
" Sebenarnya begini, Tuan. Kemarin Sera menemui salah satu saingan bisnis perusahaan ini..." ucap Adam pelan.
" Jadi, berkas presentasi hari ini dijual ke perusahaan lain...?" tanya Arvan.
" Belum tahu, Tuan. Saya akan lihat bagaimana nanti saat presentasi. Saya berharap Nona Erina tidak ikut meeting karena saya akan mengajak Sera. Saya takut terjadi hal buruk disana dan tidak mampu menjaga Nona..."
" Erina juga terlihat lelah dan tidur sekarang. Pergilah, aku percaya kau bisa menangani masalah ini..."
" Baik, Tuan. Saya juga akan menyelidiki keterlibatan para koruptor dengan Sera..."
" Semoga kau berhasil mengungkap kasus ini. Kau harapanku saat ini..." ucap Arvan.
" Saya akan berusaha yang terbaik, Tuan..."
Setelah melihat Sera datang, Adam langsung berpamitan pada Arvan dan keluar dari ruangan CEO dengan membawa map di tangannya.
" Ser, ikut aku meeting sekarang..." ujar Adam.
" Meeting untuk proyek Mall...?" tanya Sera.
" Iya, ayo berangkat sekarang..." jawab Adam.
" Bukankah Erina yang akan berangkat meeting? Ini proyek besar, Dam..."
" Benar, ini proyek yang sangat besar. Kita tidak boleh sampai kalah, presentasi yang sudah dibuat Erina bulan lalu sangat luar biasa. Aku sangat optimis bisa memenangkan proyek kerjasama ini. Kuharap kamu bisa membantuku saat presentasi nanti..." Adam menatap lekat wajah Sera yang terlihat gugup.
" Tapi, Dam... biasanya Erina yang melakukan presentasi dan aku hanya menemaninya saja..."
Adam meraih tangan Sera dan menatap mata gadis itu dengan serius.
" Jangan selalu bergantung pada orang lain. Kau harus melangkah sesuai keinginan hatimu, bukan perintah seseorang. Jadilah gadis yang ceria seperti biasanya, kamu adalah sahabatku. Selamanya kita akan saling percaya dan akan menghadapi semua masalah bersama sebesar apapun itu..."
" Terimakasih, Dam. Kau sahabat yang paling baik..."
Sera memeluk Adam sembari menangis dalam dekapan sahabatnya itu. Ada rasa sesak di hatinya dengan ucapan Adam yang begitu tulus kepadanya.
" Ayo kita berangkat, sebentar lagi meeting di mulai..." ujar Adam dengan tersenyum.
Sera tak melepaskan genggaman tangannya hingga sampai di parkiran. Gadis itu hanya ingin merasakan kenyamanan berada di samping sahabatnya.
" Kamu kenapa, Ser...?" tanya Adam heran.
" Maafkan aku, Dam. Selama ini aku selalu menyusahkan dirimu dan juga Erina..."
" Kita berteman sudah lama, kalian berdua sudah aku anggap seperti adikku. Jangan pernah sungkan untuk berbagi suka dan duka kepadaku..." Adam merasa ada sesuatu yang aneh dengan ucapan Sera.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan segera menuju tempat meeting di kantor klien yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantornya. Tak ada pembicaraan sama sekali di antara keduanya hingga Adam memarkirkan mobilnya di depan gedung perkantoran tempat diadakannya meeting.
Adam dan Sera segera menuju lobby dan berjalan ke arah recepsionis untuk menanyakan ruangan meeting dengan menunjukkan kartu identitas perusahaan.
Saat yang bersamaan, seorang pria berkebangsaan America juga datang dan menanyakan hal yang sama.
" Mr. Adam, how are you...?" sapa orang itu yang ternyata adalah saingan bisnisnya yang bernama Robert.
" Hey... Mr. Robert, I'm fine. Anda juga akan mengikuti tender ini...?" tanya Adam.
" Yes, ini proyek besar jadi saya tidak akan melewatkan kesempatan..."
