Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 124


" Sera_..." ucap Arvan ragu.


" Apa yang sebenarnya terjadi dengan Sera, kak...?" cecar Erina.


" Dia... dia mengalami kekerasan seksual. Sera hamil sekitar dua minggu..." jawab Arvan dengan menatap lekat istrinya.


" Tidak mungkin, bagaimana bisa ini terjadi...?" pekik Erina.


" Tenanglah sayang, kamu tidak boleh seperti ini..."


Arvan memeluk Erina yang menangis histeris. Sama halnya dengan Adam, dia langsung terduduk lemas di lantai. Dia sudah berusaha untuk tegar namun hatinya begitu sakit.


" Sudahlah, sebaiknya kita kembali ke Markas. Arvan, kau urus mereka berdua. Saya akan mengurus pekerjaan di perusahaan..." ujar William.


" Baik, kak..."


Arvan mengajak Erina dan Adam ke Markas, sementara William ke kantor untuk mengurus pekerjaan sampai Erina siap untuk bekerja.


" Sayang, kau mau makan dulu ya...?" bujuk Arvan.


" Tidak, kak. Erin belum lapar..." tolak Erina.


" Kamu memang tidak lapar, tapi anak kita butuh asupan nutrisi. Jika sudah waktunya makan, harus tetap makan..." ujar Erina.


" Benar, Rin. Kau harus makan demi kesehatan anak dalam kandunganmu..." timpal Adam.


" Baiklah, tapi aku mau makan steak dan salad..."


" Ok, mau di Restoran atau delivery saja...?"


" Delivery saja, lagi malas turun..."


Adam segera pesan makanan di Restoran langganannya. Tak butuh waktu lama, pesanan datang beberapa menit setelah mereka sampai di Markas.


" Kalian makan saja duluan, saya belum lapar..." kata Adam sembari masuk ke ruang kerja William.


" Adam, makanlah dulu. Nanti kamu sakit..." ujar Erina.


" Saya ingin sendiri sebentar saja..." sahut Adam datar.


Adam membuka laporan hasil autopsi Sera dengan tetesan airmata yang tak terbendung lagi. Adam sangat terkejut karena tidak ada tindak kekerasan dalam tubuh Sera kecuali area inti dan kedua tangannya yang dicengkeram dengan kuat.


Sera meninggal karena mengalami pendarahan hebat akibat berhubungan intim yang dipaksakan saat sedang hamil muda.


" Sera, apa mungkin dia yang melakukannya...?" batin Adam.


Adam mencurigai seseorang namun ia tidak memiliki bukti apapun. Adam tidak tahu harus mencari bukti dimana untuk mengungkap kasus Sera.


# # #


" Tuan Arvan, Erina... saya harus pergi ke suatu tempat. Tidak usah menunggu, saya akan langsung pulang ke Apartemen..." pamit Adam.


" Adam, kau tidak boleh pergi sendiri..." ucap Erina.


" Saya hanya ingin mencari ketenangan sebentar, Erin..."


" Tunggu...!" Arvan mencegah kepergian Adam.


" Tuan_..."


" Saya tahu tujuanmu, jangan bertindak gegabah...!"


Adam sejenak terdiam dan memejamkan matanya lalu menatap Arvan.


" Tuan, hanya ini yang bisa saya lakukan untuk Sera, biarkan saya pergi..."


" Tidak, kita akan selesaikan ini bersama. Kau juga harus pikirkan Erina, dia juga bisa nekad sepertimu jika kita tidak menjaganya..." kata Arvan.


" Apa yang harus saya lakukan sekarang, Tuan. Saya yakin dialah pelakunya..." geram Adam.


Erina mendekati Adam dan menggenggam erat tangan kekar pria itu. Dia menatap lekat wajahnya dengan sendu.


" Adam, katakan padaku... siapa laki - laki itu...?" cecar Erina.


" Aku belum tahu pasti, Rin. Sebaiknya kamu fokus dengan urusan kantor saja, aku yang akan mencari pelakunya..."


" Tapi, Dam_..."


" Aku tidak suka dibantah, jadi sebaiknya kamu pulang dan bersiap - siap untuk pemakaman Sera nanti sore..."


" Sayang, kamu pulang duluan ya...? Kakak ada urusan sebentar dengan Adam. Nanti sore aku jemput saat pemakaman Sera..." bujuk Arvan.


" Kakak mau pergi kemana...?"


" Tidak penting, Adam juga butuh teman sekarang, tolong mengertilah keadaannya sekarang..."


" Baiklah, tapi cepat pulang ya...?"


" Iya, sayang..."


Arvan mengecup kening istrinya sekilas lalu memeluknya dengan erat. Sebenarnya Arvan tidak ingin istrinya pulang sendirian, namun ada urusan yang lebih penting yang harus segera ia kerjakan.


