Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 82


" Astaga... apa yang mereka lakukan...?" ucap Erina kaget.


Erina menghela nafas panjang melihat kelakuan dua orang pria di hadapannya. Tempat tidur berantakan dengan selimut dan bantal yang berserakan di lantai.


" Apa mereka habis berperang...?" gumam Erina.


Erina memungut selimut dan bantal lalu ditaruh kembali keatas tempat tidur.


" Nggak anak nggak bapak kelakuannya sama, bertingkah kalau tidur. Pantas saja tak menjawab panggilanku..." gerutu Erina.


" Kak, bangun! Udah sore nih..." kata Erina di telinga Arvan.


" Hmmm... sebentar lagi..." sahut Arvan seraya memeluk Raka.


" Banguuun!" teriak Erina.


Arvan langsung membuka lebar matanya dengan jantung yang berdetak sangat kencang.


" Sayang, kau mau membunuhku...!" ucap Arvan kesal.


" Siapa suruh nggak jemput di kantor..."


" Maaf, aku ketiduran sayang. Soalnya tadi habis menangkap penjahat lalu nyuruh Raka tidur siang kemudian aku juga ikut terlelap..."


" Huft... menyebalkan...!"


" Ish... jangan marah, kita tidur lagi yuk...?" bujuk Arvan.


" Aku mau pulang...!"


Arvan sebenarnya ingin mengatakan tentang rencana kepulangannya ke Indonesia. Tapi melihat raut wajah sang istri, Arvan tidak tega melakukannya. Raka saja bisa marah apalagi ibunya, pasti akan lebih rumit seperti yang terjadi kemarin.


" Sayang_..." Arvan menatap wajah Erina yang tak mau menatapnya.


" Sayang, bolehkan aku pergi besok...?" ucap Arvan lagi.


" Mau kemana...?" Erina membalikkan badan lalu menatap suaminya.


" Aku harus kembali ke Indonesia..."


Erina nampak berpikir sebelum menjawab permintaan suaminya.


" Bagaimana dengan Raka...?" tanya Erina mulai berkaca - kaca.


Arvan tidak tahu harus berbuat apa agar sang istri tidak meneteskan airmatanya.


" Raka sebenarnya tidak mau aku pergi, tapi kita tidak punya pilihan lain, sayang. Aku janji akan kembali dalam satu minggu lagi..."


" Dulu, aku dan Raka sudah terbiasa hidup tanpamu. Sekarangpun kami berdua harus terbiasa tanpamu. Jangan datang sebelum urusanmu disana selesai..." ucap Erina seraya memalingkan wajahnya.


" Tidak sayang, aku tidak akan sanggup berpisah lama darimu..."


" Baiklah, kalau begitu kita selesaikan masalah kak Selly bersama. Aku tidak mau menunggu tanpa kejelasan seperti ini..."


" Sayang, ini terlalu berbahaya untuk kamu dan Raka..."


" Terserah, kak Arvan tinggal pilih aku ikut atau kita tidak usah bertemu sekalian...!"


Erina langsung keluar dari kamar meninggalkan Arvan yang masih menimbang ucapannya.


" Erin... Tunggu...!" teriak Arvan.


Erina menyambar kunci mobil yang sedang dimainkan Adam di meja tempat dia sedang mengobrol dengan William. Arvan yang hanya memakai kaos putih tipis tanpa lengan itu langsung berlari mengejar Erina.


" Sayang, tunggu dulu. Jangan seperti ini..." bujuk Arvan.


Melihat Erina masuk ke dalam mobil Adam, Arvan langsung mengambil kunci mobil milik William. Dia segera menyusul Erina yang mulai menjauh dari Markas.


" Ish... apalagi ini, apa mereka tidak bisa akur sebentar saja...!" gerutu Adam.


William langsung memerintahkan anak buahnya untuk menjaga Raka sedangkan dia dan Adam segera mengejar Arvan dan Erina.


" Tuan, apa mungkin mereka tidak berjodoh? Setiap hari ada saja yang mereka ributkan..." keluh Adam.


" Hhh... jangan bicara begitu. Mudah - mudahan bukan perkara yang penting..." sahut William.


" Tapi pikiran mereka itu masih seperti anak kecil, Tuan..."


" Sudahlah, kita cari mereka saja dulu..."


Erina memarkirkan mobilnya di sebuah danau yang cukup sepi karena hanya danau kecil yang tidak diketahui banyak orang.


Erina duduk dibawah pohon seraya menangis. Netranya menatap ke arah air yang bergoyang - goyang karena tertiup angin.


Arvan yang baru sampai langsung menepikan mobilnya di samping mobil Erina. Dia langsung berniat untuk menyusul Erina namun dicegah oleh William.


" Arvan, tunggu dulu...!" teriak William.


" Kak Willy, Adam... untuk apa kalian disini...?" tanya Arvan.


" Saya tahu dia istrimu, tapi kami berdua lebih mengenal dia daripada kau yang suaminya..."


" Maksud kalian apa...?"


" Erina sudah terbiasa hidup sendiri, tapi semenjak menikah denganmu dia lebih banyak berubah. Dia mulai menggantungkan hidupnya denganmu. Dia mulai membuka sisi hidupnya yang sebenarnya..."


" Maksud kak Willy selama ini dia berpura - pura untuk kuat. ..?"


" Begitulah, sebenarnya dia hanyalah wanita lemah yang berusaha kuat melawan kehidupan yang kejam..."


