Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 132


" Masih mau lanjut baca lagi...?" tanya Arvan yang kini ikut duduk di samping istrinya.


" Tinggal sedikit lagi, kak. Ada apa...?" ucap Erina.


" Kalian itu mau cari bukti atau baca novel...?"


" Maaf, sayang. Tapi ini tinggal sedikit lagi kok..." ucap Erina dengan tersenyum.


" Hmmm... aku mau keluar dulu, mau nitip makanan apa...?"


" Tuan, saya sekalian ya? Samakan saja dengan Erina..." sahut Adam.


" Erina minta susu hamil, kau mau juga...?" ucap Arvan ketus.


" Saya lebih suka yang murni dari sumbernya, Tuan. Bukan kalengan..." sahut Adam sambil nyengir.


Plaakkk!


Kali ini buku harian Sera mendarat di kepala Adam. Siapa lagi jika bukan Erina pelakunya.


" Auwww...! Kamu kenapa sih, Rin? Lama - lama amnesia nih dipukul terus..." gerutu Adam.


" Lebih baik seperti itu...!" sahut Erina santai.


" Ini suami istri memang beneran jodoh. Hobinya sama, menyiksa orang lemah..." sungut Adam.


Erina tertawa melihat raut wajah Adam yang menggemaskan saat sedang marah.


" Sudah, kita baca lagi sampai selesai biar kak Arvan yang membeli makanan..." ujar Erina.


" Bela terus tuh kecoak...!" cibir Arvan.


" Kak, udah dong. Kalian bisa tidak berhenti bertengkar sebentar saja..." teriak Erina.


" Sudah, kalian merusak konsentrasi saja...!" omel William.


Mendengar omelan William, Arvan langsung mencium pipi istrinya dan buru - buru keluar dari Markas dengan mengajak Raka.


# # #


" Pa, kita mau kemana...?" tanya Raka.


" Kita ke rumah Uncle Robert yang kemarin sedang sakit itu, sayang..." jawab Raka.


" Memangnya ada apa, pa...?"


" Tadi penjaga disana mengatakan jika kakak tiri Robert datang dan membuat sedikit kekacauan..."


Arvan dan Raka sudah sampai di gerbang rumah Robert. Setelah membunyikan klakson, penjaga rumah membukakan gerbang. Kedatangan Arvan sudah dinantikan ibunya Robert.


" Selamat sore, Nyonya. Ada apa...?" tanya Arvan.


" Selamat sore, masuklah..." jawab pemilik rumah.


" Apa terjadi sesuatu dengan Robert...?"


" Tadi setelah kakaknya datang, Robert kembali histeris. Pasti ada sesuatu hal yang memancing emosi Robert..."


" Baik, nyonya. Saya akan menemui Robert sekarang. Saya harus tahu apa yang Robert ketahui tentang kematian Sera..."


" Naiklah, saya tidak sanggup melihat Robert seperti itu..."


Arvan mengajak Raka naik ke kamar Robert yang masih dijaga oleh dua anak buahnya.


" Bagaimana perkembangan Robert...?" tanya Arvan.


" Sekarang sudah lebih tenang, Tuan..."


" Jangan biarkan orang lain masuk selain ibunya, termasuk kakak tirinya itu...!" perintah Arvan.


" Baik, Tuan..."


Arvan masuk ke dalam kamar dan melihat Robert sedang duduk di tepi ranjang. Mereka saling tatap sejenak lalu Robert menundukkan kepalanya.


" Robert, apa benar kau yang membunuh Sera...?"


" Siapa kau...?" Robert kembali menatap Arvan.


" Saya temannya Sera..."


" Sera tidak punya teman sepertimu, aku tahu siapa teman dekatnya..."


" Kau benar, sebenarnya Sera adalah teman istriku. Saya adalah suaminya Erina. Tapi saya juga yang akan mengungkap kasus kematian Sera..."


" Saya bukan pembunuh Sera...!"


" Kalau begitu, katakan apa yang sebenarnya terjadi...! Kenapa ponsel Sera ada padamu. Bukankah kalian bertemu saat meeting siang itu dan kau membunuhnya karena di malam harinya berkas yang kau curi dari perusahaan istriku ternyata masih kalah tender...!"


" Aku tidak pernah mencuri berkas apapun dari Erina...!"


" Sera sendiri sudah mengakui dalam buku hariannya, bahwa Darwin sudah memaksanya untuk mengambil berkas proyek itu..."


" Darwin...? Bagaimana bisa dia memaksa Sera...? Berkas itu memang dibuat sendiri oleh Darwin dan saya hanya presentasi saja..."


" Apakah di malam kematian Sera, kau di Apartemennya...?"


" Lalu kau membunuhnya karena tidak terima dengan kekalahanmu dalam tender...!"


" Tidak, aku mencintai Sera... tidak mungkin aku membunuhnya..."


