
" Berhenti...!" seru Raka.
" Ada apa, Raka...?" tanya Arvan yang mengerem mendadak.
" Pa, ada respon dari alat pelacak itu di laptop Raka..."
" Benarkah...? Ya sudah, kita langsung kesana sekarang..."
" Pelan - pelan dulu, pa. Kita berada di perempatan jalan, kita pastikan ke arah yang benar..."
" Coba kita belok kiri, sepertinya Darwin memiliki rumah pribadi di kawasan ini..." ucap Robert.
Arvan melajukan mobilnya secara perlahan hingga sampai di sebuah rumah mewah. Rupanya penjagaannya cukup ketat sehingga sulit untuk bisa masuk ke dalam.
Arvan dan yang lainnya turun dari mobil setelah memarkirkannya sedikit menjauh dari rumah Darwin. William memanggil sebagian anak buahnya untuk menyusul karena tidak tahu jumlah musuh di dalam.
" Van, kita masuk sekarang..." kata William.
" Tunggu, kak. Kita tidak tahu posisi Monica di sekap dimana, kita tunggu Raka melacak keberadaan putrimu terlebih dahulu. Kakak harus tenang, jangan gegabah dalam mengambil langkah..." sahut Arvan.
" Pa, lihat ini! Kak Monica ada di bagian tengah rumah ini..." ucap Raka.
" Ya sudah, kita masuk satu persatu lewat samping. Raka, kau bersama Uncle Adam dan jangan sampai terpisah. Kak Willy bersama Robert dari belakang. Saya dan Hans akan mengalihkan perhatian para penjaga..." kata Arvan.
" Van, kau yakin Raka ikut masuk...?" tanya Robert.
" Tidak apa - apa, dia sudah terbiasa..." jawab Arvan.
Semua anak buah Arvan sudah siaga diluar dan siap untuk menyerang saat waktunya tepat. Sekarang mereka fokus untuk menemukan Monica terlebih dahulu.
# # #
" Daddy, aku mau pulang...!" teriak Monica.
Gadis kecil itu tak berhenti menangis sedari tadi memanggil mommy daddynya.
" Diamlah...! Akan kusumpal mulutmu itu jika tidak berhenti menangis..." hardik Darwin.
" Lepaskan aku...!"
" Aku tidak akan melepaskanmu sebelum keluarga Sebastian datang kesini. Kita akan bermain petak umpet sebentar dengan mereka. Kita lihat apakah mereka bisa menemukanmu atau tidak... hahahaa..."
" Daddy pasti bisa menemukanku disini, kau tidak akan selamat.. !" teriak Monica.
" Kita lihat saja, sebesar apa usaha mereka untuk mencarimu..." seringai Darwin.
Anak buah Darwin masuk ke tempat Monica disekap. Dia seperti membisikkan sesuatu kepada bossnya. Saat ini Monica di sekap di ruang bawah tanah.
" Siapa yang berani mengacau...?!" geram Darwin.
" Mereka ada dua orang dan berbuat onar di depan, Tuan..."
" Bereskan mereka...!"
" Siap, Tuan..."
Darwin tahu mungkin itu suruhan Erina dan William untuk menyelamatkan Monica. Dia tersenyum meremehkan karena mereka hanya berdua datang ke sarang harimau.
" Lihat saja William, kali ini kau harus mati ditanganku...!" seringai Darwin.
Sementara itu, Raka dan Adam sudah sampai di dalam rumah. Mereka menunggu kedatangan William dan Robert dari bagian belakang.
" Uncle, kak Monica berada di titik ini, tapi ruangannya kosong..." ucap Raka.
Adam memperhatikan ponsel Raka lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
" Sepertinya ada ruang bawah tanah disini..." kata Adam.
Mereka segera mencari pintu menuju ruang bawah tanah di sekitar tempat itu.
" Uncle, coba lihat lantai itu! Posisinya berbeda dari yang lain..." bisik Raka pada Adam.
" Ya sudah, kita coba kesana..." sahut Adam.
William membuka pintu ruang bawah tanah dengan menekan tombol yang menempel di dinding. Saat pintu terbuka, mereka langsung masuk dengan senjata di tangan masing - masing.
" Tempatnya cukup luas, kita cari ruangan yang mana...?" bisik Adam.
" Kita berpencar saja..." sahut Arvan.
Saat mereka hendak bergerak, beberapa anak buah Darwin keluar dari salah satu ruangan. Mereka berkeliling lalu naik ke lantai atas. Mungkin Arvan dan Hans membuat kekacauan diatas bersama anak buahnya.
Salah satu anak buah Darwin melaporkan bahwa diatas terjadi baku tembak dan perkelahian.
# # #
Arvan dan para anak buahnya mendesak mundur anak buah Darwin setelah perkelahian sengit dan juga banyaknya peluru yang dimuntahkan dari senjata milik anak buah Arvan.
