
"Apa? Ingin mengontrak rumah?" pekik ibu nya saat Bima mamberi tahu tentang keputusan nya untuk membawa keluar Alesha dari rumah. Saat ini, mereka sedang berkumpul di sofa karena Bima yg meminta mereka berkumpul.
"Iya, Bu" jawab Alesha dengan tenang, namun di balik ketenangan itu, tersembunyi luka yg begitu dalam
"Tidak, kami tidak setuju" sambung ayah nya "Ini masih rumah kami, Bima. Kami yg berhak menentukan siapa yg tinggal di rumah ini dan siapa yg tidak berhak tinggal di rumah ini" tukas sang ayah sambil melirik tajam Vera dan Bima bergantian.
"Dan menantu kami hanya Alesha, cuma Alesha yg boleh tinggal dengan kami"
"Aku juga istri nya Mas Bima, aku juga berhak di sini" sambung Vera.
"Kamu fikir ini rumah Bima? Ini rumah kami, atas nama kami..."
"Bu, Yah. Sudah lah..." Alesha menyela "Aku ingin mandiri, jadi tidak apa apa jika aku yg harus keluar dari sini" ucap Alesha kemudian ia melirik Bima dengan sinis "Toh ini sudah menjadi keputusan suami kami ini, dia memutuskan siapa yg akan tinggal bersama mertua nya, dan dia memutuskan istri tercinta nya yg akan tinggal bersama dia da nmertua nya..."
"Alesha, bukan begitu..." bantah Bima namun Alesha tidak memperdulikan nya. Ia sudah sangat sakit hati dengan kelakuan Bima dan sikap nya pada nya selama ini.
"Temukan kontrakan nya secepat nya, Mas Bima" ucap nya dingin dan Alesha bergegas naik ke kamar nya.
Orang tua Bima menatap Bima dan Vera dengan tatapan yg begitu tajam, penuh amarah dan kekecewaan.
"Pernikahan kalian menyakiti hati semua orang, kalian fikir kalian bisa bahagia di atas luka kami semua?" desis ibu nya yg membuat dada Bima terasa begitu sesak dan perih, apa lagi ketika melihat kekecewaan di mata ibu nya.
Orang tua Bima juga bergegas ke kamar mereka dan meninggalkan Bima juga Vera. Vera memberengut marah dan menatap Bima dengan kesal.
" Ibu kamu tidak pernah bisa menghargai aku, Mas. Secepat nya aku ingin kita juga pindah dari sini, kita bisa hidup berdua tanpa campur tangan orang tua Mu"
"Inysa Allah, Vera. Nanti..." jawab Bima lirih, ia pun beranjak dari tempat duduk nya
"Mau kemana, Mas?" tanya Vera saat melihat Bima hendak naik ke atas.
"Mau menemui Alesha" jawab Bima yg membuat Vera langsung berdecak kesal.
"Tadi malam kamu sudah ada di kamar Alesha, malam ini juga? kata nya kamu cinta sama aku, Mas?" tanya nya dengan nada manja, Bima tersenyum pada Vera.
"Aku tahu, aku hanya ingin melihat keadaan nya" jawab nya.
Vera pun membiarkan saja Bima yg pergi ke kamar Alesha, dan saat membuka pintu, Bima mendapati Alesha yg sedang memasukan barang barang nya ke dalam koper.
"Al, apa yg kamu lakukan?" tanya Bima, ia melangkah lebar menghampiri Alesha.
"Beres beres, jadi aku bisa langsung pergi saat kamu mendapatkan kontrakan nya" jawab Alesha dengan begitu dingin.
Ada rasa bersalah yg hinggap di hati Bima saat melihat kondisi Alesha sekarang, namun Bima terlalu condong pada Vera sehingga ia mengabaikan perasaan Alesha bahkan perasaan nya sendiri.
...
Seminggu kemudian, Bima mendapatkan rumah kontrakan yg cukup sederhana. Ada keraguan dalam hati nya saat ia membawa koper Alesha turun dari kamar nya, namun saat ia melihat Vera tersenyum pada nya, keraguan itu langsung ia singkirkan dan ia meyakinkan diri nya sendiri bahwa apa yg di lakukan nya sudah benar. Sementara orang tua Bima tampak nya sangat berat melepaskan kepergian menantu kesayangan meraka dari rumah mereka.
