Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 44


" Kak Hans_...!" teriak Erina.


Arvan dan Delia yang mendengar teriakan Erina langsung bergegas menghampiri.


" Sayang, ada apa...?" tanya Arvan.


Arvan dan Delia terkejut melihat Hans tergeletak tak sadarkan diri di lantai.


" Hans_...!"


Arvan mendekati tubuh Hans dan mencium bau menyengat dari tubuhnya.


" Dia mabuk...? Apa yang terjadi padanya...?" batin Arvan.


" Biar aku yang urus Hans, kalian buat makanan sana aku lapar..." ucap Arvan.


" Tapi kak Hans_..."


" Dia hanya lelah, sayang..."


Arvan mengangkat tubuh Hans ke dalam kamar lalu menggantikan bajunya yang penuh dengan bau alkohol.


" Semalam kau baik - baik saja, apa ada masalah dengan Delia...?" gumam Arvan.


Arvan tahu Hans bukanlah orang yang suka meminum minuman beralkohol itu. Hanya sesekali mencoba saat bersama klien saja. Hans juga tidak pernah minum sampai mabuk seperti ini.


" Pa... Uncle Hans kenapa...?" tanya Raka.


" Tidak apa - apa, Uncle Hans hanya lelah butuh banyak istirahat. Ayo kita keluar, biar Uncle Hans tidur dengan nyaman..." ucap Arvan.


Arvan menggendong Raka menuju ruang tamu menunggu Erina dan Delia selesai masak. Mereka berdua berbincang seru dan kadang - kadang suka tertawa.


Erina tersenyum melihat kedekatan Raka dan Arvan. Raka terlihat sangat bahagia setelah tahu Arvan benar - benar papanya. Namun lain halnya dengan Delia, sedari tadi gadis itu melamun. Seperti ada beban berat yang sedang ia alami.


" Delia..." panggil Erina.


" Eh... iya, ada apa Ris...?" sahut Delia kaget.


" Kamu kenapa...? Apa ada masalah...?"


" Ah, tidak... saya hanya sedikit lelah habis begadang semalaman. Ada pasien kritis yang harus dipantau setiap saat..."


" Kamu istirahat saja, tidurlah di kamar. Kak Arvan sepertinya masih bermain dengan Raka..."


" Tidak usah, sebaiknya aku pulang saja. Apartemenku juga deket kok dari sini..."


" Aku antar ya? Sepertinya kamu sangat lelah..."


" Jangan, saya bisa pulang sendiri..."


" Ya sudah, hati - hati di jalan..."


Setelah kepergian Delia, Arvan menghampiri Erina yang sedang memasak di dapur. Erina yang sedang fokus dengan masakannya terkejut saat tiba - tiba Arvan memeluknya dari belakang.


" Akhhh...!" jerit Erina kaget.


" Apa sih sayang? jeritanmu seperti *******..." bisik Arvan.


" Lepas, kak...!" sungut Erina.


" Kau cantik sekali, aku tidak menyesal memiliki anak darimu. Kuharap akan ada Raka yang kedua sebentar lagi..."


" Apa kau bilang...! Kau tidak menyesal...? Kau tidak pernah merasa bersalah...! Awas kau ya...!"


Erina mengejar Arvan yang langsung berlari ke ruang tamu setelah mematikan kompornya. Arvan hanya tertawa saat Erina berhasil menangkapnya dengan membawa sapu.


" Udah sayang, berhenti..." ucap Arvan tersenyum.


" Aku tidak akan berhenti sebelum memukulmu sampai puas..." teriak Erina.


" Sayang, tapi aku sedang sakit..."


" Aku tak peduli...!"


" Auwww...!" Arvan merintih menahan sakit saat Erina memukul di bagian punggungnya.


" Sayang... udah, jangan memukulku lagi..."


" Itu tidak lebih sakit dari penderitaan yang kau berikan padaku...!"


Arvan menyadari Erina benar - benar meluapkan segala amarahnya kali ini. Dia sudah pasrah dengan hukuman yang diterimanya. Arvan hanya berharap Erina akan memaafkannya setelah ini.


Tubuh Arvan terasa perih dan sakit karena Erina memukulnya sangat keras namun dia menahannya agar tak mengeluarkan suara.


Hans yang sudah rapi setelah mandi keluar kamar karena ada suara berisik di luar.


" Astaga Erina...! Hentikan...!" teriak Hans.


Hans merebut sapu yang dibawa Erina dan membuangnya ke sembarang arah.


" Apa yang kau lakukan...! Arvan bisa mati...!" bentak Hans.


" Biarkan saja Hans, jangan ikut campur...!" hardik Arvan.


" Van, kau tidak apa - apa...?"


" Pergilah, aku baik - baik saja..."


" Van, kita ke rumah sakit ya...?" Hans menyingkap baju bagian belakang Arvan dengan tangan bergetar.