" Kau bohong! Kau pasti ingin membunuh janin dalam kandungannya! Kau memaksanya melayanimu hingga dia pendarahan hebat..."


" Sudah kukatakan padamu! Aku datang ke Apartemen saat Sera sudah tidak bernyawa. Aku juga tidak tahu jika Sera sedang mengandung..."


Robert menangis histeris, dia tidak menyangka kekasihnya akan pergi dengan cara yang tidak wajar.


" Kalau begitu katakan yang sejujurnya padaku...!" geram Arvan.


Raka yang sedari tadi hanya diam mulai angkat bicara karena takut keduanya emosi.


" Papa, bukan begitu caranya bertanya. Keluarlah, biar Raka bicara dengan Uncle Robert..." ucap Raka.


" Ini bukan urusan anak kecil, sebaiknya kau duduk saja..." perintah Arvan pada anaknya.


" Papa sedang emosi, duduklah dulu biar tenang..."


Raka mendekati Robert dengan tersenyum. Raka yakin jika bukan Robert yang membunuh Sera. Meskipun masih kecil, tapi insting Raka sangatlah kuat.


" Uncle, kita bicara saja berdua. Jangan dengarkan bualan papaku..." bisik Raka.


Robert menatap sekilas anak kecil di depannya lalu ikut tersenyum. Dia mengusap pelan kepala Raka dengan gemas. Robert teringat dengan cerita Sera tentang keponakannya yang sangat pintar dan menggemaskan.


" Kau pasti anaknya Erina, semoga tidak arogan seperti papamu..." ucap Robert pelan.


" Hehehee... tergantung lawannya, Uncle..."


" Sepertinya bicara denganmu lebih menyenangkan. Menginaplah disini menemani Uncle..." pinta Robert.


" Tidak bisa, Uncle. Papa tidak akan mengijinkan, apalagi mama. Mama lebih seram daripada papa..."


" Kau tahu, hidupku sangat tertekan selama ini. Kakakku hanya menjadikan aku alat untuk mencurangi perusahaan lain. Jika itu tidak kulakukan, dia mengancam akan menyakiti ibu. Tidak ada cara yang bisa kulakukan selain menuruti semua perintahnya..."


" Termasuk membohongi Sera...!" teriak Arvan.


Walaupun diam, namun Arvan tetap mendengarkan obrolan mereka berdua. Emosinya naik saat sang anak malah bercanda dengan orang asing di depannya.


" Tuan, saya sama sekali tidak pernah berbuat curang dengan perusahaan istri Anda. Saya tidak tahu Darwin bisa mendapatkannya dari mana..."


" Sera menuliskan tentang itu pada buku hariannya. Dia diancam oleh Darwin akan menyakitimu dan juga ibumu jika tak menuruti perintahnya..."


" Jadi Darwin tahu hubunganku dengan Sera selama ini..."


" Yang terpenting sekarang, kau jujur padaku tentang pembunuh Sera...!"


" Papa, bicaralah dengan pelan..." omel Raka.


" Saat tadi Darwin kesini, saya jadi curiga padanya. Dia tahu jika Sera hamil, padahal saya sendiri tidak mengetahuinya..." ucap Robert.


" Uncle, kenapa waktu ke Apartemen dan mendapati tante Sera terbunuh tidak langsung melapor kepada polisi...?" tanya Raka.


" Saya panik waktu itu, saya takut jika nantinya malah dituduh menjadi pelakunya..."


" Makanya sekarang kau jujur, saya menemukan hoodie yang dipakai orang misterius itu di kamarmu. Siapa lagi yang bisa masuk ke kamarmu selain dirimu sendiri..."


" Sumpah, malam itu saya datang kesana tidak memakai hoodie. Kalian pasti salah orang..."


" Lihatlah video ini..."


Arvan menyodorkan video rekaman di ponselnya saat pria misterius itu memasuki area Apartemen.


" Jika dari postur tubuhnya memang seperti kak Darwin. Apa kalian punya video yang lain...?"


" Tidak ada, hanya itu yang baru kami dapatkan..."


" Cobalah kalian cari cctv terdekat dari Apartemen Sera. Saya yakin kak Darwin memarkirkan mobilnya di luar area Apartemen..."


" Jika kau mau, bergabunglah untuk mencari keadilan buat Sera. Jangan mau ditindas oleh kakak tirimu itu. Erina bilang kau sangat berkompeten dalam berbisnis. Mulailah kariermu dari awal lagi, bangun citra baikmu di hadapan para kolega bisnis..."


" Terimakasih, setelah pembunuh Sera tertangkap... saya akan memulai kehidupan yang baru bersama ibu..."


Arvan semakin yakin jika bukan Robert pelakunya, makanya dia langsung mengajak pria itu untuk mengecek cctv di sekitar Apartemen Sera.


.


.


TBC


.


.


*** Beberapa part lagi TAMAT ***


.


.