
Merasa tak punya wajah, itu lah yang Vera rasakan saat desas desus tentang diri nya yang tersebar di kantor akhirnya sampai juga ke telinga nya. Berbagai cibiran ia dapatkan entah di belakang nya maupun di depan nya. Tentu saja Vera merasa sedih juga sakit hati, namun sebisa mungkin Vera mengabaikan hal itu dan ia tetap berusaha bekerja dengan baik. Karena pekerjaan Vera sudah sangat nyaman dengan gaji yang lumayan.
Vera juga menceritakan apa yang di alami nya di kantor pada Bima namun hanya mengatakan satu hal "Abaikan saja"
Vera mengikuti apa yang di katakan suami nya itu, hari hari ia lewati dengan mencoba mengabaikan semua semua cibiran yang masuk ke telinga nya namun pada akhir nya Vera merasa tidak sanggup lagi.
Malam ini, Bima mengajak Vera makan malam di luar untuk menghibur istri nya itu.
"Mas, aku mau berhenti bekerja kayak nya" kata Vera di tengah makan malam mereka, Bima yang mendengar hal itu tentu terkejut.
"Tapi bukan nya kamu suka dengan pekerjaan mu, Ver?" tanya Bima.
"Iya, tapi aku sudah tidak tahan, Mas. Lelah juga setiap hari begitu, setiap kali aku masuk kantor. Semua orang menatap ku seolah aku itu wabah penyakit yang mengerikan" Adu Vera yang tentu saja menarik simpati Bima
"Terserah kamu, Ver. Kalau kamu memang tidak nyaman bekerja di sana, ya kamu resign saja. Aku masih mampu kok membiayai hidup kita" kata Bima sambil tersenyum dan tentu saja hal itu membuat Vera bisa bernafas lega.
"Terima kasih ya, Mas. Kamu sudah mau mengerti posisi aku" kata Vera.
"Sama sama, kamu tidak usah terlalu memikirkan perkataan orang"
"Aku juga mau nya gitu, Mas. Sejak dulu aku juga memang bukan orang yang mau mendengarkan cibiran orang lain, tapi kalau di cibir setiap hari tanpa henti, apa lagi di tatap sinis. Aku engga tahan juga"
Bima hanya menanggapi ucapan istri nya itu dengan senyum, karena sebenarnya bukan hanya Vera yang mendapatkan tekanan batin seperti itu. Bima pun merasakan nya, bahkan Bima mendapatkan tekanan batin itu dari orang tua nya sendiri yang dengan tega nya justru membandingkan suami Alesha yang sekarang sedang Bima. Tentu saja Bima merasa sakit hati jamin ia tak bisa apa apa dan mencoba mengabaikan nya, berharap suatu hari nanti semua orang akan diam dan tak lagi mengomentari hubungan Vera dan Bima.
...... ...
"Sayang..." seru Adam sembari berjalan menuju dapur dimana Alesha sedang sibuk membuat sarapan "Sayang, bangunin Miley ya" kata Adam yang membuat Alesha menghela nafas panjang.
"Memang nya aku engga bangunin, Mas?" tanya Alesha.
"Sudah, cuma seperti biasa. Dia tidur seperti orang pingsan" kata Adam.
"Ya udah, kamu selesaikan ini ya. Tinggal di goreng saja ayam nya, terus buat acar nya" kata Alesha memberi arahan pada suami nya itu.
"Siap, Chef" jawab Adam antusias.
Sementara Alesha kini bergegas ke kamar Dameer karena semalam Miley tidur di sana.
Alesha melihat Dameer yang masih tertidur, begitu juga dengan Miley yang tidur dengan mulut terbuka.
"Mil..." Alesha menepuk pipi adik ipar nya itu namun Miley tak bergeming. Alesha melirik gelas berisi yang ada di atas nakas, Alesha mengambil nya dan mencipratkan air ke wajah Miley yang tentu saja membuat Miley langsung terbangun.
"Bangun, Dek. Sudah siang..." seru Alesha
"Masih ngantuk, Kak Al..." jawab Miley menggeliat malas
"Kamu sudah harus ada di meja makan dalam waktu 5 menit atau Kakak sita uang jajan mu sebulan" ancam Alesha yang membuat Miley terbelalak dan tentu saja ia langsung melompat turun dari ranjang. Alesha yang melihat itu hanya geleng geleng kepala, trik seperti ini baru Alesha ketahui beberapa hari yang lalu. Miley ternyata sangat sulit di atur, namun uang jajan ternayata kunci nya untuk menaklukan nya.