Hans tidak menyangka Erina akan melakukan itu pada Arvan yang baru saja keluar dari rumah sakit. Perasaan kemarin hubungan mereka sudah semakin membaik bahkan terlihat seperti pasangan yang harmonis.


" Tidak Hans, aku tidak apa - apa..."


" Luka di punggungmu sangat parah, Van... ini harus segera diobati..."


" Luka ini tidak sebanding dengan penderitaan Erina selama ini, Hans..."


" Jangan bicara seperti itu, Van... semua tidak harus diselesaikan dengan cara kekerasan seperti ini..."


" Aku akan terima apapun hukuman yang diberikan Erina asalkan dia memaafkanku..."


Hans memapah tubbuh Arvan yang lemah masuk ke dalam kamarnya. Arvan membuka bajunya perlahan lalu berbaring di tempat tidur. Hans kembali keluar untuk mengambil kompres dan kotak P3K.


Saat Hans hendak membuka pintu kamar, Erina langsung menghampirinya.


" Kak, biar Erina saja yang mengobati kak Arvan..." pinta Erina.


" Sebaiknya kamu istirahat saja, Rin... biar aku saja yang merawat Arvan..."


" Tidak, kak... aku yang sudah membuat kak Arvan terluka..."


" Rin... sebaiknya kamu tenangkan hatimu. Aku tidak mau kalian saling menyakiti seperti ini..."


" Erin tidak akan menyakiti kak Arvan, biarkan aku yang obati lukanya..."


" Baiklah, tapi janji kalian tidak akan bertengkar lagi..."


" Iya, Kak..."


Hans membukakan pintu lalu membiarkan Erina masuk seorang diri. Setelah itu, Hans masuk ke kamar tempat Raka tidur.


Erina segera mengompres pelan punggung Arvan seraya menangis. Setengah jam melakukan kompres, mereka tidak saling bicara. Arvan mengira yang mengompresnya adalah Hans. Setelah dirasa sudah mendingan, Erina mengoleskan salep ke bagian yang luka.


" Auwww... pelan - pelan Hans...! Kau mau membunuhku...!" teriak Arvan.


Erina hanya diam dan terus mengoleskan salep hingga merata ke bagian yang sakit.


" Hans, apakah setelah ini Erina akan memaafkanku...? Aku lebih baik mati daripada dia terus membenciku. Apapun akan kulakukan agar dia memaafkanku meskipun harus ditukar dengan nyawaku..."


Arvan tak mendengar sahutan dari Hans, namun tetap melanjutkan ucapannya.


" Hans, seandainya aku tiada... tolong jaga mereka berdua. Aku sangat menyayangi mereka, aku tak ingin sesuatu yang buruk menimpa mereka berdua. Seandainya waktu bisa diulang, aku ingin bersamanya dengan cara yang benar. Mungkinkah sekarang Erina mau menikah denganku...?"


Erina hanya bisa menangis lalu beranjak hendak pergi dari kamar Arvan. Namun saat sedang membereskan kotak P3K, kotak itu malah terjatuh hingga membuat Arvan memutar wajahnya.


" Erina...!" seru Arvan kaget.


Erina tetap diam lalu membereskan kotak obat yang terbuka karena terjatuh tadi. Arvan berusaha bangun namun tubuhnya terasa kaku dan perih.


" Erina... maafkan aku..." lirih Arvan.


" Istirahatlah...!" ucap Erina datar seraya mengusap airmata di wajahnya.


" Aku mau cari baju dulu..." sahut Arvan seraya berusaha untuk duduk.


" Akan aku ambilkan, kakak disitu saja..."


" Terimakasih, ambil saja baju Hans di lemari..."


Erina mengambil kemeja lengan pendek di lemari milik Hans lalu menyerahkannya pada Arvan.


" Tolong panggilkan Hans untuk membantuku memakai kemeja ini..." pinta Arvan.


" Biar aku saja yang membantumu..." sahut Erina pelan.


" Aku tidak mau merepotkanmu, Erin..."


" Sudah, diamlah...!"


Erina membantu Arvan untuk duduk dengan perlahan. Sejenak mata mereka saling beradu dengan jarak yang sangat dekat. Aroma mawar di tubuh Erina membuat Arvan merasa sangat nyaman. Hampir saja Arvan lepas kendali dan ingin melahap bibir mungil di depannya yang hanya berjarak beberapa centi.


" ****...! Apa yang kupikirkan..." umpat Arvan dalam hati.


Erina memakaikan kemeja pada Arvan dengan pelan agar tak sakit saat menyentuh punggungnya. Arvan tak bisa menahan rasa sakitnya saat kain itu menyentuh kulit punggungnya.


" Auwww...!" tanpa sadar Arvan menenggelamkan wajahnya ke dalam dada Erina untuk menahan perih di punggungnya.


Pada saat bersamaan, Hans masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


" Ups... sorry... saya hanya ingin mengambil ponsel yang tertinggal. Silahkan dilanjutkan kembali..." ucap Hans nyengir.


" Hans...!"


.


.


TBC


.


.