Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 31


Sesampainya di rumah sakit, Dokter segera menangani Alesha. Sementara Adam hanya bisa mondar mandir di ruang tunggu sambil terus berdoa, berharap Alesha baik baik saja.


Tak lama kemudian seorang Dokter keluar dari ruangan Alesha dan Adam langsung mencecar nya dengan berbagai pertanyaan.


"Dia baik baik saja kan? Apakah janin nya juga baik baik saja? Apa dia sudah sadar?" tanya dengan sangat cemas.


"Pak, istri anda mengalami kontraksi dan itu sangat berisiko untuk janin nya. Jadi saya sarankan agar istri anda di rawat inap dulu, agar nanti kami bisa mengawasi apakah Bu Alesha mengalami kontraksi lagi atau tidak, dan saya juga tekankan agar Bu Alesha tidak boleh kelelahan baik secara fisik apa lagi psikis. Ini bisa menyebabkan keguguran... " Adam hanya bisa tercengang mendengar penuturan panjang lebar Dokter itu. Adam tidak tahu apapun soal Alesha dan kehidupan yg Alesha jalani selain fakta bahwa ia di madu.


"Baik, Dokter. Terima kasih, tolong berikan perawatan yg terbaik untuk Alesha..." tukas nya.


"Kami akan melakukan yg terbaik untuk pasien, Pak.." kata Dokter itu sebelum meninggalkan Adam, tak lama kemudian seorang suster datang dan meminta Adam melakukan administrasi. Adam pun bergegas melakukan nya.


Setelah itu, Adam bergegas ke ruang rawat Alesha, Adam terdiam mematung sembari menatap Alesha yg terbaring lemah di bangsal rumah sakit. Dia begitu pucat dan kurus, dan itu membuat Adam teringat dengan mendiang istri nya.


Adam juga teringat bahwa dia seharusnya menghubungi keluarga Alesha tapi Adam tidak punya nomor telepon keluarga Alesha, sedangkan ponsel Alesha juga seperti nya masih ada di Cafe. Adam pun menghubungi adik nya, Miley.


"Ada apa, Kak?" terdengar suara Miley yg seperti tertelan dengan keramaian.


"Dek, kamu dimana?" tanya Adam.


"Di kampus, Kak. Lagi nonton pertandingan basket, nanti Miley telpon lagi ya. See you..."


Adam hanya bisa menghela nafas berat mendengar apa yang di katakan adik nya itu, padahal Adam ingin adik nya itu mendatangi rumah Alesha dan mencari suami Alesha untuk mengabarkan keadaan Alesha. Sementara Adam sungguh tak ingin meninggalkan Alesha dalam keadaan seperti ini, Adam sangat mengkhawatirkan Alesha dan janin yg di kandung nya meskipun ia tak memiliki hubungan apapun dengan Alesha.


.........


Setelah selesai melakukan semua pekerjaan rumah nya, Bima pergi ke Cafe untuk melihat istri nya. Entah kenapa sejak tadi ia terus memikirkan Alesha dan terus terbayang dengan wajah teduh yg selalu berderai air mata itu.


Sesampainya di Cafe, Bima duduk di salah satu kursi dekat bar, ia mengedarkan pandangan nya kesana kemari Mencari sosok sang istri, namun tak sekalipun ia melihat bayangan Alesha.


"Mau pesan apa, Mas?" tanya seorang pelayan yg datang menghampiri nya.


"Alesha dimana ya?" tanya Bima


"Maaf, Mas siapa nya Alesha ya?" tanya wanita itu lagi.


"Aku suami nya..." jawab Bima


"Oh begitu, tadi Alesha pingsan dan dia di bawa kerumah sakit" ujar pelayan itu yg membuat Bima langsung melotot terkejut.


"Ke... K erumah sakit?" pekik nya sambil berdiri "Rumah sakit mana?" ia bertanya dengan begitu cemas.


"Mungkin rumah sakit terdekat, Mas" jawab pelayan itu dan Bima hendak bergegas pergi namun pelayan itu kembali memanggil Bima.


"Barang barang Alesha, Mas..." ujar nya sembari menyerahkan tas Alesha. Bima segera menyambar nya dan ia berlari pergi ke rumah nya untuk mengambil sepeda motor nya.


..........


Bima sampai di rumah sakit terdekat dan ia segera mendatangi resepsionis untuk mencari keberadaan sang istri.


