Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 66


" Kamu sedang apa diatas pohon...?" tanya Erina heran.


" Sedang video call sama papa..." jawab Raka nyengir.


Degh!


Erina terkejut mendengar jawaban dari Raka yang menurutnya sangat tidak masuk akal.


" Kau jangan bercanda, Raka. Cepat turun, mama bawa makanan kesukaan kamu..."


" Sebentar, Ma..."


" Sebentar, pa. Raka mau turun dulu, mama udah keluar tanduknya..." bisik Raka menatap layar ponselnya.


Raka turun dengan sangat hati - hati supaya tidak jatuh. Sampai dibawah, Raka langsung menghampiri sang ibu yang kini duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon tempat Raka memanjat tadi.


" Ma, tolong pegang ponsel Raka. Katanya papa mau bicara sama mama..." ucap Raka.


Erina masih tidak percaya bahwa Raka sedang video call dengan papanya. Dengan cepat Erina mengambil ponsel di tangan Raka. Saat menatap layar ponselnya, Erina seakan hampir pingsan. Airmatanya langsung mengalir dengan deras. Dia memastikan sekali lagi bahwa apa yang dilihatnya tidak salah.


" Kak Arvan..." lirih Erina.


[ " Sayang, kenapa kau menangis...?" ] tanya Arvan heran.


" Bukankah kakak berada dalam pesawat yang kecelakaan itu...?"


[ " Oh itu, maaf ya... kemarin aku nggak langsung telfon sayang, ponselku habis daya terus banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan..." ]


" Terus soal pesawat itu...?"


[ " Soal itu, sebenarnya aku bertukar tiket dengan seorang penumpang lain di penerbangan berikutnya. Karena dia sangat terburu - buru jadi aku berikan tiketku padanya. Tapi itulah yang namanya takdir, harusnya dia menikah setelah sampai di Indonesia..." ]


" Kami semua sangat khawatir disini, kak. Ibu masih shock sampai sekarang..."


[ " Maaf, sayang. Nanti aku akan telfon ibu supaya beliau tidak khawatir lagi..." ]


" Kau membuatku bersedih..."


[ " Maaf ya, lain kali aku tidak akan lupa lagi untuk mengabarimu. Sudah, jangan menangis lagi. Aku merindukanmu..." ]


" Cepatlah kembali, aku dan Raka juga sangat merindukanmu..."


[ " Iya, sayang. Minggu depan aku usahakan untuk menemuimu..." ]


" Janji...?"


[ " Aku tidak bisa berjanji karena takut tak bisa tepat waktu. Sabar ya, aku sayang kalian berdua..." ]


" Ya sudah, nanti telfon lagi. Sekarang kakak telfon ibu dan Ayah dulu biar beliau tidak khawatir..."


[ " Iya, sayang. I love you..." ]


Erina hanya tersenyum lalu mematikan sambungan telfonnya. Hatinya sangat lega sekarang karena suaminya ternyata tidak menjadi korban dalam kecelakaan pesawat itu. Karena terlalu senang, Erina langsung memeluk Raka dan menciuminya berkali - kali.


" Kalian terlihat sangat bahagia...? Apa ada sesuatu yang saya lewatkan...?" tanya William.


William heran melihat Erina dan Raka berpelukan seraya tersenyum bahagia.


" Kak Willy... itu... kak Arvan_..." ucap Erina terbata karena terlalu senang.


" Arvan kenapa...?"


" Dia selamat..." lirih Erina.


" Apaa...? Kau yakin...? Tapi tim SAR masih mencari para korban di lautan..."


" Kak Arvan tidak menaiki pesawat naas itu, kak... dia menukar tiketnya dengan penumpang lain untuk penerbangan yang berikutnya..."


" Astaga... sungguh suatu keajaiban. Syukurlah Arvan baik - baik saja..."


" Iya, ini semua sebuah keajaiban yang harus disyukuri..."


" Tapi, darimana kau tahu Arvan tidak ada dalam pesawat itu...?"


" Tadi kak Arvan video call sama Raka saat aku datang kesini..."


" Baiklah, kalau begitu aku akan menghubungi anak buahku di Bandara untuk segera menghentikan pekerjaannya..."


# # #


Jam satu siang waktu Indonesia, Arvan sedang duduk di kursi kebesarannya sambil melamun. Baru juga tidak bertemu satu hari, banyak sekali kejadian yang menimpanya dan juga sang istri. William yang mengetahui jika Arvan masih hidup langsung menghubunginya begitu Erina dan Raka keluar dari Markas.


William menceritakan kejadian saat melihat berita kecelakaan pesawat hingga Erina dan Adam yang dikejar penjahat hingga memasuki hutan belantara selama berjam - jam lamanya.


" Harusnya aku yang melindungimu, sayang. Maafkan aku tidak bisa disampingmu saat ini. Kau selalu saja menderita sepanjang perjalanan hidupmu..." batin Arvan.


" Hey... Apa kau baik - baik saja...?" tanya Hans yang baru datang bersama Ricko dan Sandra usai istirahat makan siang.


" Hmmm... tidak apa - apa..." sahut Arvan tak bersemangat.


" Kau sedang memikirkan sesuatu...?" tanya Sandra.


" Iya, bagaimana proyek pembangunan gedung yang baru...?" sahut Arvan.


" Semuanya lancar, dua bulan lagi semuanya sudah finish. Semoga para pekerja bisa selesai tepat waktu..." ujar Ricko.


" Untuk sementara, kak Ricko dan kak Sandra urus semua pekerjaan kantor. Saya dan Hans akan fokus untuk mengejar Selly..."


