Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 36


Ibu mertua Alesha membantu Alesha mengurus rumah, dan ia tidak memperbolehkan Alesha bekerja apapun. Sungguh hati Alesha tersentuh sebenar nya dengan hal itu, ia merasa beruntung mendapatkan ibu mertua yang sangat baik dan perhatian pada nya.


"Sudah, Bu. Istirahat saja, ibu juga pasti capek" ujar Alesha yang saat ini sedang berjalan menuju sofa sembari membawa es teh manis untuk ibu mertua nya.


"ibu memang capek sih, Al. Soal nya tadi masih masak dan cuci" jawab Ibu mertua nya yang baru selesai nge pel lantai.


"Memang nya Vera tidak masak, Bu?" tanya Alesha kemudian.


"Boro Boro masak, Al. Suruh bikinin es teh buat Bima saja dia tidak mau" kata Ibu nya kemudian pergi ke belakang untuk meletakkan ember dan kain pel nya. Kemudian ia mencuci tangan dan ikut duduk di sofa bersama Alesha. Alesha sedikit shock mendengar jawaban Ibu mertua nya itu namun ia tak menanggapi nya lebih lanjut karena Alesha tidak mau menjadi provokator, apa lagi ia tahu Ibu mertua nya masih belum menerima Vera sebagai menantu nya.


...


Adam pergi ke Cafe namun ia tidak melihat Alesha dimana mana, Adam berfikir mungkin Alesha masih sakit dan itu membuat nya sedikit cemas.


"Mas Adam..." sapa Tini yang sudah kenal dengan Adam.


"Mau pesan apa, Mas?" tanya nya sambil tersenyum ramah.


"Alesha masih sakit ya?" tanya Adam langsung pada inti nya.


"Oh Alesha, dia sudah berhenti bekerja, Mas" Jawab Tini yang membuat Adam ber oh ria sambil mangut mangut. Ada sedikit rasa kecewa di dada nya saat ia tak melihat ada Alesha di sana.


"Jadi mau pesan apa, Mas?" tanya Tini lagi.


"Tidak jadi deh, mungkin nanti..." kata Adam beranjak dari kursi nya.


Adam pun keluar dari cafe itu, ia berhjalan santai kembali ke bengkel nya.


Di bengkel nya, sudah ada satu mobil yang sudah selesai ia modifikasi. Ia pun masuk ke mobil itu dan mencoba nya, ingin tahu kecepatan nya dan sebagai nya.


....


Di rumah nya, Vera mengecek email nya berharap ia sudah mendapatkan panggilan dari kantor kantor tempat ia melamar pekerjaan. Namun hasilnya masih nihil, membuat Vera mendesah lesu.


"Seharusnya aku tidak resign waktu itu..." geram nya.


Dan hal itu membuat Vera semakin kesal, akhir akhir ini Bima lebih sering bersama Alesha, sekarang Bima sudah membela Alesha bahkan mengaku cinta pada Alesha. Hal itu juga membuat Vera takut, takut Bima tidak menceraikan Alesha karena Vera ingin menjadi satu satu nya istri Bima.


Karena merasa bosan di rumah nya tanpa memiliki aktivitas apapun, Vera pun berniat mengunjungi Ibu nya.


"Mau kemana, Ver?" tanya ayah mertua nya yang melihat Vera tampak nya mau pergi lagi.


"Mau kerumah Mama" kata Vera santai dan ayah mertua nya pun tidak menanggapi nya lagi.


Vera kembali berjalan kaki ke rumah Mama nya karena memang masih satu komplek dengan rumah nya meskipun jarak nya cukup jauh.


Sesampainya di rumah nya, Vera langsung di sambut oleh Ibu nya.


"Kenapa, Ver?" tanya Ibu nya yang melihat Vera tampak kesal.


"Tidak apa apa, Ma" kata Vera dan ia bergegas ke kamar nya.


Vera menjatuhkan tubuh nya ke ranjang nya dan ia menarik nafas kasar. Ibu nya mengikuti nya ke kamar nya.


"Kamu kenapa sih, Ver? Ada masalah sama?" tanya Ibu nya cemas.