Arvan mengantar Erina sampai masuk ke dalam mobil dan berpesan kepada pengawalnya untuk menjaga sang istri dengan baik.


Di dalam mobil, Erina kembali menangis mengingat sahabatnya yang pergi satu persatu. Belum lama Samuel pergi, kini disusul Sera yang meninggalkannya secara tiba - tiba.


" Kenapa kalian pergi begitu cepat, aku sangat menyayangi kalian berdua. Walaupun aku tahu kalian menghianatiku, namun kebaikan kalian tidak pernah akan terhapuskan..." batin Erina seraya menangis.


" Nona, Anda baik - baik saja...?" tanya pengawal.


" Ya, saya baik - baik saja. Kalian tetap berjaga di rumah utama, tidak perlu kembali ke Markas...!" perintah Erina.


" Siap, Nona..."


Sampai di rumah, Erina langsung masuk ke dalam kamar karena Raka sedang berada di toko bunga bersama neneknya.


" Rumah rasanya sangat sepi, pasti ayah ikut ke toko..." gumam Erina.


Erina merebahkan tubuhnya di tempat tidur untuk beristirahat sebentar sebelum pemakaman Sera di mulai. Arvan tak mengijinkannya mendampingi Sera di rumah sakit karena takut lelah dan berdampak buruk pada janinnya.


# # #


" Tuan, saya akan mengecek ke hotel itu lagi untuk memastikan siapa yang ditemui Sera waktu itu. Pasti ini semua ada hubungannya dengan orang itu..." kata Adam.


" Besok saja atau nanti malam, sekarang kita fokus mengurus jenazah Sera. Kau yakin tidak tahu keluarga Sera dimana...?" tanya Arvan.


" Tidak, Tuan. Sera tidak mau lagi mengenal orangtuanya semenjak mereka berpisah. Sama seperti saya, dia juga bermodal nekad datang ke negara ini untuk mengadu nasib. Bedanya, saya bisa kuliah lewat jalur beasiswa dari Indonesia sedangkan Sera bekerja keras disini untuk bisa kuliah..."


" Mungkin saja dia masih menyimpan foto atau alamat di negaranya. Kita harus mencari data dia di Apartemen..."


" Baiklah, kita kesana setelah pemakaman saja. Semoga ada keluarga yang masih peduli padanya..."


Arvan dan Adam berangkat ke rumah sakit untuk mendampingi Sera sebagai wakil keluarganya. Gadis malang itu sangat kasihan, bahkan di saat terakhirnya tak ada keluarga yang mengantarnya menghadap Sang Pencipta.


Adam merasa sangat berat untuk melangkahkan kakinya saat sudah sampai di parkiran rumah sakit. Dia tak ingin menangis di depan Sera, dia bertekad untuk kuat dan tidak akan menangis lagi.


" Ayo, semua sudah menunggu..." ujar Arvan.


Tidak seperti biasanya yang selalu bermusuhan, kali ini Arvan merasa iba terhadap pria yang bersamanya ini. Biasanya mereka saling berdebat untuk hal - hal yang sepele. Arvan jadi merindukan saat - saat seperti itu. Dia lebih suka Adam yang sering mengajaknya bertengkar.


" Iya, Tuan..." jawab Adam datar.


Para bodyguard sudah menunggu mereka di depan ruang jenazah. Arvan dan Adam segera masuk untuk melihat Sera yang terakhir kalinya.


" Semoga kamu mendapatkan ketenangan disana..." ucap Arvan menatap jasad Sera.


" Sera, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakanmu. Kau adalah sahabat terbaik untukku dan Erina. Berbahagialah engkau di tempat yang abadi. Aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu dan berjanji akan menangkap orang yang telah membuatmu tiada..." sekali lagi Adam tak mampu menahan airmatanya.


" Ikhlaskan kepergiannya, saya yakin dia bahagia disana karena kasih sayang dari para sahabatnya..." ujar Arvan.


Arvan merangkul bahu Adam untuk memberikan ketenangan agar tidak larut dalam kesedihan. Setelah itu, jenazah Sera dibawa langsung ke pemakaman untuk dikebumikan sore itu juga.


Arvan menghubungi Erina agar langsung datang ke pemakaman bersama orangtuanya karena ternyata Adam tidak kuat jika harus mengiring jenazah Sera sendirian.


Sementara itu di kantor, William juga mengabarkan kematian Sera kepada seluruh karyawan di kantor dan mereka semua dipulangkan lebih cepat supaya teman - teman dekat Sera dapat menghadiri upacara pemakaman yang dilakukan sore ini juga.


.


.


TBC


.


.