
" Apakah kau mencintaiku seperti aku yang sangat mencintaimu...?" ucap Hans serius.
" Aku... aku juga mencintaimu, Hans..." jawab Delia pelan.
Wajahnya tampak merona dan tertunduk malu. Harusnya ia masih marah, namun tatapan teduh Hans mampu meluluhkan hatinya.
" Terimakasih sayang, aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia..."
Hans memeluk Delia dengan erat, menenggelamkan wajah gadis itu ke dalam dada bidangnya.
" Hans, malu dilihat orang...!" bisik Delia.
" Ya udah, ayo masuk..." ajak Hans seraya tersenyum lebar.
" Kamu tidak pulang...?" tanya Delia heran.
" Tidak, aku mau menginap di tempat calon istriku..."
" Hans, aku lelah... jangan bercanda...!"
" Aku udah nggak kuat jalan sampai rumah sayang, ijinkan aku menginap malam ini saja..." rengek Hans manja.
" Astaga... kenapa sikapmu jadi seperti anak kecil sih...?" sahut Delia merasa risih.
" Ayolah, aku hanya ingin tidur saja..."
" Huft... baiklah, ayo masuk..." ucap Delia pasrah.
Kini mereka sedang duduk di sofa ruang tamu Apartemen Delia.
" Sayang, aku lelah sekali. Kamu pesan makanan ya, aku lapar..." rengek Hans.
" Sepertinya Raka lebih pantas bertingkah seperti itu..." gerutu Delia.
" Bukankah lebih baik daripada aku memakanmu..." bisik Hans jahil.
" Huft... baiklah, aku akan pesan makanan dan mandi dulu..." Delia mendorong tubuh Hans yang sedari tadi tak mau menjauh darinya.
Delia masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri sejenak sambil menunggu pesanannya datang. Sedangkan Hans, laki - laki itu telah terlelap di sofa sembari menutup wajahnya dengan bantal.
Delia yang sudah selesai mandi segera keluar dari kamarnya dan mendapati Hans sudah terlelap.
" Ish... baru ditinggal sebentar sudah tidur..." desis Delia.
Delia duduk di samping Hans seraya menunggu pesanannya datang.
" Kamu pasti lelah sekali, wajahmu nampak pucat..." batin Delia.
Delia membelai dengan pelan wajah Hans seraya tersenyum. Dia memainkan hidung Hans yang mancung terlihat menggemaskan. Hans yang merasa terusik, langsung menangkap tangan jahil itu.
" Mmmm... jangan menggodaku sayang..." gumam Hans yang masih terpejam.
" Hihihiii... kirain tidur beneran..." sahut Delia tertawa.
" Kenapa sayang...?"
" Kamu pasti sangat lelah, mau dipijitin...?"
" Mau asal kamu yang mijit..."
" Iya, sini aku pijitin..."
Hans membalikkan badannya hingga Delia mudah untuk memijat punggungnya. Baru beberapa kali pijitan, ada seseorang yang mengetuk pintu.
" Sebentar ya, mungkin itu pengantar makanan..." ucap Delia.
" Iya, sayang..."
Tak lama, Delia membawa paperbag berisi makanan ke dapur untuk memindahkannya ke piring.
" Hans, kita makan dulu yuk..." ajak Delia.
" Suapin ya...?" rengek Hans manja.
" Ish... malu sama umur...!" sahut Delia datar.
" Ya udah, kalau nggak mau suapin aku juga nggak mau makan..."
" Apaan sih... jangan seperti anak kecil deh..."
Karena Hans terus merengek, akhirnya Delia menuruti keinginannya yang nampak konyol tersebut.
Usai makan, Delia mencuci piring bekas makan mereka berdua.
" Sayang, mau dibantuin...?" tanya Hans lembut.
Kedua tangan kekar Hans melilit pinggang kecil kekasihnya dari belakang.
" Hans, lepaskan tanganmu...! Jangan sampai aku mengusirmu dari sini..." ancam Delia.
" Biarkan seperti ini sebentar saja, aku hanya rindu pelukan hangat orangtuaku..." bisik Hans sendu.
" Apa kau masih mengingat wajah orangtuamu...?"
Delia memutar tubuhnya menghadap Hans yang kini terlihat sedang bersedih.
" Tentu saja, waktu itu umurku delapan tahun. Jadi aku masih ingat jelas wajah mereka..."
" Kamu beruntung, Hans... aku bahkan tidak tahu nama orangtuaku..."
" Sudahlah, kita beruntung keluarga Sebastian sangat baik hingga bersedia menampung kita hingga kita bisa hidup dengan layak..."
Mereka berdua berpelukan sangat lama untuk mencari ketenangan dalam hati masing - masing.
" Tidurlah, besok kamu harus kerja pagi..."
Hans mengurai pelukannya lalu mengantar Delia sampai di depan kamar.
" Apa ini semua kau yang atur hingga aku harus bertukar jam kerja...?" cecar Delia.