" Apa dia berbuat ulah lagi...?"


" Saya belum yakin, kak... tapi barusan Erina dan assistennya, Adam diserang hingga mereka tersesat di dalam hutan. Untung kak William segera menemukan mereka..."


" Apa Erina punya musuh disana...?"


" Kurasa tidak, karena selama lima tahun ini keluarga kita disana tidak pernah ada masalah..."


" Tapi, siapa yang tiba - tiba menyerang Erina...?" tanya Ricko.


" Apa kau mengenalnya...?" tanya Hans.


" Kau ingat teman Erina yang kita temui lima tahun lalu...?"


" Lima tahun lalu...? Pria yang di kampus itu...?"


" Samuel, kenapa aku mencurigainya ya...?" gumam Arvan.


" Tapi, kata bik Ina dia itu sangat dekat dengan Erina. Dia yang selalu menemani Erina setiap kali dia sedang sedih. Apa mungkin dia tega menyakiti sahabatnya sendiri...?" ucap Hans.


" Mungkin dia memiliki motif lain...?" sahut Sandra.


" Mungkin saja dia secara diam - diam suka pada Erina tapi Erina tak pernah menyadarinya..." ujar Ricko.


" Huft... aku akan bertanya pada bik Ina nanti. Bagaimana pencarianmu, Hans? Apa sudah ada perkembangan tentang Selly...?"


" Belum, Van. Sepertinya ada orang yang menyembunyikan keberadaannya. Aku sudah bertemu dengan ibunya, sepertinya dia depresi di dalam penjara..."


" Jadi Selly tidak sendiri...?"


" Begitulah, dia tidak akan bisa bertahan hidup jika tidak ada yang membantunya. Semua aset sudah aku alihkan atas nama Erina sesuai surat wasiat yang asli..."


" Baguslah, dia harus merasakan yang lebih buruk dari yang dia lakukan pada istriku..."


# # #


Setelah yang lain pergi, Arvan meraih ponsel di atas mejanya lalu menghubungi sang istri karena di London sudah pagi. Mungkin saat ini sang istri sudah berada di kantornya.


" Hai... sayang, sudah di kantor...?" tanya Arvan.


[ " Sudah, kak. Ini baru saja sampai kantor..." ] jawab Erina sembari tersenyum.


" Kamu baik - baik saja kan...? Apa ada yang luka...?"


[ " Luka...? Maksud kakak apa...?" ]


" Apa kau tidak mau cerita padaku apa yang kau alami kemarin...?"


[ " Huft... apa Adam cerita padamu...?" ]


" Kak Willy yang mengatakannya, apa kau bertemu lagi dengan Samuel...?"


[ " Iya, kemarin aku bertemu dengannya di Bandara. Dia mau pulang ke Indonesia katanya. Memangnya kenapa sih, kak...?" ]


" Sayang, aku sudah bilang kemarin jangan bertemu dia dulu sementara waktu. Kau masih ingat alamat rumahnya nggak...?"


[ " Untuk apa, kak...?" ]


" Sudah, nanti kirimkan saja alamatnya. Dan ingat! Jangan memberitahu dia kalau aku meminta alamat rumahnya..."


" Iya, nanti aku kirimkan alamatnya. Tapi jangan sakiti orang yang tidak bersalah. Dia teman baikku...!" ]


" Iya, sayang. Oh iya, Raka tidak ikut ke kantor...?"


[ " Tidak, dia lebih suka ikut Ayah ke markas. Katanya mau menyelesaikan pembaruan aplikasi peretasan data..." ]


" Hhh... jadi tidak bisa di ganggu dong, padahal aku sangat merindukannya..."


[ " Apa kau tidak merindukanku...?" ]


" Ish... siapa bilang? Justru kaulah yang paling kurindukan, apalagi yang 'itu'..." goda Arvan.


[ " Apaan sih...? Nggak jelas banget sih, sayang..." ] sungut Erina.


" Ya udah, sayang. Aku ada meeting sebentar lagi, selamat bekerja. Nanti kita telfonan lagi..."


[ " Iya, hati - hati ya sayang. Jaga kesehatan, jangan lupa makan dan jaga pandangan kamu sama perempuan lain...!" ] pesan Erina dengan tatapan tajam.


" Siap, Nyonya Sebastian. Segala perintah Anda pasti hamba laksanakan..."


[ " Huft... ya udah, aku mau kerja dulu. See you next time honey, I miss you so much..." ]


" Iya sayang, aku juga merindukanmu. I love you..."


Setelah mematikan panggilannya, Arvan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk di atas meja.


# # #


Di tempat lain, Selly yang berada di tempat persembunyiannya sedang berbicara dengan seseorang.


" Bagaimana? Apa kau berhasil menangkapnya...?" tanya Selly.


" Tidak, bahkan anak buahku banyak yang terbunuh. Saya tidak tahu siapa yang ada di belakangnya..." jawab seorang pria dengan setelan jas mewahnya.


" Arvan pasti ada di balik gagalnya rencanamu kali ini..."


" Bukan, dia bukan Arvan. Ada orang lain yang bersamanya, dia juga mempunyai banyak pasukan yang malah membunuh para anak buahku di tengah hutan...!" geram pria itu.


" Apa rencanamu sekarang...?"


" Tenang saja, saya bukan orang yang mudah menyerah. Saya pasti bisa mendapatkan Erina bagaimanapun caranya..."


Selly dan pria itu menyusun rencana baru untuk bisa menculik Erina.


.


.


TBC


.


.