
Saat mereka berempat sedang berbincang, Raka keluar dari kamar Hans menuju ke dapur.
" Sayang, cari apa...?" tanya Erina.
Raka tak menyahuti pertanyaan mamanya, dia langsung menuju kulkas untuk mengambil air minum.
" Rakaaa...!" teriak Erina.
" Sayang, udah jangan berteriak. Biarkan saja dulu, Raka masih kecil jangan dimarahi terus..." ujar Arvan.
" Biar aku saja yang bicara dengan Raka..." ucap Ricko.
Ricko menghampiri Raka di dapur lalu mengajaknya ke kamar untuk berbicara. Ricko memang orang yang lembut dalam bertutur kata sehingga dia banyak disukai orang. Berbeda dengan Arvan dan Hans yang bersikap sangat arogan apalagi dengan orang yang tidak disukainya.
" Raka, ikut Uncle sebentar..." tutur Ricko lembut.
" Ada apa Uncle...?" tanya Raka.
" Ayo kita ke kamar saja, Uncle pengen bicara berdua dengan Raka..."
" Iya, Uncle..."
Ricko mengangkat tubuh Raka dan membopongnya menuju kamar. Mereka nampak bercanda dan tertawa karena Ricko menggelitiki pinggang Raka.
Sampai di dalam kamar, mereka berdua merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Ricko mengatur kata yang tepat untuk berbicara dengan Raka agar anak itu tidak salah paham.
" Raka, boleh Uncle bertanya...?"
" Silahkan, Uncle... ada apa...?"
" Mmmm... apa cita - citamu...?"
" Raka tidak tahu, kakek meminta Raka untuk membantunya menyelidiki sebuah kasus setiap hari dan Raka mulai menyukainya. Kurasa menjadi detektif bukanlah cita - cita yang buruk..."
" Menjadi seorang detektif itu ada teorinya juga, Raka. Kamu harus bisa melihat gerak - gerik seseorang itu dari sudut yang tidak dimengerti orang lain. Insting kamu harus kuat saat berhadapan dengan musuh. Jadi, kamu harus banyak belajar tentang semua itu..."
" Jadi, Uncle mendukungku untuk menjadi seorang detektif...?"
" Tentu saja, kakek seorang detektif begitu juga saya, papa kamu dan Uncle Hans. Untuk itu, kamu juga harus belajar dengan serius supaya bakatmu bisa berkembang dengan baik..."
" Caranya, Uncle...?"
" Kamu harus berbaur dengan semua orang, baik itu tua maupun muda juga anak yang sebaya denganmu. Kamu harus bisa memposisikan diri menjadi apapun juga dimanapun kamu berada. Bersikaplah layaknya anak kecil di depan teman sebayamu. Jadilah anak yang suka bermain dengan teman sebayamu. Jadi, kamu harus mulai bersekolah..."
" Sekolah, Uncle...?"
" Iya, sekarang kamu harus tinggal menetap di suatu tempat agar bisa masuk sekolah formal..."
" Raka harus kemana Uncle...?"
" Kalau itu terserah orangtuamu, mereka hanya ingin yang terbaik untukmu. Uncle tahu kamu anak yang genius, jadi buatlah orangtuamu bangga..."
" Iya, Uncle... Raka akan menuruti semua ucapan mama dan papa. Apa papa dan mama akan tinggal bersama? Pekerjaan mama sangat banyak di London..."
" Soal pekerjaan bisa diatur nanti, yang penting kalian bertiga bisa tinggal bersama..."
" Tapi papa nyuruh Raka dan mama kembali ke London, Uncle..."
" Iya, itu hanya untuk sementara sampai keadaan aman disini. Kamu harus tahu kalau papa kamu itu sangat menyayangi kalian berdua..."
" Raka juga sayang sama papa, Uncle..."
" Anak yang hebat, Uncle akan selalu ada kapanpun kamu membutuhkan Uncle..."
Ricko menuturkan banyak hal pada Raka sehingga anak itu mempunyai wawasan yang lebih luas. Dia juga berusaha mengerti dengan keadaan saat ini.
# # #
Jam tujuh malam, Arvan mengajak Erina, Raka dan Hans untuk makan. Raka sangat senang karena Hans membelikan makanan kesukaannya. Ricko sudah pulang karena sudah ada janji untuk dinner dengan sang istri.
" Uncle, nanti Raka tidur sama Uncle ya...?" pinta Raka.
" Nanti mama tidur sama siapa...?" tanya Hans.
" Kan ada papa, kata Uncle Willy kalau Raka pengen punya adik tidak boleh ganggu tidur papa dan mama..." celoteh Raka.