" Aku hanya tidak mau kau terlalu dekat dengannya..."
" Dia sudah mengadukan ini padamu...?"
" Kau kelewatan Hans, kau tidak kasihan padanya..."
" Kenapa kamu marah, sayang...? Kamu ada hubungan apa dengannya...?"
" Astaga, Hans... dia itu sudah seperti kakakku sendiri. Kami dibesarkan bersama di panti asuhan. Kau tahu? Istrinya sekarang sedang hamil sembilan bulan. Tinggal menunggu hari saja istrinya Reno itu akan melahirkan. Kau tega menyuruh Reno pergi jauh meninggalkan istrinya. Tega kamu ya...!"
" Sayang, aku tidak bermaksud seperti itu. Mana kutahu kalau istrinya lagi hamil..."
" Aku kecewa padamu, Hans...!"
Delia mengambil beberapa pakaian di lemari lalu dimasukkan ke dalam tas ransel kemudian bergegas untuk keluar.
" Sayang, kau mau kemana...?"
" Bertanggungjawab atas perbuatanmu pada Reno...!"
" Maksudnya apa...? Aku minta maaf..."
Hans memang pelaku di balik seminar yang harus dihadiri Reno di Surabaya. Hanya karena cemburu, dia nekad meminta pimpinan rumah sakit itu untuk memberikan tugas seminar kepada Reno agar jauh dari Delia.
" Aku benar - benar tidak menyangka kau tega melakukan ini. Kau jahat, Hans...!"
" Sayang, maafkan aku... jangan marah ya? Please..."
" Sudahlah, aku harus segera pergi sebelum malam semakin larut..."
" Jangan pergi Delia, kau mau kemana...?"
" Aku akan tinggal di rumah Reno untuk menemani istrinya. Sekarang dia tanggungjawabku..."
" Sayang, aku akan membatalkan keberangkatan Reno. Jangan tinggalkan aku ya...?" ucap Hans menghiba.
" Biarkan aku sendiri, Hans..."
Delia menghapus airmatanya dengan kasar lalu berjalan menuju ke pintu keluar.
" Jangan pergi, aku juga membutuhkanmu sayang..."
Hans berlutut di hadapan Delia dengan mata sayu dan wajah yang memucat.
" Hans...! Biarkan aku pergi...!" pinta Delia.
" Sayang... tetaplah disini bersamaku..."
Hans berdiri lalu memeluk dan mencium Delia tanpa henti. Gadis itu merasa risih dengan perlakuan Hans yang menyerangnya secara tiba - tiba.
Hans tak ingin melewatkan kesempatan, tangannya menahan tubuh Delia dengan cukup kuat lalu menggendongnya masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
" Hans, lepaskan aku...!" rintih Delia.
" No, I need you honey..." lirih Hans.
Delia yang berada di bawah kungkungan Hans hanya bisa pasrah dengan menutup kedua matanya.
" Berjanjilah kau tidak akan pergi sayang...?"
Hans menjelajahi leher jenjang Delia dengan ciuman lembutnya. Sesekali dia juga mendaratkan ciumannya di bibir mungil yang sangat seksi itu.
" Hans... hentikan, jangan lakukan itu..." ucap Delia dengan suara tertahan.
" Berjanjilah untuk menuruti semua keinginanku...?" sahut Hans parau.
" Iya, aku berjanji... aakkkh...!" pekik Dekia.
Delia nampak kaget saat wajah Hans mendarat ke dadanya dan berdiam diri disana cukup lama.
# # #
Jam sembilan malam, Arvan terbangun saat Raka merengek kelaparan. Dengan setengah sadar, ia mendekati Raka di brankar.
" Raka, kamu lapar...?" tanya Arvan pada putranya.
" Iya, pa... makan yuk...?" ajak Raka.
" Kita delivery aja ya...? Kasihan kalau mama ditinggal sendirian..."
" Eugh... mmm... ada apa sih, pa...?" gumam Erina pelan.
" Nggak apa - apa, sayang... ini Raka lapar katanya..." sahut Arvan lembut.
" Aku juga lapar, pa ...!"
" Ya udah, papa pesan dulu makanannya..."
Arvan mengambil gawai diatas meja namun netranya menangkap sebuah kertas kecil beserta kunci mobil.
" Raka mau pesan apa...?" tanya Arvan.
" Apa aja deh, pa..." jawab Raka.
" Kalau mama...?"
" Samain ajalah, pa..." sahut Erina.
" Ok! Sambil menunggu pesanan, kalian bisa tidur lagi sebentar..."
Arvan mendekap tubuh Raka dan Erina dalam satu rengkuhan. Hatinya begitu bahagia saat ini bisa memandang wajah - wajah yang sangat dia rindukan selama lima tahun terakhir. Arvan bahkan menciumi wajah mereka secara bergantian dengan lembut dan penuh kasih sayang
.
.
TBC
.
.