menggerutu sepanjang malam hingga melupakan tidurnya. Hingga menjelang fajar, Hans baru bisa memejamkan matanya karena lelah.


" Uncle... bangun!" teriak Raka di telinga Hans.


Raka duduk di punggung Hans yang masih terlelap dengan tengkurap.


" Aakkhhh! Siapa kau mengganggu saja...!" sahut Hans malas.


" Uncle, udah siang. Apa Uncle tidak bekerja...?"


" Astaga, jam berapa ini...?"


Hans membalikkan badannya secara tiba - tiba sehingga membuat Raka terjungkal ke kasur.


" Auwww...! Uncle, kenapa Raka dibanting...!" teriak Raka.


" Maaf, Uncle tidak sengaja. Kenapa baru bangunkan sekarang, tante Delia pasti marah Uncle tidak menjemputnya..." Hans melihat jam di layar ponselnya sudah jam sembilan padahal Delia pulang kerja jam tujuh.


" Ayo keluar, kita ke rumah Mama yang lama yuk...?" ajak Raka.


" Mau ngapain...?" Hans mengernyitkan dahinya.


" Raka ingin mencari jejak tante Selly, kita harus segera menangkapnya..."


" Rumah itu kosong, Raka. Hanya ada satu pelayan disana yang merawat rumah itu..."


" Raka yakin tante Selly ada di rumah itu, Uncle..."


" Tapi kita harus minta ijin orangtuamu dulu..."


" Papa dan Mama sudah pergi dari pagi ke kantor..."


" Adam...?"


" Uncle Adam sedang pergi keluar kota untuk pulang ke rumah ibunya..."


" Ya sudah, Uncle mandi dulu sebentar..."


" Raka tunggu di depan...!" teriak Raka.


Usai mandi, Hans dan Raka segera pergi ke rumah lama Erina. Mereka mengintai dari kejauhan untuk melihat apakah ada pergerakan di rumah itu.


" Raka, ada yang masuk dari rumah di sebelahnya tapi pakaian mereka aneh..." ujar Hans.


Raka memperhatikan mobil yang berhenti di sebelah rumah ibunya. Setelah mencatat nomor plat mobil itu, Raka segera mengajak Hans meninggalkan tempat itu.


" Kita ke kantor papa, Uncle...!"


" Untuk apa...?"


" Kita bisa cari informasi dari mama. Suruh orangmu untuk melacak plat nomor mobil itu..."


Hans hanya menganggukkan kepalanya lalu mulai melajukan mobilnya menjauhi kediaman keluarga Erina.


.


.


TBC


.


.