Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 94


Vera sudah membuat surat pengunduran diri dan ia pun menyerahkan surat itu pada Pak Tubagus yang membuat Pak Tubagus terkejut saat membaca surat itu.


"Kenapa kamu mau resign, Ver?" tanya Pak Tubagus terheran-heran.


"Saya..." ingin sekali Vera mengatakan bahwa ia tak sanggup mendengar cibiran orang orang di perusahaan itu namun Vera tak berani, apa lagi setelah ia tahu bahwa yang menyalakan asap gosip tentang diri nya adalah istri Pak Tubagus dan menantu nya "Saya hanya ingin lebih fokus pada rumah tangga saya, Pak" jawab itu muncul begitu saja dari bibir Vera.


"Kenapa? Apa kamu hamil?" tanya Pak Tubagus lagi yang tak rela kehilangan sekretaris seperti Vera meskipun di sisi lain Vera punta citra buruk.


"Iya" Jawab Vera yang lagi lagi berbohong, Vera tak ingin lagi bertahan di perusahaan itu.


"Hem begitu, tapi kamu tahu kan aturan di perusahaan ini, kamu harus menyerahkan surat pengunduran diri itu sebulan sebelum nya"


"Iya, Pak. Saya tahu..." jawab Vera lagi.


"Baik lah, Ver. Kembali lah bekerja seperti biasa dan jika bisa, tolong fikirkan sekali lagi untuk meninggalkan perusahaan ini. Jika kamu mau, aku bisa menaikan gaji mu" tawa Pak Tubagus makin Vera tak lagi tergiur, ia ingin hidup tenang dan tak tertekan seperti sekarang.


.........


Sementara itu, Raya yang sedang fokus bekerja merasa begitu mual dan ia pun langsung berlari ke toilet. Di sana Raya memuntahkan cairan bening dan kepala juga terasa pusing.


Hal ini sudah terjadi sejak tiga hari yang lalu namun Raya mencoba mengabaikan nya dan menganggap ia hanya masuk angin. Namun sekarang perut nya seperti di kocok dan kepala terasa pening.


Raya pun izin pulang lebih dulu karena Raya suda tak sanggup lagi menahan diri di sana dan beruntung nya Raya karena ia langsung di izinkan pulang.


Raya pun meminta jemput pada Mama nya karena Raya merasa tak ada tenaga untuk pulang sendiri. Setelah beberapa saat menunggu, sang Mama pun datang dan ia langsung memapah Raya masuk ke dalam mobil nya.


"kamu sakit apa sih, Ray? Kok mendadak begini..." kata snag Mama cemas.


"Entahlah, Ma. Pusung, mual" rengek Raya dan karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan putri nya, Mama nya pun membawa Raya ke rumah sakit.


................


"Jadi bagaimana keadaan Raya, Dok?" tanya Mama nya Raya cemas setelah Raya di periksa.


"Raya baik-baik saja, Bu. Mual dan pusing biasa di alami oleh wanita yang sedang hamil muda"


Mama Raya langsung terbelalak mendengar ucapan Dokter itu bahkan kedua nya menahan nafas tanpa sadar. Mulut kedua nya terbuka lebar dengan mata yang melotot sempurna.


"Raya, kenapa bisa?" desis sang Mama merasa tak percaya dengan bahwa Raya kini sedang mengandung benih seseorang sementara Raya hanya diam membisu.


"Rafli harus tanggung jawab, Raya!" tegas sang Mama dengan emosi yang memuncak.


"Bukan Rafli, Ma" lirih Raya yang membuat Mama nya mengernyit.


"Maksud kamu?"


"Bukan Rafli yang menghamili aku tapi manager Bank aku"


" Apa???" pekik sang Ibu


.........


"Apa?" Ayah Raya juga terperanjat mendengar kabar buruk dari sang istri tentang putri mereka


"Manager Raya its udah punya istri, Pa. Kita harus bagaimana? Apa kita gugurkan saja kandungan Raya?" rengek sang istri.


"Berani berbuat harus berani bertanggung jawab" tegas sang suami dan kemudian ia menyambar kunci mobil nya.


"Mau kemana, Pa?" terima sang istri


"Menuntut pertanggungjawaban manager sialan itu!!!"


.........


Sementara itu, Bima bekerja seperti biasa dan ia juga bersikap seperti biasa. Satu tahun lebih menjadi manager Bank membuat hidup nya terasa lebih baik. Namun di tengah fokus nya bekerja, tiba tiba pintu ruangan nya di buka dengan sangat tidak sopan nya dan muncullah seorang pria yang berseragam polisi


"Maaf, anda cari siapa?" tanya Bima kesal.


"Aku mencari mu, Bima" jawab pria di depan nya ini yang membuat Bima mengerutkan dahi nya.


"Baik, ada yang bisa saya bantu, Pak?"


"Ada, nikahi Raya yang sudah kamu hamili"