Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 59


" Aakkhh...! kak Arvan...!" pekik Erina.


" Hmmm... kenapa kau bangun sayang...?"


" Apa yang kakak lakukan...?"


" Meminta sesuatu yang sudah sah menjadi milikku..." bisik Arvan.


" Apa ini sudah malam? Aku belum memandikan Raka..." ucap Erina.


" Hey... urusi saja yang ada di depanmu, jangan mencari yang tidak ada..."


" Maksud kakak apa...?"


Arvan turun dari atas tubuh Erina lalu berbaring di sampingnya.


" Raka menginap di rumah kak Willy malam ini, dia tahu saja kalau papa dan mamanya mau membuatkannya adik baru..."


" Ish... jangan - jangan kak Arvan yang nyuruh Raka pergi...!"


" Bukan, sayang. Itu kemauan Raka sendiri masih ingin bermain dengan Monika..."


Erina duduk mencari ponselnya dibawah selimut yang tadi dimainkannya sebelum tidur.


" Cari apa sayang...?" tanya Arvan.


" Cari ponsel, kak. Tadi kayaknya disini deh..." jawab Erina sambil mengacak selimut.


" Tidak usah dicari, malam ini kau hanya boleh fokus padaku..."


" Ayolah,kak. Ini sangat penting..."


" Apa ada yang lebih penting dari aku...? Huft... harusnya aku cukup tahu diri dengan kesalahanku di masa lalu..." ucap Arvan kecewa.


Arvan keluar dari kamar menuju taman di samping rumah yang terawat dengan baik. Bunga mawar putih yang merekah sempurna mengeluarkan aroma wangi yang menyengat.


Arvan memetik setangkai bunga itu lalu menghirup aromanya sangat lama. Bunga ini adalah satu - satunya teman yang dia miliki saat sedang terpuruk. Mawar putih bagaikan penawar rasa sakit di hatinya.


" Kak, ayo cepat pergi. Aku nggak mau sampai disana kemalaman..." ucap Erina yang tiba - tiba sudah memeluknya dari belakang.


" Astaga, sayang... kau mengagetkanku saja..." sungut Arvan.


" Apa ini bunga untukku...?"


Erina mengambil setangkai mawar putih dari tangan suaminya.


" Terimakasih, sayang. Aku sangat menyukai mawar putih. Cepat pakai jaketmu, kita pergi sekarang..." ucap Erina.


" Mau kemana sih, sayang...?" tanya Arvan.


" Katanya mau menghabiskan malam ini berdua...? Besok kakak udah kembali ke Indonesia..."


" Aku lebih suka menghabiskan waktu di dalam kamar..."


" Ayolah, kak... sekali saja..." rengek Erina.


" Aku sedang malas pergi, sayang..." sahut Arvan.


" Ya sudah, aku pergi sendiri saja. Mau dinner sama Samuel..."


Erina pergi dengan kesal menuju garasi untuk mengambil mobilnya.


" Erina, tunggu...!" teriak Arvan.


Erina terus saja melangkah tak menghiraukan panggilan suaminya. Hatinya sungguh kesal dengan penolakan Arvan.


" Ish... kenapa marah? Kita mau kemana, sayang...?" rayu Arvan.


" Nggak tahu...!" sahut Erina ketus.


" Ok, fine... kita pergi sekarang. Kemanapun kamu mau, aku turuti..." rayu Arvan lagi.


Erina langsung masuk ke kursi kemudi tanpa menghiraukan ucapan Arvan.


" Sayang, biar aku saja yang nyetir...?" pinta Arvan.


" Tidak usah, cepat masuk atau aku tinggal...!" pekik Erina.


Arvan menghela nafas panjang sebelum masuk ke dalam mobil.


" Baru juga beberapa jam jadi istri, sifatnya udah mirip ibu tiri..." batin Arvan.


" Sayang, jangan ngambek dong. Apapun yang kamu mau pasti aku berikan..."


