Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 131


Arvan dan yang lainnya sudah berkumpul di Markas untuk membahas kasus pembunuhan Sera. William memeriksa isi ponsel Sera, sedangkan Erina membuka buku harian yang membuatnya menangis walaupun baru menyentuh sampulnya saja.


Pada halaman pertama, terdapat satu lembar foto Sera, Adam dan Erina yang saling berpelukan. Erina ingat, foto itu diambil saat mereka sedang berada di danau. Di belakang foto itu terdapat tulisan ' Best friend forever ' dengan chaption berbentuk hati.


Erina membaca lembar demi lembar halaman itu yang berisi tentang kebersamaan mereka bertiga. Namun pada halaman yang tertanggal sekitar hampir dua bulan itu, ada cerita berbeda dari tulisan Sera. Erina membaca tulisan Sera sambil terus mengusap airmatanya.


" Hari ini aku bertemu dengan seorang pria yang sangat baik. Dia begitu sopan dan juga ramah. Baru kali ini aku merasakan jantungku berdebar sangat kencang. Aku tidak tahu perasaan apa ini, ingin cerita dengan Erina dan Adam tapi rasanya malu. Aku mencoba untuk melupakan pria itu, namun bayangannya malah semakin nyata saat aku memejamkan mata."


Erina tersenyum membaca tulisan Sera. Dia jadi ingat saat Adam mengajak kami jalan, Sera menolak karena lelah seharian bekerja. Pantas saja, Sera jarang sekali berkumpul bersama Adam dan Erina. Erina kembali membaca lembar berikutnya tanpa melewatkan satu katapun.


" Sudah dua minggu aku dan dia sering berkirim pesan dan beberapa kali bertemu secara diam - diam. Aku tidak mau Erina dan Adam tahu karena pria itu adalah saingan bisnis perusahaan tempatku bekerja. Aku takut dua sahabatku tidak menyetujui hubunganku dengannya tapi aku sadar bahwa cinta itu telah bersarang di hatiku. Erin, Adam... maafkan aku belum bisa jujur pada kalian sampai saat ini..."


" Sera, kenapa kamu tidak pernah jujur pada kami. Aku tidak pernah mempermasalahkan siapa jodohmu. Yang terpenting kalian saling mencintai dan dia pria yang setia padamu..." batin Erina.


Erina kembali membuka lembaran berikutnya. Sepertinya ditulis saat Erina dan Adam pulang ke Indonesia.


" Hari ini aku bekerja tanpa dua sahabatku, rasanya sepi dan sangat malas. Namun pekerjaan ini tetap harus dijalankan walau tidak ada mereka. Malam ini, kekasihku yang bernama Robert akan mengajakku jalan agar aku tidak terlalu larut dalam kesendirian. Tak ada Erin dan Adam memang membuatku merasa kesepian. Bertahun - tahun mengenal mereka berdua membuat hidupku terasa berwarna. Erin, Adam... jika nanti kalian kembali ke London, aku pasti akan memperkenalkan Robert kepada kalian sebagai kekasihku bukan saingan bisnis kita..."


Adam melihat raut wajah Erina yang tampak sedih lalu menghampirinya dan duduk disampingnya.


" Kenapa menangis? Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan menangisi kepergian Sera lagi...?" ujar Adam.


" Maaf, tapi aku sangat merindukan Sera..." isak Erina.


" Aku juga merindukannya, tapi kita tetap harus melangkah. Jangan bersedih lagi, Sera tidak akan suka melihatmu seperti ini. Tersenyumlah, adikku sayang..."


" Kita baca ini berdua ya?" pinta Erina.


" Iya, sini biar aku yang pegang bukunya..." ujar Adam.


" Sudah hampir tiga minggu Erin dan Adam pergi, hubunganku dengan Robert semakin dekat. Robert bilang padaku akan memperkenalkan aku dengan ibunya setelah aku memperkenalkan dia dengan dua sahabatku. Aku jadi tidak sabar menunggu kepulangan Erin dan Adam. Semoga orangtua Robert bisa menerima diriku yang sebatang kara ini..."


" Harusnya aku datang lebih cepat, Sera. Maafkan aku tak bisa menjagamu..." batin Adam.


Adam menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar. Ada rasa sesak di hatinya karena tak bisa menjaga keselamatan sahabatnya. Saat ingin melanjutkan membaca, tiba - tiba ponselnya berdering. Adam melihat nama yang tertera di layar ponselnya lalu segera berdiri.


