Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 100


" Saaammmm... tidaakkk!!!" teriak Erina.


Samuel menghembuskan nafas terakhirnya dengan tersenyum. Kini hanya suara tangis pilu Erina memenuhi seluruh ruangan. Arvan memencet tombol untuk memanggil dokter lalu menopang tubuh istrinya agar tidak jatuh.


" Ikhlaskan kepergiannya, sayang. Biarkan Samuel tenang di tempat keabadian..." bisik Arvan.


" Sam, kenapa kau tinggalkan aku..." lirih Erina.


Dokter dan beberapa perawat segera datang untuk memeriksa Samuel.


" Pasien tidak selamat, maafkan kami..." ucap Dokter.


Erina yang menatap lekat wajah Sam seketika mulai buram lalu jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan suaminya.


" Sayang...!" Arvan menggoyangkan tubuh istrinya yang telah memejamkan mata itu.


Orangtua Sam langsung masuk begitu mendengar kabar putranya telah tiada. Keduanya langsung menangis histeris mendekap tubuh Samuel yang telah terbujur kaku dengan kain putih yang menutup seluruh tubuhnya.


# # #


Samuel langsung dimakamkan sore itu juga di pemakaman yang sama dengan orangtua Erina. Tangis Erina dan kedua orangtua Samuel membuat semua orang yang melihatnya ikut mengeluarkan airmata.


Arvan berusaha untuk menguatkan istrinya agar mengikhlaskan kepergian sahabatnya. Arvan terus saja menopang istrinya takut pingsan seperti di rumah sakit.


Ibunya Samuel berkali - kali pingsan meratapi kepergian Samuel yang tiba - tiba. Tangisnya sungguh menyayat hati yang mendengarnya.


Usai pemakaman, Arvan mengajak Erina untuk segera pulang karena kondisi fisik maupun mentalnya masih belum pulih.


Hans bertugas mengawal kepulangan kedua orangtua Samuel hingga sampai ke rumahnya dengan aman.


" Sayang, sudah... jangan bersedih lagi, biarkan Sam tenang disana. Jika kamu ikhlas, Sam pasti bahagia disana..." hibur Arvan.


Kini mereka dalam perjalanan pulang. Erina masih terus terisak dalam dekapan suaminya.


" Kenapa dia pergi secepat ini...? Kami bahkan baru bertemu setelah lama terpisah..." ucap Erina.


" Kita tidak bisa melawan takdir, sayang. Sam orang yang baik, dia akan bahagia disana..." ujar Arvan.


Sampai di rumah, Arvan langsung membawa Erina ke kamar untuk beristirahat. Erina nampak sedih dan enggan melakukan apapun sehingga untuk mandi saja harus dimandikan oleh suaminya.


Selesai mandi, Arvan memakaikan piyama di tubuh istrinya lalu mengajaknya untuk merebahkan diri di tempat tidur.


Tak ada percakapan diantara mereka, hanya isakan kecil Erina yang kini dalam dekapan suaminya.


" Sepenting itukah Sam dalam hidupmu, Erin? Kau begitu sedih kehilangan dia walau orang itu sempat membuatmu kecewa..." batin Arvan.


Arvan mengusap pelan punggung istrinya hingga dia tertidur dengan nyaman dan tenang. Setelah sang istri benar - benar tenang, Arvan keluar kamar mencari Raka yang sedari pagi dia tinggalkan. Arvan turun kebawah dan melihat anaknya sedang menonton tv bersama Adam dan Hans.


" Raka, kenapa tidak istirahat...?" tanya Arvan yang duduk di samping anaknya.


" Sebentar lagi, pa. Raka mau nonton tv dulu..." jawab Raka.


" Nontonnya di kamar saja, sambil temenin mama..."


" Ok, boss...!"


" Hei... bocil! Kau tidak tidur denganku...?" tanya Adam.


" Uncle Adam tidurnya ditemani Uncle Hans saja biar nggak takut..." ledek Raka.


" Ish... kau yang takut sendirian, lagian bocil sukanya baca komik horor..." cibir Adam.


" Justru cerita horor itu bisa menguatkan mental kita dalam menghadapi situasi dimana kita berada pada titik paling lemah dan sendirian, Uncle..." tukas Raka.


" Terserah, pusing bicara sama kamu..." sahut Adam.


Arvan segera mengajak Raka ke kamar untuk menemani Erina. Mereka berdua duduk di sofa seraya nonton tv.


" Pa, mama masih sakit...?" tanya Raka pelan.


" Tidak, sayang. Mama hanya perlu istirahat yang cukup biar cepet pulih..." jawab Arvan.


" Besok Raka mau ke panti lagi ya, pa? Ada barang yang masih tertinggal disana..."


" Tunggu mama sembuh dulu, sayang. Nanti kita kesana bareng..."


" Raka cuma ambil barang, pa..."


" Menginap...?"


" Belum tahu, Raka senang tinggal disana. Temennya baik, disana tidak ada yang membahas soal harta dan jabatan orangtuanya. Mereka hanya punya satu ibu yang mampu membagi kasih sayangnya dengan tulus kepada puluhan anak secara adil..."


