
" Kau sudah berjanji akan kembali, aku yakin kau pasti kembali..." ucap Erina dalam hati.
Karena merasa sangat lelah, akhirnya Erina tertidur di samping William. Wajahnya nampak pucat dan berantakan sekali.
Sampai di kediaman Tuan Sebastian, William mengangkat tubuh Erina masuk ke dalam kamarnya karena tak tega jika harus membangunkannya.
William malam ini memutuskan akan menginap di rumah Tuan Sebastian setelah meminta ijin pada istrinya via telfon.
" Kenapa semua ini harus terjadi pada Arvan, satu - satunya anak kandung keluarga Sebastian..." gumam William.
William memilih tidur di sofa ruang tamu sekalian menjaga sang pemilik rumah yang saat ini tengah terpuruk.
# # #
Pagi hari, Erina terbangun karena Raka yang tiba - tiba mencium pipinya.
" Good morning, Ma..." ucap Raka.
" Good morning, sayang. Kau sudah bangun jam segini...?" jawab Erina.
" Iya, Ma. Kenapa mama seperti sedih habis menangis...?"
" Tidak sayang, mungkin mama hanya mimpi buruk semalam..."
" Kira - kira papa udah sampai belum ya, Ma...?"
" Belum sayang, mungkin nanti siang baru sampai disana..."
Erina tidak tahu harus mencari alasan apalagi jika Raka terus bertanya tentang papanya. Erina belum siap jika harus jujur pada Raka sekarang sebelum semuanya jelas.
" Nanti kita video call ya, Ma? Raka kangen sama papa..."
" Iya, nanti kalau papa sudah sampai di rumah pasti telfon kita..." sahut Erina seraya tersenyum.
Erina mengajak Raka untuk mandi dan bersiap - siap untuk berangkat ke Markas. Hanya tempat itulah yang bisa membuat Raka merasa betah dan tidak memikirkan yang lain. Sementara Erina, dia akan kembali ke Bandara untuk mencari informasi tentang Arvan.
Selesai mandi, Erina langsung mengantar Raka ke Markas lalu pergi ke Bandara. Erina menghubungi Adam untuk menyusulnya ke Bandara untuk menemaninya.
Sampai di Bandara, Adam dan anak buah William sudah menunggu di area parkir.
" Rissa, kau terlihat pucat. Sarapan dulu ya...?" ujar Adam.
" Tidak usah, mereka masih disini...?" Erina menunjuk anak buahnya yang berada di belakang Adam.
" Iya, mereka standby 24 jam disini..."
" Suruh mereka pulang, ganti yang lain. Mereka juga butuh istirahat..."
" Baiklah..."
Adam menyuruh anak buahnya pulang dan menghubungi anak buah yang lain. Saat sedang menuju cafe untuk sarapan, tiba - tiba ada yang memanggil Erina dari kejauhan.
" Erinaaa...!"
Erina dan Adam menoleh ke arah sumber suara yang tak jauh dari mereka.
" Sam...? Kau ada disini...?" tanya Erina.
" Iya, kebetulan saya akan pulang ke Indonesia. Apa kau juga akan pergi...?"
" Tidak, saya_..."
" Erin, ayo cepat! Aku sudah sangat lapar..." Adam langsung menarik lengan Erina karena merasa diabaikan.
" Jadi ini yang namanya Samuel. Sepertinya firasat Tuan Arvan benar tentang orang ini, aku harus berhati - hati dengannya..."
" Adam, pelan - pelan saja..." sungut Erina.
" Tunggu, apa boleh saya bergabung dengan kalian...?" tanya Samuel seraya tersenyum.
" Ayo, kita juga sudah lama tidak bertemu..." sahut Erina cepat.
Adam menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu menarik Erina agar mendekat ke arahnya.
" Jangan ceritakan apapun tentang dirimu padanya. Jangan sampai dia tahu dimana kamu tinggal sekarang..." bisik Adam.
" Why...?" sahut Erina heran.
" Kita harus tetap waspada dan jangan mudah percaya pada orang lain meski itu adalah teman dekat kita..."
" Baiklah..."
Kini mereka bertiga duduk di sebuah Cafe di dalam Bandara. Setelah memesan makanan, Erina dan Samuel mulai terlihat membuka percakapan.
" Erina, kau membawa pria yang berbeda dengan yang di pesawat waktu itu...?" tanya Samuel.
" Memangnya apa masalahnya dengan Anda...?" sahut Adam cepat.
" Ah, tidak apa - apa. Saya hanya sekedar bertanya saja..."
" Itu teman saya, Sam..." ucap Erina.
" Oh iya, boleh saya tahu alamat tempat tinggalmu? Siapa tahu nanti saya bisa mampir sebentar..."
" Mmm... saya_..."
" Erina tinggal bersama saya, ini alamatnya..." Adam memberikan alamat Apartemennya kepada Samuel.
" Kalian tinggal bersama...?"
" Apa itu masalah untuk Anda...?"
" Oh, tidak. Saya hanya sekedar bertanya saja..."
Tak lama pesanan datang dan mereka makan dengan tenang tanpa adanya percakapan. Selesai sarapan, Samuel berpamitan karena sebentar lagi jadwal penerbangannya akan tiba.
" Erina, boleh saya meminta nomor kontak kamu. Mungkin suatu saat kita akan bertemu lagi..." ucap Samuel lembut seperti biasanya.