" Uhukk... uhuukk...!"
Erina tersedak mendengar celotehan Raka yang membuatnya sangat malu. Arvan langsung memberikan minum kepada Erina yang terlihat shock dengan ucapan anaknya.
" Hahahaaa... betul itu, biarkan malam ini papa dan mama bikin adik buat Raka..." sahut Hans.
" Kak Hans apaan sih! Awas aja nanti kak Willy kalau bertemu...!" geram Erina.
" Tidak usah dengarkan mereka sayang..." ucap Arvan.
" Tapi kak Willy sudah keterlaluan, kak...!"
" Iya, nanti aku tegur kak Willy biar tidak bicara aneh - aneh pada Raka..."
Setelah makan malam selesai, Arvan dan Hans masuk ke ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Sedangkan Erina dan Raka sedang menonton tv di ruang tamu. Ibu dan anak itu lebih suka menonton film action yang menegangkan. Keduanya sangat serius sekali hingga Arvan dan Hans duduk di samping mereka.
" Auwww... astaga, sayang... kau mengagetkan aku saja..." pekik Erina.
Hans dan Raka hanya tersenyum melihat tingkah Erina, namun langsung mendapat tatapan tajam dari Arvan.
" Honey, maaf sudah membuatmu kaget..."
" Ah tidak apa - apa kak, aku terlalu fokus menonton film tadi..."
" Jadi ke London besok kan...?"
" Nggak ah, aku belum ada satu minggu disini. Masih ada dua hari lagi liburku..."
Arvan menatap Hans untuk meminta pendapatnya mengenai keberadaan Erina dua hari kedepan. Hans mengangguk setuju biar Erina tidak marah.
" Baiklah, dua hari ini full time buat kalian berdua..."
Raka dan Erina nampak bahagia luar biasa dengan janji yang Arvan ucapkan.
" Ya sudah, kalian tidurlah. Filmnya juga sudah selesai..." ujar Arvan lagi.
" Uncle Hans, gendong Raka ya...?" rengek Raka.
" Ok! Ayo kita tidur sekarang..." sahut Hans.
" Selamat malam Pa, Ma..." ucap Raka tersenyum.
Hans langsung membawa Raka ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
" Honey... tidurlah, besok kita jalan - jalan bertiga..." ucap Arvan pada Erina.
" Tidur dimana, kak? Cuma ada satu kamar kosong..." tanya Erina.
" Mmm... kita tidur satu kamar lagi..." jawab Arvan seraya tersenyum.
" Nggak mau...!"
" Ayolah, tidak ada kamar lain lagi sayang..."
" Tapi, kak_..."
" Tidak usah takut, aku akan bertanggungjawab sayangku..." bisik Arvan.
" Maksud kakak apa...?"
" Ayo masuk dulu ke kamar..."
Arvan memeluk Erina dari belakang lalu menuntunnya berjalan masuk ke dalam kamar. Sampai di dalam kamar, Arvan langsung mengunci pintunya dan menyalakan mode kedap suara.
" Kenapa pintunya dikunci, kak...?" tanya Erina.
" Biar tidak ada yang mengganggu kita, honey..." jawab Arvan lembut.
" Jangan macam - macam! Kakak tidur saja diluar...!"
" Untuk apa di luar kalau di dalam lebih hangat..." goda Arvan.
Arvan semakin mengeratkan pelukannya dan menciumi tengkuk Erina dengan lembut. Tak hanya itu, tangan Arvan mulai masuk ke dalam piyama yang dipakai Erina lalu mengusap lembut perut rata wanita dalam dekapannya.
" Kak, hentikan...!" ucap Erina tertahan.
" Aku mencintaimu, sayang... aku tak bisa menahannya sampai hari pernikahan..."
" Kak, jangan lakukan ini sekarang..."
" Maafkan aku sayang, semua ini sangat menyiksaku..." ucap Arvan parau.
Arvan mendorong tubuh Erina ke tempat tidur kemudian langsung merebahkan diri berdua. Ciuman panas di bibir membuat Erina tak bisa mengucapkan satu patah katapun.
Tangan Arvan mulai tak terkontrol, dia meraba setiap lekuk tubuh wanitanya dengan lembut. Sesekali bibirnya menjelajahi leher mulus Erina dan meninggalkan tanda kemerahan disana yang tak bisa dihitung jumlahnya.
" Aakkhhh! Hentikan, kak...!"
" Jangan menolakku sayang..."
Erina menghembuskan nafas pelan lalu kedua tangannya menangkup wajah Arvan dengan lembut.
" Kak, kita tidak bisa melakukannya sekarang..."
" Kenapa...?"
.
.
TBC
.
.