Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 133


Erina sedang bersandar di sofa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Adam. Wanita hamil muda itu resah menunggu suami dan anaknya yang tak kunjung datang.


" Kau ini kenapa? Dari tadi seperti cacing kepanasan..." tanya Adam.


" Nungguin kak Arvan tapi belum datang juga, aku lapar..." sahut Erina.


" Lanjutkan lagi bacanya, pasti sebentar lagi mereka pulang..."


" Ok, bertahan ya sayang? Tunggu papa dan kakak pulang..." Erina mengusap perutnya yang masih rata.


" Hari ini aku sangat terkejut saat baru tiba di depan kantor, tiba - tiba Erina dan Adam sudah berada disana. Aku tidak tahu kapan mereka kembali dari Indonesia. Aku merasa takut bertemu dengan mereka saat ini. Aku sudah melakukan kesalahan yang besar. Maafkan aku Erin, aku tidak berniat menghianatimu. Aku terpaksa mencuri berkas itu demi keselamatan Robert dan ibunya."


" Pantas saja waktu itu Sera terlihat sangat panik saat kita kembali ke kantor. Harusnya dia cerita semua ini pada kita..." lirih Erina.


" Mungkin Sera butuh waktu untuk bisa menata hatinya terlebih dahulu, Rin. Sudahlah, tidak ada gunanya kita menyesali semua ini. Sera tidak akan pernah kembali lagi pada kita..." ujar Adam pelan.


" Dam, kak Arvan kemana sih? Katanya beli makanan tapi lama sekali...!" gerutu Erina.


" Telfon saja, mungkin masih di jalan..."


" Huft... awas saja kalau nanti datang, akan ku buat dia menyesal..." geram Erina.


Tak lama Arvan datang, namun tak hanya berdua karena di belakang mereka ada seorang lelaki yang tidak mereka sangka kedatangannya.


" Van, kenapa kau ajak dia kesini...?" tanya William.


Erina dan Adam juga heran dengan Arvan yang membawa Robert ke Markas padahal tadi hanya bilang akan pergi membeli makanan.


" Tadi Arvan mampir ke rumah Robert dan mengajak dia kesini supaya tidak bunuh diri di rumahnya..." jawab Arvan asal.


" Kakak apaan sih! Mana makanannya...?" ucap Erina.


" Astaga... sayang, aku lupa beli tadi. Kita delivery saja ya...?"


" Ish... menyebalkan. Kalau tahu begini aku pesan sendiri dari tadi..."


" Maaf, sayang. Tadi ada sedikit urusan diluar, jadi lupa buat beli makanan..."


Arvan meraih tangan istrinya namun ditepis dengan cepat sambil memasang wajah geramnya.


" Minggir, aku mau pergi...!" teriak Erina.


Raka memperhatikan kedua orangtuanya yang sedang ribut lalu mendekati Robert.


" Uncle lihat! Mama lebih garang dari papa..." bisik Raka.


" Kau benar, tapi itu lebih baik biar papamu tidak berbuat ulah diluaran sana..." sahut Robert tertawa kecil.


" Erina, jangan keluar sendirian. Saya merasa ada orang suruhan Darwin yang mengikuti tadi. Dia orang yang kejam, sebaiknya tetaplah disini..." ucap Robert.


" Saya tidak akan pergi jauh, hanya mencari makanan saja..."


" Sebaiknya jangan, Darwin sepertinya tahu kalian semua pernah datang ke rumah dan ingin mengungkap kasus kematian Sera. Kalian harus berhati - hati mulai sekarang..."


Mereka semua berpikir sejenak dan membenarkan ucapan Robert. Arvan jadi mulai khawatir dengan keselamatan anak dan istrinya.


" Biar saya yang membeli makanan..." ucap Adam dan segera keluar Markas.


Semua duduk dengan diam sambil menunggu Adam yang sedang membeli makanan. Erina kembali membuka lembaran terakhir buku harian Sera.


" Siang ini setelah meeting bersama Adam, hatiku terasa semakin kacau. Semalam saat bertemu dengan Robert di hotel, aku ingin memberitahukan tentang kehamilanku padanya. Namun sebelum masuk hotel, kakaknya mengancamku untuk tidak memberitahukan perihal janin di rahimku kepada Robert. Entah darimana dia bisa tahu tentang kehamilanku yang merupakan anak Robert. Dia tidak ingin aku menjalin hubungan dengan adiknya hingga malam itu adalah terakhir kalinya aku menghabiskan malam dengan Robert sebelum pagi harinya aku memutuskan hubungan dengannya.