Melihat ekspresi wajah Samuel yang sedikit berbeda membuat Erina sedikit waspada juga. Senyumannya seperti menyembunyikan sesuatu yang tidak Erina mengerti.
" Tentu saja, mana ponselmu biar saya simpan nomorku..."
" Sebutkan saja biar saya langsung mengetikkan nomormu..."
" Oh, baiklah..."
Setelah Erina menyebutkan nomor telfonnya, mereka langsung berpisah menuju tujuan masing - masing.
" Berhati - hatilah dengannya, Boss. Saya yakin ada yang tidak beres dengan orang itu..."
" Tapi aku sudah berteman cukup lama dengannya, tidak mungkin dia akan berbuat jahat padaku..."
" Kau boleh dekat tapi harus selalu waspada..."
" Apa aku juga boleh mencurigaimu...?"
" Tentu saja, tapi gunakan hatimu untuk menilai seseorang. Jangan mudah percaya pada hasutan orang..."
" Kau benar, Dam. Tatapan mata Samuel memang berbeda tidak seperti dulu. Tapi, apa dia akan berbuat jahat padaku...?"
" Sudah, sebaiknya kita ke ruang informasi untuk mencari kabar terbaru..." ajak Adam.
Setelah memastikan pesawat yang ditumpangi Samuel berangkat, baru Adam beranjak dari tempat duduknya. Namun baru saja melangkah menuju ruang informasi, mata tajamnya menangkap ada seseorang yang mengikutinya.
" Rissa, tunggu sebentar...!" ucap Adam.
" Ada apa, Dam...?"
" Sebaiknya kita pergi dulu dari sini..." bisik Adam.
" Kenapa...?"
" Nanti saya kasih tahu di mobil..."
Adam mengurungkan niatnya ke ruang informasi. Dia mengirimkan pesan kepada William untuk mengurus masalah di Bandara.
" Kenapa kita pergi, Dam...?" tanya Erina.
" Ada yang mengikuti kita, sebaiknya kita pergi sekarang..." jawab Adam.
Mereka segera masuk ke dalam mobil dan bergegas meninggalkan Bandara. Namun dalam perjalanan, masih ada saja yang mengikuti mereka.
" Rissa, kau bawa senjata...?" tanya Adam.
" Untuk apa...?" Rissa balik tanya.
" Lihatlah mobil di belakang, dia terus mengikuti kita..."
" Aku jarang sekali membawanya, karena kupikir kau dan kak Willian selalu ada bersamaku..."
" Astaga, kau harus bisa jaga dirimu sendiri. Saya dan Tuan William belum tentu bisa bersamamu 24 jam..."
" Saya tidak pernah berpikir sejauh itu..."
" Paling tidak kau menyimpannya di dalam mobilmu. Buat apa kau belajar menembak jika tidak kau gunakan..."
" Maaf, coba aku cari dulu siapa tahu ada yang terselip disini..."
" Huft... susah ngomong sama orang keras kepala..." gumam Adam.
Adam mempercepat laju mobilnya saat berada di jalanan yang sepi. Namun tanpa dia duga, ada mobil dari arah depan yang berhenti di depannya secara tiba - tiba.
Ciiitttt!
" Aakkhhh...!!!"
Adam menginjak rem mendadak sambil memutar arah mobilnya agar tak menabrak mobil yang berhenti di depannya.
" Shitt...! Berani sekali mereka bermain - main denganku...!" umpat Adam kesal.
" Adam, kita harus bagaimana...?" ucap Erina panik.
" Tetaplah di dalam mobil, saya akan menghadapi mereka..." sahut Adam.
" Tidak, kita akan menghadapinya bersama - sama..."
" Jangan, Rissa! Aku tidak akan membiarkanmu terluka. Saya sudah berjanji pada keluargamu untuk melindungimu dari para penjahat..."
" Mereka terlalu banyak untuk kau hadapi sendiri..."
" Hubungi Tuan William, bilang kita butuh bantuan..."
" Baiklah, semoga kak William bisa datang tepat waktu..."
Setelah menghubungi William dan meminta bantuan, Erina dan Adam keluar dari mobilnya untuk menghadapi para penjahat. Penjahat itu berjumlah sekitar 10 orang dengan pakaian serba hitam.
" Hati - hati, kita hanya tangan kosong..." peringat Adam.
" Iya, saya tidak akan lengah dalam menghadapi mereka..." ucap Erina.
Akhirnya perkelaian dengan jumlah yang tak seimbang ini terjadi. Adam dan Erina mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan mereka.
Adam dan Erina sudah terbiasa melakukan hal seperti ini karena mereka sering membantu pekerjaan William saat penggerebekan para penjahat.
Tendangan dan pukulan yang dilayangkan Erina semakin tak terkendali karena dia juga ingin meluapkan kesedihannya karena belum bisa menemukan Arvan.
" Rissa! Jangan berkelahi dengan emosi..." peringat Adam tegas.
" Maaf, saya terlalu menikmati suasana..." sahut Erina merasa bersalah.
Hampir seluruh penjahat itu bisa dilumpuhkan oleh Adam dan Erina. Namun tanpa mereka duga, beberapa mobil datang dan berhenti di depan keduanya.
" Shitt...! Benar - benar sangat melelahkan hari ini..."
.
.
TBC
.
.