" Apa kamu tidak bahagia tinggal bersama papa dan mama...?"


" Raka sangat bahagia bersama papa dan mama..."


Raka tiduran di pangkuan papanya sembari nonton tv. Arvan mengusap pelan kepala anaknya hingga bocah itu tidur dengan nyaman.


" Maafkan papa, tidak merawatmu sedari kecil. Seharusnya sejak di dalam kandungan mama, kamu adalah tanggung jawab papa. Tapi selama ini, kau sudah terbiasa hidup mandiri dan juga mendapat kasih sayang dari orang lain..." batin Arvan.


" Papa kenapa...?"


Tanpa Arvan sadari, Erina memeluknya dari belakang.


" Eh... mama, kok bangun sih...? Istirahatlah biar cepet sembuh..." ujar Arvan.


" Tidak usah mengalihkan pembicaraan, pa..."


Erina mencium pipi kanan suaminya lalu duduk di sampingnya dengan tatapan sendu.


" Beneran, Ma. Papa tidak apa - apa, ayo kita tidur..."


" Papa duluan saja, Mama pengen nonton tv dulu..."


Arvan mengangkat tubuh Raka untuk dibaringkan ke tempat tidur. Setelah selesai, Arvan kembali ke sofa untuk menemani istrinya.


" Kenapa papa kembali kesini...?" tanya Erina heran yang melihat suaminya itu senyum - senyum sendiri.


" Tidak apa - apa, kangen sama mama..." jawab Arvan asal.


Arvan merengkuh tubuh sang istri ke dalam dekapannya. Setelah itu Arvan menciumi seluruh wajah Erina dengan lembut.


" Pa...!" Erina mencoba menghindar.


" Sebentar saja, sayang..." bisik Arvan.


" Ada Raka, jangan seperti ini..." tolak Erina.


" Raka sudah tidur, kita pindah ke kamar Raka kalau gitu..."


" Tadi katanya disuruh istirahat...?"


" Daripada nonton tv mending main aja sama papa..." Arvan mengedipkan sebelah matanya.


" Dasar mesum! Aku ikut Raka tidur aja..." sungut Erina.


" Jangan harap bisa lepas sebelum_..." Arvan tersenyum jahil.


" Kak, kita bisa melakukannya lain kali..."


" Iya - iya, pergi sana...!" ucap Arvan kecewa.


Erina beranjak menuju balkon untuk menghirup udara segar di malam hari. Netranya menatap langit malam yang berkabut. Tiba - tiba dia teringat dengan Samuel yang kini telah berpulang menghadap Sang Pencipta.


" Aku merindukanmu, Sam. Semoga kau bahagia diatas sana..." batin Erina.


" Kenapa disini? Udara di luar tidak baik untuk kesehatanmu..." Arvan menyelimuti tubuh istrinya agar tidak kedinginan.


" Maaf..." ucap Erina.


" Untuk apa...?" tanya Arvan.


" Aku masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Sam. Dia satu - satunya orang yang peduli padaku di saat aku tengah terpuruk. Keluarganya yang memberiku makan saat ibu menghukumku tidak boleh makan di rumah..."


" Sudahlah, semakin kau mengingatnya kau tidak akan bisa bangkit untuk melangkah ke depan..."


Erina memeluk suaminya dengan erat. Dengan seperti ini, Erina merasa lebih tenang.


" Maaf, aku sudah menolakmu tadi..." ucap Erina sendu.


" Apa sekarang sudah tidak menolak...?" goda Arvan.


" Aku akan melakukannya kapanpun papa mau..." sahut Erina tersipu malu.


" Yakin bisa kapanpun...?"


" Selama aku mampu, aku tidak akan pernah menolak lagi..."


" Terimakasih, sayang. Aku sangat mencintaimu..." bisik Arvan.


Arvan mencium bibir istrinya dengan lembut lalu berpindah pada leher yang membuat sang istri mendesah pelan. Arvan tersenyum lalu melanjutkan aksinya yang semakin gencar mencumbu seluruh tubuh istrinya.


" Apa kita akan melakukannya disini...?" tanya Erina.


" Apa salahnya mencoba, kurasa disini akan terasa lebih nikmat..." jawab Arvan tanpa menghentikan tangannya sedetikpun.


" Tapi disini dingin..."


" Aku akan menghangatkan tubuhmu..." Arvan sudah tidak sabar untuk menuntaskan hasratnya.


Erina hanya bisa pasrah saat mereka melakukannya di lantai yang hanya beralaskan selimut tipis. Arvan tersenyum istrinya bisa mengimbangi permainannya tanpa merasakan kesedihan lagi atas kepergian sahabatnya.


" Terimakasih, sayang..." bisik Arvan.


Setelah merasa puas dan lelah, Arvan menggendong tubuh polos istrinya ke kamar mandi saat sudah memastikan bahwa Raka tidak terbangun.


.


.


TBC


.


.