
Satu minggu kemudian,
Hari ini Arvan sangat malas untuk berangkat ke kantor. Dia hanya rebahan saja di tempat tidur bersama Raka. Erina juga tidak diijinkan untuk keluar dari rumah.
Erina merasa sangat bosan berada di dalam kamar tidak melakukan apa - apa. Daripada hanya berdiam diri saja, Erina membuka laptop dan memeriksa beberapa file kantor di London yang dikirimkan oleh William.
Erina tidak ingin William dan Sera berkerja keras sendirian disana. Sebisa mungkin Erina tetap melaksanakan kewajibannya walaupun tidak terjun langsung ke lapangan.
" Sayang, apa yang kau lakukan...?" tanya Arvan yang sedang bermain game dengan Raka setelah tadi muntah.
" Ini cuma revisi data untuk meeting dengan klien di London, kak..." jawab Erina.
" Kamu mau ikut ayah ke London? Tega ninggalin aku sendirian disini...?"
" Siapa yang pergi sih, kak. Erina cuma mengerjakan proyek ini dari sini..."
" Janji tidak akan pergi? Aku tidak mau jauh dari kalian..."
" Kenapa suamiku jadi manja begini sih...?"
Arvan duduk di samping istrinya yang masih fokus dengan laptop di hadapannya.
" Sayang, kau lebih senang tinggal disini atau di London...?" tanya Arvan yang kini bersandar di bahu istrinya.
" Aku tidak tahu, kak. Disini hanyalah kenangan buruk yang kumiliki. Satu - satunya kenangan indah adalah persahabatan dengan Samuel. Walau akhirnya dia melakukan sebuah kesalahan, tapi tetap saja dia teman terbaikku. Dia rela mengorbankan nyawanya untuk kita..."
" Sudahlah, kita do'akan saja yang terbaik untuknya, sayang. Mulai sekarang dan seterusnya, akulah yang akan menjaga dan melindungimu..."
Erina menatap Arvan yang masih bersandar di bahunya dengan memejamkan matanya.
" Kak, boleh Erin bicara jujur...?"
" Apa? katakan saja, sayang..."
" Kakak itu berat, lama - lama Erin bisa jatuh kalau begini terus..." ucap Erina sambil nyengir.
" Huft... bilang aja nggak boleh...!" sungut Arvan.
" Apa sih, kak! Malu tuh sama anak, dia aja anteng main sendiri..."
" Biarin, kalau Raka sudah biasa sama mama. Kalau papa baru sebentar, jadi sekarang papa pengen puasin diri bersama mama sebelum junior kedua datang..."
" Jangan mulai deh, pa! Mama lagi kerja..."
" Ish... Mama nggak asik!"
Arvan langsung beranjak dari samping Erina dan berbaring di samping Raka. Tak lama, pintu kamar ada yang mengetuk beberapa kali. Dengan sangat malas Arvan bangun untuk membukanya.
" Ibu, ada apa? Masuklah..." ucap Arvan ketika melihat ibunya di depan pintu.
" Tidak usah, ajak Erina ke bawah. Ayahmu mau membicarakan sesuatu..." sahut ibu.
" Iya, Arvan panggil Erina dulu, bu..."
" Ya sudah, ibu duluan..."
Arvan kembali menutup pintu dan menghampiri istrinya yang masih serius bekerja.
" Sayang, di suruh ibu ke bawah. Katanya ada yang mau ayah bicarakan dengan kita..." ujar Arvan.
" Iya, aku save dulu filenya..." sahut Erina.
" Raka, mau ikut ke bawah apa disini? Papa dan mama ada keperluan sebentar dengan kakek..."
" Raka disini saja, pa. Nanti menyusul kalau sudah selesai mainnya..." ucap Raka.
# # #
Arvan dan Erina sudah duduk berhadapan dengan orangtuanya. Mereka semua terdiam sejenak sebelum ayah mulai berbicara.
" Van, kapan kalian jadi pindah...?" tanya Ayah.
" Belum tahu, Yah. Pekerjaan Arvan disini sangat banyak..." jawab Arvan.
" Kalau begitu, Erina dan Raka akan ikut bersama ayah ke London besok..."
" Jangan, Yah. Arvan tidak mau berpisah dengan Erina dan Raka..."
" Tapi pekerjaan Erina di kantor juga sangat banyak. Klien bisa menarik investasi mereka jika bukan Erina sendiri yang turun tangan..."
" Sayang, kau tidak akan pergi kan...? Lagian sekarang ini kamu sedang hamil..." ucap Arvan menghiba.
Erina bingung harus menjawab apa, keduanya sangat penting untuk Erina. Dia tidak ingin mengecewakan suami ataupun ayahnya.