"Mas Bima, Ma..." rengek nya.


"Kenapa dengan Bima?"


"Mungkin karena Alesha sedang hamil saja, Ver"


"Maka nya aku juga mau hamil, Bu..." kata Vera.


"Ya berdoa saja, Nak. Semoga saja kamu cepat hamil, karena suami itu memang lebih sayang pada istri saat istri hamil" kata Ibu nya yang membuat Vera langsung tersenyum dan beranjak duduk.


"Beneran, Bu?" tanya nya antusias.


"Iya, maka nya sekarang Bima lebih sayang Alesha, karena Alesha lagi hamil..."


"Kalau begitu doakan aku ya, Bu. Semoga saja aku cepat hamil"


"Aamiin, Insya Allah, Nak..."


...


Sepulang nya Bima dari pekerjaan nya, ia mampir ke toko buah karena di kulkas tidak ada buah.


"Tidak ada mangga ya, Pak?" tanya Bima pada pejual buah nya, ia teringat dengan Alesha yang saat itu mengidam mangga tapi mangga nya malah di makan oleh Vera.


"Tidak, Mas. Tidak musim..." ujar nya dan Bima hanya mengangguk mengerti.


"Tambahkan pisang nya ya, Pak..." ujar nya lagi karena ia melihat Alesha sangat menyukai pisang sejak hamil.


"Iya, Mas..." jawab nya. Kemudian ia membungkus semua buah pesanan Bima dan membungkus nya. Bima membayar nya dan kemudian ia melanjutkan perjalanan pulang nya.


Sesampainya di rumah, Bima di sambut oleh Alesha.


"Ibu masih di rumah, Al?" tanya Bima.


"Sudah pulang, Mas. Kata nya belum nyuci baju dari kemarin" jawab Alesha dan Bima hanya ber oh ria.


"Oh ya, aku beli buah. Kamu harus banyak makan buah ya, bagus buat calon anak kita" kata Bima sambil tersenyum. Alesha membalas senyuman Bima dengan tulus, ia mengambil plastik berisi buah yang di sodorkan Bima.


"Bagaiamana keadaan kamu hari ini, Al?" tanya nya kemudian.


"Aku baik..." jawab Alesha sembari berjalan menuju dapur sementara Bima bergegas ke kamar nya, ia meletakkan buah nya di atas meja dan kemudian membuat kan es teh untuk Bima. Setelah itu, ia membawa nya ke kamar dan ia melihat Bima yang sedang berganti pakaian.


"Mas, es teh nya. Di luar panas sekali..." kata Alesha sembari meletakkan gelas berisi es teh itu di atas nakas. Bima tersenyum karena ia kembali mendapatkan pelayanan Alesha yang di rindukan nya.


"Terima kasih, Al.." ucap Bima tulus.


"Sama sama..." jawab Alesha dan ia bergegas ke dapur.


Alesha mengeluarkan buah ny dan menyusun nya di kulkas, ia duduk bersila di depan kulkas mini milik nya itu hingga sebuah sentuhan di pundak nya membuat nya tersentak kaget.


"Mas..." pekik nya. Bima hanya terkekeh, ia duduk di samping Alesha dan mengecup pundak Alesha yang terbuka karena Alesha memang hanya mengenakan daster tanpa lengan di karenakan hari yang begitu panas.


"Aku beli pisang banyak, kamu suka pisang kan?" tanya nya basi basi dan Alesha mengangguk.


"Malam ini kita makan di luar Yuk...." ajak nya kemudian yang membuat Alesha menaikan sebelah alis nya, sedikit memiliki pertanyaan akan sikap Bima yang sangat berubah pada nya.


"Memang nya kamu tidak mau pulang, Mas? Istri kamu nungguin lho di rumah mu" sindir Alesha.


"Tapi kamu kan juga istri aku, Al..." seru Bima dengan tatapan sendu.


"Iya sih, aku masih istri kamu" ucap Alesha dimana kata masih itu tentu saja membuat hati Bima sedikit seperti di remas "Ya udah, boleh..." imbuh nya kemudian.