" Van, semua musuh diluar sudah tumbang, kita tidak tahu keadaan di dalam. Semoga Kak Willy bisa menemukan Monica..." kata Hans.
" Ayo kita masuk dan bantu mereka..." ujar Arvan.
" Tapi lenganmu tertembak, Van..."
Arvan memang tertembak saat melindungi salah satu anak buahnya yang hampir tertembak.
Sementara di ruang bawah tanah, William menghadang Darwin yang ingin membawa Monica pergi dari tempat itu.
" Darwin...! Beraninya kau menculik putriku...!" teriak William.
" Hahahaa... akhirnya kita bertemu William. Sudah lama aku menantikan pertemuan ini..." Darwin tertawa lepas.
" Jadi selama ini kau memperalat Robert untuk keuntunganmu sendiri..." geram William.
Adam, Robert dan Raka bersembunyi tidak jauh dari mereka agar bisa merebut Monica dari tangan Darwin.
" Daddy... tolong Monic...!" teriak gadis kecil dalam genggaman Darwin.
" Lepaskan putriku...!"
" Hahahaa... harusnya dia jadi putriku, bukan kau...!" teriak Darwin.
" Hah... apa yang kau katakan...?" sahut William heran.
" Harusnya dia jadi milikku, kau telah merebut kekasihku...!"
" Kekasihmu? Apa maksudmu...?"
" Dia adalah calon istriku, tapi kau merebutnya dariku...!"
" Jadi karena itu kau menculik putriku...? Kau sangat keterlaluan, seharusnya kau sadar kenapa istriku meninggalkanmu..."
" Kau pikir aku peduli? Sekarang aku akan mengambil milikku kembali..."
" Kau sungguh menyedihkan, Darwin. Kau sudah punya anak istri tapi masih mengharapkan wanita lain..." cibir William.
" Apapun akan aku lakukan untuk merebut dia darimu..." seringai Darwin.
" Jika kau menginginkan istriku, kenapa harus membunuh Sera...?"
" Hahahaa... gadis itu, sungguh gadis yang malang. Seharusnya dia tidak bermain - main denganku..."
" Apa maksudmu...? Sera tidak pernah berurusan dengan orang sepertimu..."
" Ya, kau benar. Tapi dia sudah menipuku dengan memberikan berkas palsu itu..."
Dari kejauhan Adam memberi kode agar William mengorek lebih detail tentang kematian Sera sebagai barang bukti di pengadilan nanti.
" Apa hanya karena itu kau membunuhnya...? Hanya karena masalah kalah tender...?" cecar William.
" Bukan hanya itu, aku sangat membenci semua orang yang berhubungan dengan keluarga Sebastian. Regan Sebastian telah membunuh pamanku, aku akan membalas dendam kepada seluruh keluarganya...!"
" Pamanmu adalah seorang mafia obat - obatan terlarang. Dia tertembak saat melarikan diri dari kejaran polisi, Darwin..."
" Semua itu hanyalah kebohongan yang sudah diatur untuk menjebak pamanku. Kalian hanya ingin menjatuhkan perusahaan pamanku yang sedang berkembang pesat..."
" Kau salah, Sera hanya bekerja di perusahaan bukan bagian dari keluarga Sebastian..."
" Hah... Gadis itu seharusnya tidak menjalin hubungan dengan adikku yang bodoh itu. Dengan kehamilannya itu, Robert bisa mendapatkan setengah dari saham perusahaanku. Sampai kapanpun, Robert tidak boleh memiliki keturunan..."
Robert yang mendengar ucapan kakaknya itu langsung menampakkan kilat amarah di matanya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan kakaknya. Selama ini dia selalu mengalah demi keselamatan ibunya.
Robert tidak bisa tinggal diam lagi sekarang. Dia segera mengarahkan senjatanya tepat di kepala Darwin. Adam yang melihat itu dengan cepat mencegahnya.
" Jangan lakukan itu, kematian adalah hukuman yang paling mudah untuknya..." ujar Adam.
" Saya sudah tidak tahan lagi dengan kelicikannya...!" geram Robert.
" Tenanglah, kita disini untuk menyelamatkan Monica dan mencari keadilan untuk Sera..."
" Selama ini saya telah dibodohi karena kelemahan itu..."
" Jangan putus asa, kita akan buat dia mendekam di penjara seumur hidupnya..."
Tak lama datanglah beberapa orang anak buah Darwin dari luar dan membisikkan sesuatu kepada Bossnya.
" Pegang anak ini, jangan sampai lepas...!" perintah Darwin.
" Darwin, lepaskan Monica...!" teriak William.
" Dia akan ikut bersamaku, William. Jika kau berani mendekat, nyawa anakmu pasti akan melayang..." seringai Darwin.
" Darwin, kau sungguh keterlaluan...!"
Doorrr! Doorrr! Doorrr!!!
.
.
TBC
.
.