Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 89


" Adaaammmmm...!!!" teriak Arvan menggema ke seluruh ruangan.


Erina menutup kedua telinganya mendengar teriakan suaminya yang sangat keras. Sementara Adam yang masih di dalam kamar sedang memainkan ponselnya terlonjak kaget mendengar namanya menggema di setiap sudut rumah mewah ini.


" Astaga...! Suara apa itu tadi...?" gumam Adam.


Dengan sedikit waspada, Adam menyembulkan kepalanya keluar pintu kamarnya. Dia celingak - celinguk ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara yang terdengar nyaring di telinganya.


" Seperti suara Tuan Arvan tadi, tapi kenapa berteriak sekencang itu? Beliau cukup memanggil dengan pelan aku langsung datang menghadap..." gumam Adam.


Duaaarrr!!!


Tanpa Adam sadari, sebuah guci yang terpajang di samping pintu tempat dia berdiri hancur berantakan.


" Astaga...! Apa ini? Kenapa guci ini bisa pecah berkeping - keping begini...?" gumam Adam.


Adam memungut pecahan guci itu tanpa memperdulikan sekitarnya.


" Kak, apa yang kau lakukan! Dia bisa mati...!" teriak Erina.


" Kau masih saja membelanya! Segitu berharganya dia untukmu...?"


Adam yang mendengar suara ribut - ribut langsung menghampiri kedua majikannya.


" Tuan, Nona... kalian masih disini? Saya pikir keluar mencari Raka...?"


" Sini kau...!" hardik Arvan.


" Iya, Tuan. Tapi untuk apa Tuan bawa - bawa senjata di dalam rumah...? Apa ada penyusup...?" tanya Adam merasa tak bersalah sama sekali.


" Tidak apa - apa, ayo ikut kami mencari Raka. Kau yang menyetir..." jawab Erina cepat.


Erina langsung menggandeng lengan suaminya dan segera mengambil pistol di tangannya.


" Jangan marah - marah lagi, cuma dia orang yang bisa kupercaya..."rengek Erina pelan.


" Baiklah, tapi ingatkan dia supaya tidak kurang ajar padaku! Aku tidak suka sikapnya yang seenaknya sendiri..."


" Biasanya dia tidak begitu, kak. Sejak ada kak Arvan saja dia suka bertingkah aneh..."


" Cihh... jangan - jangan dia menyukaimu..."


" Jangan mulai lagi atau aku akan pergi berdua saja dengan Adam..."


" Iya, tapi jangan terlalu dekat dengannya. Aku merasa cemburu bila kau berdekatan dengannya..."


" Tadi yang nyuruh Adam masuk ke kamar kita siapa...? Dia tidak pernah masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu dulu biasanya..."


" Aku yang nyuruh, soalnya cuma dia yang bisa membuat kamu tenang. Bukan aku yang tak punya arti apa - apa dalam hidupmu..." ucap Arvan sendu.


" Jangan berfikir seperti itu, kak Arvan sangat berarti untukku. Aku sangat mencintaimu dan takkan pernah berpaling darimu..."


" Benarkah? Kau tidak sedang menghiburku kan...?"


" Tidak, kak. Kau adalah cinta pertama dan terakhirku..."


" Istriku sudah pintar merayu rupanya..." goda Arvan.


Arvan berniat untuk mencium bibir istrinya namun terganggu ulah Adam yang tidak tahu diri itu.


" Permisi, Tuan. Kita berangkat sekarang atau minggu depan...?" tanya Adam nyengir.


" Kau_...!"


" Sudah, kalian berdua kenapa sih nggak bisa akur sebentar saja...!" ucap Erina kesal.


Arvan berusaha meredam emosinya di depan sang istri. Dia tidak mau Erina marah lagi padanya. Arvan hanya bisa mengumpat dalam hati karena sang istri pasti akan membela assistennya itu daripada dirinya.


" Adam, cepat keluarkan mobilnya! Kita pergi sekarang juga..." perintah Erina.


" Siap, Boss...!"


Setelah menyiapkan mobil, Adam membukakan pintu untuk kedua majikannya. Usai semua masuk, Adam langsung melajukan mobilnya kearah jalan raya.


" Tuan, kita mau jalan kearah mana terlebih dahulu...?" tanya Adam serius.


" Ke pemakaman orangtua Erina..." jawab Arvan datar.


" Tapi saya tidak tahu alamat pemakaman itu, Tuan. Maaf sebelumnya, saya baru pertama kalinya di kota ini..." kata Adam sedikit takut.


" Astaga... kenapa tidak bilang dari tadi...!" pekik Arvan.


Sepertinya stok kesabaran di hati Arvan sudah mulai menipis. Dia tak tahu lagi seperti apa nantinya jika harus bersama Adam seharian.


Arvan menyuruh Adam menepikan mobilnya dan mereka bertukar tempat duduk.


" Tuan, saya jadi merasa enak kalau begini. Berasa jadi boss saja..." gurau Adam.


" Diam kau! Jangan bicara jika tidak kusuruh...!" bentak Arvan.