" Erin, sebentar ya? Aku angkat telfon diluar..." ujar Adam dengan tersenyum.


" Kenapa harus diluar? Apa kau merahasiakan sesuatu dariku...?" cecar Erina.


" Anak kecil jangan banyak bertanya...!"


Adam langsung keluar dan menutup pintu dengan rapat kemudian berjalan menuju halaman belakang.


" Hallo, maaf ya... sedang banyak kerjaan akhir - akhir ini, jadi tidak sempat telfon kamu..." ucap Adam lembut.


[ " ......._" ]


" Iya, aku tahu. Aku juga merindukanmu, jika ada waktu aku pasti pulang..."


[ " ......_" ]


" Ok, beristirahatlah. Jangan tidur terlalu larut..."


[ " ......_" ]


" Iya, nanti aku telfon saat kamu bangun tidur..."


[ "......_" ]


Adam segera mengakhiri panggilannya dan kembali duduk di samping Erina untuk menyelesaikan membaca buku harian Sera. Erina menatapnya tajam seakan bertanya tentang siapa yang menelfonnya.


" Kenapa menatapku seperti itu? Ada yang salah...?" tanya Adam.


" Siapa yang menelfonmu...?" cecar Erina.


" Hanya klien, memangnya kenapa...?"


" Bohong...!"


" Apa kau cemburu...?" goda Adam.


Plaakkk!


Sebuah buku tebal mendarat di kepala Adam dengan cukup keras. Erina tertawa melihat Adam yang meringis kesakitan.


" Ish... suami istri sama saja, sukanya menyiksa..." gerutu Adam.


" Makanya kalau ngomong itu dipikir dulu...!" hardik Arvan.


" Iya, Tuan. Maaf, Nona..." Adam tersenyum jahil.


" Udah, mau lanjut baca lagi nggak...?" sungut Erina.


" Iya, sayang..." sahut Adam pelan yang langsung mendapat cubitan di lengannya.


Mereka kembali diam dan melanjutkan membaca tulisan Sera dengan serius.


" Kemarin aku ada janji untuk bertemu dengan Robert di sebuah Cafe. Aku sangat senang karena dia akan memberikan hadiah untukku. Namun pada kenyataannya, dia malah mengajakku berkencan di club malam. Sepertinya dia sedang banyak masalah yang belum siap diceritakan padaku. Robert melampiaskan semua masalahnya dengan menenggelamkan diri dalam minuman beralkohol itu. Aku hanya bisa mendampinginya dan tidak berani mencegahnya yang sudah mabuk berat. Karena tidak tahu harus mengantarnya kemana, aku membawanya pulang ke Apartemenku. Entah apa yang ada dalam pikiran kami berdua, hubungan terlarang itupun terjadi. Aku sempat menyesali semua itu, namun Robert berjanji akan segera menikahiku. Aku hanya bisa berharap kami berdua berjodoh.


Pagi ini, saat aku hendak berangkat bekerja seseorang datang menemuiku. Dia mengaku sebagai kakaknya Robert. Aku tidak tahu Robert memiliki seorang kakak laki - laki. Dia meminta aku mencuri berkas presentasi di perusahaan tempatku menggantungkan hidup. Awalnya aku menolak, namun dia mengancam akan menyakiti Robert dan ibunya.


Aku tidak tahu jika selama ini ada mata - mata dari perusahaan lain yang bekerja di perusahaan Erina. Aku ingin sekali meminta Erina segera kembali, namun aku tidak punya hak untuk mengatur kehidupannya."


Adam nampak berpikir sejenak saat presentasi waktu itu. Robert dan Sera tampak canggung satu sama lain. Mungkin mereka sedang ada masalah pribadi Sera seperti takut menatap Robert.


" Apa yang kau pikirkan...?" tanya Erina.


" Tidak apa - apa, aku hanya kasihan pada Sera. Selama hidupnya, banyak sekali penderitaan yang dia alami..." ujar Adam.


" Semoga sekarang dia mendapatkan kebahagiaan disana. Sera adalah gadis yang sangat baik..." sahut Erina.


Sebenarnya Adam dan Erina sudah tidak sanggup membaca tulisan Sera yang merupakan ungkapan hatinya yang terpendam.


" Kita do'akan yang terbaik untuknya..." ucap Adam.


" Masih mau lanjut baca lagi...?"


.


.


TBC


.


.