Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 18


Bersama Bima selama seminggu ini tanpa ada bayang bayang Vera memberikan Alesha sedikit kebahagiaan, apa lagi Bima yg membantu Alesha dalam segala hal. Perhatian Bima, kepedulian Bima, semua itu Bima tunjukan secara penuh selama minggu ini seolah Bima hanya milik Alesha dan Bima mencintai Alesha, namun sayang nya itu hanya harapan Alesha. Fakta nya, Bima perhatian dan peduli pada nya hanya karena Alesha hamil anak Bima. Seandai nya Alesha tidak hamil, entah apa yg akan terjadi dengan hubungan nya. Setelah Bima pergi dari rumah nya dan kembali pada istri tercinta nya, Alesha merasa kehilangan dan sedih.


Hari ini ia berangkat dari jam 7, terlalu pagi memang. Namun Alesha tidak mau hanya berdiam diri di rumah dan terus memikirkan Bima.


Cafe tempat nya bekerja masih tutup, Alesha pun jalan kaki dan ia melewati sebuah bengkel. Alesha melihat seseorang sedang meringis kesakitan di bengkel itu. Tanpa fikir panjang, Alesha masuk dan menghampiri pria itu yg seperti nya membutuhkan pertolongan.


"Ada yg bisa say bantu, Mas? Mau di telpon kan ambulance??" tanya Alesah dan pria itu mendongak, seketika tatapan kedua nya bertemu. Pria itu masih terlihat muda, dan tampan. Dan jangan lupakan mata nya yg besar dan tatapan nya begitu tajam


"Aku phobia darah..." ucap pria itu dengan suara bergetar, Alesha mengulum senyum sembari berjongkok di depan pria yg sedang duduk di lantai itu.


Kaos hitam yg di padukan dengan overall membalut tubuh nya yg tampak nya kekar, sedangkan bagian celana nya di lipat dan betis nya seperti nya terkena benda tajam sehingga terluka dan mengeluarkan darah.


"Kau aneh sekali, Mas. Pekerjaan mu bengkel, tapi kamu phobia terhadap darah? Yg benar saja, maksud ku, itu sangat tidak cocok..." tukas Alesha sembari memperhatikan luka itu. Sementara pria itu hanya tersenyum meringis.


"Apa ada kotak p3k?" tanya Alesha lagi.


"Disana..." pria itu menunjuk sebuah lemari kecil yg ada di pojok ruangan "Di kotak yg paling atas" ucap nya lagi.


Alesha pun bergegas mengambil kotak p3k.


"Apa bengkel memang buka sepagi ini, Mas?" tanya Alesha basa basi.


Kini ia sudah kembali ke hadapan pria di depan nya ini, Alesha membersihkan darah nya dengan kapas, kemudian meneteskan anti septik yg berhasil membuat pria itu meringis perih.


"Maaf maaf..." ucap Alesha kemudian meniup luka itu dengan lembut, pria itu memperhatikan Alesha yg kini mengobati luka nya dengan hati hati dan telaten, bahkan ia tidak sadar Alesha sudah selesai membalut luka nya itu.


"Masih sakit, Mas?" tanya Alesha karena pria di depan nya ini justru tampak melamun.


"Huh? Eh..." pria itu tampak salah tingkah, ia bahkan sampai garuk garuk kepala nya sambil cengengesan pada Alesha, membuat Alesha tertawa.


"Sudah... Sudah sembuh" jawab nya kemudian.


"Okey..." gumam Alesha, ia mengedarkan pandangan nya ke ruangan bengkel itu, ada mobil mobil mewah dan tampak antik yg terparkir di sana.


"Terima kasih ya, sudah mengobati luka ku. Kalau tidak Ada kamu, mungkin aku tidak bisa melanjutkan pekerjaan ku dan hanya merengek di lantai seperti tadi" pria itu berkata dengan malu malu, membuat Alesha tertawa kecil.


"Ya, benar..." ucap pria itu lirih "Oh ya, siapa nama mu?" tanya nya lagi.


"Alesha..." jawab Alesha, pria itu mangut mangut sembari menggumamkan kembali nama Alesha.


"Alesha ya, aku Adam..." pria bernama Adam itu mengulurkan tangan nya pada Alesha namun saat Alesha hendak menyambut nya, pria itu langsung menarik kembali tangan nya membuat Alesha bingung "Maaf, tangan ku kotor, terkena oli. Hehe..." ujar pria itu lagi yg membuat Alesha kembali tertawa.


"Kalau begitu, kita akan salaman saat tangan mu sudah di di cuci" seru Alesha.


"Hemm, tunggu sebentar..." Adam bergegas ke belakang dan saat kembali, tangan nya sudah bersih. Walaupun masih ada noda oli di pipi nya namun itu tak mengurangi ketampanan nya.


"Adam..." Adam kembali mengulurkan tangan pada Alesha dan Alesha menyambut nya sambil tersenyum.


"Harus kah aku menyebutkan nama ku lagi?" tanya Alesha bercanda.


"Tidak perlu, nama mu indah. Sangat mudah di ingat" ujar Adam. Alesha pun menarik tangan nya sambil tersenyum.


"Mau kemana dan dari mana? Maksud ku, kenapa tadi tiba tiba muncul di depan tempat bengkel ini?" tanya Adam kemudian.


"Aku kerja di Cafe sebelah sini, tadi aku berangkat terlalu pagi, jadi aku fikir akan jalan jalan dan sekitar café" tutur Alesha.


"Oh, cafe ini..." Adam menanggapi "Mungkin lain kali aku akan minum secangkir kopi di sana" imbuh nya.


"Yah, cafe itu punya kopi dengan tingkat rasa nya menurut lu paling luar biasa" tukas Alesha lagi.


"Aku pasti akan ke sana..." jawab Adam.


"Sudah lama bekerja di bengkel ini, Mas?" tanya Alesha penasaran, ia sering lewat jalan ini saat Alesha harus pergi berbelanja ke pasar, namun baru kali ini Alesha melihat ada bengkel.


"Bengkel nya memang sangat jarang di buka, tidak ada yg bekerja di sini selain aku" Adam berkata setengah menggumam, namun Alesha masih mendengar nya dengan sangat baik. Alesha mangut mangut mengerti, obrolan kedua nya terus berlanjut mengenai beberapa topik yang seru. Walaupun kedua nya baru bertemu, namun kedua nya sudah seperti teman lama yg lama tak jumpa.


Adam menceritakan tentang hobi nya yg berkaitan dengan otomotif, ia juga bercerita kalian Adam punya adik perempuan yg masih kuliah saat ini. Alesha senang mendengar kan Adam yg bercerita sampai Alesha lupa waktu