" Diamlah, aku lagi fokus mengemudi..."


Setengah jam kemudian, Erina menepikan mobilnya di bahu jalan yang terlihat agak sepi. Dia mengeluarkan kain hitam dari dalam tas kecilnya.


" Sayang, kenapa berhenti di tempat seperti ini...?" tanya Arvan heran.


" Kak Arvan menghadap ke samping...!" perintah Erina.


" Untuk apa, sayang? Jangan macam - macam deh..."


" Udah, cepetan...!"


Setelah Arvan membalikkan badan, Erina menutup mata Arvan dengan kain yang dibawanya.


" Sayang, kenapa pakai tutup mata segala sih...?"


" Katanya mau nurutin semua yang aku mau..." seringai Erina.


Erina tersenyum saat Arvan sudah tertutup kedua matanya. Dia segera memasangkan seatbelt Arvan yang tadi sempat dibuka dengan sedikit menggodanya dengan menempelkan bibirnya sekilas pada bibir Arvan.


" Sayang, kamu tidak akan membunuhku kan...?"


" Tidak, aku hanya ingin sedikit memberi pelajaran padamu..."


" Kau beneran Erina atau bukan...?"


" Sudah, diam saja. Sebentar lagi juga kita sampai di tempat tujuan..."


Erina kembali menjalankan mobilnya membelah jalanan pinggiran kota. Tidak sampai lima belas menit, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


Erina memapah Arvan keluar dari mobil, lalu membawanya berjalan di atas rerumputan.


" Sayang, kita dimana? Kita seperti menginjak rerumputan? Kau tidak benar - benar ingin membunuhku kan...?"


" Jalan saja terus, sebentar lagi sampai...!"


" Apa pisau dan korek api sudah disiapkan...?" tanya Erina pada seseorang.


" Sudah Nona, tinggal kita mulai saja sekarang..." jawab seorang laki - laki yang tidak di kenal oleh Arvan.


" Sayang, apa yang kau lakukan...?" teriak Arvan.


" Diamlah, jangan bergerak!"


Salah seorang pengawal memegang kedua tangan Arvan ke belakang supaya tidak memberontak.


Erina sudah menyiapkan segala sesuatunya di depan Arvan. Setelah semuanya siap, Erina menyuruh pengawal untuk melepaskan tangan Arvan.


Saat tangannya mulai terlepas, Arvan langsung menarik kain yang menutupi matanya. Arvan sangat terkejut saat matanya mulai terbuka, dia melihat hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


" Happy birthday...Arvan...!" teriak semua orang yang hadir disana.


Arvan sangat terkejut karena disitu ada orangtuanya, keluarga William dan para asisten rumah tangga serta para pengawal. Arvan sendiri bahkan lupa bahwa hari ini adalah hari kelahirannya yang bertepatan dengan hari pernikahannya.


" Happy birthday my husband..." ucap Erina seraya tersenyum.


" Kalian semua menyiapkan semua ini untukku...?" ucap Arvan dengan mata yang berkaca - kaca.


" Apa kau senang...?" ledek William.


" Ish... ini semua pasti kerjaan kak Willy...!"


" Iya, tapi idenya dari istrimu..."


Arvan langsung memeluk istrinya dan menciuminya tanpa henti.


" Kak Arvan... malu banyak orang!" bisik Erina.


" Ayo tiup dulu lilinnya..." ujar Ayah Regan.


" Make a wish dulu sayang..." pinta Erina.


Arvan memejamkan kedua matanya seraya menggenggam erat tangan Erina dengan hati yang berdebar. Dia tidak pernah menyangka di umurnya yang ke-25 ini dia mendapatkan kejutan besar dan juga keberkahan dibalik semua masalah yang tengah dihadapinya.


Selesai mengucapkan keinginan dalam hatinya, Arvan membuka mata lalu meniup lilin dengan senyum yang terkembang sempurna.


