Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 102


" Kalian siap...?" ucap Adam.


" Tentu saja, kami sangat siap..." jawab Erina dan Raka kompak.


" Harusnya aku yang jadi kepala keluarga, kita bertiga pasti menjadi keluarga yang harmonis..."ucap Adam dengan tersenyum.


" Ngelantur...!" Erina menendang kaki Adam.


Mereka bertiga terlihat seperti satu keluarga yang harmonis, kompak dalam melakukan hal yang sama.


" Uncle, Raka duduk dulu disana. Nanti kalau butuh bantuan, panggil saja..." ucap Raka seraya melenggang menuju tumpukan kayu di ujung ruangan.


" Dasar bocil...! Bukannya bantuin, malah nyelonong pergi aja..." gerutu Adam.


" Sepertinya jelmaan bapaknya turun ke dia semua..." timpal Erina.


# # #


Hans yang sedang meeting bersama Arvan, merasakan ada notifikasi pesan masuk di ponselnya. Dia segera membaca pesan itu dan membalasnya dengan cepat.


" Van, aku keluar sebentar ya...?" bisik Hans.


" Ada masalah...?" tanya Arvan.


" Nanti aku ceritakan saat meetingnya selesai..."


" Ya sudah, jangan lama - lama..."


Hans keluar ruangan dan menelfon anak buahnya agar cepat pergi ke lokasi tempat Erina berada. Hans tidak mungkin memberitahu Arvan sekarang, karena bisa saja Arvan langsung pergi meninggalkan meeting yang baru dimulai itu.


Selesai menghubungi anak buahnya, Hans kembali masuk ke ruang meeting bergabung dengan Arvan dan kliennya.


" Van, kalau bisa percepat meetingnya. Kita harus segera pergi ke suatu tempat..." bisik Hans.


" Memangnya ada apa...?" tanya Arvan pelan.


" Selesaikan dulu meetingnya, nanti aku beritahu di jalan..." jawab Hans.


Arvan mempercepat meetingnya dan langsung menandatangani surat kontrak kerjanya setelah kata sepakat dari kedua belah pihak.


Kini Hans melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tak ingin kehilangan waktu untuk segera menyelamatkan Erina.


" Hans, kenapa kau seperti panik begitu...?" tanya Arvan.


" Mmm... ada masalah di proyek, Van. Kita harus segera kesana sebelum terlambat..." jawab Hans.


" Masalah apa...?"


" Aku juga tidak tahu, tapi Erina meminta bantuan supaya mengirim beberapa anak buah untuk membantu mereka disana..."


" Ya sudah, lebih cepat lagi. Aku tidak mau mereka celaka..."


" Mudah - mudahan saja kita tidak terlambat, Van..."


# # #


Erina dan Adam sudah siaga saat pengawas dan mandor itu membawa beberapa pegawai yang nampak bersiap dengan balok kayu dan benda tumpul lainnya.


" Mana laporan yang saya minta...!" kata Adam datar.


" Maaf, Tuan. Laporannya tidak ada sekarang, saya bisa mengirimkannya besok..." jawab pengawas proyek itu tanpa rasa takut.


" Huft... rupanya kau ingin bermain - main denganku..." seringai Adam.


Pengawas itu memberi kode kepada anak buahnya untuk menyerang Adam.


" Serang dia...!"


Dengan cepat mereka maju untuk menyerang Adam. Perkelahian berlangsung dengan sengit. Adam menyuruh Erina mundur karena dia tak mau Arvan mengamuk jika istrinya sampai lecet.


Lawan yang tidak seimbang membuat Adam terdesak dan kehabisan tenaga. Erina ikut turun tangan karena tak ingin melihat Adam mati konyol di depan matanya.


" Kalau butuh bantuan itu bilang, tidak perlu gengsi..." cibir Erina seraya menangkis serangan musuh yang ingin memukul Adam yang tersungkur.


" Hei... Nona, apa kau sudah gila? Aku lebih baik kena hantaman balok daripada ditembak sama suami aroganmu itu gara - gara kamu lecet..." sahut Adam kembali berdiri tegak.


" Lebay...!" timpal Erina.


Mereka kembali berkelahi dan kali ini lebih bersemangat. Adam melihat semangat dalam diri Erina menggebu. Sepertinya Erina merindukan kehidupan bebas seperti ini. Semenjak hidup bersama Arvan, Erina seperti boneka yang tidak bisa bergerak bebas.


" Sepertinya kau sangat menikmati moment ini, Erin..." seloroh Adam di sela - sela pertarungannya.


" Sudah lama tak melakukan olahraga fisik, tubuhku terasa kaku..." sahut Erina tersenyum.


" Biasanya olahraga ranjang, ya...?" ledek Adam.


" Sok tahu! Kayak pernah aja..." cibir Erina.


Mereka berdua seperti sedang main drama saja, berkelahi sambil mengobrol nggak jelas. Saat yang bersamaan, anak buah Hans datang membantu mereka. Tak sampai sepuluh menit, para penjahat itu tumbang semua.


