
Tak ada lagi jalan lain yang bisa Bima fikirkan untuk menyelesaikan masalah nya dengan Raya, apa lagi Ayah Raya yang terus menekan dan mengancam nya. Tentu saja, ayah mana yang akan melepaskan pria yang sudah membuat anak nya hamil?
Dan pada akhirnya, Bima menyerah dan pasrah. Ia mendatangi rumah Raya dan siap menikahi Raya namun tentu Bima melakukan nya tanpa sepengetahuan orang tua nya dan istri nya dan Bima berniat akan menceraikan Raya setelah Raya melahirkan nanti. Pak Agus pun dengan cepat mempersiapkan pernikahan putri satu satu nya itu, ia mengundang beberapa orang dan akad akan di laksanakan secepatnya.
Dan saat tiba untuk akad, Bima terpaksa berbohong pada Vera dengan mengatakan ia akan menginap di rumah Ibu nya. Vera tak curiga sedikit pun dan melepaskan kepergian Bima dengan kecupan mesra.
Dengan perasaan yang berkecamuk Bima melajukan mobil nya menuju rumah Raya dan sesampainya di sana, rumah itu sudah ramai rupa nya dengan para tetangga yang datang.
Bima fikir, mereka akan menikah hanya dengan di hadiri dua orang saksi namun ternayata Pak Agus justru mengundang Pak RT dan semua tetangga nya. Tentu saja Bima terkejut.
"Mempelai pria nya akhirnya datang juga" kata Pak Agus dan ia pun merangkul Bima, membawa nya masuk ke dalam rumah dan memperkenalkan nya dengan RT di sana dan juga pada para tetangga nya.
"Kenapa banyak orang?" bisik Bima pada Pak Agus
"Biar mereka jadi saksi pernikahan mu dan Raya, aku tidak mau nanti kalian di kira pasangan kumpul kebo" jawab Pak Agus.
"Apa akad nya bisa di mulai sekarang?" tanya Penghulu yang hadir di sana.
"Tunggu, biar aku panggil Raya dulu" kata Pak Agus dan ia bergegas ke kamar Raya. Tak lama kemudian Raya keluar dengan di gandeng kedua orang tua nya, Raya mengenakan kebaya warna putih Gading dan wajah nya di rias dengan sederhana, tampak natural namun sebenarnya sangat cantik. Pernikahan itu seperti pernikahan atas dasar cinta dan bukan karena paksaan, dan entah mengapa di saat seperti ini Bima justru teringat dengan Alesha.
Pernikahan nya dan Alesha juga paksaan, namun di hari pernikahan meraka, Alesha tetap tersenyum meskipun Bima tahu saat itu Alesha tak bahagia.
"Ayo, sudah saat nya akad"
.........
Sementara di sisi lain, Vera duduk berselonjor di sofa sembari berselancar ria di media sosial nya apa lagi karena tak ada Bima di rumah nya.
"Bima sudah pergi, Ver?" tanya Ibu nya Vera yang datang dengan membawa keripik pisang ke hadapan Vera, ia duduk di sofa yang lain kemudian menayalakan TV.
"Sudah, Ma. Kata nya mau menginap" kata Vera santai.
"Kenapa kamu tidak ikut, Ver?" tanya Mama nya lagi.
"Ya Mama kan tahu sendiri gimana sikap mertua ku sama aku, Ma. Masih sama, ketus. Jadi malas aku, apa lagi Ibu mertua, makan hati yang ada aku..." kata Vera merengut.
"Ya jangan begitu dong, Ver. Justru kalau mertua mu itu ketus, ya kamu harus coba ambil hati nya, buat mereka suka sama kamu"
"Memang nya apa yang belum aku lakukan untuk membuat mereka suka sama aku, Ma? Hasil nya tetap sama, mereka masih saja membandingkan aku sama Alesha, masih suka nyindir aku sebagai perebut suami orang"
Ibu nya pun tak lagi bisa berkata apa apa, ia hanya bisa menatap sendu putri nya ini. Putri nya, yang meskipun seluruh dunia menganggap nya penjahat tapi ia tetap putri nya. Meskipun terkadang ia menangisi apa yang telah di lakukan putri nya, dan terkadang juga ia menangisi nasib yang di alami keponakan nya namun sekarang semua itu sudah tak ada lagi arti nya. Keponakan nya sudah menemukan hidup yang baru, yang jauh lebih baik bahkan kehidupan yang sangat di inginkan Vera. Sementara Vera?