Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 32


Matahari telah bersembunyi di ufuk sana, hari yg cerah kini berganti dengan gelap nya malam.


Namun Alesha masih dalam keadaan yg sama, kedua mata nya terpejam seolah ia begitu tenang dalam tidur nya. Namun menyadari kenyataan sebaliknya lah yg membuat nya memejamkan mata seperti ini, membuat hati Bima sakit. Penyesalan melingkupi hati nya atas apa yg telah ia perbuat pada istri yg begitu setia dan berbakti kepada nya.


Bima menggenggam tangan Alesha dengan begitu erat, dan saat itu lah ia merasakan pergerakan jari jemari istri nya itu.


"Sayang, bangun lah..." lirih nya lembut, seolah ia takut mengganggu Alesha jika ia berbicara sedikit lebih lantang.


Kelopak mata sang istri bergerak gerak hingga perlahan kedua mata nya terbuka dan hal pertama yg ia lihat adalah suami nya.


"Mas..." lirih nya.


"Ya, aku di sini..." jawab Bima ia membelai rambut sang istri dengan lembut dan Bima hendak mengecup kening nya namun Alesha menolehkan wajah nya, membuat hati Bima terkesiap saat lagi lagi Alesha menolak kecupan nya.


Bima duduk kembali di kursi nya dengan hati Yg terasa hampa, kenapa? Bukan kah Alesha sudah ada di depan nya? Masih menjadi istri nya?


Kenapa Bima merasa begitu hampa padahal Alesha hanya menolak kecupan nya?


"Kamu istirahat ya, jangan banyak fikiran..." pinta Bima lembut.


"Mas, boleh aku minta tolong?" tanya Alesha lemah dan Bima langsung mengangguk cepat.


"Apa, Sayang?" tanya nya.


"Tolong panggilkan orang tua ku saja, biar mereka yg menjaga ku"


Deg


Hati Bima seperti di cubit, rasa perih, padahal Alesha hanya meminta hal sederhana. Namun ada hal besar di balik permintaan wajar nya itu, Alesha tak ingin di jaga oleh Bima.


"Tapi kenapa, Al? Ada aku di sini, aku akan menjaga mu" tutur nya namun Alesha menggelengkan kepala nya.


"Biar aku belajar terbiasa tanpa kamu, Mas. Tanpa seorang suami..." jawab nya yg membuat hati Bima semakin terasa di peras.


"Tapi, Al. Aku... Aku masih suami kamu, aku masih punya hak atas diri kamu, aku masih punya kewajiban untuk menjaga mu dan anak kita" lirih Bima frustasi.


"Aku tahu, Mas. Hanya saja rasa nya sakit sekali setiap aku melihat kamu ada di depan aku, tapi aku tahu, bahwa akan segera datang waktu nya dimana kamu akan meninggalkan ku dan pergi bersama wanita yg kau cintai..." ia berkata dengan begitu jujur, Alesha tidak mau berpura pura kuat, dan ia juga tak mau mengemis cinta.


Tanpa mereka sadari, Adam masih di sana. Menguping pembicaraan suami istri itu. Adam memang ingin pergi tadi nya, tapi entah mengapa hati kecil Adam melarang nya. Sehingga Adam kembali dan duduk setia di depan ruang rawat Alesha, menunggu hingga Alesha terbangun dan Adam ingin memastikan bahwa Alesha dan janin nya baik baik saja.


Bima hanya bisa menunduk pasrah, karena ia tahu apa yg di katakan Alesha adalah benar. Akan ada waktu nya Bima harus memilih antara Alesha atau Vera. Antara Ibu dari anak nya atau wanita yg di cintai nya, dan Baik Alesha maupun Bima sudah tahu jawabannya.


"Aku mohon, panggilkan keluarga ku..." pinta Alesha lagi dan air mata kembali mengalir dari sudut mata nya sehingga membasahi bantal nya.


"Baik lah..." kata Bima pasrah, ia beranjak dari kursi nya, mengelus kepala Alesha sebelum akhirnya ia meninggalkan ruangan Alesha.


Dan setelah memastikan Bima pergi, Adam kembali masuk yg membuat Alesha terkejut.


"Mas Adam..." pekik nya, Alesha teringat sebelum kegelapan menjemput nya, tadi Alesha bersama Adam.


"Bagaiamana keadaan mu, Al?" tanya Adam dengan suara lirih.