"Tidak apa apa..." ucap Alesha sambil tersenyum pada ibu mertua nya yg sudah menangis sesegukan, bahkan air mata sang ibu tidak membuat Bima berubah fikiran.
"Nanti Ibu sama Ayah kan bisa main kerumah ju, bisa mengunjungi ku" ucap Alesha sembari memeluk sang ibu mertua.
"Tapi kamu lagi hamil muda, Al. Setiap istri yg sedang hamil muda, butuh suami nya 24 jam di sisi nya" ucap ibu nya di tengah isak tangis nya.
Cinta sejati?
Apakah Vera cinta sejati nya?
"Kalau kamu butuh apa apa, telpon kami ya..." Sambung sang ayah mertua. Alesha mengangguk memeluk nya bergantian.
Sementara taksi yg di panggil Bima sudah datang untuk mengantar Alesha dan Bima ke rumah kontrakan yg akan di tempati Alesha.
Bima memasukan koper Alesha ke dalam bagasi taksi, Alesha pun masuk ke dalam taksi setelah berpamitan pada mertua nya.
"Mas..." Vera memanggil Bima yg hendak masuk taksi juga, Vera berlari menghampiri Bima dan memeluk Bima.
Hati Alesha seperti di sayat ribuan silet melihat kemesraan suami dan istri kedua nya itu, mati matian ia menahan tangis nya dan mengalihkan pandangan nya.
"Terima kasih ya, Mas..." bisik Vera dan Bima mengangguk sambil tersenyum.
.........
Sesampainya di rumah itu, Alesha langsung turun dari taksi dan membuka rumah itu dengan kunci yg sudah di berikan oleh Bima.
Bima menyusul setelah mengeluarkan koper Alesha dan membayar taksi. Alesha melihat ada sebuah cafe yg tak jauh dari rumah nya itu tadi.
Alesha menyusuri setiap sudut rumah itu. Rumah itu hanya satu lantai, Ada dua kamar yg terbilang kecil di bandingkan kamar nya di rumah Bima, ada satu kamar mandi, dapur, teras. Ruang tamu nya juga sempit, ada sofa kecil dan meja bulat di depan nya, ada tempat untuk TV.
"Aku sudah membayar rumah ini untuk satu bulan ke depan" ucap nya, Alesha hanya menggumam dan masuk ke kamar yg sedikit lebih besar dari pada yg satu nya. Ada lemari yg berukuran sedang di sana, ada kipas angin nya juga. Alesha meletakkan tas nya di atas ranjang yg masih tidak ada seprei nya.
Setelah itu, Alesha pergi ke dapur, ada kompor, tabung gas, ada kulkas juga, namun tidak ada peralatan masak nya.
Bima memeluk Alesha dari belakang saat Alesha membuka kulkas yg kosong, Alesha terkesiap dan langsung melepaskan diri dari Bima.
"Terima kasih, kamu boleh pulang, Mas..." ucap Alesha yg membuat hati Bima terkesiap.
"Al, jangan marah sama aku. Aku melakukan ini juga demi kebaikan kita bersama" ujar Bima.
"Oh, terima kasih. Kamu baik sekali sudah memikirkan kebaikan bersama" balas Alesha dengan dingin nya, yg membuat hati Bima kembali terkesiap.
"Aku akan tinggal di sini selama seminggu" ucap Bima kemudian yg membuat Alesha tersenyum kecut namun enggan menanggapi perkataan Bima.
.........
Sebulan telah berlalu, kini kehamilan Alesha sudah menginjak usia 3 bulan. Apakah Bima sudah bersikap adil?
Tidak sama sekali, uang bulanan Alesha di potong oleh Bima karena uang Bima yg habis oleh Vera. Dan seperti biasa, Bima akan menuruti apa saja kemauan Vera dan itu benar benar berdampak untuk Alesha.
Sudah waktu nya juga Alesha membayar kontrakan nya, namun uang yg Bima berikan hanya cukup untuk membayar kontrakan nya saja.
"Dia fikir aku tidak butuh makan apa? Aku juga butuh susu hamil" geram Alesha sendirian.
Alesha teringat dengan café yg tak jauh dari rumah nya itu, dan beberapa hari yg lalu ia melihat ada lowongan untuk menjadi pelayan. Alesha memutuskan untuk bekerja saja karena menunggu uang suami nya itu tidak akan cukup, apalagi sejak ia hamil, kebutuhan nya lebih banyak.