
" Semoga kamu baik - baik saja, sayang..." batin Erina.
" Kalian kenapa menahan Arvan untuk pergi? Bukankah kalian sudah terbiasa berdua...?" tanya William.
" Tidak tahu, kak. Saya hanya merasa ada sesuatu yang membuat hati ini tidak tenang saat menginjakkan kaki di Bandara tadi. Perasaanku tidak enak, seperti ada yang akan terjadi sebuah kejadian buruk..."
" Jangan berprasangka buruk, semua itu hanyalah perasaanmu karena merasa akan jauh dari suamimu..."
" Mudah - mudahan firasat Erin salah, kak. Erin yakin kak Arvan pasti baik - baik saja..."
Erina mendekap erat tubuh Raka dalam pangkuannya yang kini tengah tertidur. Diusapnya pelan rambut anaknya dengan lembut agar semakin nyaman dalam tidurnya.
Satu jam kemudian, Erina sudah sampai di rumah. William membantunya untuk menggendong Raka sampai ke kamar.
" Saya pulang dulu, kalau ada apa - apa cepat kabari. Saya standby 24 jam untuk kalian..." ujar William.
" Terimakasih, kak. Kau selalu ada di setiap aku butuh pertolongan dan juga teman..."
" Sama - sama, cepatlah istirahat. Besok banyak kerjaan di kantor..."
" Saya pikir kak Willy sudah lupa dengan urusan kantor, sibuk ngurusin pembunuhan, penculikan, mafia..." celoteh Erina.
" Ish... kau ini, saya hanya menjalankan tugas dari Tuan Sebastian saja. Sebenarnya semenjak ada kamu yang mengurus kantor, pekerjaanku jadi semakin ringan. Apalagi sekarang ada Raka yang membantu pekerjaanku, rasanya seperti makan gaji buta..." sahut William sambil tertawa.
# # #
Jam sepuluh malam waktu London, William sedang menonton tv karena belum bisa tidur sementara anak dan istrinya sudah terlelap saat dia pulang dari rumah Erina.
Saat sedang menonton berita di salah satu channel tv nasional, William sangat terkejut karena berita itu live breaking news.
" Apa berita ini benar...?" gumam William.
Dalam berita itu menyatakan bahwa sebuah pesawat, penerbangan London - Indonesia mengalami kecelakaan dan jatuh di laut lepas.
" Astaga, semoga Arvan tidak ada dalam pesawat itu..." lirih William.
William segera menghubungi anak buahnya untuk mencari informasi kecelakaan pesawat tersebut. Sementara William, dia langsung bergegas menuju rumah Tuan Sebastian.
Kediaman Tuan Regan Sebastian sudah nampak sepi. Hanya para pengawal yang berjaga malam yang masih standby di pintu gerbang. Setelah membunyikan klakson mobilnya, seorang penjaga membukakan gerbang.
" Tuan William, apa ada masalah? Maaf, saya tidak tahu jika terjadi sesuatu di dalam..."
" Bukan itu, saya ada urusan dengan Tuan Regan..."
William masuk ke dalam rumah lalu mengetuk pelan pintu kamar Tuan Sebastian. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, ternyata nyonya Sarah yang muncul.
" Maaf, Nyonya... saya mengganggu istirahat Anda malam - malam begini..." ucap William sopan.
" Tidak apa - apa, Willy. Pasti ada sesuatu yang penting hingga kau datang selarut ini..."
" Maaf, Nyonya... sebenarnya saya kesini membawa berita buruk..."
" Ada apa? Soal pekerjaan...?" tanya Nyonya Sarah.
" Bukan, Nyonya. Sebaiknya kita bicara di ruang keluarga bersama Tuan dan Nona Rissa..."
" Baiklah, saya akan bangunkan suamiku dulu. Kau langsung saja ke kamar Rissa, biasanya dia belum tidur jam segini..."
" Baik, nyonya..."
William bergegas naik ke lantai dua menuju kamar Erina. Diketuknya pintu berulang kali namun tak ada sahutan. William mencoba memutar handle pintu dan ternyata tidak dikunci. Terlihat Erina sudah terlelap memeluk Raka.
William tadinya merasa ragu, namun hal itu harus ia lakukan karena ini sangat penting. Erina harus segera tahu keadaan Arvan saat ini.
" Rissa... Rissa... bangunlah...!" ucap William pelan.
William menggoncang pelan bahu Erina agar wanita itu cepat bangun.
" Hmmm..." Erina hanya menggeliat dan kembali tidur dengan sangat nyaman.
" Erina Clarissa...! Bangun...!" teriak William.
Erina kaget mendengar suara orang yang berteriak memanggilnya.
" Aakkhhh...! Kak Willy..." pekik Erina.
" Bangunlah, cepat! Tuan dan Nyonya sudah menunggu dibawah..."
" Memangnya ada apa, kak...?" tanya Erina setengah sadar.
" Cuci muka dulu sana, sekalian ganti bajumu yang rapi. Kita akan segera pergi..."
" Pergi? Pergi kemana...?"
" Jangan banyak tanya, lakukan saja. Saya tunggu dibawah..."
William sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Erina pasti akan memaksa untuk ikut dengannya ke Bandara setelah tahu kabar buruk yang menimpa Arvan. Dia tidak mau Erina terlihat berantakan dengan piyama pendek yang dipakainya.
Erina segera beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengganti pakaiannya. Dia menatap cermin di depannya memikirkan ucapan William.
" Sekarang perasaanku bisa lebih tenang tidak seperti saat di Bandara. Mungkin kak Arvan baik - baik saja dalam perjalanannya. Jadi tidak sabar untuk bertemu lagi dengannya..." gumam Erina seraya tersenyum.
" Kak Willy, kita mau kemana...?" tanya Erina setelah duduk di samping William.
William menarik nafas dalam - dalam lalu dihembuskan secara perlahan. Dia mencari kata yang tepat supaya tidak membuat suasana semakin panik.
" Begini, saya belum tahu detailnya seperti apa tapi ada kabar buruk yang harus saya sampaikan..." ucap Willy pelan.
" Kabar buruk apa? Cepat katakan pada kami...!" ujar Tuan Regan.
" Mmm... pesawat yang di tumpangi Arvan mengalami kecelakaan dan jatuh di lautan lepas..."
" Apaa...! Tidak mungkin, kakak pasti bohong kan...!" teriak Erina.
" Willy, kamu jangan bercanda...!" hardik Nyonya Sarah.
" Tidak, Nyonya... pasti sekarang banyak stasiun tv yang menyiarkannya..."
William meraih remot dan menyalakan televisi untuk mencari update terbaru berita itu.
" Astaga... ini tidak mungkin..." lirih Erina.
Seketika tubuh Erina melemah dan jatuh dalam dekapan William. Begitu pula dengan nyonya Sarah yang tengah menangis dalam pelukan suaminya.
" Kak, aku harusnya bisa mencegah kepergian kak Arvan tadi. Kenapa dia tidak mau mendengarkan aku...?" Erina terus terisak.
" Tenanglah, kita berdo'a saja semoga Arvan selamat..." hibur William.
" Kenapa dia harus pergi, kak...!"
" Sudah, kamu harus tenang. Sekarang saya akan ke Bandara untuk mencari informasi yang lebih detail. Kau mau ikut atau di rumah saja...?"
" Saya ikut, kak..."
" Saya juga akan ikut kesana..." ucap Tuan Regan.
" Tidak, Tuan... Anda dan Nyonya harus tetap di rumah. Raka jangan diberitahu dulu soal ini. Kalian harus tetap tenang dan jaga kesehatan..." tutur William.
" Baiklah, terus kabari informasi terbaru padaku..."
" Iya, Tuan. Beberapa anak buah saya sudah berada di Bandara..."
Setelah berpamitan, William dan Erina segera berangkat menuju Bandara. Erina terus saja menangis menyesali dirinya sendiri yang tidak bisa membujuk Arvan untuk menunda keberangkatannya ke Indonesia.
" Jangan menangis terus, Rissa. Kita harus yakin bahwa Arvan pasti selamat..." ujar William.
" Erina takut kehilangan kak Arvan..."
" Arvan tidak akan pergi secepat ini, percayalah padaku..."
" Saya juga berharap demikian, kak. Saya tidak akan sanggup berpisah dengannya..."
Satu jam kemudian, mereka sampai di Bandara. Anak buah yang ditugaskan disana segera menyambut kedatangan William dan Erina.
" Ada informasi terbaru...?" tanya William.
" Iya, Tuan. Informasi terakhir, pesawat hancur dan bisa dipastikan tidak ada penumpang selamat. Jika memang ada, itu adalah sebuah keajaiban..." jawab salah satu anak buah William.
" Tidak...! Kak Arvan tidak boleh meninggalkan aku...!" rintih Erina.
" Tenanglah Erina, ini semua baru dugaan saja. Kita tidak boleh menyerah sebelum melihat jasadnya secara langsung..."
" Kak Arvan, jangan tinggalkan aku..." Erina bersimpuh di lantai.
" Rissa, jangan seperti ini. Kuatkan hatimu demi Raka dan orangtua Arvan..."
William mendekap erat tubuh Erina yang sangat lemah. Walaupun dalam hati kecil Erina mengatakan bahwa Arvan baik - baik saja, namun kenyataan bahwa pesawat yang ditumpanginya jatuh dan hancur membuat keyakinan Erina mulai goyah.
" Kak Arvan, aku yakin kau pasti selamat. Bertahanlah demi kami semua yang menyayangimu..." batin Erina.
" Erina, sebaiknya kita pulang saja. Kau butuh istirahat yang cukup, besok kita akan datang lagi kesini untuk mencari informasi terbaru..."
" Tapi, kak_..."
" Percayalah padaku, semua akan baik - baik saja..."
Erina menuruti ajakan William untuk pulang karena malam semakin larut. William tak ingin Erina sakit karena kurang istirahat dan banyak pikiran.
Tak ada percakapan dalam perjalanan pulang karena Erina hanya melamun dengan tatapan kosong. Hatinya terasa hampa, seperti separuh jiwanya telah menghilang.
" Kau sudah berjanji akan kembali, aku yakin kau pasti kembali..."
.
.
TBC
.
.