"Aku baik baik saja, kamu yg membawa ku kesini, Mas?" tanya Alesha dan Adam mengangguk.


"Terima kasih" ucap Alesha dengan senyum yg mengembang di bibir nya.


"Al, maaf tadi aku...aku sempat mendengar apa yg kamu bicarakan sama suami mu" ucap nya yg membuat pupil mata Alesha langsung melebar.


"Maaf kalau aku ikut campur, Al. Tapi... Tapi kenapa kamu tidak berusaha merebut suami mu lagi? Kenapa kamu tidak berjuang supaya suami mu memilih mu?" tanya Adam yg membuat Alesha tersenyum kecut dan sorot mata nya memancarkan kesedihan yg begitu dalam.


"Apa yg harus aku perjuangkan, Mas?" lirih nya "Sejak awal menikah aku sudah tahu dia mencintai wanita lain, apa yg harus aku perjuangkan supaya dia memilih ku sementara hati nya sudah memilih wanita lain? Kenapa aku harus berjuang demi pria yg bahkan tidak menghargai ku sebagai istri ketika dia memilih menikah lagi tanpa izin ku? Membawa istri nya pulang kerumah dimana aku tinggal, menurut mu apa lagi yg harus aku perjuangkan? Ketika dia selalu membela istri kedua nya bahkan ketika istri pertama nya mengidam mangga dan istri keduanya mengambil mangga itu, dan suami kami itu tetap menyuruh ku mengalah. Apa lagi yg harus aku perjuangkan ketika dia tidak memiliki belas kasih sedikit pun pada ku? Bahkan nafkah untuk kami harus terlempar untuk istri tercinta nya berikut mertua nya, apa lagi yg harus ku perjuangkan? Itu hanya akan menguras tenaga dan air mata ku"


air mata Alesha mengalir bebas begitu saja tanpa bisa di cegah, bahkan bibir nya berkata begitu saja tanpa ia fikirkan. Rasa sakit yg ia rasakan membuat Alesha tak bisa lagi berpura pura baik baik saja. Tangis Alesha pecah dan ia menutup mulut nya dengan tangan kanan nya kala ia hampir tak bisa menahan isak tangis nya.


Alesha tak pernah mengeluhkan hal seperti itu pada keluarga nya sendiri tapi kenapa ia berbicara begitu panjang lebar pada Adam?


"Maaf, Mas... Aku..." bibir Alesha bergetar, sementara Adam menatap sendu Alesha "Seharusnya aku tidak berbicara seperti itu, ini...ini masalah rumah tangga kami" lirih Alesha namun Adam menggeleng pelan.


Ia duduk di kursi yg ada di samping Alesha, Adam menarik nafas dalam dalam.


"Aku senang kamu mau berbagi masalah mu dengan ku, Al..." lirih nya.


"Aku juga pernah ada di posisi suami mu, mencintai wanita lain..." ucap nya dengan suara rendah dan berita itu membuat pupil mata Alesha melebar, ia menatap tak percaya pada Adam.


"Aku juga punya istri yg begitu baik, sederhana dan sangat mencintai ku tapi... Tapi aku mencintai wanita lain, yg lebih cantik secara fisik, yg lebih energik dan membuat ku senang tapi ternyata... Semua itu hanya hasrat sesaat, aku juga tidak bisa menghargai istri ku. Namun sebuah kecelakaan yg merenggut nyawa nya membuat ku sadar bahwa aku sangat mencintai nya, membuat ku sadar bahwa dia berjuang bertahan di sisi ku untuk mendapatkan cinta ku. Membuat ku sadar bahwa dialah istri impian ku, kebaikan dan kesederhaan nya membuat rumah ku nyaman dan hangat dan sayang nya aku sangat terlambat... "


Alesha mendengarkan cerita Adam dengan seksama, ada perasaan menggelora dalam hati nya ketika ia tahu ada wanita lain yg mengalami nasib yg sama dengan nya.


"Maaf karena aku juga menceritakan masalah pribadi ku, Al..." ucap Adam dan Alesha melihat kedua bola itu berkaca kaca.


"Hanya saja aku melihat mu begitu mirip dengan mendiang istri ku..."


"Kami memang mirip, nasib kami..." ucap Alesha tersenyum kecut begitu juga dengan Adam.


"Jika saja Tuhan memberikan ku kesempatan kedua, aku akan memperbaiki kesalahan ku, Al"


Ucap nya tanpa di mengerti Alesha apa maksud dari ucapan Adam.