" Semoga berhasil, Mr. Robert..."
" Terimakasih, semoga hari ini Anda beruntung..."
Sera sedari tadi hanya terdiam dan membuang pandangan ke segala arah walaupun Mr. Robert menatapnya dengan intens. Adam juga merasa aneh melihat raut wajah Sera yang tiba - tiba terlihat murung dan juga gugup.
" Kau tidak apa - apa...?" bisik Adam pada Sera.
" Iy... iya..." jawab Sera pelan.
Mereka bertiga memasuki ruang meeting yang di dalamnya sudah ada pemilik perusahaan dan beberapa petinggi perusahaan lain yang akan melakukan presentasi seperti yang dilakukan Adam dan Robert.
" Selamat siang, Mr. Harry... sepertinya kami datang terlambat..." sapa Adam dengan senyum ramah kepada semua orang.
Robert juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Adam. Dia tersenyum cukup hangat terhadap semua saingan bisnisnya.
" Tidak masalah, meetingnya belum di mulai. Silahkan duduk Tuan - Tuan..." jawab Mr. Harry.
Meeting di mulai dan beberapa orang sudah melakukan presentasi dengan sangat baik. Kini hanya tinggal giliran Adam dan Robert.
" Mr. Adam... silahkan presentasi Anda..." ucap Mr. Harry.
" Saya terakhir saja, silahkan Mr. Robert terlebih dahulu..." jawab Adam.
" Terimakasih, Mr. Adam..." sahut Mr. Robert.
Robert melakukan presentasinya dengan sangat baik namun membuat Adam tersenyum seakan meremehkan.
" Bagus sekali presentasi Anda, Tuan. Tapi sepertinya sedikit pasaran..." ucap Adam dengan senyum mengejek.
" Apa maksudmu...!" sahut Robert mencoba tetap tenang.
" Tidak ada maksud apapun, saya hanya pernah melihat presentasi seperti itu di suatu tempat entah dimana saya lupa..."
Sera terkesiap mendengar ucapan Adam. Tatapan tajam pria itu membuat Sera semakin takut dan menunduk.
" Oh iya, saya belum mempresentasikan hasil kerja keras saya akhir - akhir ini. Boleh saya minta waktu untuk presentasi...?"
" Oh, silahkan Tuan..."
" Dalam proyek ini, akan ada perubahan baru dalam bentuk setiap lantai dari gedungnya. Akan ada dekorasi unik dalam setiap lantai dengan gaya arsitektur yang berbeda dari setiap negara yang bisa membuat pengunjung merasa nyaman dan merasakan bagaikan sedang berada di luar negeri. Untuk masalah anggaran, saya tidak akan mengambil banyak keuntungan karena Anda adalah rekan bisnis yang sangat baik dan dapat dipercaya. Saya yakin usaha yang didasari dengan kejujuran akan membuahkan hasil yang maksimal..." ujar Adam.
Sera hanya diam di samping Adam dan di tatap tajam oleh Robert. Rasa takut menghinggapi Sera membuat Adam merasa ada sesuatu yang aneh setelah presentasinya selesai.
" Baiklah, saya akan memutuskan siapa yang akan menangani proyek ini..." ujar Mr. Harry.
Mr. Harry menjeda kalimatnya dan menghirup nafas panjang sebelum mengumumkan pemenang tender.
" Pemenang tender kali ini adalah dari perusahaan yang diwakili oleh Mr. Adam. Selamat untuk Anda, presentasi yang sangat luar biasa. Saya menyukai konsep yang Anda buat..." ucap Mr. Harry.
" Terimakasih, Mr. Harry atas kesempatan yang Anda berikan pada perusahaan kami. Kami akan bekerja dengan profesional..."
Semua mengucapkan selamat kepada Adam dan Sera kecuali Robert yang langsung keluar dari ruangan meeting.
# # #
" Sial...! Beraninya dia menipuku...!" teriak Robert di dalam mobil.