" Semua ini salahku, seharusnya dia tidak menderita seperti ini..."


" Sudahlah, sampai kapan kau menyalahkan dirimu sendiri...?"


" Apa yang harus kulakukan, kak? Erina mau ikut pulang ke Indonesia, sedangkan disana dia adalah target utama kakaknya sendiri..."


" Mungkin saja dengan Erina ikut, Selly bisa keluar dari persembunyiannya..."


" Aku tidak mau Erina jadi umpan, kak..."


" Baiklah, tapi bagaimana dengan Raka...?"


" Jangan khawatirkan anak itu, karena dia yang akan beraksi kali ini..."


Arvan nampak berpikir untuk memutuskan solusi yang akan dia ambil. Adam hanya menyimak karena belum tahu masalah yang sebenarnya.


" Baiklah, tapi bagaimana dengan kantor...?" tanya Arvan.


" Nanti kita minta Tuan Regan untuk kembali memimpin sementara sampai urusanmu selesai. Aku juga akan kembali ke kantor dan mengambil sedikit kasus saja di Agent..."


" Tuan William bisa menghandle markas, biar saya yang membantu Tuan Sebastian di kantor..." ucap Adam.


" Tidak, kau ikut ke Indonesia untuk mengawal Erina dan Raka..."


" Tapi, Tuan_..."


" Kak Willy benar, kau juga bisa mengunjungi keluargamu disana..." ujar Arvan.


" Terimakasih, Tuan..." Adam terlihat sangat senang.


# # #


Setelah Arvan, William dan Adam membuat rencana, mereka langsung menghampiri Erina yang duduk di bawah pohon seraya menangis.


" Hei... ini orang atau kuntilanak tertawa sendirian di bawah pohon..." goda Adam.


Erina langsung menoleh karena tahu siapa orang yang sudah meledeknya.


" Gajimu bulan ini aku potong 70% serta tak ada bonus...!" teriak Erina.


" Tidak masalah, Nona. Bulan ini saya bisa meminta gajiku kepada Tuan Regan langsung, mungkin bisa 2x lipat..." sahut Adam sambil tersenyum.


" Adaammm...!"


Erina langsung berdiri mendekati Adam lalu mencekiknya. Adam meronta karena tidak siap dengan serangan Erina yang mencekiknya dengan kuat.


" Kubunuh kau biar jadi makanan buaya di danau ini...!"


" Sayang, jangan bunuh dia. Nanti spesiesnya bisa punah..." Arvan langsung melerai Erina dan Adam.


Uhuukkk! Uhuukkk! Uhuukkk!


Adam merasakan nafasnya seakan sudah putus karena amarah bossnya.


" Sudah, jangan bercanda terus. Sekarang kita pulang..." ujar William.


" Dia mengataiku kuntilanak, kak...!" sungut Erina.


" Sudah, sayang. Biarkan saja, nanti dia bakal dapat karmanya..." kata Arvan.


" Kau juga, pergi sana! Jangan temui aku lagi...!" ucap Erina sinis.


" Hei... bawel, dengerin dulu orang mau bicara. Nyerocos saja kayak gerimis..." sahut Adam.


" Adaammm...! Kau bukan temanku lagi...!"


" Hahahaa... iya - iya, kamu adalah wanita tercantik di dunia ini. Jangan ngambek lagi, boss cantikku..."


" Sudah - sudah! Kita bahas rencana kita saja, jangan bercanda lagi...!" ucap Arvan dingin.


Erina yang masih marah pada suaminya langsung menjauh dan berdiri di belakang William.


" Sayang, kenapa malah berdiri disitu...?" tanya Arvan heran.


" Aku tidak mau dekat denganmu...!" sungut Erina.


" Sudah dong marahnya, besok kita akan pulang ke Indonesia..." bujuk Arvan.


" Aku tidak mau pergi denganmu...!"


" Sudah, hentikan drama kalian! Muak lihat perdebatan receh kalian...!" seru William.


Arvan menarik tangan Erina hingga wanita itu jatuh ke pelukannya. Arvan menghapus sisa - sisa airmata di wajah istrinya sambil tersenyum. Rambutnya juga terlihat acak - acakan.


" Benar kata Adam, mirip kuntilanak kalau kayak gini..." ucap Arvan menahan tawanya.


" Kak Arvan...! Kau suamiku atau musuhku...!" teriak Erina kesal.


" Iya, maaf. Sekarang kita bicara yang serius. Tidak ada bercanda lagi..." ujar Arvan.


Mereka duduk diatas rerumputan dan membicarakan soal rencana yang akan mereka lakukan di Indonesia nanti. Arvan berharap rencananya kali ini akan berhasil dan Selly bisa segera tertangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


" Kak Willy tidak ikut...?" tanya Erina.


" Tidak, Ris. Saya harus menjaga Tuan dan Nyonya Sebastian. Urusan kantor dan Markas akan saya handle semua..." ujar William.


" Bilang saja tidak mau berpisah dengan istrinya..." ledek Erina.


" Memangnya kau tidak? Kau lebih parah daripada aku..." cibir William.


" Sudah, sayang. Jangan dengarkan ucapan kak Willy..." tegur Arvan.


Erina bersandar dalam dada bidang suaminya dengan manja. Sesekali dia mencium pipi suaminya tanpa malu di hadapan Adam dan William.


" Dasar boss tak ada sopan santunnya, bermesraan di depan jomblo..." umpat Adam dalam hati.


.


.


TBC


.


.