Setelah resepsionis itu memberi tahu nomor kamar Alesha, Bima segera berlari kesana. Tak perduli dengan nafas nya yg terengah karena terus berlari sejak tadi.


Setelah menemukan kamar Alesha, Bima segera masuk dan ia mendapati Adam yg duduk di kursi yg ada si samping bangsal Alesha.


"Apa yg kamu..."


"Ssshhtt..." Adam langsung memberi isyarat untuk diam saat Bima hampir berteriak pada nya.


Pandangan mata Bima langsung tertuju pada Alesha yg masih terbaring lemah dan wajah nya begitu pucat, ada jarum infus yg menancap di punggung tangan kiri nya.


"Sayang..." lirih nya dan ia hendak menghampiri Alesha namun tiba tiba Adam menarik nya keluar dari ruangan. Membuat Bima menggeram marah.


"Hey..." teriak Bima marah namun Adam jauh lebih marah.


"Diam..." geram Adam marah "Apa kau tahu apa yg terjadi pada istri mu?" desis nya namun Bima tak bisa menjawab nya meskipun bibir nya sudah terbuka.


"Dia lelah secara fisik dan psikis, itu berdampak pada janin nya bahkan janin nya terancam keguguran..." tukas Adam yg membuat Bima langsung terperangah dan seketika ia merasa lutut nya seperti tak bertulang. Bima bahkan menahan nafas kala mendapatkan kabar yg menampar nya dengan begitu keras itu.


Setelah itu, Adam pergi meninggalkan Bima karena Adam tak mau ada di antara Bima dan Alesha. Adam tahu ia hanya orang luar yg kebetulan mengagumi Alesha dan juga sebuah kebetulan sedikit tahu tentang Alesha, karena apa yg di alami Alesha pernah di alami istri Adam.


Adam melangkah gontai di lorong rumah sakit, meninggalkan rumah sakit dan berputar kembali dalam benak nya akan apa yang terjadi istri nya beberapa tahun yg lalu.


.........


Vera mondar mandir di kamar nya sambil terus berusaha menghubungi Bima namun hasil nya sama saja, Bima tak menjawab nya dan itu membuat Vera sangat marah.


"Ver..." ibu mertua nya berteriak dari bawah, membuat Vera berdecak kesal.


"Apa, Bu?" ia balas berteriak.


"Bantuin ibu angkat jemuran, mau hujan..." teriak nya.


Cahaya di langit memang begitu redup, awan seolah berdesakan untuk menutupi cahaya langit.


Rintik hujan pun mulai turun, menyapa bumi dengan hawa dingin kala ia datang bersamaan dengan angin yg berhembus.


Vera segera turun untuk mengangkat jemuran sesuai perintah ibu mertua nya.


"Kenapa malah hujan sih. Padahal aku mau susul Mas Bima ke rumah Alesha" gerutu nya sembari menarik satu persatu kain yg tersampir di tali jemuran.


"Ver, habis ini goreng pisang ya. Sudah ibu buat adonan nya tuh..." teriak ibu mertua nya lagi yg membuat Vera semakin kesal.


"Bu, aku aku mau menyusul Mas Bima, sudah dari kemarin Mas Bima tidak pulang" ujar Vera setelah meletakkan keranjang berisi baju yg baru ia angkat dari jemuran itu.


"Kenapa harus di susul? Bima kan di rumah istri nya" ujar ibu mertua nya itu.


"Tapi kan Mas Bima janji, Bu. Seminggu di sini seminggu di sana..." jawab Vera.


"Tapi kan Alesha sedang hamil, Ver. Dia butuh waktu Bima lebih banyak, butuh perhatian Bima juga lebih banyak. Kamu itu cuma istri sirri, jangan nuntut yg macam macam" tukas ibu nya yg membuat Vera mengeraskan rahang nya karena menahan kesal. Bahkan mata nya sudah berkaca kaca karena ini bukan yg pertama kali nya ibu mertua nya mengungkit status nya yg hanya istri sirri dan istri kedua.


"Tega sekali Ibu selalu berbicara seperti itu, bagaimana pun juga, aku juga istri Mas Bima dan punya hak yg sama dengan Alesha"


"Tega kamu bilang?" tanya ibu nya sambil tersenyum kecut "Lebih tega mana dengan perempuan yg merebut suami saudara nya sendiri?"