" Aku tidak mungkin memilih diantara ayah atau kak Arvan. Jangan memberikan pilihan yang sulit untuk Erina..." ucap Erina sendu.
" Yah, jangan membuat Erina bingung. Kasih dia waktu untuk berpikir..." tegur Ibu.
" Sayang, kita sudah sepakat untuk terus bersama kan...?" ucap Arvan.
" Beri waktu Erina untuk berpikir ya...?" Erina menatap suaminya sendu.
" Sayang_..."
" Biarkan istrimu sendiri dulu, Van..." ujar Ibu.
Erina duduk di halaman belakang dengan tatapan kosong. Hatinya sedang kacau saat ini. Erina tidak bisa memilih salah satu dari mereka. Ayah Regan, sosok orangtua yang selalu Erina impikan sejak kecil. Beliau memberikan Erina kasih sayang layaknya orangtua kandung kepada anaknya. Sedangkan Arvan, dia adalah suami dan juga ayah dari anak - anaknya. Dia juga tidak mungkin meninggalkan orang yang dia cintai sendirian. Arvan adalah orang yang bisa membuat Erina merasakan cinta yang tulus.
" Mama menangis...?"
Raka menghapus airmata di wajah ibunya. Hal inilah yang selalu membuat Raka lemah, dia tidak bisa melihat ibunya bersedih.
" Tidak, sayang. Mungkin ada debu yang masuk ke mata mama..." elak Erina.
" Mama tidak pernah pandai berbohong di depan Raka. Apa papa yang membuat mama menangis? Prinsip Raka masih tetap sama, jika ada yang menyakiti mama... Raka tidak akan pernah memaafkannya..."
" Mama tidak apa - apa, ayo pergi. Mama ingin pergi ke suatu tempat hanya berdua saja denganmu..."
" Mau kemana, Ma...?"
" Nanti juga kamu tahu, sayang..."
Akhirnya Raka mengikuti langkah Erina masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobilnya. Arvan yang sedari tadi mendengarnya merasa sangat bersalah melihat istrinya menangis.
" Maafkan aku, Erin. Untuk kesekian kalinya aku membuatmu menangis. Mungkin aku memang egois, namun aku juga tidak bisa jauh darimu..." batin Arvan.
Arvan membiarkan Erina pergi. Selama ada Raka yang menemani, Arvan merasa tenang. Arvan akan mencoba untuk bisa mengerti keinginan istrinya dan tidak ingin mengekangnya lagi.
Kini Erina dan Raka sampai di pemakaman orangtua Erina. Erina hanya berkeluh kesah dalam hati di depan pusara ibunya karena tidak ingin Raka mendengarnya.
" Jika mama ingin menangis, menangislah. Raka akan selalu ada untuk mama..." ucap Raka.
" Apa boleh mama minta pendapatmu, sayang...?" tanya Raka.
" Pendapat apa, Ma...?"
" Kakek Regan meminta mama untuk kembali ke London besok, tapi papa kamu tidak mengijinkan mama pergi. Mama tidak tahu harus mengambil keputusan apa. Kakek dan papa sama - sama penting untuk mama, jadi tidak mungkin mama memilih salah satunya..."
" Raka bisa mengerti perasaan mama. Raka akan ikut kemanapun mama pergi, jadi Raka juga akan memikirkan masalah ini secepatnya..." ucap Raka.
Erina tersenyum dengan penuturan anaknya yang membuatnya menjadii lebih tenang. Dipeluknya tubuh sang anak dengan erat.
" Mama sangat bangga memiliki anak sepertimu. Kamu selalu membuat mama bangga, sayang..."
" Mama jangan menangis lagi ya...?"
" Iya, sayang. Mama tidak akan menangis lagi. Apalagi sekarang ada adik kamu yang harus kita jaga bersama - sama..."
" Nanti adik Raka laki - laki atau perempuan, Ma...?"
" Mama juga belum tahu, sayang. Nanti tunggu beberapa bulan lagi..."
Erina sedikit melupakan masalahnya saat Raka mengajaknya bercerita tentang masa depan yang telah menanti.
" Oh iya, sayang. Kita ke makam Uncle Sam dulu ya? Sudah sampai disini, sekalian saja kita kesana..." ajak Erina.
" Iya, Ma..."
Erina kembali mengusap nisan kedua orangtuanya sebelum beranjak dari tempat itu.
" Ayah, Ibu... Erina dan Raka pergi dulu. Lain kali kami akan datang kesini lagi..." ucap Erina.
Setelah berpamitan pada makam kedua orangtuanya, Erina dan Raka segera beranjak menuju makam Samuel yang masih satu area.
Saat Erina sedang menaburkan bunga diatas tanah merah itu, tiba - tiba ada yang memanggilnya.
" Erina...!"
.
.
TBC
.
.