Robert melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantornya. Amarahnya sedang memuncak saat ini sehingga dia bukannya menuju kantor malah masuk ke sebuah Bar yang masih tutup namun ada aktifitas terselubung di dalamnya.
Robert tidak terima dengan kekalahannya kali ini. Dia terlihat bodoh di hadapan Adam dan berencana untuk membalas dendam.
Sementara itu, Adam dan Sera kembali ke kantor dan langsung menemui Erina. Adam sangat antusias bercerita tentang konsep mereka yang berhasil memenangkan tender.
" Sera, kenapa dari tadi kamu sangat murung...? Apa terjadi sesuatu padamu...?" tanya Erina.
" Tidak, aku hanya merasa lelah saja..." jawab Sera dengan memaksakan senyumnya.
" Sampai kapan kau seperti ini, Ser. Kau berubah sejak aku datang..." ujar Erina.
" Maaf, aku akan menceritakannya lain kali. Permisi..." pamit Sera.
" Sera... tunggu...!" panggil Erina.
Sera langsung keluar dari ruangan Erina dan pergi entah kemana. Dia tidak kembali ke mejanya, mungkin langsung pulang ke Apartemennya. Adam hendak mengejar namun di cegah oleh Erina.
" Dam, biarkan saja dulu. Mungkin Sera butuh waktu untuk sendiri..." ujar Erina.
" Tapi, Rin... aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi padanya. Perasaanku tidak enak memikirkan Sera..." sahut Adam.
" Begini saja, nanti malam kita kesana untuk melihat keadaannya. Semoga dia bisa lebih tenang, dari sorot matanya terlihat dia sangat tertekan..." ucap Arvan.
" Baiklah, kak Arvan mau ikut...?" tanya Erina.
" Tentu saja, selama aku bisa... akan kuusahakan untuk menemani kemanapun kau pergi..."
# # #
Malam harinya usai dari kantor karena harus lembur mengerjakan beberapa file yang belum selesai, Erina segera mengajak Arvan, Adam dan Raka untuk segera pulang.
" Kak, pulang yuk...?" ajak Erina.
" Jadi ke Apartemen Sera...?" tanya Arvan.
" Jadi, aku sangat mencemaskan dia. Benar kata Adam, perasaanku juga tidak enak memikirkan Sera..."
" Ya sudah, kamu panggil Adam biar aku cari Raka di kamar dulu..."
Setelah semua sudah bersiap untuk pulang, Erina yang tiba - tiba terlihat manja langsung meminta gendong di punggung suaminya.
" Kak, gendong... Erin lelah..." rengek Erina.
" Hmm... baiklah, ayo naik tuan puteri..." jawab Arvan dengan membungkukkan badannya.
" Uncle, Raka juga minta gendong..." rengek Raka ikut - ikutan mamanya.
" Ish... kenapa kau juga ikut ngidam, bocil...!" gerutu Adam.
Adam langsung meraih tubuh kecil Raka dan di gendong di depan. Raka terlihat senang dan memeluk leher Adam. Mereka menuju tempat parkir untuk mengambil mobil dan segera menuju Apartemen Sera.
Satu jam kemudian, mereka sampai di depan pintu Apartemen Sera. Adam menekan bel berkali - kali namun tak ada sahutan dari dalam. Karena penasaran, Erina membuka password kamar Sera yang telah dia hafal karena mereka bertiga sering menghabiskan waktu disana sejak masih kuliah dulu.
" Seraa...!" panggil Erina.
" Sepertinya sepi, sayang. Apa Sera tidak ada disini...?"
" Biar saya cek ke kamar dulu..." ujar Adam yang masih menggendong Raka.
" Biar aku aja, Dam. Takutnya Sera sedang ganti baju..." sahut Erina.
Erina membuka pintu kamar perlahan dan menyembulkan kepalanya ke dalam. Namun dia kaget melihat kamar Sera dan sontak berteriak.
" Seraaa...!!!"
.
.
TBC
.
.