" Kalian sudah dong bertengkarnya, kita fokus cari Raka..." ujar Erina kesal.


" Iya, sayang. Kita tidak akan bertengkar lagi kok..." sahut Arvan seraya tersenyum.


" Iya, Nona. Kami pasti bisa menjadi partner kerja yang kompak..." timpal Adam.


" Siap Boss...!"


Mereka bertiga saling diam seraya menajamkan mata mereka ke sekitar untuk mencari Raka. Hingga siang hari, mereka tidak juga menemukan keberadaan Raka.


" Tuan, mungkinkah Raka tersesat hingga keluar kota...?" tanya Adam.


" Tidak, dia tidak mungkin pergi sejauh itu..." jawab Arvan.


" Tempat yang terakhir dia kunjungi atau dia bertemu seseorang...?"


" Kemarin dia pergi ke rumah lama dengan kak Hans..." ucap Erina.


" Baiklah, bagaimana kalau kita temui tuan Hans untuk menanyakan alasan mereka kesana...?"


" Benar juga, kemarin sepertinya ada yang ingin Raka bicarakan padaku tapi belum sempat..." ujar Erina.


Erina segera menghubungi Hans dan menyuruhnya untuk datang ke Cafe yang telah ditentukan.


Setengah jam kemudian, mereka sampai di tempat tujuan untuk membahas tentang Raka sekalian makan siang. Mereka memilih privat room agar lebih leluasa dalam berbicara.


" Hans, apa yang kau lakukan dengan Raka di rumah Erina...?" tanya Arvan.


" Kami tidak melakukan apa - apa, hanya melihatnya dari jauh untuk memastikan rumah itu ada penghuninya atau tidak..." jawab Hans.


" Apa yang tuan dapat dari sana...?" tanya Adam.


" Tidak ada, kami hanya sebentar lalu kembali ke ke kantor..."


" Tidak mungkin, Raka sepertinya ingin menanyakan sesuatu padaku..." kata Erina.


Semua terdiam dengan pikiran masing - masing. Pasti ada yang mereka lewatkan dari semua ini.


" Astaga...! Aku lupa sesuatu..." pekik Hans.


Hans segera menghubungi anak buah yang kemarin dia perintahkan untuk melacak identitas pemilik mobil yang berada di samping rumah Erina.


Setelah mendapatkan informasi dari anak buahnya, Hans menatap Erina yang sedang mengaduk - aduk minumannya.


" Rin, kau kenal dengan pemilik rumah yang ada di samping kiri rumahmu itu...?" tanya Hans.


" Iya, aku mengenal mereka dengan baik. Tapi semenjak aku meninggalkan rumah, kami tidak ada komunikasi lagi..."


" Siapa nama pemilik rumah itu...?"


" Namanya pak Hendri, beliau orang yang sangat baik. Aku lupa tidak berkunjung ke rumahnya..."


" Apa ada anggota keluarganya yang bernama Randy...?"


" Randy...? Kurasa tidak ada. Pak Hendri hanya tinggal bertiga dengan istri dan seorang anak perempuan mungkin sekarang usianya 18 tahun..."


" Memangnya siapa Randy...?" tanya Arvan.


" Dia pemilik mobil yang terparkir di depan rumah itu. Dia juga memasuki rumah itu walaupun kelihatannya rumah itu nampak tak berpenghuni..."


" Mungkin dia kerabat dari pemilik rumah itu..." sahut Adam.


Hans menatap tajam ke arah Adam, lalu muncullah ide untuk melakukan penyelidikan.


" Kau... jadilah mata - mata untuk mengawasi dua rumah itu...!" Hans menunjuk kearah Adam.


" Saya, Tuan...?"


" Tentu saja, hanya kau yang belum pernah Selly lihat..."


" Jika benar dugaan Tuan Arvan tentang keterlibatan Samuel bagaimana? Kami pernah sekali bertemu..."


" Samuel tidak mungkin terlibat, Dam...!" seru Erina.


" Sayang, semua bisa saja terjadi..." kata Arvan.


" Begini saja, bagaimana jika Erina memancing Samuel untuk keluar. Kita selidiki apakah Samuel terlibat dengan semua ini atau tidak..." usul Hans.


" Benar, Tuan. Penyerangan di London waktu itu semakin menguatkan dugaan saya tentang Samuel..." sahut Adam.


" Kenapa kalian tidak percaya pada Samuel...!" kesal Erina.


" Bukannya tidak percaya, sayang. Tapi kita harus tetap waspada..." ujar Arvan.


" Benar, Nona. Apa kau tidak ingat dengan ucapannya di Cafe Bandara waktu itu...? Dia mengatakan kau jalan dengan laki - laki yang berbeda. Apa kau tidak tahu apa yang dia maksud...?" timpal Adam.


" Iya, sayang. Dulu kalian memang sahabat, tapi belum tentu dia tulus hanya bersahabat saja. Bisa saja dalam lima tahun ini dia berubah..."


" Baiklah, apa rencana kalian...?"


.


.


TBC


.


.