Pengawas dan mandor itu secara diam - diam mencoba kabur saat Erina dan Adam lengah. Raka yang melihat gelagat mereka langsung bertindak dengan cepat.


Doorrr!!! Doorrr!!!


Suara tembakan mengagetkan semua orang. Raka dengan santai memasukkan lagi senjatanya ke dalam saku jaketnya.


" Raka...!" teriak Erina.


" Tersangka utama sengaja kabur, Ma. Raka tidak membunuhnya..." ucap Raka nyengir.


Terlihat pengawas dan mandor itu sudah sampai di pintu keluar hendak kabur. Raka hanya menembak betis mereka berdua agar tidak bisa berlari.


Anak buah Hans langsung mengumpulkan semua penjahat itu di satu tempat agar tidak kabur sampai polisi datang.


" Iya, terimakasih kalian sudah datang tepat waktu..." jawab Erina dengan tersenyum.


Tak lama Arvan dan Hans datang bersama polisi. Mereka semua di gelandang ke kantor polisi.


" Sayang, kau baik - baik saja...?" kata Arvan cemas pada istrinya.


" Saya baik - baik saja, Tuan..." sahut Adam dengan cepat sambil nyengir di belakang Erina.


" Kau matipun aku tak peduli...!" teriak Arvan kesal.


" Sudah, kak. Jangan dengarkan Adam, kami baik - baik saja kok..." ucap Erina.


" Hans, bawa Adam ke rumah sakit. Sepertinya lukanya sangat parah..." ujar Arvan.


" Dia baik - baik saja, Van..." sahut Hans heran.


" Saya tidak cidera apapun, Tuan..." timpal Adam.


" Hihihii... Raka tahu Uncle Adam sakit apa..." celoteh Raka sambil tertawa.


" Sakit apa...?" tanya Erina sambil bergelayut manja dalam pelukan suaminya.


" Raka tidak berani ngomongnya..."


Arvan hanya tertawa kecil dengan celotehan anaknya. Dia pasti bisa menebak apa yang dipikirkan putranya tersebut.


" Sudah, katakan saja. Nanti Uncle ajak beli mainan baru..." kata Hans.


" Hehehee... pasti papa mau bawa Uncle Adam ke psikiater..."


" Hahahaa... kau pintar sekali menebak..." Arvan tertawa puas diikuti yang lainnya.


Adam sangat kesal lalu duduk di samping Raka dan menatapnya tajam.


" Apa kau mau ikut bersamaku...?!" ucap Adam dengan tatapan tajamnya.


" Mau kemana, Uncle...?"


" Aku buang ke laut...!"


" Hehehee... boleh juga tuh, Uncle. Kita ke pantai yuk...?" tiba - tiba anak itu ingin bermain air.


" Tanya dulu sama majikan sana..." sahut Adam.


" Ok...!"


Raka beranjak mendekati kedua orangtuanya dengan senyum yang terkembang sempurna.


" Pa, Ma... Uncle Adam mau ajak Raka ke pantai, boleh ya...?" ucap Raka.


" Jangan sekarang, sayang. Besok saja, kita keliling - keliling saja sekitar sini..." sahut Erina.


" Biarkan Uncle Adam pergi sendiri, kita pulang..." timpal Arvan.


" Boss, bukan saya yang ngajak, tapi Raka yang pengen kesana..." kilah Adam.


" Bocil...! Kau jangan memutar balikkan fakta..." ucap Adam kesal.


" Uncle... ayolah...?" rengek Raka.


" Ijin dulu sama majikanmu...!" sungut Adam.


" Pa... Ma...?" rengek Adam pada kedua orangtuanya.


" Ya sudah, kita semua pergi ke pantai..." ucap Erina dengan tersenyum.


" Thank you, Mama..." Raka tersenyum bahagia.


Semua segera meninggalkan tempat itu dan meluncur menuju pantai yang tidak terlalu jauh dari sana. Hanya sekitar setengah jam mereka sudah sampai.


Raka langsung mengajak Hans dan Adam main air di pantai padahal matahari sedang berada di titik puncaknya.


" Raka, panas sekali disini. Kita berteduh saja disana dulu sebentar..." keluh Hans.


" Iya, Raka. Uncle lapar, kita makan dulu yuk...?" bujuk Adam.


" Raka belum lapar, Uncle. Sebentar lagi ya...?" rengek Raka.


" Kalau Uncle pingsan gimana...?"


" Kan ada Uncle Hans yang gendong..."


" Dih... mending gendong batu karang daripada dia..." cibir Hans.


" Hahahaa... Uncle berdua lucu..." kekeh Raka.


" Memang pelawak lucu..." gerutu Adam.


Mereka bertiga terus berdebat di dalam air. Sudah kepalang basah sekalian saja mereka berenang di bawah teriknya mentari yang menyengat di ubun - ubun.


.


.


TBC


.


.