Robert, maafkan aku sudah membuatmu sakit hati. Aku tahu kamu marah, tapi aku tidak ingin membuatmu disakiti oleh kakakmu sendiri,"


" Robert, jadi kau tidak tahu jika Sera hamil anak kamu...?" tanya Erina secara tiba - tiba.


" Tidak, memang dia pernah ingin bicara sesuatu padaku malam itu namun tidak jadi. Setelah kami menghabiskan malam di hotel itu, paginya dia memutuskan hubungannya denganku tanpa sebab lewat pesan singkat. Aku sangat marah karena Sera meninggalkanku begitu saja tanpa alasan yang jelas. Malam disaat Sera meninggal, aku memang sudah berniat kesana untuk meminta penjelasan padanya. Tapi aku sudah terlambat, Sera sudah tidak bernyawa lagi..." jawab Robert.


" Sepertinya begitu, saya tidak tahu kenapa dia bis setega itu padaku dan ibu. Padahal kami selalu mengalah padanya selama ini..."


William segera menyuruh Raka untuk meretas cctv di sekitar area Apartemen Sera. Anak itu memang sangat ahli jika untuk jadi hacker.


" Raka, selesaikan tugasmu. Sejak bersama papamu, kerjaanmu jadi kacau dan kurang pelatihan..." ujar William.


" Iya, Uncle. Ini juga sedang Raka kerjakan..." sahut Raka nyengir.


Erina menyerahkan buku harian Sera agar Robert bisa mengetahui sebesar apa cinta Sera untuknya.


" Sayang, ikut aku sebentar..." bisik Arvan.


" Mau kemana, kak...?" tanya Erina bingung dengan siksp suaminya.


Arvan segera mengajak Erina ke kamar yang biasanya dipakai Raka untuk beristirahat. Sepertinya ada hal penting yang harus dibicarakan.


" Kenapa kakak mengajakku kesini...?"


" Kakak hanya rindu cium kamu. Bolehkan...?" rengek Arvan.


" Apaan sih kak! Ayo keluar, nggak enak sama yang lain diluar..." ujar Erina kesal.


" Sayang, cuma buat ngilangin mual saja. Aku selslu mual dan muntah jika terlalu lama jauh darimu..."


" Alasan kak Arvan saja kan...?"


" Bukan sayang, sebentar saja..."


Arvan memaksa istrinya yang terus menolak. Dia memang tidak bisa menahan mualnya jika berjauhan dengan sang istri. Arvan menghujani sang istri dengan ciumannya yang mendarat di seluruh wajah dan lehernya. Setelah puas, Arvan melepaskan ciumannya lalu mengajak Erina keluar.


" Raka, perlu bantuan papa...?" Arvan langsung duduk di samping Raka yang sedang serius di depan laptopnya.


" No, papa. Urus saja mama biar nggak marah - marah terus..." bisik Raka.


" Kalau itu sudah tertanam sejak lahir, tidak bisa diubah lagi sayang..." sahut Arvan terkekeh.


Erina duduk di samping Robert dan menepuk pelan bahu pria itu dengan lembut.


" Aku tahu kau sangat mencintai Sera, terimakasih telah memberikan banyak cinta untuk sahabatku walau hanya sementara..." ucap Erina.


" Aku bersyukur bisa mencintai gadis sebaik Sera. Dia wanita terbaik yang pernah saya kenal. Aku tidak menyangka dia akan pergi secepat ini..."


" Sabar ya, mungkin ini jalan terbaik untuk Sera..."


Raka sudah berhasil meretas beberapa cctv di area Apartemen Sera. Sebelum melanjutkan penyelidikan, semuanya memutuskan untuk makan dahulu karena Adam membeli banyak makanan untuk mereka semua.


Selesai makan, Raka dan Arvan kembali membuka rekaman cctv untuk mencari bukti kejahatan Darwin.


" Pa, coba lihat ini? Pria yang sama dengan yang masuk ke Apartemen..." seru Raka.


Robert ikut melihat rekaman itu dan jelas sekali ia mengenal pria itu. Plat mobilnya juga tampak sangat jelas terlihat dari rekaman cctv.


" Aakkhhh...!!! Kenapa dia tega membunuh Sera...!"


.


.


TBC


.


.