" Terimakasih, sayang..."


Arvan kembali memeluk istrinya kemudian bergantian pada kedua orangtua dan anaknya, Raka.


Kini mereka semua menikmati pesta kecil dengan makan bersama tanpa membedakan derajad dan pangkat diantara mereka.


" Sayang, sejak kapan kau menyiapkan semua ini...?" tanya Arvan yang masih penasaran dengan kejutan istrinya.


Kini keduanya duduk di tepi danau menjauh dari yang lain. Tempat yang romantis untuk sepasang pengantin baru yang sedang di mabuk asmara.


" Tadi siang setelah kita menikah aku minta tolong sama kak Willy untuk menyiapkan semua ini..."


" Tempat yang bagus, romantis..."


" Sebenarnya aku sudah sering ke tempat ini sejak Raka masih dalam kandungan. Dulu sempat aku berpikir untuk menceburkan diri ke dalam danau ini..."


" Maafkan aku, sayang. Seharusnya aku mencarimu lebih cepat waktu itu. Harusnya aku bertemu denganmu waktu di rumah sakit itu..." ucap Arvan penuh penyesalan.


" Itulah takdir, kak. Dengan adanya kejadian ini, aku bisa lebih mandiri dan tidak mudah ditindas orang lain. Raka adalah satu - satunya yang ku miliki saat itu..."


" Terimakasih kamu sudah merawat anak kita menjadi anak yang kuat dan cerdas. Raka adalah pelindung kita di masa depan..."


Erina merebahkan kepalanya di pundak Arvan seraya memejamkan matanya. Ada ketenangan tersendiri saat berada dekat dengan sang suami.


" Apa kau lelah, sayang...?" tanya Arvan.


" Tidak, kak. Aku hanya merasa sedih saja harus jauh darimu nanti..." jawab Erina sendu.


" Sabar ya? Aku akan secepatnya menangkap Selly dan membawamu kembali ke Indonesia..."


" Gimana sama ayah dan ibu kalau aku dan Raka ikut denganmu ke Indonesia...?"


" Tidak apa - apa, ada kak William yang akan menjaga ayah dan ibu. Kita juga akan mengunjungi mereka setiap ada waktu luang..."


" Lalu pekerjaanku disini...? Kasihan ayah kalau harus turun tangan sendiri..."


" Nanti kita pikirkan lagi, mungkin saja suatu saat nanti aku yang akan pindah kesini..."


" Iya, harusnya kak Arvan yang pindah kesini. Biar perusahaan di Indonesia di pegang kak Ricko dan kak Hans..."


" Iya, sayang. Tapi aku harus mengembangkan cabang yang baru supaya setara dengan yang lama. Secara perlahan, perusahaan di Indonesia akan kupercayakan sepenuhnya pada mereka berdua tanpa mereka sadari. Kita cukup menikmati hasilnya saja sambil memantau dari jauh..."


" Terus kerjaan kakak apa?"


" Di kamar aja sama kamu, bekerja menguras tenaga..." kekeh Arvan.


" Ish... Erin nanya serius, kak..." sungut Erina.


" Hahahaa... berikan aku satu ciuman dulu, baru aku jawab..."


" Nggak mau, ayo pulang saja kalau begitu..."


" Haish... istriku semakin cantik kalau lagi marah..." goda Arvan.


" Cepat katakan...!"


" Baiklah, sayang. Kita akan menetap disini untuk menemani ayah dan ibu di masa tuanya..."


" Benarkah?"


" Tentu saja, kita akan mengurus perusahaan dan juga agen rahasia milik ayah..."


" Terimakasih, sayang..."


Erina mencium dan memeluk Arvan tanpa henti karena hatinya sangat bahagia.


Karena malam semakin larut, akhirnya semua memutuskan untuk segera pulang dan istirahat untuk menjalani aktifitas esok hari.


.


.


TBC


.


.